Nurvati

Nurvati
Episode 87: Senandung Ayat-Ayat Kematian. (Part 2)



'Cetér' cemeti kembali mencambuk dengan suaranya yang begitu merdu di telinga Haro yang berdarah, tetapi itu adalah siksa yang teramat sakit bagi siluman raksasa yang menangis darah.


Di sana bulu-bulu tubuh siluman raksasa itu terus memberikan hawa panas penyiksaan, membakar jiwanya yang ingin meronta tapi ayat-ayat Kematian telah terpatri pada jiwanya, kecuali bila Haro yang menghapus wujudnya maka terhapus pula seluruh ayat Kematian. Atau dia memang menghendakinya.


Dengan angin yang menebar aura kematian, Logia melesat menuju Haro. 'Ceter' cemeti kembali memberi derita pada siluman, yang mencambuk tepat pada kepalanya.


“GHROOOOOOOOAAAAAAAARR ...!”


Tak dapat berbuat apa pun, sang siluman raksasa hanya berlutut dengan dua lutut dalam kebutaan tak berdaya.


Dan kala suasana tegang masih melingkupi, Logia dalam jarak 10 meteran telah terbang di samping kiri Haro


“Haro hentikan!” sentak Logia dengan serius.


'Ceter' kembali sepi dipecahkan suara cambukan dan raungan sang siluman. “GHROOOOOOAAAAAARRR!”


Tapi tak sedikit pun Haro mendengar suara bentakan Logia, telinga berdarahnya hanya mau mendengar suara-suara rintihan siksa para jiwa.


Sehingga 'Ceter' suara cambukan yang rasa sakitnya tak dapat dielakan.


Maka Haro melantunkan ayat ketiga. Yang tentunya bukan dengan mulutnya, karena bagaimana juga mulutnya telah beralih menjadi kulit yang abu-abu pucat. “Hai jiwa, Aku hobi menyiksa dan telah Ku-laknat 7 Dewi dalam cahaya hitam yang kelam. Hai jiwa, tahukah kamu siapakah Dewi kedua itu? Kedua ... Dewi di Timur.”


Ayat-ayat Kematian itu hanya dapat didengar dari dalam jiwa, dan selama masih dalam radius satu kilometer maka mau tidak mau jiwa akan mendengar senandung ayat Kematian dan hanya mereka yang dituju yang akan merasakan siksa-Nya.


“GHROOOOOOOOAAAAAAAAR ...!”


Teramat sakit yang kini siluman itu rasakan, karena ayat ketiga telah membuka dampak selanjutnya; kulit siluman itu mulai bergetar mengirimkan rasa sakit yang teramat, laksana kulitnya yang direndam air panas nan mendidih yang kemudian kulit itu disetrika lalu disirami air keras, lantas digerogoti belatung hingga terasa habis kulitnya, namun demikian, kembali utuh kembali tersiksa tiada akhir dan sang jiwa telah melihatnya demikian.


“GHWAAAAAAAAAAAAAAAH ...!”


Dia tak dapat mati tapi tak juga hidup, siluman itu terjebak dalam alam Siksa, tak ada yang dirasakan kecuali siksa, siksa dan siksa, hanya rasa sakit yang terasa karena hanya penderitaan yang terus menyayat jiwa butanya.


“Haro! Hentikan!”


“Hentikan Haro!”


“Hentikan!”


Tiga kali suara keras-keras itu ikut mengisi suasana, akan tetapi suara Logia sama sekali tak diacuhkan oleh Haro.


'CETER' 'CETER' 'CETER' 'CETER' suara-suara cambukan terus mengisi suasana menegangkan nan mengerikan ini.


Bergigit, menyalang sekaligus getir, itulah yang terlukis dalam gestur tubuh Logia, dia masih menunggu Haro untuk menyadari keberadaannya, meski jiwanya tercemari ketakutan akan aura kematian ini, tetapi Logia telah siap untuk menghentikan kengerian Haro.


Hanya saja, ketegangan harus kembali bergejolak lebih tedas lagi, yang dengan tiba-tiba rambut api Putih Haro telah berubah bernuansa Pingai, dan dua sayap nuansa Putih telah tumbuh di dekat dua sayap hitamnya; menjadi empat sayap.


Dia meningkatkan level kesaktian sihirnya; Malaikat Penghukum level Dua. Hanya itu yang berubah. Namun potensi penyiksaannya meningkat dua kali lipat.


Cambukan dari jari telunjuk Haro kembali menerjang siluman raksasa itu 'Ceter'. Rasa sakitnya terus menjerat jiwanya, bulu-bulu serta kulitnya semakin mengirim derita yang tiada henti dan itu dua kali lipat dari sebelumnya.


“HARO CUKUP!” teriak Logia yang telah melihat kejadian ini sudah tak dapat ditoleransi.


