SAMUEL

SAMUEL
BAB 46



Malam harinya


Saat ini ada kedua orang yang sedang duduk di depan televisi apartemen Samuel berbicara santai dan sesekali membahas pekerjaan mereka, siapa lagi kalau si tuan rumah dan Kevin, sedangkan tiga orang gadis saling tertawa memasak di dapur.


"Kenapa harus di apartemen kak Samuel,"tanya Gisel kepada Lenka yang sedang mengurus masakan itu.


"Karena apartemen Samuel lebih tertata rapi, kau tahu apartemen ku berantakan dan sangat sempit karena barang ku di mana-mana,"jelas Lenka melirik apartemen sang kekasih yang tertata rapi.


Desain apartemen ini memang di desain untuk orang kaya, harga nya saja sangat mahal karena satu ruangan apartemen saja sudah seperti satu rumah memiliki lantai dua serta tangga di dalam dan juga dapur, dua kamar, ruang makan dan ruang tv sangat lengkap bukan, memang hal itu sangat membuat siapa pun nyaman.


"Maafkan saya tuan, kami memang belum dapat menemukan pria itu, tapi apakah dia mengetahui jika anda masih hidup,"tanya Kevin di sela pembicaraan mereka.


"Seb-,"Belum sempat Samuel menyelesaikan kata-katanya, suara tembakan mulai memekakan telinganya, aneh ini adalah lantai lima batin Samuel.


Dor! Dor!


Para gadis yang berada di dapur seketika berteriak kencang karena kaget mendengar suara tembakan itu.


"Akh..!"jerit Lenka, gadis itu terlonjak kaget ketika suara tembakan datang bersamaan dengan lampu apartemen yang padam.


Seketika Samuel berlari ke dapur dan memeluk wanita nya yang menyadari Lenka takut segera memeluk erat gadis itu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang miliknya.


Dan Gisel sementara itu seketika berjongkok bersama Agalista yang tidak gentar sama sekali, karena Daddy nya adalah seorang mantan mafia, situasi seperti ini sering dia rasakan.


"Si@lan siapa,"umpat Kevin yang menyadari kelengahan mereka dalam berwaspada menuju dapur.


Gelap, sangat gelap suasana di dapur hanya terdengar suara langkah kaki seseorang yang ramai, dan mereka yang semua berusaha diam.


"Sstt, jangan takut, aku disini."ujar Samuel mengusap tubuh Lenka yang tampak mengigil hebat.


Lenka mulai terisak dan di saat bersamaan, para bawahan Samuel yang berada di bawah apartemen menjaga Lenka 24 jam menelpon.


Drt.. drt..


"Big bos seperti nya itu penyusup, kami lengah, mereka membunuh penjaga apartemen juga, mereka melibatkan warga sipil, kami akan kesana,"ucap pria itu cepat memberikan informasi.


Samuel seketika mengumpat mendengar kata penyusup, di dunia bawah atau mafia larangan yang paling keras adalah membunuh warga sipil yang tidak berkaitan dengan urusun bisnis mereka adalah hal yang sangat tabu, dan itu patut di buru.


"**1*,"umpat Samuel mematikan ponsel nya.


"Kevin, cepat perintah tim pengejar kesini bersama Arbian, kita akan mengepung sementara mereka tiba, dan pastikan koordinat musuh kepada Sadam, cepat!"perintah Samuel dengan suara meninggi kepada bawahan nya itu, karena pintu apartemen seperti nya sudah di dobrak paksa.


Samuel segera melepaskan mantel nya lalu menyelimuti gadis yang terus gemetar itu dia membawa Lenka dalam gendongannya dan segera melangkahkan kakinya menuju salah satu lemari yang terdapat banyak rak buku dan ketika tombol di salah satu itu di buka, lemari itu terbuka seperti pintu.


Dia dengan cepat menggunakan remote kontrol kembali menutup lemari itu, yang ternyata terdapat ruangan rahasia yang sengaja Samuel desain jika ada kejadian mendesak seperti ini.


