Nurvati

Nurvati
Episode 59: Pengorbanan Ibu Yang Membentuk Derita.



Dan apa yang telah terjadi, napas yang telah berlalu, telah berhenti seluruh hidup mereka —lima anak yatim— hanya bergeming Falas di sana bersama berlalunya waktu, sedangkan kepiluan serta derita, kini menjerat diri Sasvaty semakin erat, membuatnya lemah tak berdaya, meski semua yang dikorbankan untuk akhir yang bahagia tak terealisasi, anak dan ibu itu kini menanggung kelamnya fakta kematian yang memilukan.


Segala canda tawa harus jadi bayang kenangan, segala waktu yang dipersembahkan pada kenyataan kini terbayar oleh kematian ironi nan tragis.


Lemas tak berdaya kedua kaki Sasvaty menanggung beban hidup yang saat ini lebih berat, maka berlutut dengan dua lutut Sasvaty di lantai, lalu mendeprok di lantai dengan air mata kesedihan yang mengalir membasahi pipi mulusnya, kepalan tangannya mengendur seiring waktu yang harus dipasrahkan, membiarkan setiap butir tetes air mata deritanya jatuh mengenai rok gaunnya, menangisi kegagalan pengorbanannya, semua telah jadi realitas yang tak dapat dibantah, masyarakat tak dapat menerima ini dengan kepasrahan yang tulus.


Seluruh kebersamaan dan suara-suara kecerian teman-teman Falas kini hanya tersimpan syahdu dalam ingatan. Dia memakukan diri tak berguna di sana, segala jarak jauh sebagai kegembiraan petualangan, yang saat ini termasuk pengalaman dalam petualangan hidupnya, menjadi kesedihan, memang tak ada hubungannya dengan mimpinya, namun pengorbanan setiap waktu yang habis, kini malah terkesan membutakan hatinya pada lingkungan sekitarnya.


Teman-temannya menderita dan dia tak sempat membantu, bahkan tak sempat memberi mereka kekuatan dukungan moril. Falas memang tak menangis kesedihan, namun jiwanya terluka oleh kenyataan ini.


Di remang-remang cahaya lampu kunang-kunang, di sana hanya berlinang air mata dalam sepi penderitaan. Diliputinya mereka oleh realitas waktu yang masa bodoh, tak dapat diulang segala yang telah berlaku, rasa sakit mau pun rasa suka sudah melebur dalam putaran waktu, kalau boleh diulang, segala tangis, canda dan tawa akan diubah untuk akhir yang bahagia, atau setidaknya tak perlu ada yang tewas menanggung kehinaan.


Seiring suasana berganti, seiring penguburan lima anak panti, semua yang sempat dilakukan lima anak panti asuhan menjadi masalah, yang membentuk perkara hukum dalam perundang-undangan Peri bangsa Barat, namun syukurnya seluruh perkara hukum itu telah tuntas, yang kalau Sasvaty tidak jujur maka dia akan dihukum mati, syukurnya, masih ada saksi yang tak menjadikan perkara hukum ini semakin rumit.


Sasvaty dibebaskan bersyarat, dia mesti memisahkan pendidikan anak-anak panti asuhan yang lain dari masyarakat, supaya disekolahkan di panti asuhan saja.


Tetapi demikian, ketika seluruh hari-hari memacu rasa empati pada anak-anak yatim, agar supaya mereka tetap digembleng dalam hidup bermasyarakat, di sisi lain pun serangan kecaman masyarakat masih santer terjadi, memicu keputusasaan harus merebak pada jiwa Sasvaty, kendati begitu segalanya membentuk pula harapan kebahagiaan untuk segala anak yatim.


Jeratan opini-opini publik, atau kritikan masyarakat, itu kini mulai merasuk pelan mengendalikan pola pikir Sasvaty, menjadikannya diambang kebingungan.


Falas yang sebagai satu-satunya anak, hanya mampu memasrahkan diri pada keputusan ibunya, yang sering juga ia memberikan dukungan moril, agar segala putus asa mampu dihentikan.


Sasvaty masih dan selalu tampil berseri-seri penuh semangat, tetapi diri Falas yang telah mempelajari segala pengalaman realitas menyedihkan, terkadang ingin ibunya bisa menceritakan semua unek-unek beban hidup pada Falas, dan itu nampak percuma.


Sisi kejiwaan seorang ibu yang pekat pada Sasvaty menjadikannya tak mungkin membuat anak satu-satunya menanggung beban hidup yang begitu berat. Sasvaty hanya ingin Falas tetap fokus mengejar mimpinya, itu saja cukup. Jadi mau tidak mau Falas harus menerima senyum palsu ibunya sebagai tanda baik-baik saja. Padahal tidak.