Dengan hati yang ketakutan dan keseriusan penuh, Logia terbang kearah Haro.


“HAROOOOOOOO ... SADARLAAAAAAH ...!” teriak Logia keras-keras didekat telinga kiri Haro.


Haro dalam wujud Malaikat Penghukum Level Dua sekonyong-konyongnya menoleh ke kiri, memandang dengan wajah mengerikannya pada Logia.


Berbuntang Logia saat sadar akan hal itu, akan tetapi, ia lantas kembali menyentak, “SADAR HARO!”


Tidak, tidak ada respons berarti dari Haro, mimpinya telah mengalun mesra meninggikan angannya dan belum saatnya untuk terbangun dari mimpi. Dia lelap teramat lelap jauh ke dalam mimpi indahnya. Haro kembali memalingkan muka, memandang lagi siluman raksasa itu.


Bergigit ngeri, terdiam merasa hampa, aura kematian yang mencemari ruang di sekitar Haro mulai memberi efek buruk pada Logia, dan itu disadari oleh Logia. Sehingga, tepat saat suara 'Ceter' dari cambukan jari Haro menemani suasana tegang, tangan kanan Logia memancarkan energi nuansa merah.


Lantas 'Buak' pipi kiri Haro ditinju oleh Logia, hingga Haro terhempas sejauh 30 meteran ke tanah, tanah mengepul sekaligus terbakar berkat tetesan darah hitam jubah Haro.


“SADARLAH HAROOOOOOOOOOOOO ...!” teriak Logia yang enggan menerima tindakan Haro yang terlihat gegabah.


Kejadian itu tertangkap netra Putri Kerisia serta Arkta.


“Bagaimana ini?” resah Arkta. Bukannya apa-apa, Haro sudah beralih wujud yang artinya beralih pula pada pikiran yang berbeda yang tak segan untuk menyerang kawannya sendiri.


Masih terpampang raut muka datar tak berperasaannya, begitu santai Putri Kerisia hingga berani menjawab, “Biarkan ... biarkan dulu mereka.”


Tak ada lagi yang dikatakan Arkta, dia menuruti sang pimpinannya. Baginya Putri Kerisia cukup bijaksana, lebih lagi dia terlihat sangat cantik.


“GHROOOOOAAAAAAR ...!” teriak siluman raksasa yang terus menanggung derita.


Naik turun napas Logia, mengepal ke dua tangannya dan terbang menghampiri Haro.


Di sana, Haro telah berdiri dengan melayang terbang setinggi 10 meteran, darah hitamnya masih mengucur dari lubang hidung dan lubang telinganya. Memandang kedatangan Logia.


'Wush' Logia melesat cepat, dan 'Buak' 'Buk' 'Buak' 'Buk' 'Buak' tak ayal Logia malah menghajar Haro, memukulnya dengan ke dua tangan bertubi-tubi, tanpa energi. Selain membenci Haro, cara itu supaya menyadarkan Haro kalau perbuatannya salah. Salah dimata Logia.


“SADAR PAYAH!”


“SADARLAH CEPAT!”


'Buak' 'Buk' 'Buak' pukulan-pukulan dari Logia membuat Haro hingga mundur beberapa senti ke belakang. Namun rasa sakit dari pukulan itu tak begitu berarti. Haro hanya diam tak membalas; belum.


“Dengan sifat-Nya yang melaknat dan hobi menyiksa, kukorbankan namaku dalam kemanunggalan laknat-Mu.”


Ayat Kematian Malaikat Dua telah bergaung!


Dan itu bukan hanya untuk siluman!


Logia pun disihir oleh ayat Kematian itu!


'Woush' jelas Logia langsung terhunjam ke darat 'Bruk' jatuh terbaring dengan memegang kuping erat-erat, karena bagaimana juga ayat itu membuat tuli pendengarannya, membuat tuli jiwanya, membuat darah keemasan mencuat dari lubang telinga Logia, maka dalam ketakutan dan kegelisahan mendorongnya membentuk teriakan. “KYAAAAAAAAAAAAAAA ...!”


“GHWROOOOOAAAAAAAAAAAR ...!”


Bahkan tak berdaya pula di sana siluman raksasa menerima ayat Kematian Malaikat level Dua, telinganya tuli terus berdarah, jiwanya pun tuli terus tersiksa, tumungkul dalam berlutut tak mampu berbuat apa pun. Sihir terlarang yang faktanya tak dapat dihalau sang siluman raksasa.


Haro kembali terbang menuju siluman raksasa, dirinya tak mau membiarkan sedetik pun siluman hina itu bisa bernapas lega, karena untuk saat ini siksaan adalah hadiah terindah untuknya. Sedangkan untuk Logia, dia —Haro— lupa mengapa ayat Kematian harus bersenandung menyiksa jiwa Logia.