
Dengan meriahnya pesta malam ini petikan harpa nan syahdu masih mengiringi para pasangan yang berdansa teratur di udara.
Diliputi waktu bekerja, tangan kanan sang pria bertopeng melingkarkan pada pinggang sang putri bangsa Barat dan tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan sang putri, tentu saja sebelah tangan Putri Kerisia tanpa sungkan memagut bahu sang pria bertopeng. Mereka pun bergerak lembut ke kanan dan ke kiri dengan pose dansa yang seiring pergerakan berganti.
Topeng cermin pria itu nampak merefleksikan wajah jelita sang putri bangsa Barat, membuatnya seakan sedang berdansa dengan dirinya sendiri.
Namun demikian, yang kian hari Putri Kerisia semakin cantik nan anggun. Ditambah dirinya yang belum terlihat memiliki pasangan hidup, tentulah menggugah para pria untuk siap mendekatinya atau kalau perlu meluluhkan hati sang putri.
Saat musik syahdu nan tenang meresap dalam suasana, Putri Kerisia bertanya, “Bagaimana caranya Anda lolos dari pemeriksaan, bukankah semua tamu yang hadir mesti menunjukkan identitas? Dan lagi, di sini terdapat dinding gaib pelindung ...?”
Entah raut mukanya seperti apa, atau entah siapa sosok dibalik topeng cerminnya itu, namun dengan penuh percaya diri dia menjawab, “Saya seorang petualang dan seorang kenalan Raja Azer, sehingga cukup bagi saya menempelkan tangan pada cermin pintar maka identitas saya ada di sana ... kalau Anda mau bisa memeriksanya ....”
Tak begitu interesan Putri Kerisia untuk mengetahui identitas sang pria bertopeng, sehingga berani membalas, “Oh ... begitu ... saya baru tahu kalau Raja Azer memiliki teman semisterius Anda ....”
“Hem ... tetapi mungkin saya tidak semisterius itu juga ...," sahut pria bertopeng dengan tetap menari mengikuti irama.
Setelah itu, mereka berdua dengan para tamu yang berdansa dalam keteraturan mulai berputar-putar ke udara yang lalu kembali kepose awal dengan lembut dan tertib.
Sedangkan para pria bangsawan, tak begitu ambil pusing, mereka tetap tertib kembali berbincang-bincang santai satu sama lain.
“Apakah Anda memiliki tujuan lain dalam mengajak saya menari?” tanya Putri Kerisia secara santai dan wajahnya tetap datar. Tetapi intonasi suaranya cukup lugas nan meyakinkan.
Dengan masih menempelkan tangannya pada pinggang Putri Kerisia dan menyisakan jarak tubuh sekitar 30 Cm, pria bertopeng menjawab, “Akhir-akhir ini saya mendengar kalau Anda tak bisa tersenyum ... jadi ... saya cukup tertarik untuk menyelidikinya ....”
“Hmmm ... hanya karena seorang putri dari bangsa yang besar tidak bisa lagi tersenyum ... Anda datang ke pesta resmi ini hanya untuk dapat membuat saya tersenyum?” tanya lagi Putri Kerisia dengan lugas dan tatapannya nampak tajam pada topeng cermin yang merefleksikan wajahnya.
Dalam suara tegas nan dalam, lelaki bertopeng hanya membalas, “Iya.”
“Kalau begitu ... Anda tidak mungkin bisa membuat saya tersenyum ...,” tegas Putri Kerisia cukup yakin.
“Kenapa? Bukankah Anda memahami sikap sopan dan sikap formalitas?” heran pria bertopeng tanpa tahu penyebab tidak dapatnya Putri Kerisia tersenyum.
Masih tetap berdansa ke kanan dan ke kiri dengan teratur nan lembut mereka berdua. Putri Kerisia sejenak membisu dalam pertimbangan untuk membeberkan penyebabnya atau tidak. Lebih-lebih ini ada sangkut pautnya dengan bangsa lain.
Selepas tiga detik keheranan pria bertopeng melingkupi kenyataan, Putri Kerisia dalam tetap santai nan tegas berucap, “Apakah saya mesti tersenyum untuk Anda atau ... untuk kesopanan?”
Sebuah ucapan yang terdengar berkelir dan malah membuat pria bertopeng menjadi diam dalam bingung. Seakan hal itu harusnya tak perlu ditanya.
Mereka masih menari bersama petikan musik harpa nan merdu, mereka berdansa nampak begitu natural, seolah kalau sebelumnya mereka sempat berlatih keras demi hari ini.
Sedangkan para tamu yang hadir masih sebatas pejabat-pejabat kota serta para pengurus sekte atau organisasi belaka. Pesta ini memang ditujukan sebagai pertemuan resmi demi mempererat persaudaraan sesama pribadi terhormat.
