
Nurvati masih bergeming tak menyangka, pandangannya kini benar-benar fokus pada Putri Kerisia, dia sudah lama tak melihatnya. Kendati begitu, tak satu pun adanya kata yang keluar dari mulut Nurvati, diam dan mengawasi, hanya itu yang saat ini dilakukan.
Dua tentara kerajaan hanya mematungkan diri di samping pintu yang tadi mereka dedah.
Putri Kerisia kembali menghadapkan diri pada Pak Hakim, tak menghiraukan komentar-komentar miring masyarakat padanya, setidaknya untuk saat ini. Sikap anggun tetap ia perlihatkan; pandangan fokus ke depan, dagu tetap terangkat, berdiri tegap, napas teratur, tangan kanan terangkat setengah badan, seperti membentuk huruf 'L' dengan mengepal tangan sebagai bukti keteguhan, bicara yang tegas. Dan itu semua mudah bagi seorang seperti Putri Kerisia.
“Tidakah Anda lihat ... Nurvati, telah menghancurkan patung Dewi Awan yang begitu monumental ... dan dia membunuh para abdi negara dengan mudahnya ...,” ungkap Putri Kerisia berusaha menggiring Pak Hakim menuju ketakutan.
“... apa Anda yakin, mampu menghukum seorang wanita sepertinya ...,” lanjutnya dengan memutar setengah badan ke kiri dengan menunjuk Nurvati demi mengokohkan argumennya yang benar-benar apa adanya dan wajib ditakuti.
Nurvati masih mematung melihat-lihat drama apa lagi yang sang Putri Kerisia hendak lakukan. Para korban mulai menyeka air mata mereka dengan saputangan yang mereka buat menggunakan kekuatan Cahaya. Sedangkan para saksi hanya duduk manis menyaksikan kejadian langka ini dengan terkesiap menyimpan dalam memori otak masing-masing. Dan bagi bocah laki-laki ingusan menatap penuh kagum pada Putri Kerisia, masih melongo.
Lebih-lebih Putri Kerisia sampai melangkah mendekati para korban, cukup dekat hingga dinding kaca kotak ruangan mereka hanya berjarak satu jengkal dengan hidung mungil Putri Kerisia. Meninggalkan Pak Hakim yang merenung dalam raut ngantuknya itu.
Dengan tatapan tajam, dan raut muka tak berperasaannya, tanpa mampu tersenyum, Putri Kerisia berujar, “Apa kalian menginginkan suami-suami kalian tewas begitu saja, sementara si pembunuh itu mati dengan hukum? Cobalah kalian pikirkan ... kalian bisa memanfaatkan dia untuk mendapatkan hukuman yang lebih baik dari itu ....”
Mendengar itu, para korban terdiam mencerna baik-baik berazam apa yang terkandung dalam perkataan Putri Kerisia.
Wanita berambut merah yang sedari tadi berdiri kini melangkah mendekati Putri Kerisia, berdiri di depannya dalam jarak tiga jengkal yang dihalangi dinding kaca.
“Apa maksud Anda, Putri Kerisia?” usut wanita berambut merah dengan raut penuh keseriusan.
Ketika dua netra tajam itu bertemu, saling bersirobok, secara tidak langsung Putri Kerisia berusaha menghasut lewat netranya pada wanita rambut merah itu, dengan menjawab, “Aku akan menghukumnya dengan keras, dia akan dihukum dengan hukum kerajaan, agar begitu, dia mendapatkan keadilan yang setimpal.”
Saat kalimat itu tertampung pada kepala sang wanita berambut merah, dia langsung mengangguk paham, malah dia memutar tubuh ke belakang dan langsung menjelaskan rencana sang Putri pada para korban lainnya.
Tanpa perlu repot-repot menggunakan sihir, Putri Kerisia hanya perlu membawa-bawa hukum kerajaan yang langsung mampu menghasut. Hukum kerajaan terbilang sangat tegas dan tak kenal ampun, biasanya sebelum dihukum mati, para pelaku akan disiksa terlebih dulu, yang mana, hukum akan langsung diputuskan oleh sang Raja, Ratu atau pun Perdana Menteri.
Ingin rasanya tersenyum melihat kemenangan awal itu, namun kelupaan pada caranya tersenyum membuat bibir tipis Putri Kerisia yang datar itu stagnan tak melengkung sedikit pun. Lantas ia memutar tubuhnya ke belakang, memandang Nurvari dalam kerahasiaan rencananya.
Putri Kerisia akhirnya melangkah mendekati Nurvati, berdiri tepat di depan Nurvati dalam jarak tiga jengkal namun dinding kaca menyekat kedekatan mereka. Nurvati memandang intens pada Putri Kerisia, begitu pula dengan sang Putri Kerisia, tatapan dalam rencana.
* * *
“Nurvati, kalau kau mau terbebas dari sini, ikutilah peraturanku,” bisik Putri Kerisia tanpa senyuman mengandung siasat licik.
”Drama apa lagi yang hendak kamu lakukan, Putri Kerisia?“ ledek Nurvati penuh tanya.
