Nurvati

Nurvati
Episode 157: Takluknya Mawar Berduri Dalam Cerimannya.



Meski waktu telah menunjuk pada hari tengah malam, pesta yang digelar di salah satu gedung berarsitektur cukup unik itu semakin meriah. Di pusat kota itulah acara berlangsung.


Acara pertemuan para bangsawan atau para pejabat ini dilangsungkan selama lima hari, tanpa jeda.


Aula yang tentunya dipilih pun sangat luas, empat kali lipat dari lapangan sepak bola dan pastinya mewah terbuat dari bebatuan mulia. Penuh kilauan serta meriah.


Banyak di antara tamu yang hadir nampak berdansa di udara dengan pasangan mereka masing-masing. Senandung petikan harpa nan merdu mengisi pekat aula mewah ini dan para pribadi menikmati acaranya tanpa beban.


Di salah satu dipan yang melayang bertatahkan permata-permata jelita, seorang putri bangsa Barat sedari tadi duduk tegap tanpa ekspresi senang atau susah; datar. Selebihnya kesan anggun nan elok selalu terpancar benderang.


Putri Kerisia hanya memandang lurus ke depan mengawasi berlangsungnya acara malam ini, terlebih dirinya ditemani oleh dua dayang yang jelita, ikut duduk pada dipan di samping kiri dan kanannya.


Belum ada seorang pria pun yang mengajak Putri Kerisia untuk menari bersama atau berbincang-bincang. Para lelaki kebanyakan telah membawa pasangannya masing-masing, lebih-lebih Putri Kerisia adalah wanita yang paling profesional dan paling formal dalam kerajaan, membuat para lelaki mesti memiliki selera tinggi atau kualitas sikap yang setara dengannya.


Tapi disela-sela spekulasi tidak mungkinnya Putri Kerisia diajak berdansa itu, justru telinga serta pandangannya disuguhkan oleh sekumpulan pria bangsawan yang berunding. Masalahnya, di lain sisi itu, mereka merundingkan untuk mencoba mengajak Putri Kerisia berdansa atau setidaknya berbincang bersama sang putri.


"Ayo, cepat siapa yang pertama?"


"Aku saja!"


"Tidak, kau tidak pantas pertama!"


"Kalau begitu, aku!"


Cukup sengit mereka bertaruh untuk lebih dulu memulai, hingga sekonyong-konyongnya para pemuda itu terpaksa mengalah diri, terpaksa dikejutkan oleh seorang pria yang entah dari mana, berani mendahului mereka.


Seorang lelaki asing dengan wajah yang ditutupi topeng cermin dalam balutan setelan jas nuansa hitam telah terbang di hadapan Putri Kerisia, sembari bernamaskara penuh hormat dan tertunduk memohon, “Tuan putri ... maukah Anda berdansa bersama saya?”


Dua dayang sempat terkejut untuk sesaat, selain daripada sosoknya yang bertopeng tak dikenali, mereka tercengang dengan keberanian pria itu yang mengajak seorang Putri Kerisia yang memiliki selera di atas rata-rata untuk berdansa, sehingga cukup ragu bila Putri Kerisia bersedia.


Di sana Putri Kerisia membiarkan kalimat sang pria pemberani itu diambang tak terjawab. Pandang Putri Kerisia bahkan tertuju ke depan, jauh ke belakang kepala sang pria.


Tapi cukup betah lelaki bertopeng itu pada sikap hormat dalam bernamaskaranya. Membiarkan para pemuda di sisi lain menatap sinis padanya.


Hingga salah seorang dari sekumpulan pemuda itu berbisik mengejek, “Hah ... aku yakin pria itu hanya akan di diamkan di sana tanpa kepastian ....”


Dan laki-laki lain menimpali, “Ya, memangnya boleh orang asing yang tak dikenali itu bergabung dalam pesta?”


“Iya juga ya ... ini 'kan pesta resmi,” sahut seorang pemuda lain.


Secara nekat, para pemuda itu pun melayangkan kalimat mengandung sinisme keras-keras.


“Hei bung ... kenapa tidak buka topeng itu agar wajah burukmu bisa diludahi Putri Kerisia!”


“Iya! Tunjukan wajah kambing itu supaya kita bisa membawamu kembali ke kandang!”


Lalu kalimat sinisme itu ditutup apik oleh tawa-tawa meledek dari kumpulan pemuda bangsawan di sana.


“HAHAHAHAHA ....”


Kendati cukup memalukan atau bahkan cukup menyakitkan bagi korban, justru hal itu sama sekali tak mengubah sikap sopan sang lelaki bertopeng itu, dia tetap profesional dalam sikapnya.


Selebihnya, Putri Kerisia masih duduk dalam sikap apatis, pandangan lurusnya sama sekali tak mengisyaratkan ketertarikan pada lelaki misterius ini.


Sehingga seiring waktu bekerja, perbuatan sang pria bertopeng masih diambang kesia-sian.


Itu pula yang kembali membuat para kumpulan lelaki bangsawan melontarkan lagi kalimat-kalimat mengandung sinisme.


“Hei bung! Kau merusak pemandangan, kembalilah ke kandang sebelum majikanmu menangis!”


“Pergilah dari sana! Kau bukanlah selera putri!”


