
Di atas hamparan pasir nuansa kelabu, Putri Kerisia serta Haro terus terbang menyelia setiap yang dapat ditilik, sudah beberapa kali mereka ke tempat ini dan kembali lagi ke sini dengan tujuan yang sama tetapi dalam determinasi pengharapan penuh.
Dari macam tempat, sudut miring, butiran-butiran pasir, senti ke senti, tak luput mereka menyisir tempat ini.
Langit di sini terhalangi oleh awan-awan hitam dari gunung berapi, membentuk kegelapan pada lingkungan sekitar, kegelapan yang mau tidak mau netra mereka berdua harus memancarkan sorot cahaya, pancaran sinar alami dari kulit mereka saja belumlah cukup, sehingga butuh penerangan yang lebih memadai.
Dalam peninjauan kali ini mereka sangat berkonsentrasi, suasana sepi selaras dengan kebisuan mereka, waktu yang melaju bersama kegiatan penting mereka seirama dalam jarak-jarak yang telah dilampaui.
Telah meter dari meter terlintasi mencari di mana sang Ifret yang memiliki liontin ujian itu.
Hingga rasa jemu mendorong Putri Kerisia membuka komunikasi.
“Haro ... sudah cukup lama kita bersama-sama dalam ujian ini ... aku tahu kau melakukannya bukan hanya untuk dirimu sendiri ... tapi juga untuk tim ...,” ujar Putri Kerisia dengan menjeda kalimatnya.
Sedangkan Haro nampak mendengarkan dan tetap fokus memandang pada area berpasir.
“... mungkin kau lupa dengan pertanyaanku lima puluh tahun yang lalu tentang siapakah temanmu yang paling diingat dalam kepalamu,” lanjut Putri Kerisia mencoba mengingatkan pembicaraan ini yang mana memang pernah dibahas.
Spekulasinya Haro lupa.
Tapi dengan tersenyum tenang dengan tak melepas pandangannya dari area berpasir, Haro tiba-tiba berkata, “Aku ingat, ya ... itu kuingat.”
Maka spekulasi Putri Kerisia dipatahkan langsung oleh yang bersangkutan, membuat Putri Kerisia mengapresiasinya dengan menyanjung, “Hem, baguslah ... itu artinya kau memang menganggap Logia dan Arkta sebagai teman ....”
“... lalu apa jawabanmu?” lanjutnya.
Malah mengernyit kening kebingungan Haro ditanya seperti itu dan justru berbalik bertanya, “Jawaban apa?”
Sudut alis kiri Putri Kerisia seketika agak berkedut, dirinya terkaget oleh kalimat tanya yang mengandung kesimpulan kalau Haro lupa.
“Begini ... aku bertanya, seberapa pentingkah pertemanan kita dalam tim, atau kalau tim ini bubar lalu kita hidup masing-masing, apakah engkau akan mengingat kami sebagai teman dan siapa yang kemungkinannya pertama kali kau ingat?” papar Putri Kerisia dengan serius.
”Ooh ... aku agak lupa ...,“ keluh Haro dengan mengelus-elus kepala belakangnya.
”... hemmmm ... aku belum bisa menjawabnya sekarang, mungkin seratus tahun lagi baru akan kujawab ...,“ imbuh Haro bersungguh-sungguh.
”Seratus tahun lagi? Waktu itu lima puluh tahun lagi ... apa nanti kau juga akan bilang dua ratus tahun lagi?“ sindir Putri Kerisia.
”Hehehe ...,“ cengenges Haro.
”... begitu ya ... maaf-maaf aku pelupa ... tapi ...,“ sesalnya dengan menjeda kalimatnya.
”... ya kalau begitu, aku akan jawab sekarang ...,“ imbuhnya.
”Hem.“ Putri Kerisia mengangguk mempersilakan.
”Tapi ngomong-ngomong ... pertanyaannya tadi seperti apa?“ tanya Haro kembali agak lupa.