"Aku tahu kau takut gelap sayang, tapi kali ini coba lawan rasa takutmu, bawa mantel ku, jika kau merasa ketakutan, dekap saja, kau akan merasa aku ada bersamamu, dan kalian bertiga tetap saling menjaga,"ujar Samuel yang menghidupkan lilin di ruangan gelap itu.


Sungguh jika Lenka di tanya kapan kejadian terburuk nya terjadi saat menjadi keluarga william, mungkin ini adalah yang pertama kali nya, suasana remang-remang dan langkah kaki serta tembakan membuat Lenka kian takut dan menangis tidak mau melepaskan Samuel.


"Kau mau kemana? Jangan pergi nanti kau terluka bagaima Sam, tetaplah bersembunyi di sini hiks hiks,"tangis Lenka menahan pria itu dan memeluk nya erat.


Samuel menyunggingg kan senyumnya kecil, Bagaimana gadisnya ini bisa lupa kalau Samuel adalah bos mafia serta pimpinan Aeros, tidak ada rasa takut dalam jiwa Samuel, bahkan jika harus tertembak, mungkin dia masih bisa bertahan demi ambisi nya.


"Aku akan baik-baik saja, aku janji, jangan menangis, Agalista akan menjaga mu,"ucap Samuel melirik wanita berambut merah itu yang mengangguk tanda mengerti.


Sementara itu Kevin sudah menghubungi semua para bawahan dan ketua petinggi Aeros untuk menuju apartemen Samuel, begitu juga Arbian yang sudah mendapat informasi dan juga Sadam yang memukul setir mobil Gisel itu kasar, dia merasa sudah gagal menjadi infroman tim Aeros.


"Si@lan bisa-bisa nya mereka mengecoh kami, lihat saja akan aku cari kalian sampai ke lubang buaya pun,"geram Sadam menuju markas pusat untuk saling terhubung dan memberikan informasi.


Samuel mencium kening Lenka lembut, meyakinkan gadis itu bahwa dia akan baik-baik saja, Samuel segera berdiri meninggalkan Lenka yang meringkuk menatap nya dengan mata berair bersama Gisel, dan Agalista.


"Agalista, kau menyimpan pistol mu bukan, jaga mereka,"titah Kevin kepada sang tunangan.


"Jangan remehkan aku Kevin, aku akan menjaga mereka,"balas Agalista mengangguk tanda meyakinkan mengeluarkan pistol nya.


Walaupun Agalista sering bersikap kekanakan tapi dalam situasi seperti ini dia adalah senior nya, daddy nya yang mantan seorang mafia sering membuat keluarga Agalista terlibat di situasi seperti ini, mau tidak mau keluarga nya mengajarkan Agalista ilmu menembak dan bela diri.


"Good queen, kami pergi,"ucap Kevin kepada Agalista.


Kedua pria itu pergi menutup pintu ruangan rahasia itu kembali, mereka keluar menggunakan kacamata yang bisa melihat dalam kegelapan walaupun itu tidak sejelas yang mereka bayangkan.


Drap.. drap..


Langkah kaki Samuel dan Kevin di sadari para penyusup yang seperti nya belum pernah di temui Samuel seumur hidup nya kecuali pria yang memiliki luka sayatan di mata kiri nya yang tersenyum miring.


"Hai, long time no see morgan,"(lama tak jumpa morgan,)ucap pria itu menyapa dia seringai maut nya.


Tubuh Samuel bergetar hebat, dia tidak gentar dan takut sama sekali, gigi nya mengertak layak nya binatang buas yang ingin memangsa makanan nya, sungguh Samuel seperti binatang kelaparan di mata Kevin saat ini.


"You d@mn man,"(Kau pria si@lan,)ujar Samuel dengan tatapan tajam nya.


Kata-kata yang baru saja lolos dari mulut Samuel itu mampu membuat pria di hadapannya tersenyum sinis layak nya sambutan hangat oleh saingan mereka.


"Aku tidak menyangka, kau masih hidup bocah Morgan, tapi seperti nya kami harus membunuh mu, karena kau saksi satu-satu nya yang belum kami binasakan,"