
Kesedihan kini berubah jadi kemurkaan, penolakan cinta mulai menuntut agar sekiranya yang menyakiti disakiti lagi. Maka tangan kanan Putri Kerisia dalam kekuatan cahayanya, membentuk sebuah tongkat emas dengan ujung tongkat berbentuk piringan matahari, seraya mengangkat tongkatnya, dia mengepak sayap terbang melesat ke arah Pangeran Awarta, dengan membiarkan anak-anak Satan-nya di darat.
Suasana tegang kini terbentuk lebih pekat lagi.
Dalam jiwa yang diliputi rahmat sang Dewa, lini keempat yang tercipta dari unsur tanah, bala tentara tanah sang Pangeran mulai bergerak maju. Bahkan dari ujung Timur sampai ke ujung Barat telah dipenuhi oleh seluruh bala tentara sang Pangeran, sehingga nampak mustahil bagi sang Putri mengalahkannya.
Namun demikian, barisan pertama maju melawan Putri Kerisia, seluruh tentara dari ujung ke ujung maju melawan Putri. Sang Putri mengayunkan tongkatnya, dan tiga tentara dari tanah yang mendekat, hancur seketika, belum sampai di situ saja, beberapa tentara yang mendekat pun hancur ditebas oleh ayunan tongkat sang Putri. Dia bertarung di atas tanah dalam ketinggian 9 meter, menghajar ribuan bahkan miliaran tentara tanah sang Pangeran, tak gentar, tak juga malu.
“HIYAAAAAA ...,” teriak sang Putri dengan penuh gairah nan semangat, lebih-lebih dia bergigit menyeringai. Dia melampiaskan seluruh kekesalannya di sini.
Bala tentara sang Pangeran sama sekali tak memiliki senjata, alias tangan kosong, bala tentara tanah muncul secara terus menerus berusaha menghajar sang Putri, atau kalau bisa menangkapnya; melumpuhkannya. Ayunan dan ayunan tongkat dilancarkan sang Putri menebas serta menghancurkan ratusan tentara yang mendekatinya, dan dia ternyata sanggup unggul dalam pertarungan ini, pun mampu bertahan dalam posisinya.
Satu tebasan hancurlah lima hingga tujuh tentara tanah, dua kali ayunan hancurlah 12 tentara, dan putaran 'baling-baling' tongkat hancurlah 26 tentara, terus menurus seperti itu secara berkesinambungan. Sang Putri unggul namun bala tentara sang Pangeran pun terus muncul tanpa berkurang.
Tercipta dan tercipta lagi dari pusat galaksi yang berada di ujung jari telunjuknya, bala tentara sang Pangeran tak dapat dihabisi.
Dari detik ke menit dan dari menit ke jam, 3 jam habis dalam pertarungan Putri Kerisia melawan bala tentara sang Pangeran, dinikmatinya pertarungan itu tanpa merasa lelah, lebih-lebih Putri Kerisia tetap tersenyum penuh kepuasan, hancur dan menghancurkan tentara Pangeran dengan tebasan tongkatnya.
Faktanya, matahari di tempat ini stagnan dalam kulminasinya. Tak malam, tak juga subuh; tak nampak berpindah.
Dalam diamnya sang Pangeran, ia tak mau banyak membuang waktu. Maka angin pun memberikan isyarat untuk langsung melumpuhkan sang Putri, menjadikan seluruh pasukan, baik dari tentara air mau pun dari tentara tanah, bergerak maju, seluruhnya, dari ujung hingga ke ujung, terhimpun demi melumpuhkan sang Putri.
Maka miliaran prajurit bergerak mengerubungi Putri Kerisia. Menyadari itu, tangan kanan sang Putri mengangkat tongkatnya, membentuk putaran 'baling-baling' melindungi diri dengan kekuatan tongkatnya.
Jelas, ratusan tentara yang mengerubungi sang Putri hancur tak berbentuk terkena hantaman tongkatnya, dari atas kepala dan dari bawah kaki sang Putri, seluruhnya telah gagal melumpuhkan Putri Kerisia, bukannya apa-apa, kecepatan sang Putri setara dengan kecepatan cahaya, sehingga dapat dilihat serangannya kini seperti bola cahaya kuning yang meluluhlantakan bala tentara yang berusaha menyentuhnya. Hingga seluruh bala tentara Pangeran melingkupi Putri Kerisia, menutup dan menyelimutinya seperti kulit jeruk yang menutup isi jeruknya.
Sungguh, sang Putri Kerisia, hanya terlarut dalam emosinya, terhanyut oleh rasa cintanya yang tulus yang tak terperikan, dia hanya ingin mencintai dan dicintai. Bahkan dia melakukan ini hanya untuk menyadarkan sang Pangeran, bahwasanya, selain ingin cintanya diakui, ia pun ingin cintanya diterima. Ya, meski begini, Putri Kerisia masih tak bisa memungkiri cintanya, atau tepatnya, kebencian yang berpadu dalam cinta, —bukan— cinta yang berpadu dalam kebencian.
