Nurvati

Nurvati
Episode 187: Disimpan Dalam Kenangan.



Kala momentum berganti oleh peralihan hari. Janji dua sahabat untuk bersua segera terealisasi.


Hari di mana kebetulan hujan terjadi dan sebagai agenda Ratu Arenda yang mengunjungi Apan serta Hiri. Di rumah mereka, Ratu Arenda disambut dengan baik. Senyuman mengiringi kebersamaan mereka.


Meski Hiri nampak malu-malu dan canggung, tetapi bincang-bincang terjalin baik-baik saja. Khususnya bagi Apan serta Ratu Arenda.


Persahabatan mereka sama hangatnya seperti seharusnya. Topikalitas pembicaraan mula-mula adalah mengenai beberapa pribadi di bangsa Barat yang banyak berbuat rusuh gegara dendam atau menuntut keadilan.


Beberapa pribadi menuntut pihak pejabat segera menghentikan perang karena semakin lama hanya semakin menyengsarakan. Penjagaan pada bangsa Barat menjadi renggang karena terlalu fokus berperang. Banyak dari mereka yang dipenjara dan dihukum mati.


Sekte Masli yang mayoritas warga bangsa Barat anut, mulai kembali menanggung beban berat masalah. Beberapa anggota mereka membunuh para pejabat. Alasannya sederhana, namun sangat bermakna, tentang keadilan yang belum didapatkan untuk dua suku ras Peri dan perang dunia yang tak ada kebenaran sama sekali.


Hukum mati kembali dijatuhkan bagi mereka yang membelot. Lebih-lebih pertengkaran perihal suku-suku serta klan yang masih dipertahankan oleh beberapa lini untuk dijadikan identitas absolut terus disuarakan.


Karena bagaimana pun, Raja Azer berusaha menyatukan seluruh kelompok, suku hingga klan untuk tidak membangga-banggakannya. Raja Azer juga telah mempelopori agar identitas kewarganegaraan menghilangkan nama kelompok, atau sekte. Tujuannya agar tak menjadi awal permusuhan.


Pemerintah tahu, kalau era kali ini sudah semestinya menghilangkan pengelompokan atau penggolongan antar sesama. Dan memang sudah bertahun-tahun hal itu dilakukan, namun masih saja ada yang membandel.


Syukurnya semenjak Raja Azer naik takhta, hukum di ras Peri semakin tajam. Bagi mereka yang berperang antar sekte hingga kelompok, dipastikan akan dibubarkan dan sang pemimpin segera dihukum mati.


Itu sebenarnya sudah termasuk kanun dalam ras Peri, tetapi baru benar-benar terealisasi kala Raja Azer yang memimpin, sementara ayahnya hingga para hakim terdahulu, kebanyakan memberi pengampunan pada terdakwa.


Sebagai gantinya, Raja Azer segera mencetuskan perundang-undangan yang baru, perihal mereka-mereka yang boleh membunuh dengan alasan balas dendam, tetapi tak boleh membawa-bawa nama kelompok atau pemerintah.


Bahkan undang-undang baru itu juga mencetuskan kalau keputusan raja dan keputusan pemerintahan adalah absolut, sesiapapun yang menentangnya akan dihukum cambuk atau dibakar.


Beberapa poin penting seperti, warga diperbolehkan bermabuk-mabukan, warga diizinkan menyiksa sesama, diizinkan untuk berjudi, hingga diizinkan untuk memuja para Iblis, namun wajib tetap berada di dalam rumah, dengan kata lain, siapapun yang melakukan tindakan kriminal, selagi di dalam rumah, itu tak lagi menjadi perkara hukum negara; hukum pribadi.


Mungkin terdengar durjana hukum tersebut, kendati begitu, faktanya mereka tetap terikat oleh hukum malaikat, sehingga kejahatan apapun itu, ujung-ujungnya ras Malaikat yang nantinya menjadi penegak hukumnya.


Lebih dari itu, pada dasarannya, hukum tersebut pun pernah tegak saat era raja Barat yang ke-21 dan selepas diganti, kini Raja Azer menetapkannya lagi. Bagi sebagian lain mungkin akan menganggapnya bersifat tirani, namun demikian, adanya perpaduan unsur teokrasi, monarki dan demokrasi sehingga agak sulit untuk dijabarkan kalau hukum ini bukanlah sebatas sekewenangan raja.


Karenanya hukum baru itu sempat menuai polemik dan baru saja disahkan 30 tahun lalu oleh parlemen dan telah disepakati langsung oleh raja.


Hanya saja, kala direnungi baik-baik oleh masyarakat, nyatanya hal itu menjadi masuk akal. Masyarakat sendiri akhirnya setuju dan tak skeptis dengan hal tersebut. Toh selagi tidak menyengsarakan pribadi lain atau selagi melakukannya di dalam rumah, itu mutlak hak dari sang pemilik rumah.


Cerita-cerita ditutup oleh adanya kota-kota di bangsa Barat yang mulai banyak dikunjungi ras Siluman dan pemerintah agak apatis mengenai itu. Selebihnya mengenai Raja Azer yang telah bersumpah akan mempersembahkan era kejayaan ras Peri pada dunia.


