
Sempat terdiam sejenak, pertanyaan Arista sebenarnya agak dibenci oleh Zui, pengalaman telah menimbulkan banyak luka dan itu membentuk pikirannya untuk mengenal sebelum berkata, atau tidak ingin diganggu.
“Tidak begitu keren menurutku ... jadi aku tidak mau,” jawab Zui dengan singkat, naif dan terkesan berkelir.
Anak-anak yang jiwanya sangat ingin tahu, justru memicu rasa penasaran apakah segitu mudahnya pendekar pemecah waktu tak ingin menurunkan ilmunya. Kendati demikian, ke lima anak hanya terdiam, kuhususnya Arista yang menerima jawaban itu untuk saat ini.
Akar-akar pohon masih mereka lompati demi mengambil jarak cepat, agak sulit untuk melacak siluman di wilayahnya sendiri, aura kelam siluman seperti menyatu dengan alam, membentuk jejak-jejak siluman yang nyatanya itu hanyalah aura yang membaur bersama alam.
Percakapan dengan pendekar pemecah waktu masih menyertai pencarian mereka. Dan memang terbang bukan cara yang efisien.
“Apakah kakak tahu berapa banyak musuh yang kakak kalahkan?” tanya Quin hanya sekadar ingin tahu.
“Cukup banyak, sampai-sampai aku tidak tahu jumlahnya,” jawab Zui dengan lugas.
“Siapa lawan yang paling kuat Kak?” timpal Darko.
“Yang paling kuat ya ...?” gumam Zui mengingat-ingat pengalaman pertarungannya.
“... antara perdana menteri bangsa Timur ras Etho, atau pendekar tangan satu ras Barqo ... sepertinya ... perdana menteri ras Etho ... ya, beliau lawan yang paling sulit, ilmu hikmahnya memang hanya sampat tahap tiga, akan tetapi strategi serta jebakan-jebakannya membuatku kewalahan dan hampir saja tewas,” papar Zui dengan serius.
Beberapa anak mengomentari kehebatan Zui sisanya hanya terdiam mendengarkan.
“Terus ... apa kakak selalu berpetualang sendiri?” tanya Arista.
“Tidak juga, terkadang berpetualang bersama para petualang, lalu bersama pendekar lainnya, hanya saja ... kakak lebih menyukai berpetualang sendiri dan lebih sering sendirian ...,” jawab Zui dengan santai.
Hanya kata, 'oh' dari Arista sebagai menerima jawaban Zui.
“Kakak ... apakah sayap besi itu didapat dari hasil rampasan pertarungan?” tanya lagi Arista.
“Ahh ... sayap ini bukan besi, ini sayap hadiah dari ilmuan ras Neznaz ... mirip seperti besi namun lebih menyerupai titanium, namun bukan juga titanium, sayap ini bukan hanya untuk terbang, namun juga untuk pakaian,” jelas Zui yang meluruskan.
“Waaah ... kakak sudah pergi ke banyak tempat, apakah ada tempat yang masih belum kakak kunjungi?” usut Quin.
“Masih banyak, bahkan jutaan tahun tidak akan cukup menjelajahi segala macam alam semesta ...,” ungkap Zui.
“Oh iya ... apakah kakak punya cita-cita? Hacim ...,” tanya Nerta penasaran.
“Kau ini bagaimana ... cita-citanya 'kan pendekar,” duga Gorah.
Lalu Darko menimpali, “Iya ... kakak sudah menggapai cita-citanya.”
Namun sayangnya, praduga atas berhasilnya Zui meraih cita-citanya dibantah langsung oleh yang bersangkutan. “Tidak anak-anak ... cita-citaku sudah tidak mungkin tercapai.”
Sebuah pernyataan yang begitu ambigu dan mengherankan. Yang membuat ke lima anak hingga terdiam dalam beberapa saat.
“Iya Kak, kenapa tidak mungkin?” sambung Darko keheranan.
Ada pengalaman menyedihkan yang terpatri kuat dalam ingatan Zui, menorehkan luka pada hatinya yang lalu membentuk pola pikirnya yang sekarang, bahkan dalam lima detik pertanyaan itu diambang hampir tidak terjawab, hingga akhirnya bersama siur angin yang kencang, Zui bertutur, “Sederhananya begini ... orang yang paling kakak cintai telah pergi, sehingga impian itu hilang pula bersamanya.”
Kebingungan semua anak mendengarnya, pernyataan Zui seperti berkelir yang malah menimbulkan lagi pertanyaan baru.
