
Disenja hari dalam kesejukan udara, Nurvati serta sang angsa putih tiba di kediaman Ketua Hamenka, berbekal informasi dan ingatan di kepalanya, Nurvati menemui sang pendamping hidup Ketua Hamenka. Tak lupa, dia memperkenalkan dirinya lengkap dengan statusnya bersama Ketua Hamenka, yang syukurnya sambutan dari istrinya cukup ramah tetapi disertai oleh senguk-sengak kesedihan.
Selepas Nurvati dituntun masuk ke dalam rumahnya, dia duduk di salah satu awan, di ruang keluarga, sedangkan istri Ketua Hamenka duduk di awan lain. Kecuali sang angsa yang berdiri santai di lantai.
Segenap gestur tubuh serta raut wajah kuyu dari sang istri telah menyimpulkan benarnya kalau Ketua Hamenka telah berpulang. Namun demi meneguhkan kembali kenyataan pahit itu, Nurvati menggali lagi keterangan darinya. Menanyakan apakah benar Ketua Hamenka divonis hukuman mati oleh atasannya.
“Benar, Nurvati ... hiks ... suami saya tewas dalam tugas ... hiks,” tuturnya dengan berat hati dan suaranya terdengar sengau, meneguhkan kembali kalau apa yang diragukan Nurvati adalah kebenaran.
Penjelasan tidak sampai di situ saja, istri Ketua Hamenka pun menuturkan kedatangan pesuruh dari kota, bila yang bersangkutan yaitu Ketua Hamenka telah gugur dalam misi. Misi itu berkaitan dengan gagalnya membimbing murid-muridnya untuk naik derajat menjadi malaikat dan hukumannya adalah kematian.
Pemaparan itu terdengar tedas dan eksplisit, tetapi mengandung celah untuk dibantah atau dipertanyakan.
Karena informasi yang Nurvati perasat, ialah Ketua Hamenka membelot untuk menyepakati kebenaran perang dunia ini dan semua pembelot akan dihukum mati. Dan itu berbanding terbalik dengan info dari sang istri, kalau Ketua Hamenka dihukum mati gegara gagal membimbing muridnya.
Info yang mengandung dualis serta menjadikan segala info tidak diskursif, semakin membingungkan Nurvati dan membentuk raut wajah merengut; ada kekeliruan di sini.
Selang dua detik, Marn hadir dengan melangkah tergesa-gesa dalam serius. Dirinya bahkan langsung menghampiri ibunya yang dilanda kepiluan, mereka langsung berkeluh kesah mengenai benarnya kematian Ketua Hamenka.
Kendati demikian, Marn yang terlihat kuat dan baik-baik saja, dia sebisanya menenangkan ibunya secara verbal.
Seperti memberi motivasi atau semacamnya.
Namun secara bersamaan Nurvati beranjak dari duduk, dia sadar kalau ada yang salah di sini. Karena info menjadi ambiguitas, kesalahan itu tak diungkapkan secara verbal pada istri Ketua Hamenka.
Oleh sebab itu, agaknya sangat tepat bila dirinya mencari informasi lagi dari sumber lain.
Tetapi langkah kaki Nurvati terhenti di depan pintu, niat untuk mencari lagi informasi akurat tertunda, karena secara tiba-tiba, Marn berlari dan menarik bahu kiri Nurvati, menginversinya menghadap pada Marn.
“Nurvati ... kau mau ke mana?” selidik Marn dengan raut wajah serius.
Nurvati yang memasang wajah kuyu bercampur kebingungan menjawab, “Aku akan mencari info lebih akurat lagi, karena ....”
Ucapannya yang belum rampung disela Marn. “Aku tahu! Tetapi masalahnya, kita hanya boleh tahu info yang dipaparkan pesuruh itu!”
Lagi-lagi keterangan yang samar didapatkan Nurvati, bukannya meredakan kebingungan, justru memunculkan dugaan lain; ada keterangan lain yang ditutupi.
Sampai-sampai Nurvati dituntun keluar rumah oleh Marn, dibawanya Nurvati ke beranda rumahnya, seolah ada wacana yang sangat penting untuk dikuak dan sudah semestinya ditutupi.
Spekulasi Nurvati memang fakta dan itu diperkuat oleh argumentasi dari Marn.
“Nurvati, jika kau membeberkan kebenaran kematian ayahku ... kau akan dituduh sebagai pelaku penyebar fitnah atau berita bohong dan pelakunya dapat divonis hukuman mati. Dengar ... ada peraturan baru setelah Pangeran Azer menjabat jadi raja dan kita hanya perlu mengikutinya.”
