Nurvati

Nurvati
Episode 123: Ledakan Untuk Kematian Kemenangan.



Bersamaan dengan suasana yang menjadi tegang, 'Siuw' Dewi Karunia maju melesat dengan dua tangan yang diliputi energi nuansa hitam.


'Swoosh' Zui pun maju melesat menuju Dewi Karunia dengan dua tangan yang juga diliputi energi nuansa kuning.


Mereka saling berhadapan, Zui menggunakan ilmu Pemecah Waktunya, membuat dirinya lima detik lebih cepat ketimbang Dewi Karunia.


'Buak' tinjuan keras berhasil mendarat mantap di wajah sang Dewi Karunia yang kemudian 'Syuw' dia terhempas pada batang pohon, 'Bledaar' menanggung luka membuat cekungan pada batang pohon bekas benturannya.


“Gah ....” Masih benderang energi hitam yang meliputi dua tangan Dewi Karunia.


Quin serta Darko maju melemparkan dua kapak yang sempat mereka buat, tepat pada Dewi Karunia, 'Syut' 'Syut'.


Tapi 'Wush' Dewi Karunia menepis semua kapak itu hanya dengan satu kibasan dari sayap perinya dan 'Siuw' maju melesat pada dua bocah Peri itu, 'Buak-Bak' tinjuan keras dengan diliputi energinya berhasil mengenai perut dua bocah itu.


'Woush' membuat Darko serta Quin terhempas 35 meter ke belakang menanggung luka hingga memuncratkan darah dari mulut.


Hanya saja ada Gorah yang muncul dari atas kepala Dewi Karunia, 'Wush' melesat dengan sebilah pedang yang ditebaskan pada Dewi Karunia, namun 'Siuw' Dewi Karunia bergeser ke kanan menghindar, lantas 'Buak' meninju pinggang Gorah keras-keras, 'Woush' membuat Gorah terpelanting sejauh 30 meter ke samping kiri, menanggung luka yang memuncratkan darah dari mulutnya.


Kemudian Nerta muncul dengan tebasan tongkat kujangnya, menebas secara horizontal, tetapi 'Swoosh' Dewi Karunia mundur menghindar, lalu Nerta menebas lagi secara vertikal dari bawah ke atas dan 'Wush' Dewi Karunia beringsut berhasil menghindar, namun kembali Nerta menebas tongkat kujangnya secara horizontal, hanya saja 'Wush' Dewi Karunia berhasil mundur menghindar.


Maka Nerta menebas kembali, baik secara horizontal mau pun secara vertikal, namun demikian, Dewi Karunia beringsut dan mundur, mundur lalu beringsut, kejadian yang cukup sengit itu terus terjadi, menebas lalu menghindar, tebas dan menghindar, membentuk saat-saat cukup lama.


Nerta menebas secara horizontal dari kanan ke kiri dan 'Swosh' Dewi Karunia mundur menghindar.


Pertarungan sengit yang nampak tak kunjung usai terus bergerak mengambil jarak-jarak menjauh dari pohon, serangan cepat Nerta masih terus dihindari dengan cepat pula oleh Dewi Karunia.


'Srassh' 'Woush' 'Sraash' 'Wush' terus dan terus hindar menghindar terjadi serangan demi serangan pula terjadi, beberapa meter mereka berdua bergeser dari tempat awal menuju ruang terbuka, terbang dengan banyaknya serangan dari Nerta yang banyak juga berhasil dihindari Dewi Karunia.


Maka 'Siuw' Dewi Karunia berputar cepat lewat atas, sebuah gerakan cepat yang tak diduga Nerta, hingga 'Bruak' sayap kanan perinya berhasil menghajar tubuh Nerta, sampai 'Woush' Nerta terhempas ke samping sejauh 35 meter, berputar-putar di udara, namun tak menanggung luka parah, karena energi telah sirna dari tangan sang Dewi.


Kendati begitu, 'Buak' Zui berhasil meninju wajah Dewi Karunia dan itu dengan diliputi energi pingainya.


'Woush' Dewi Karunia terhempas 40 meter ke udara berputar-putar di ruang terbuka, yang tiba-tiba Zui sudah muncul lagi di arah bawah Dewi Karunia.


Lalu 'Buak' tinjuan secara vertikal dari bawah ke atas berhasil menghantam dagu sang Dewi, 'Wush' membuatnya terpental ke atas sejauh sepuluh meter, tapi kembali 'Buak' tinjuan secara vertikal dari bawah ke atas berhasil menghantam dagu Dewi Karunia yang membuatnya semakin jauh melesat ke atas, sejauh 10 meter, belum selesai, tinjuan yang diliputi energi itu kembali dilakukan Zui, meluncur lagi dengan tinjuan secara vertikal, 'Buak' membuat Dewi Karunia terhempas lagi ke atas semakin tinggi.