Kisah dan pengalaman Ratu Arenda pun disambung oleh Apan yang berkisah mengenai pertemuan pertama kalinya ia dengan Hiri.


Kenangan, semua itu tersimpan manis di dalamnya. Di ruangan sederhana dalam perspektif ras Peri itu, mereka yang duduk di atas awan-awan khusus, kembali memusatkan perhatian lagi pada kisah penting, kenangan tersebut lambat laun dibeberkan oleh Apan.


“Kami pertama kali bertemu ... saat aku tengah melakukan misi negara di salah satu wilayah netral ....”


Pertemuan yang tak sengaja, Apan yang mencari petunjuk perihal buronan negara, malah menangkap siluman buaya. Apan mengira kalau siluman buaya inilah yang membantu buronan bersembunyi.


Hiri yang tinggal di dalam hutan memang selalu sendirian dan selalu menyembunyikan diri. Wanita ini memang pemalu serta canggungan, hal itu juga yang membuat Apan curiga.


Terpaksa Apan tinggal di hutan berawa-rawa tersebut untuk menyelidiki Hiri. Segala detik dalam realitas, mau tidak mau menjadi kebersamaan tersendiri bagi mereka.


Hiri yang dulu tinggal di alam Etho lalu berpindah ke alam Peri demi melindungi diri, dia tak pernah tahu siapa orang tuanya atau di mana keluarganya.


Apan saat itu tak banyak bicara dan memang tak boleh membeberkan indentitasnya di hadapan pribadi yang tak dikenal. Selama hari-hari yang dilewati itu, Apan selalu menjadi pendengar yang baik bagi Hiri dan Hiri yang pemalu lambat laun mulai terbiasa oleh Apan.


Ketika itulah, selain Apan mendengar kisah-kisah kehidupan Hiri, dia mulai membantu kehidupan Hiri di sini. Seperti halnya mencari bahan pangan, hingga melindunginya dari koloni siluman lain yang mencari tempat tinggal.


Seiring bejalannya waktu, Apan yang tak biasanya rela membantu pribadi yang tak dikenal dalam misi, atau entah apa yang terjadi, ketika waktu memberikan rasa keakraban yang kian pekat seiring jalannya siklus kehidupan.


Apan mulai berani membeberkan sedikit hidupnya pada Hiri yang dianggapnya bukan lagi orang asing.


Sejak itulah mereka semakin akrab, keakraban yang mulai memunculkan kepercayaan dan biasanya sekalipun dalam penugasan, Apan akan tetap fokus, tak pernah merasakan hatinya menggebu-gebu seperti pertemuannya dengan Hiri.


Tapi misi tetap berlanjut, sepuluh tahun di sana tak membuat Apan mendapatkan kemajuan misinya. Sehingga mereka pun terpaksa berpisah dalam hati yang berat dan menggebu-gebu.


Perpisahan itu menghabiskan waktu 300 tahun dan pada akhirnya, kini mereka pun mengarungi hidup dalam gelombang kenyataan berumah tangga.


“... kami lalu berikrar untuk bersama-sama menjalani hidup dan aku yakin ... Hiri adalah jodohku ...,” tandas —tenggiling— Apan.


Kendati terdengar impresif, walau cukup membuat Ratu Arenda mengembangkan senyuman memahami. Faktanya, Ratu Arenda jijik mendengarnya, terlalu jijik bila ada seorang ras Peri menikahi siluman. Apalagi sampai membangga-banggakan kalau siluman hina itu adalah jodohnya.


Ratu Arenda tak dapat memungkiri kalau Hiri memang terlihat wanita yang baik dan hanya bisa berbaik sangka Ratu Arenda padanya.


Selepas itu, di tengah malam. Ratu Arenda mesti berpamitan untuk pulang.


Bukan itu saja, Apan sebagai seorang sahabat baiknya, malah mengantarkan Ratu Arenda.


Mereka berpisah di jalan menuju istana Awan. Kendati demikian, Apan sempat mengutarakan hal yang mengganjal dalam pikirannya.


“Arenda ... aku serta Hiri akan tetap bertahan ... kami akan tinggal di sana hingga aku pensiun ... jadi ... aku berharap engkau mau merahasiakannya ....”


“Iya, aku bisa merahasiakannya ... tapi kau harus selalu berhati-hati ...,” balas Ratu Arenda menyiratkan mempersilakan dan bersedia.


Sontak Apan yang begitu senang dan penuh syukur, ditambah luapan kebahagiaan karena segera menjadi seorang ayah, sekonyong-konyongnya meraih tangan kanan Ratu Arenda. Menjabat tangannya sekaligus dia mengecup jemari sang ratu beberapa kali sebagai tanda terima kasih dengan berkata, “Terima kasih ... terima kasih, terima kasih, Arenda ....”


Luapan kegembiraan itu hanya ditanggapi Ratu Arenda dengan manggut-manggut mengiakan.


Sebagai sahabat pula, hanya itu yang dapat Ratu Arenda bantu. Selebihnya Ratu Arenda dengan pakaiannya yang masih misterius tak dikenali, pun mulai mengepak sayap untuk pergi. Sedangkan Apan melambai-lambaikan tangan menyertai kepergian Ratu Arenda dan merahasiakan kehamilan Hiri.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)