“Kalau boleh tahu ... apa impian itu Kak?” usut Nerta.
“Masih belum bisa aku utarakan ...,” balas Zui berkilah.
“Ih, aneh banget ... masa cuman cita-cita doang sampai harus ditutupin ... apa kakak malu membicarakannya?” heran Arista.
Beberapa anak pun mempertanyakan keanehan itu.
Namun demikian, mereka hanyalah anak-anak yang masih tumbuh berkembang, mereka tak mungkin memahami apa yang dirasakan Zui dan Zui tak mau lagi mengungkit-ungkit masa lampaunya, sehingga Zui berani menjawab, “Tidak, aku punya cita-cita kalau ingin membahagiakan orang tuaku, tetapi mereka telah wafat ... ya jadi mustahil cita-citaku tercapai.”
Ke lima anak mendengarnya, mereka memang anak-anak, namun mereka tidak bodoh. Mereka tahu, Zui si pendekar pemecah waktu telah berkelir. Merancang fabrikasi agar mereka tak mengetahui realitasnya.
Maka seluruh anak sengap, menerima pernyataan itu, dengan tujuan agar nanti waktu serta kebersamaan membentuk keakraban dan keakraban membentuk kepercayaan, hingga di situlah, persentase mengetahui kebenaran Zui akan jauh lebih besar. Jadi semuanya diam dan menikmati pencarian.
Pagi yang menyingsing kini secara waktu beralalu beralih pada siang hari yang terik, kegelapan hutan masih cukup kental, aroma pering pun tetap menyeruak mengisi kelamnya hutan Kematian, sehingga netra mereka masih butuh sorot cahaya sebagai penerang jalan.
Semakin ke dalam hutan, suara-suara aneh kembali bermunculan, hawa hangat terasa lembap dan gemerisik dedaunan pohon yang ditiup angin mengisi pencarian mereka.
Pohon-pohon besar tetap terlihat menjulang tinggi bahkan semakin ke dalam hutan, pepohonan semakin tinggi, berkisar 200 meteran, akar-akar pohon pun sudah seperti batang-batang pohon yang melesak ke tanah.
Mereka sempat berhenti sejenak, dilakukan demi mengidentifikasi kemungkinan jejak siluman yang mereka temukan. Tetapi faktanya, jejak itu terhalangi oleh aura kelam hutan yang melenyapkan jejak siluman.
Di saat itu juga mereka menyempatkan untuk menyantap pil Energi yang dibawa Arista, makan bersama demi mengisi energi, atau bila hanya ingin menghilangkan rasa lapar dan haus mereka bisa juga menyantap pil Tenaga yang harganya lebih murah ketimbang pil Energi.
Meski faktanya di dunia ini pil atau suplemen khusus sangat banyak dijual di pasaran, kisarannya ribuan jenis pil yang ada di alam jin, dibuat biasanya demi menyokong kekuatan mau pun intuisi, bisa juga digunakan untuk mengubah wujud, seperti dari laki-laki menjadi perempuan, atau dari ras Peri menjadi ras Manusia dan pastinya efeknya hanya berlangsung sebentar, atau tergantung kandungan pil itu sendiri.
Selepas mengisi energi dan tenaga, mereka terus mencari bersama dalam putaran waktu, hal-hal ganjil tak luput untuk diteliti lebih dulu.
Pencarian itu banyak memakan waktu, sampai-sampai pencarian tanpa hasil yang baik harus diterima hingga larut malam. Mereka mencari hingga berganti malam dan terus bergerak mencari.
Tak ada yang mengeluh, anak-anak mau pun Zui mereka tetap fokus dan asyik mencari ke setiap tempat. Melompat dan melompat dari akar ke akar menembus kegelapan hutan.
Tidak ada sama sekali, benar-benar tidak ada, terus hasil itu yang mereka terima, malam yang gelap tak menyurutkan kaki-kaki mereka untuk terus bergerak mencari.
Membiarkan waktu bekerja sepatutnya, memutar malam yang gelap menjadi pagi yang lalu pagi menjadi siang dan siang menjadi malam, hingga terus berlalu demikian. Dari jam ke jam lantas dari hari ke hari, lebih-lebih sudah berminggu-minggu mereka berjibaku dalam pencarian yang panjang dan menyulitkan. Seluruh waktu telah menetapkan lamanya mereka mencari, 7 bulan lebih adalah waktu yang kini telah dilalui. Dan hasilnya masih nihil.