'Buak' 'Buak' 'Buak' 'Buak' 'Buak' tinjuan bertubi-tubi berhasil terus menghantam dagu Dewi Karunia hingga jauh terhempas sang Dewi ke atas langit, mengambil jarak hingga 100 meter lebih dari permukaan tanah.


Tak ada perlawanan yang berarti sedikit pun dari Dewi Karunia, dibiarkan dirinya jadi bulan-bulanan sang pendekar Pemecah Waktu.


Lantas 'BUAK' satu tinjuan keras-keras itu menjadi pukulan terakhir yang mengenai dagu sang Dewi Karunia, membuat retak dagu serta rahangnya, menghempaskan Dewi Karunia ke atas setinggi 30 meteran hingga mencapai jarak 140 meter dari permukaan tanah.


Tepat ketika wajah Dewi Karunia menengadah pada langit, Zui telah berada di atasnya dengan kepalan tangan kanan yang masih diliputi energi nuansa pingai, namun dengan tangan itulah, Zui meninju wajah Dewi Karunia, 'BUK' mengenai telak wajah sang Dewi dan 'Woush' membuatnya terhunjam menuju tanah.


Satu tinjuan lagi meluncur pada wajah Dewi Karunia, 'Buak' yang membuat tubuhnya berputar di udara hingga posisi tubuhnya tertelungkup dan setengah detik kemudian Zui telah berada di atas punggung Dewi Karunia.


'Buak' kedua kaki Zui menghantam punggung sang Dewi, disertai dirinya yang ikut meluncur ke bawah, mendorong tubuh sang Dewi kuat-kuat ke tanah, mendorong dengan kaki serta segenap pribadi Zui.


'Wush' lalu 'DHWUUAAAR'. Telah menghantam sangat keras tubuh Dewi Karunia dari ketinggian 83 meter, terhunjam ke tanah, membuat tanah berdebam, retak, kepul, membentuk cekungan yang dalam dan Dewi Karunia menanggung luka parah di sana.


“Kecepatan yang luar biasa!” sanjung Darko tak menyangka terkagum memandang pada Zui.


Sedangkan empat teman lainnya hanya terdiam di samping Darko dengan raut muka serius. Mereka telah pulih dan terbang di ketinggian 30 meter di atas akar pohon.


Di sana, Zui telah terbang setinggi 7 meter dari jatuhnya Dewi Karunia.


Hanya saja, netra Zui terpaksa berbuntang memandang kenyataan yang harus diwaspadainya kini.


Dewi Karunia telah berdiri dengan kondisi tubuh yang pulih, dia baik-baik saja, seolah tak terjadi apa pun. Dirinya kini membentangkan ke dua sayapnya, menghadap pada Zui, tanpa senyum, hanya ekspresi datar tak berprasaan yang dipertontonkan.


Sedetik selepasnya, dari sayap Peri dan dari sayap Siluman sang Dewi Karunia mendadak muncul sinar-sinar yang lalu bertemu di depan wajahnya, membentuk sebuah bola energi nuansa kelabu.


Menyadari kalau itu adalah bahaya bagi Zui serta kelima anak, Zui berusaha menggunakan ilmu Pemecah Waktu-nya. Berusaha menggagalkan serangan Dewi Karunia.


Tapi itu gagal, ketika sadar kalau segala waktu tak berkutat pada Dewi Karunia. Pribadi itu seperti satu entitas transendental, atau dengan kata lain, dia sudah kadim.


'FUFFUFFUFFUUUUNNNG' bola sinar kelabu di depan wajah Dewi Karunia mulai membesar dan memadat, siap untuk dimanfaatkan.


“Sialan!” umpat Zui.


Sang Dewi Karunia lantas melempar bola sinar nuansa abu itu pada Zui, 'Wungg'.


Zui terbang menghindari bola sinar kelabu itu, dia melesat cepat ke atas langit yang sialnya diikuti oleh bola sinar kelabu itu, 'Siuw'.


Tak dapat kekuatan itu dihalau oleh ilmu Pemecah Waktu, seakan-akan segala materi hingga waktu telah terhenti, terhisap oleh sinar itu, atau dengan kata lain, sinar itu sudah kadim, seperti takdir yang tak dapat dihindari.


Maka 'DHUUAAAAAARRSSH'.


Ledakan dahsyat dengan api seketika memecah sepi, ruang di ketinggian 200 meteran itu dipenuhi oleh ledakan besar, oranye dan berasap, membentuk gelombang angin, membentuk radiasi panas, meluluhkan segala materi di sekitarnya.


“Kakak pendekaaaaar ...!” teriak Arista dengan kekhawatiran.


Begitu pula dengan seluruh anak yang terperangah tak menyangka, berbuntang ngeri dan waswas.