Dengan tetap tenang Putri Kerisia berujar, ”Dengar baik-baik ... jika kita gagal dalam ujian ini, si Logia bisa membunuh temannya sendiri, dan kalau kau mati hanya karena berputus asa dengan kehidupan yang kau jalani, si Logia serta Arkta akan mengenangmu sebagai penghambat tim ... jadi, aku ingin bertanya, apakah penting kita lulus dari sini demi bergabung dalam kemiliteran?“
Bukannya dijawab, konyolnya Haro malah nyeletuk, ”Hemmmm ... kalau ujungnya aku lupa, kenapa Anda bertanya? Sepertinya jawabanku tak begitu penting.“
”Tentu saja penting ... kau satu-satunya orang yang menganggap kami sebagai teman ... sedangkan teman-temanmu termasuk aku menganggapmu sebagai penghambat kemajuan tim,“ tandas Putri Kerisia yang tak ingin bertele-tele.
Beberapa detik kalimat itu sempat menutup pembicaraan. Haro tercenung mendengarnya.
”... banyak rakyat jadi pengikutnya dan banyak pertumpahan darah, oleh sebab itu, bergabung dalam kemiliteran adalah hal yang tak penting bagi saya ... sebisa mungkin saya akan memberi tahukan pada teman-teman saya dan hanya dengan kematian kesempatan agar mereka dapat memahami jauh lebih baik,“ tutur Haro dengan serius tanpa senyuman tenang andalannya, terlihat tak begitu bodoh seperti diawal.
Putri Kerisia telah memahami, namun dirinya tetap enggan Haro melakukan hal bodoh itu, sehingga Putri Kerisia berani bicara, ”Mereka bukanlah temanmu, lakukan semua secara profesional, setelah lulus barulah kau bicarakan masalah ini pada mereka.“
”Tidak, Putri Kerisia, saya tidak peduli mereka atau Anda menganggap saya sebagai penghambat perkembangan tim, saya akan tetap menghargai Anda dan rekan-rekan sebagai teman, benar-benar teman, bukan teman sebatas formalitas ... oleh karena itu, saya harus membuat tim ini gagal dalam ujian, sebelum mereka diperintah oleh raja yang licik dan hipokrit,“ bela Haro bersikukuh pada pendiriannya.
“Perbuatanmu percuma belaka, mereka berdua adalah orang yang tak akan pernah memahami apa pun ... jadi dengarlah ... dengarkan perintah ketua timmu ini, kita harus lulus ... setelah itu, kita rundingkan ... kesempatannya akan jauh lebih besar,” kata Putri Kerisia.
”Mohon maaf, Putri Kerisia, saya punya impian ... dan impian itu telah membentuk saya, yang pada akhirnya saya akan mati oleh impian saya sendiri,“ kukuh Haro menolak segala saran Putri Kerisia.
Dalam suasana sepi yang hening beberapa saat, mereka masih terbang menyelia setiap jengkal hamparan pasir di bawah mereka.
Putri Kerisia memahami apa yang diharapkan oleh Haro, bagaimana juga semua orang punya tujuan dan tujuan itulah yang kadang membuat semua orang rela bertahan hidup.
”Kutukan pelupa saya, tak akan pernah berakhir kecuali dengan kematian, saya akan jadi pecundang di antara anggota militer ... karena bagaimana pun, seorang anggota militer wajib memiliki daya ingat yang kuat, jadi sudah bisa dipastikan, saya akan tetap menjadi bodoh selama tetap hidup ... dan orang bodoh akan selalu ditolak oleh dunia,“ papar Haro mengeluarkan unek-uneknya dalam ekspektasinya.
Putri Kerisia tetap sengap, membiarkan Haro menginterpretasikan segala titian hidup menderitanya, yang akan segera menandaskan kalau impiannya akan menuntun pada arti hidupnya.
”Saya ... akan berakhir pada siksa neraka ... dan saya tidak dapat lagi menolak laknat ini, jadi ....“
”... orang pertama yang selalu saya ingat selama saya berteman dengan banyak orang, yang selalu membuat saya memahami arti sebuah pertemanan dan arti dari profesionalitas adalah ... Anda Putri Kerisia ...,“ Pungkas Haro hingga menoleh ke kanan pada Putri Kerisia yang tengah terbang menilik hamparan tanah.
Tak ada tanggapan berarti dari Putri Kerisia, tetap memandang ke bawah pada hamparan pasir, dia seperti apatis. Kendati nyatanya dia cukup prihatin pada sikap dungu Haro.
------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)