Nurvati

Nurvati
Episode 65: Menolak Bantuan Yang Memunculkan Kerapuhan.



Muktamar berakhir di malam hari, keputusannya adalah perang tetap berlanjut, budaya kunang-kunang akan diadakan tengah malam. Hujan deras pun sudah berhenti, yang memang dihentikan langsung oleh ras Peri khusus.


Kelompok perdamaian sempat bersitegang dengan pangeran, namun syukurnya tak ada bentrokan. Para demonstran pun membubarkan diri. Mungkin terlihat percuma apa yang mereka lakukan, tetapi semangat untuk terus mengumandangkan perdamaian tak akan lelah dilakukan.


Saat malam tiba, ibu kota akan dipenuhi oleh kerlip cahaya yang terbebar ke udara, itu adalah ribuan kunang-kunang yang dilepas, tanda kalau festival telah dibuka, bahkan di setiap atap gedung para peri mulai memainkan harmonika serta memainkan harpa, senandung lagu indah bersinergi membentuk suara yang terdengar harmonis, mereka memainkan musik demi penghormatan pada cahaya, karena bagaimana pun mereka tercipta dari cahaya api.


Bahkan Putri Kerisia serta Pangeran Azer pun berada di atap gedung parlemen, lengkap bersama Perdana Menteri Fizo serta penasihat kerajaan, sisanya para pengawal, dilakukan untuk melangsungkan festival pelepasan kunang-kunang. Suara-suara merdu musik pun mengiringi kepergian kunang-kunang.


Pangeran serta putri pun melepaskan kunang-kunang dari 'kotak kandangnya' terbebar ke udara. Semua orang nampak tersenyum senang. Kecuali Putri Kerisia yang untuk senyum miring saja lupa caranya.


Malam itu berakhir saat seluruhnya merasa cukup, pada dasarnya mereka semua juga berdo'a agar perang dunia ini dapat dimenangkan oleh ras Peri. Iya, hanya ras Peri.


Hari berganti, waktu pagi kembali menyinari, baskara mulai memancarkan sinar terang menyingkap kegelapan, lebih dari itu, ini adalah siang, matahari telah berada di titik kulminasinya, kehidupan dalam suasana perang kembali berlanjut, seluruh pasukan bersiap untuk membantu legiun di barisan depan.


* * *


Perdana Menteri serta Pangeran Azer tengah berada di provinsi Tenggara, kota Tenggara, perumahan area Selatan, tepatnya di markas besar militer angkatan Putih. Tempat di mana sang pemimpin akan memberi komando pada seluruh legiun. Dan saat inilah lanjutan komando itu.


Setiap legiun terdiri dari Sayap Merah, Kuning, Hijau, Hitam dan Putih.


Sayap Merah dengan level ilmu Hikmah dari 1-3.


Sayap Kuning dengan level ilmu Hikmah dari 4-7.


Sayap Hijau dengan level ilmu Hikmah dari 8-10.


Sayap Putih dengan level ilmu Hikmah dari 11-15.


Sisanya Sayap Hitam, atau disebut juga Jenderal Perang serta Panglima Perang. Sayap warna dapat dikenali dari warna energi atau auranya, namun dalam perang, sayap mereka menampakkan gelar mereka.


Kini di markas militer angkatan Putih, 9 Panglima Perang, tengah memberi intruksi pada setiap legiun di medan perang. Ruangan yang sangat luas, terbuat dari berlian ungu, di tengah-tengah ruangan terdapat meja dari emas yang berbentuk oval. Meja itu juga telah terdapat Cermin Pintar. Di sini pun terdapat Perdana Menteri ras Etho, ini kerja sama dalam perang.


“Tiga lini depan, para Sayap Hijau telah kalah, barak Sayap Hijau pun telah dikuasai, kini yang tersisa pasukan dari Sayap Putih,” ujar Panglima Perang angkatan sayap Hijau, ras Peri.


Baik dari lini ras Etho mau pun ras Peri telah kalah, ini membuat Pangeran Azer agak bergidik ngeri, bukannya apa-apa Sayap Putih adalah pertahanan terakhir dalam perang ini, kalau boleh dikatakan, Sayap Putih adalah 'Benteng' dalam permaianan catur, atau kartu 'Jack' dalam kartu remi. Yang memang di Cermin Pintar di meja, visual dari para pasukan dibentuk seperti kartu. Merah, Kuning, Hijau, dan Putih. Satu kartu berarti satu legiun, satu legin berarti 6000 pasukan, dan dipimpin oleh kartu 'As'; Jenderal Perang.


Seluruh kartu tertutup, kecuali sepuluh kartu Sayap Putih serta sepuluh kartu 'As' yaitu para Jenderal.


Pangeran Azer berada di ujung meja, dia tidak memainkan 'Kartu', dia yang memberi komando dan komando itu akan diteruskan oleh para Panglima Perang.


“Tak ada yang dapat dilakukan, kecuali maju berperang,” tutur Pangeran Azer dengan netra merah darahnya yang menilik baik-baik 'kartu-kartu' musuh yang banyak terbuka.


“Kalau begitu ... lakukan penyerangan, sebelum musuh maju, kita yang maju,” titah Pangeran Azer.