”Tidak ada drama, ini adalah kenyataan, di sini ... kita adalah sama-sama wanita yang tak mendapat keadilan hidup ... bukankah hanya wanita yang memahami wanita?“ balas Putri Kerisia dalam raut muka keseriusan.
“Huh ... seperti dulu ... ucapanmu manis, tetapi kenyataannya itu adalah tipu muslihatmu,” tukas Nurvati menolak segala kolusi yang hendak Putri Kerisia ajukan.
Tak ada balasan dalam menanggapi sindiran Nurvati, sebab suara Pak Hakim membuyarkan fokus dan langsung memusatkan perhatian pada perkataannya.
“Maaf Putri Kerisia ... Anda sebaiknya tidak mengganggu jalannya persidangan atau malah menghasut para 'anak-anak' yang hadir di sini ....”
“Tidak, tidak ...,” balas Putri Kerisia sembari memutar tubuh ke belakang menghadap Pak Hakim.
“... saya hanya ingin mengutarakan kesaksian saya sebagai teman Nurvati ... yang mana, semoga kesaksian saya bisa memperkuat hukuman atas bukti-bukti yang ada!” imbuh Putri Kerisia dengan lantang nan lugas, mencoba menghasut Pak Hakim.
Ralat, Putri Kerisia tak mampu menghipnosis Nurvati, selain cahaya keilmuan yang menjadi penghalangnya, ternyata di dalam jiwa Nurvati ada 'sesuatu' yang melindunginya, dan ini tengah diriset oleh Putri Kerisia.
Tatapan penghasutan netra merah lembayung dari sang Putri telah merasuk pada netra biru tajam Pak Hakim, hanya saja itu sama sekali tak berpengaruh pada Pak Hakim, sampai membuat Pak Hakim bicara, “Maaf, Putri Kerisia, untuk menjadi saksi, juga ada prosedur yang harus diikuti, tidak bisa nyelonong masuk ke persidangan lalu sekonyong-konyongnya mengajukan diri sebagai saksi ... sekali lagi, mohon maaf, Anda tidak diizinkan ....”
“... jika memang ingin menyampaikan permohonan atas keberatannya Anda pada hukum yang menjerat terdakwa, Anda bisa datang ke Mahkamah Konstitusi area Timur, dan bisa mengajukan banding di sana.”
Sudah jelas jika Putri Kerisia datang pada alamat yang dituju, pasti butuh waktu nan berbelit-belit, dan lagi, hanya pada saat inilah, para korban tengah hadir, dan hanya inilah waktunya yang tepat.
Penolakan itu hampir saja membuat kemurkaan pada Putri Kerisia, namun demi rencananya yang mulus, dia menyempatkan diri dalam diam, mencari solusi yang terbaik. Tetapi tiba-tiba, renungan Putri Kerisia buyar, oleh suara seorang korban.
“Mohon interupsi Pak Hakim ...,” sela wanita berambut merah dengan mengacungkan tangan kanannya.
Seketika seluruh pusat perhatian tertuju padanya.
“... kami baru memahami penderitaan Nurvati, kami memaafkan apa yang diperbuat olehnya, dan menyerahkan seluruh keputusan pada Putri Kerisia ....”
Sebuah kalimat yang tiba-tiba berubah makna, berubah keputusan, Pak Hakim sontak terdiam dalam renungan, bila mana para korban memaafkan sang pelaku, maka dalam kanun di Peri bangsa Barat ini, terdakwa atau pelaku, akan dibebaskan dari hukuman.
Tentu saja apa yang dilakukan wanita berambut merah bukanlah kemauan tanpa alasan, mengingat hukuman kerajaan sangat berat, membuatnya menginginkan Nurvati tersiksa dalam hukuman itu, agar supaya keadilan bisa ditegakkan dan telah pula disetujui oleh para korban yang lainnya.
Karena pada akhirnya juga, penderitaan dan rasa sakit itu menuntun mereka menuju dendam, atau dengan kata lain, inginnya keadilan yang sama berat, yang dengan membawa nama 'hukum', dendam dan keadilan itu mampu bersinergi menjadi sesuatu yang nampak sesuai dengan norma.
Maka jelaslah, Putri Kerisia begitu sangat semringah akan keputusan para korban, walau dirinya tak dapat tersenyum puas, tetapi kenyataan telah membuat hatinya senang.
“Sekarang semua keputusan ada pada Anda Pak Hakim ... para korban yang telah memaafkan atau saya yang akan membawanya pada hukum kerajaan, sebab secara tidak langsung, membunuh abdi negara itu saja sudah membuat kerajaan layak memberi hukuman,” ungkap Putri Kerisia memberi pilihan untuk menggiring pikiran seorang Hakim masuk pada perangkap Putri Kerisia.
”Tetapi masih ada korban yang tak hadir, dan semua korban menginginkan keadilan,“ balas Pak Hakim dalam kebimbangan.
”Kalau begitu, biarkan hukum kerajaan yang bertindak ... Anda hanya tinggal tahu beresnya saja,“ sahut Putri Kerisia tak mau kehilangan kesempatan untuk menghasut sang Hakim.
Menyadari itu, sang Hakim dalam persidangan pun merenung begitu dalam, menimbang-nimbang keputusan apa yang sekiranya terbaik untuk semuanya.