* * *
Dalam dilema sang Putri, dengan secepat kilat, dia menerobos, melesat menghancurkan bala tentara di depannya, dan dalam sekedipan mata, Putri Kerisia telah berada di depan sang Pangeran Awarta, berdiri menyisakan jarak satu meteran.
Tak disangka, tongkat yang dipegang oleh tangan kiri Putri Kerisia berhasil ditusukkan tepat pada dada sang Pangeran, tertusuk pada sinar hitam sang Pangeran. Bahkan sudut bibir Putri Kerisia sempat tertarik menyimpulkan senyuman puas nan senang. Tapi, sang Pangeran sama sekali tak merasakan sakit. Dan bonusnya, bala tentara sang Pangeran stagnan mematung.
Maka, sang angin yang mendapat pancaran dari kecemerlangan rohaniah Pangeran Awarta, bersabda, “Putri Kerisia ... engkau tak bisa memaksakan kehendak yang bukan hakmu.”
Namun di sana, bersama raut muka Putri Kerisia yang berubah serius, senyum yang dilenyapkan, dan dalam geramnya membalas, “Aku menuntut keadilan! Adil dalam cinta! Dan semua yang kulakukan adalah keadilan, karena pembalasan demi cinta, itu adalah keadilan!”
Kembali lagi, suara Pangeran Awarta yang menjadi sabda, bergaung dalam jiwa Putri Kerisia.
“Putri Kerisia ... keadilan bukanlah pembalasan, apa yang engkau lakukan adalah pemaksaan.”
”Omong kosong! Kau pun sama saja! Mencintai sang Penyelamat bodoh! Yang nyatanya itu hanyalah dongeng semata!“ tukas Putri Kerisia dengan raut muka jengkel.
Tapi tiba-tiba, entah mengapa, tongkat yang dipegang Putri Kerisia malah melesak masuk, tertarik, atau termakan sinar hitam dari dada sang Pangeran, laksana lubang hitam yang menyerap seluruh benda langit di angkasa.
Maka lenyaplah sudah tongkat kebanggaan Putri Kerisia, yang tersisa hanya membentuk raut muka marah dan menghela napas pasrah, —tongkat itu bisa dibuat lagi— namun demikian, bala tentara Pangeran Awarta kembali bergerak menerjang menuju Putri Kerisia.
Bersamaan dengan itu, buru-buru Putri Kerisia melancarkan satu tendangan dari kaki kanannya ke arah kepala Pangeran Awarta, kecepatan cahaya sang Putri berhasil ditangkis oleh tiupan angin dari mulut sang Pangeran. Menjadikan sang Putri terpental sejauh satu kilometer dan mendarat dengan tubuh yang terseret di dataran pasir, membentuk kepul dan terkapar terjerat rasa sakit.
Terlalu jauh kini jarak sang Putri dengan Pangeran, tapi itu bukanlah apa-apa. Meski terbaring dengan pasir yang menutupi kakinya, bibir tipis Putri Kerisia tersenyum puas. Puas karena sekarang dia akan menggunakan ilmu sihirnya.
Mantra pun dilantunkan dalam hati, hingga netra merah lembayungnya tertuju pada langit; berusaha fokus.
Sontak, aura hitam pekat muncul di atas kepala sang Pangeran, itu adalah sihir Pengendalian. Putri Kerisia berusaha mengendalikan tubuh sang Pangeran, sama seperti yang terjadi pada orang tua Putri Kerisia. Hanya saja, rahmat sang Dewa telah membuat sihir itu kesulitan menembus tubuh Pangeran.
Menyadari kegagalannya, Putri Kerisia pun bangkit dari berbaring, dengan raut muka datarnya, dalam pose tegak dan tangan bersedekap menyilang, sekaligus kelopak mata yang tertutup demi konsentrasi kejiwaan penuh, dia hendak menggunakan kekuatan 'Dewi-nya'.
Udara kencang membuat rambut panjang sang Putri nampak menari tak berirama, mengalun syahdu bersama hasratnya untuk membalas penolakan cinta; Pangeran Awarta mesti menderita.
Mula-mula, tanduk nuansa hitam muncul dari pelipis kanannya, lalu disusul tanduk nuansa putih dari pelipis kirinya, kedua tanduk di pelipisnya bagaikan tanduk domba namun mencuat ke atas, dan dari keningnya pancaran sinar kemerahan mencuat sebagai bukti kegemilangan sifat kerohanian tertingginya, sinar kemerahan itu pun sampai meliputi wajah mulusnya, kedua sayapnya mengembang lebih besar nan anggun, warnanya berubah menjadi merah magma nan berkilauan.
Dia tahu betul, saat ini, tak bisa dirinya mengalahkan Pangeran Awarta hanya dengan kekuatan Peri sihir biasa, maka saat ini, sedikit rahmat dari sang Dewi, akan jadi jalan keseriusannya. Serius untuk menuntut keadilan dalam penghiburannya. Akan adil bila Pangeran Awarta hidup menderita.