Tentu saja dipan-dipan telah dipersiapkan bagi mereka yang sibuk hanya untuk datang bersosialisasi atau berkoalisi dan karena kemungkinannya para tamu yang hadir akan membeludak, sehingga para pribadi terhormat bisa bergantian datang diesok hari atau diwaktu dalam jadwal.
Dengan tetap betah menempelkan tangannya pada pinggang Putri Kerisia dan dalam serius pria bertopeng bertanya, “Putri ... mengapa Anda tidak tersenyum untuk semua orang dan kesopanan?”
Jelas pernyataan Putri Kerisia menimbulkan lagi pertanyaan dan praduga aneh.
“Tidak pernah tahu caranya tersenyum? Apa Anda bercanda?” heran pria bertopeng cukup serius mengajukan pertanyaannya.
Dan tiba-tiba satu putaran bersama ke udara kembali terjadi, seluruh tamu yang menari cukup tertib melakukan dansa seakan memang sudah terlatih.
“Saya tidak bercanda ... Anda bisa melihat kejujuran saya dari mata saya ini,” jelas Putri Kerisia tanpa rambang dan tetap menatap topeng cermin yang menghalangi wajah sang pria.
Untuk sesaat kalimat itu membuat pria bertopeng bungkam dalam gerakan dansanya.
Sekitar 10 detik dilalui barulah dia kembali bicara, “Iya ... kalau begitu, apakah dansa kita ini menjadi percuma? Atau mungkin tepatnya adalah ... apakah tujuan saya berdansa dengan Anda percuma?”
Putri Kerisia terdiam beberapa saat, kemudian dengan yakin nan mantap berkata, “Iya, sia-sia tujuan Anda berdansa dengan saya ....”
Seketika, pria bertopeng itu berhenti dalam tariannya bersama Putri Kerisia, membuat mereka terpaku dalam pose dansanya di udara.
Entah apa mungkin pernyataan Putri Kerisia membuat pikiran pria bertopeng menjadi beku, atau justru tak ada gunannya juga berdansa dengan Putri Kerisia, memicu pikirannya untuk menghentikan kesia-siaan ini. Pria bertopeng itu menyingkirkan tangannya dari pinggang sang putri, menjauhkan dirinya dari tubuh Putri Kerisia, membuat mereka terbang berhadapan dalam kesan yang serius.
Entah mengapa pria bertopeng malah menyudahi dansanya.
Itu pula yang membuat Putri Kerisia mencetuskan pernyataan mengandung petunjuk. “Tapi ... saya mendapat pentunjuk ... kalau saya dapat tersenyum kembali bila saya bertemu dengan orang yang tepat dan tulus menjadi sahabat saya ....”
Mendengar ucapan yang taksa itu, pria bertopeng bukannya tercerahkan justru malah memunculkan pertanyaan, “Menjadi seorang sahabat yang tulus?”
“Tanpa memandang status sosial saya, tanpa memandang latar keluarga, tanpa memanfaatkan saya ... dan benar-benar menjadi seorang sahabat yang solid ...,” papar Putri Kerisia dengan menatap topeng cermin itu penuh keyakinan seakan mengajukan permintaan.
Namun walau kalimat itu telah cukup tedas digaungkan oleh sang putri bangsa Barat, pria bertopeng malah lagi-lagi bertanya, “Apakah benar begitu ... maksud saya, apakah benar di dunia ini memang ada seseorang yang tak pernah bisa tersenyum lalu hanya bisa tersenyum ketika memiliki seorang sahabat yang tulus?”
Meski pertanyaan itu seperti menyinggung, namun Putri Kerisia sang wanita yang cukup tangguh menyikapinya dengan santai. “Ada ... dan Anda sedang berhadapan dengan orang itu ....”
Tercenung pria bertopeng di sana, membiarkan dirinya dan Putri Kerisia terbang di tengah-tengah para tamu yang berdansa, hanya mematung mereka berdua di sana, melarutkan diri dalam memandang satu sama lain.
Namun sekonyong-konyongnya pria bertopeng malah berujar, “Maaf, Putri Kerisia ... waktu saya sudah tiba ... sekarang saya mesti pergi ....”
Tak bicara Putri Kerisia, dirinya malah mengernyit kening kebingungan.
Dan pria bertopeng mulai terbang menjauh, mulai menghindari Putri Kerisia. Lalu dengan berbalik ke belakang pria bertopeng pun pergi.
Namun bersama kepergian yang tak disia-siakan itu, Putri Kerisia melontarkan kalimat tanya. “Siapa nama Anda?”
Dari jarak cukup jauh, dengan lantang pria bertopeng itu menjawab, “Sebut saja saya Kaca! Dan besok saya akan kembali ...!”
Selain seluruh pusat perhatian para tamu sempat tertuju pada Putri Kerisia, dirinya pun hanya terdiam di udara.