Tapi sekali lagi pria bertopeng itu sama sekali tak menggubris atau terganggu oleh kelakuan konyol para pemuda bangsawan itu. Dirinya yang kukuh tetap pada sikap sopannya.


“Heh kambing bertopeng apa kau dengar peringatan dari kami! Atau jangan-jangan kau tidak tahu caranya mendengar!?”


Ledekan yang diselingi tawa sinis itu masih belum menggugah pria bertopeng untuk beranjak, dia teguh tanpa goyah, bergeming pada posisinya.


Sedangkan para tamu lain tetap asyik pada kesibukan masing-masing, tak interesan pada kejadian unik itu, atau mungkin memang belum ada yang interes dari kejadian tersebut.


Namun demikian, para lelaki bangsawan kembali melontarkan kalimat-kalimat mengandung sinisme, berusaha mengenyahkan lelaki bertopeng dari hadapan Putri Kerisia.


“Wah wah ... si kambing tidak tahu isyarat penolakan ya ...?”


“Atau mungkin dia tidak tahu sopan santun!”


Walau banyak celaan mengisi kenyataan yang merasuk pada telinga pria bertopeng, hebatnya belum mampu memicu emosi marahnya untuk bangkit, segala aliran darah serta detak jantungnya tetap stabil seiring berlalunya detik.


Pria itu cukup kebal dalam hinaan-hinaan rendah seperti tadi, sikap hormat pada sang putri bangsa Barat pun tetap betah direalisasikan.


Entah apa yang membuatnya cukup kuat dalam banyaknya cecaran olok-olok itu, sampai harus 13 menit dilaluinya menanggung beban ketidakpedulian.


Iya, Putri Kerisia masih duduk manis dengan menjuntaikan kaki ke bawah, dia terlihat apatis, mematung dalam pose tegap dan elegannya tanpa rambang.


“Menyerahlah ... kau sudah kalah pria kambing!”


Bukan hanya satu atau sebelas kali pria-pria bangsawan itu meledek sang pria bertopeng, berkali-kali sudah pria bertopeng dijejali suara-suara sinisme itu.


Tetapi begitulah, pria bertopeng cermin itu sama sekali tak terpancing ocehan ketidakberdayaan para bangsawan. Tetap bersikap sopan dan formal.


Hingga momen itu mulai menjemukan para pria bangsawan menyaksikan sikap bodoh pria beropeng, menggerakkan dua sayap mereka untuk mengepak terbang menghampirinya.


“Hei bung! Apa kau tidak memahami penolakan dari Putri Kerisia!” tegur seorang pria berambut pirang dari belakang pria bertopeng.


“Iya kembalilah ke kandang!” sambung pria berambut jingga meledek.


“Ayolah ... kau mempermalukan dirimu sendiri!” timpal pria berambut hitam pendek.


Tak beranjak sama sekali, lebih-lebih tak berubah sikap hormat sang pria bertopeng di sana, seolah dirinya tak pernah merasakan kehadiran para pria bangsawan itu.


Oleh sebab itu, sikap apatis pria bertopeng telah cukup menggugah marah para pria bangsawan, hingga pria berambut pirang berniat maju untuk mengusir lelaki bertopeng itu.


Niatnya untuk mengusir, alih-alih mereka malah dikagetkan oleh realita yang terpampang jelas di hadapan mereka, benar, semua pria bergeming kala secara impulsif, mendapati netra merah lembayung Putri Kerisia bergerak dan tertuju pada wajah bertopeng cermin lelaki di depannya.


“Saya cukup interes pada sikap profesional Anda ...,” ujar Putri Kerisia dengan menyanjung.


Bukan itu saja, telah diangkat tangan kanan Putri Kerisia, terulur ke depan siap disambut dengan manis oleh lelaki bertopeng di depannya. Itu adalah isyarat menerima ajakan pria bertopeng.


Sontak, para pria bangsawan cukup dihebohkan oleh kejadian yang sebelumnya mereka tak menduganya dan hanya sanggup bergeming mereka di sana, membisu tanpa tahu harus bicara apa.


Otomatis, tangan kanan sang pria bertopeng dengan senang hati menyambut tangan kanan Putri Kerisia, yang menggugah diri Putri Kerisia untuk terbang bersama lelaki asing itu.


Dan saat pria bertopeng itu berpapasan dengan para lelaki bangsawan, dirinya berkata, ”Minggirlah pria-pria kesepian, biarkan kami lewat!“


Sebuah kalimat balasan yang begitu telak diterima mereka, yang mau tidak mau membiarkan Putri Kerisia untuk pertama kalinya sudi untuk pergi dengan seorang pria.


Dan hanya menanggung pasrah lengkap dengan rasa malu yang menjerat para pria bangsawan itu. Menatap tak berdaya pada pria bertopeng dan Putri Kerisia yang mulai berdansa.


Lebih dari itu, Putri Kerisia yang memang sedari tadi diasumsikan para tamu tidak mungkin berdansa dengan seorang pria, kini asumsi-asumsi itu mesti patah oleh realitas yang terpampang jelas.


Seluruh mata dari para tamu sempat tersorot heboh pada Putri Kerisia serta pasangan dansanya. Untuk kali pertamanya, kejadian itu membangkitkan interesan para tamu.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)