
Nurvati kini berdiri di samping kiri Putri Kerisia, memandang lurus ke depan, lalu dalam penyelidikan bertanya, “Kenapa kau membawaku ke sini, apa tujuanmu?”
Seperti biasa, hanya raut muka datar tak berperasaan yang mampu ditampilkan, pandangannya lurus pada kupu-kupu yang tengah menari-nari di atas bunga Mawar.
“Aku ... hanya ingin memberimu dua pilihan ... dihukum mati ... atau membantu pasukan perang di alam Maan?” jawab Putri Kerisia dengan serius, lugas, dan tetap menampilkan kesan wanita anggun.
Kejiwaan Nurvati menjawab kalau dirinya belum siap mati, akan tetapi pikirannya menerka-nerka apa yang sebenarnya Putri Kerisia harapkan dari pilahannya itu, sehingga Nurvati kembali bertanya menyelidiki. “Jika aku tidak memilih bagaimana? Dan jika aku memilih berperang, apakah aku akan dibebaskan?”
“Tidak memilih artinya ... dihukum mati, dan bila kau mampu mengalahkan legiun tiga ras Maan atau membunuh Panglima Perang legiun tiga ras Maan, kau aku bebaskan,” balas Putri Kerisia dengan lugas nan eksplisit.
Telah diterima maksud pilihan Putri Kerisia, hipotesis baru merujuk bahwa Putri Kerisia ingin kemenangan dalam perang dunia ini, tetapi itu baru hipotesis, membuat Nurvati harus merenungi langkah baiknya.
Suasana sangat damai di sini, udara segar dan hari telah senja, dua Peri itu kini diliputi kesunyian, belum ada lagi yang bicara bahkan setelah satu menit terlewati mereka masih memakukan diri di taman itu.
Pikiran mentok, ambisi untuk menuntut keadilan pada warga area Timur masih dalam harapan, terlebih, perbuatan licik Putri Kerisia belum Nurvati balas, hal ini menjadikan kebimbangan dalam dirinya. Tetapi Nurvati berkata, “Aku memilih berperang.”
Sebuah keputusan telah diambil, dan itu menjadikan Putri Kerisia mengangguk sekali, tanpa kata terucap.
Lalu Putri Kerisia memutar tubuh ke belakang, melangkah tujuh langkah ke depan, membuat Nurvati refleks ikut memutar badan menghadap Putri Kerisia, dan kembali menghadap Nurvati, Putri Kerisia berucap, “Kau memiliki ilmu Hikmah, jadi cepatlah buat pintu teleportasi antar alam, aku sudah membuka dinding gaib di taman ini, sehingga kau bisa keluar masuk tanpa perlu izin pengawal kerajaan ... pergilah pada alam ras Maan, atau kalau kau belum pernah ke sana, kau bisa ikut legiun kerajaan dan akan aku berikan tanda izinnya.”
Nurvati memiliki ilmu ke-Tuhan-an lapisan bumi, sehingga tak perlu repot-repot harus ikut legiun kerajaan atau pernah ke tempat ras Maan. Tetapi kini, jiwanya tengah konflik oleh dendam, keadilan, harapan dan ambisinya sendiri, bimbang hal apa yang mestinya dilakukan.
“Mengapa tidak ada pengadilan? Aku ragu kalau perintahmu ini adalah legal?” sindir Nurvati dalam keseriusan.
“Jika kau mau bebas, ikuti aturanku, ikuti cara mainku, ikuti aku ... atau kau tak mendapat keadilan yang kau inginkan,” balas Putri Kerisia dengan memandang wajah Nurvati tanpa ekspresi, tetapi tegas dalam bertutur kata.
”Rakyat mengharapkanku tersiksa lalu mati ... bukan malah harus berperang, seolah aku pahlawan,“ ketus Nurvati tak percaya pada keputusan Putri Kerisia, tepatnya tak ingin dijebak.
Netra merah lembayung Putri Kerisia beralih pada pancuran madu di tengah taman, dan tetap raut muka datar terpampang dalam kenyataan, lantas dengan menyinggung berujar, ”Tadi kau memilih berperang, apa jangan-jangan kini kau memilih kematian?“
”Aku memilih berperang denganmu,“ jelas Nurvati dengan lantang nan mantap.
”Untuk apa? Apa gegara keadilan bodohmu itu? Apa kau tidak takut membunuh anak seorang penguasa?“ ledek Putri Kerisia masih memandang pancuran madu.
“Aku melihatmu seperti seorang yang bodoh, lalu dengan membunuh orang-orang yang dulu menyakitimu itu adalah keadilan ... tetapi kamu lupa, kalau kita semua terikat oleh hukum ... dalam dunia ini, kita terikat oleh hukum,” papar Putri Kerisia.