Ketika seluruh Panglima Perang hendak menyentuh cermin tepat pada kartu As, tiba-tiba sang Perdana Menteri Fizo buka suara, “Tunggu sebentar ....”


Itu membuat seluruh pusat perhatian tertuju padanya.


“... kita bisa mengirim para penyihir masuk ke sana, biarkan para penyihir menyerang atau gabungkan kekuatan dengan para penyihir ... karena bagaimana pun, pihak lawan menggunakan para penyihir, bagaimana menurut Anda, pangeran?” usul Perdana Menteri Fizo dengan agak membungkuk mendekatkan mulutnya pada telinga kiri Pangeran Azer.


Pangeran Azer termangu. Pangeran Azer adalah pria tampan, ia memiliki netra semerah darah nan tajam, rambut hitam pendek klimis yang membingkai indah di wajah berbentuk ovalnya dengan kesan wajah dambaan ras Peri, berumur 26.111 tahun —26 tahun menurut perhitungan manusia— dan kini seluruh gestur tubuhnya nampak memberi isyarat kalau dirinya merenung dalam-dalam.


Pangeran Azer, sangat menyukai jubah emas yang memiliki ukiran ular naga di setiap jubahnya, sehingga nampak seperti batik dan nampak serasi di badan bedegap nan tingginya.


“Aku lebih memilih para ilmuan yang maju, yang membuat robot tanpa perlu mengirim pasukan bernyawa ke sana, ketimbang para penyihir hipokrit itu ...,” balas Pangeran Azer menolak usulan Perdana Menteri Fizo.


“Tetapi ... mereka pasti akan mengusulkan penjatuhan bom, kebanyakan mereka tak mau ambil pusing dan ...,” singgung Perdana Menteri Fizo.


”Ahh ... aku jadi dapat ide ...,“ sela Pangeran Azer dengan menepuk lengan kanan Perdana Menteri Fizo, sebagai bentuk apresiasinya, karena dari ucapannyalah sebuah ide jatuh di angan Pangeran.


”Kita jatuhkan saja bom ke sana, lalu pasukan sayap putih maju ...,“ beber Pangeran Azer menyatakan idenya tetapi masih terdengar ragu.


”Mohon maaf, pangeran ... Yang Mulia Raja Awan Barat pernah melakukannya dan pihak lawan menggunakan para penyihir, dan seperti yang sudah saya usulkan, kita harus meminta bantuan para penyihir, karena selama kita berperang belum sekali pun kita menggunakan kekuatan sihir,“ saran Perdana Menteri Fizo dengan serius.


”Sudah jelas kita tak pernah menggunakan para Penyihir karena mereka kaum hipokrit! Adikku saja si Kerisia sangat tak sopan padaku, apalagi para pengikutnya!“ tegas Pangeran Azer dengan lantang nan mantap.


Semua sengap, suasana menjadi senyap. Mengingat apa yang dinyatakan Pangeran Azer memang bukan tanpa alasan. Dari Raja Awan sang ayahanda Pangeran Azer pun para penyihir memang agak sulit diajak kerja sama, mereka seperti bekerja sendiri-sendiri, tak peduli teman atau lawan, akan dilibas kalau menghalangi jalan.


Putri Kerisia, adalah wakil dari perserikatan Penyihir bangsa Barat, dia diangkat saat usianya 20.000 tahun, usia termuda dalam sejarah sebagai wakil dalam perserikatan Penyihir bangsa Barat.


Markas dari para penyihir pun berada di dalam bumi ras Peri, mereka membuat sebuah kota bawah tanah yang nyatanya itu adalah akademi penyihir. Fungsi para Penyihir sama saja seperti para ilmuan, bila para ilmuan menggunakan ilmu Pikir untuk membuat robot, maka para penyihir menggunakan ilmu Sihir untuk membuat 'mayat hidup'.


Sejak adanya revolusi akan sistem militer yang ke-9, para penyihir sudah termasuk pasukan militer rahasia; mata-mata. Pertama kali digagas oleh nenek dari nenek Putri Kerisia dan setelah mengorbankan banyak darah, barulah para penyihir setuju untuk bergabung dalam kemiliteran bangsa Barat.


Dan untuk para ilmuan, tak jelas sejarah mereka, ada yang mengatakan kemunculan mereka dalam kemiliteran adalah karena kerja sama ras Peri Barat dengan ras Neznaz Timur, dan ada pula yang menyatakan mereka tidak termasuk kemiliteran tetapi mereka selalu siap membantu kemiliteran negara. Yang pasti, mereka sangat cerdas dan tak terlalu diagungkan dalam ras Peri.


Mudah bagi Pangeran Azer bila mau mengirim penyihir ke medan perang, hanya meminta Putri Kerisia mempersiapkan segalanya, maka beres. Tetapi sekali lagi, para penyihir sulit diajak kerja sama dan kebanyakan mereka munafik.


Ini sebenarnya keputusan sulit, dan lagi Pangeran Azer terbilang orang yang gegabah, itu bahkan telah disadari oleh Perdana Menteri Fizo, membuatnya harus sering-sering memberi saran pada Pangeran Azer, seperti yang sekarang dilakukan.