Terlebih sanggahan Nurvati perihal info yang langsung didapat dari Ketua Hamenka langsung disela lagi oleh Marn.
“Cukup info itu diberikan karena agar kamu tidak capek-capek mencari lagi. Simpan info tersebut dan ikuti saja prosedur yang ada. Rahasiakan.”
”Tetapi jika demikian ... kita sama saja mendukung kejahatan kerajaan! Karena ... mereka berusaha memaksakan kehendak ... sedangkan ...,“ ucap Nurvati dengan tersendat dalam perasaan campur aduk nan dilematik. Namun dirinya berkontemplasi, berusaha memahami setiap yang terjadi.
”Diam saja, setidaknya ... ayahku mati dalam membela kebenaran ...,“ kata Marn sungguh-sungguh dan tetap terlihat normal, sama sekali tak menunjukkan ekspresi kepiluan atau kehilangan orang paling berharga.
Selepasnya, Nurvati sepakat akan tuntutan tersebut, dirinya menyimpan info tersebut dan untuk saat ini tak berniat membeberkannya.
Istri Ketua Hamenka pun pada dasarnya paham akan kejadian yang sesungguhnya. Namun demikian, seluruh individu yang memiliki nasib yang sama, keluarga mereka semua bungkam dalam perkara yang terbilang berat ini.
Rakyat hanya boleh tahu kalau kematian sebagian Ketua Kehormatan di bangsa Barat adalah akibat gagalnya tugas mereka membina muridnya untuk naik tahap menjadi malaikat.
Dan bagi siapa pun yang membeberkan kebenarannya, dipastikan mati karena berusaha menyebarkan fitnah.
Sejak kepemimpinan Raja Azer, sejak itulah kinerja hukum mulai cukup ekstrem, kebebasan berpendapat hingga demokrasi seolah dinafikan.
Sangat rumit apa yang kini dihadapi masyarakat. Bukan hanya sebatas itu saja, pemerataan kompensasi bagi mereka yang ditinggalkan oleh gugurnya orang-orang terkasih di medan perang, terkadang tidak imbang, atau katakanlah tidak sesuai perjanjian 'hitam diatas putih'; tidak adil.
Masalah yang biasa ditemui, menyangkut tiga poin. Pertama kompensasi hanya bagi kompi yang berhasil menaklukan 3 kompi lawan. Ke dua, kompensasi hanya bagi mereka yang memiliki anak dibawah usia 17.000 tahun, tidak bagi para lajang, sekali pun memiliki keluarga. Dan terakhir, kompensasi hanya bagi mereka yang mendapatkan cap khusus dari perdana menteri, ratu serta raja.
Alasan terkuat mengapa Pangeran Azer mengubah aturan kompensasi kemiliteran perang, bukan lain, karena ini semua demi bela negara, demi harga diri atau martabat, sehingga baginya semua pejuang mesti dengan suka cita berperang tanpa iming-iming kompensasi.
Kendati demikian, hal tersebut mulai menjadi polemik. Secara sembunyi-sembunyi beberapa keluarga yang ditinggalkan mengajukan komplain gegara merasa dipermainkan, selebihnya tak berani mengajukan komplain, toh ini semua demi membela kebenaran, jadi wajar saja tak mendapat kompensasi.
Di lain sisi, dalam momentum kenyataan dukacita, pemakaman perihal kematiannya Ketua Hamenka tetap digelar. Malamnya jenazah beliau dimakamkan di pemakaman umum perumahan elite, daerah Ketua Hamenka.
Seluruh keluarga hadir dalam pemakaman, mulai dari sanak saudara hingga para murid Ketua Hamenka memberi penghormatan terakhir.
Tak lupa juga Nerta sebagai anak ke dua pun turut hadir. Lebih-lebih tangisan kepiluan bergaung selama prosesi pemakaman. Dia tak sanggup melihat kepergian ayahnya untuk selamanya, dan hanya gagalnya tugas yang diketahui Nerta sebagai penyebab kematian ayahnya.
Nurvati yang memang tak begitu akrab dengan Ketua Hamenka, tetap saja rasa pilu merebak dalam jiwanya. Meski tak ada air mata yang jatuh, tetapi cukup meyakinkan kalau gestur tubuhnya menyiratkan rasa prihatin dan kehilangan.
Sedangkan Marn nampak tegar dengan merangkul pada ibunya berusaha menguatkan mentalnya. Lebih-lebih derai air mata kematian masih melimbur wajah sendu sang ibu.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)