Apatis, itulah tanggapan Nurvati menyikapi pesan Putri Kerisia. Lebih dari itu, tangan kanan Nurvati dengan ilmu Hikmah cahayanya, membentuk sebilah katana, dia lalu menerjang angin, melesat dengan gegabah menyerang Putri Kerisia.
Lalu dalam sekejap mata suara 'Klontang' dari jatuhnya katana Nurvati menjadi bukti gagalnya Nurvati melukai Putri Kerisia, ditepis oleh tangan kiri Putri Kerisia dan dari tangan kanan sang Putri ditembakkan bola cahaya nuansa merah tepat pada perut Nurvati, lalu suara 'Bufff' menjadi tanda terkenanya perut Nurvati oleh serangan balasan Putri Kerisia, hingga Nurvati harus mundur tujuh langkah ke belakang dan agak terseret sambil tangan kiri memegang perut kesakitan, itu bahkan agak membungkuk.
“Santai Nurvati ... santai ...,” tutur Putri Kerisia dengan tetap memandang pancuran madu dalam raut muka datar dan gestur tubuh anggunnya.
Perlahan secara pasti, Nurvati mulai menegakkan kembali badannya, lukanya mampu disembuhkan sendiri.
“Aku ... ingin membersihkan nama baikmu, aku ingin membantumu meraih keadilanmu ... tetapi kau bahkan tak bertanya, dari mana aku mengetahui kau membunuh tentara militer, kau terburu-buru dan sangat gegabah,” singgung Putri Kerisia.
Maka dalam hati dan pikiran yang tertutup ambisinya sendiri, dengan kembali berdiri tegap, dan mampu menyembuhkan lukanya sendiri, Nurvati membalas, “Huh ... itu tak perlu diambil pusing, kasus sepertiku memang sudah cukup membuat negara menjadikan berita hangat bersanding dalam kabar perang dunia kedelapan belas ini ....”
“Tidak ... tidak Nurvati, kau tidak tahu maksudku,” sanggah Putri Kerisia bahkan netra lembayungnya sampai menatap Nurvati.
Dan secara perlahan dia melangkah tiga langkah ke depan Nurvati, menatap intens pada wajah bermandikan cahaya Nurvati, tetap kokoh pada gestur tubuh wanita terhormatnya. Dan dengan tegas nan lugas berkatalah sang Putri. “Aku datang padamu karena kau sepaham denganku, aku menyelamatkanmu agar keadilan bisa kita raih bersama, bukankah kebaikanmu direndahkan, itu sebabnya dalam nama keadilan kau membalas orang-orang yang menindasmu ...?”
“... nah, ketika kau berhasil berperang, aku akan membuat berita kalau kau telah menyelamatkan legiun ras Peri dari serangan musuh, dan saat kau kembali, namamu akan menjadi harum, kau akan diangkat sebagai Panglima perang kerajaan ras Peri,” lanjutnya dengan iming-iming kehormatan.
Tentu saja Putri Kerisia mengetahui kasus Nurvati, berkat mata ke-Dewi-annya saat dia tengah mencari sang 'Penyelamat'. Dan memang memiliki rencana tersendiri. Hanya saja terlalu bodoh jika diungkapkan detik ini.
”Hahaha ... sudah jelas, kau kembali lagi mementingkan dirimu sendiri ... menggiring opini publik, lantas aku menjadi babumu hingga akhir hayat ... jangan harap aku mau, Kerisia,“ tukas Nurvati.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Kau terikat oleh hukum? Kau seharusnya sudah mati, namamu sudah ternodai, saat keadilan yang kamu pahami terlaksana, kamu akan menjadi buronan negara, bahkan bisa saja menjadi buronan dunia ... ingat Nurvati, pemahanmu belum tentu adalah pemahaman yang diagungkan dunia ... di sini, kita adalah sama-sama perempuan, kita saling memahami satu sama lain, jika tidak menghakimi, maka kita yang dihakimi ....”
Nurvati bergeming, dia termakan oleh hasutan halus Putri Kerisia, angannya mulai terasa disirami oleh kesadaran, bahwa nyatanya, Nurvati memang merasakan apa yang dikatakan Putri Kerisia, 'jika tidak menghakimi, maka kita yang dihakimi'.
Termenung dalam kebimbangan, Nurvati masih dalam ambang menimbang-nimbang. Toh memang benar, perbuatannya terasa melanggar hukum oleh negara, toh memang dia seharusnya mati, toh jika pun Nurvati berhasil membantu peperangan dirinya memiliki kesempatan mengharumkan namanya, atau jika dirinya kabur memungkinkan akan menjadi buronan. Semua adalah kesempatan baik.