Untuk ayahnya yang memiliki kekurangan tetap menikmati hari-harinya menjadi seorang petani, bekerja demi bertahan hidup.


Dan waktu itu, seluruh hari yang berlalu menjadi semakin berat, Falas masih sempat bepergian tapi tidak selama dulu. Malamnya dia pasti pulang. Hanya saja, meski ibunya terlihat tekun mengorbankan jiwa raga untuk kebahagiaan anak yatim, tetap saja waktu demi waktu yang dihabiskan terkesan sebagai pengorbanan untuk penderitaan yang lebih kentara lagi.


Ketika Falas yang baru pulang dari petualangannya, yang seharusnya istirahat dan makan malam bersama. Tiba-tiba ibunya memanggil lewat telepati, dan bahkan meminta Falas serta ayahnya menemuinya di salah satu hutan; hutan Barat.


Falas berhasil datang pada tempat yang diminta ibu Sasvaty, dan itu bersama ayahnya. Sebuah tempat yang ditumbuhi pohon-pohon nan menjulang tinggi, disertai rerumputan putih yang terasa lembut di kaki, sisanya, ada batu besar nuansa abu-abu yang berada di depan Falas.


Di sanalah ibu Sasvaty berdiri bersedekap tangan, bersama sinar rembulan yang menyorot menembus rimbunnya dedaunan pohon, menyoroti Sasvaty dengan kesan yang dramatis.


Telah berdiri saling menatap keluarga kecil itu barang sekejap saja, sebab bersama semilir angin yang berembus, tetesan air mata Sasvaty telah jatuh, menyiratkan beban hidup yang tak dapat ditanggung lagi. Sinar rembulan pun nampak membentuk setiap tetesan air mata Sasvaty seolah berkilauan. Gelap hutan agak tersingkap oleh sinar rembulan, angin cukup hangat, akan tetapi agak menyeramkan.


“Ibuuu ...!” seru Falas yang melihat adanya hal buruk tetapi dirinya malah tak berdaya untuk menghampiri ibunya. Hanya terpaku menengadahkan wajah dengan prihatin.


“Diam di sana Falas ... dengarlah perkataan ibu ...,” titah Sasvaty dengan mengernyit kening memasang muka masam, memandang serius pada anak serta suaminya.


Mendengarnya, kaki Falas serta seluruh perhatiannya kini kokoh terkunci pada sosok ibunya yang berdiri di atas batu.


Dan ayahnya memandang istrinya nampak tak fokus, kepalanya bergerak ke sana kemari seperti mencari yang hilang, tetapi mulutnya mampu melayangkan kalimat tanya. “Kenapa istriku di sini ... apa ini malam dan hutan?”


“Apa ... a-apa yang terjadi ibu?” tanya Falas mulai merasa getir dan ketakutan, bahkan netranya tak berkedip, memandang lekat-lekat ibunya yang diterangi sinar rembulan.


“Dengar! Ibu sudah membebaskan anak-anak yatim pada alam Manusia dan para perawat telah pindah pada panti asuhan yang lebih baik, kini mereka terbebas dari masalah negara ini ...,” ungkap Sasvaty dengan sungguh-sungguh dan masih meneteskan air matanya.


Tak ada senyuman tenang yang terlukis di wajah ibunya, tak ada kata-kata manis yang dulu selalu menutupi masalahnya. Semuanya kini mulai berubah. Aura, hawa serta suasana di sini tak bisa menjadikan tanda kalau Sasvaty baik-baik saja.


Falas mengepal erat menolak segala kenyataan yang akan disuguhkan, perasaannya bimbang, tak tahu harus berbuat apa, tak mengerti akan apa yang pantas dilakukan untuk membantu ibunya. Sasvaty selalu dan selalu menanggungnya sendiri.


Seluruh kenyataan ini mulai membuat saraf Falas menegang, giginya bergigit, netra birunya berbuntang enggan melewatkan sekedip saja sosok ibu tercintanya. Benar, setelah sekian waktu terlampaui, setelah segalanya direnggut kenyataan, air mata Sasvaty yang jatuh itu untuk saat ini, berhasil memberikan isyarat kuat pada kejiwaan Falas, kalau Sasvaty sudah melewati batas menanggung semuanya sendirian; menderita.


“KENAPA IBU MENANGGUNGNYA SENDIRI ...!?" teriak Falas, yang muncul berkat rasa kasihannya pada ibunya.