
Malam hari di pusat perumahan area Timur ras Peri, udara telah dengan lembut mengantar hawa dingin dikesunyian malam ini, Nurvati yang telah berdiri tegak, tengah mengulur ke dua tangan ke depan, telapak tangannya terbidik pada dua pria penjaga perumahan itu. Dua Peri penjaga itu memiliki badan bedegap, dua sayap nuansa abu, tubuh tertutupi seragam warna hitam; seragamnya Penjaga Perumahan.
Melihatnya, dua penjaga buru-buru hendak bertelepati dengan penjaga lain, meminta bantuan, tetapi, belum sempat mereka bertelepati, laser hijau telah melesat tepat pada kening ke dua pria penjaga itu, dan langsung ambruk terbujur kaku, tewas seketika.
Bersamaan dengan itu, kesunyian malam di sekitar buyar oleh teriakan dari sakit hati Nurvati.
“AAAAAAAAAAAARRRRRGGGH ...!”
Sebuah teriakan lahir dari mulut Nurvati, teriakan ekspresi murka pada kenyataan masa lalu, teriakannya pun melingkupi sekitar, isyarat hawa amarahnya bukan main-main, tetapi tak satu pun masyarakat keluar dari rumah mereka, jalanan yang terbuat dari marmer nuansa hitam nampak sepi nan sunyi, dan wajahnya yang bercahaya membuat sekitarnya jadi kentara .
Patung Dewi Awan berada di tengah perempatan jalan yang mana tempat ini sering dijadikan tempat berkumpul, ada empat kursi panjang dari bahan intan yang berada di setiap empat arah mata angin.
Dan 'Boom' sebuah rumah di dekat Nurvati berusaha dihancurkan, dia melesat terbang menabrakan tubuhnya yang dilingkupi perisai warna hijau seperti cangkang telur, tepat pada rumah dari batu berlian Ungu itu.
Lalu suara 'Boom' kembali menyentak sepi, dan 'Boom' 'Boom' 'Boom' suara-suara rumah warga yang berhasil Nurvati rusak, meski rumah-rumah itu tidak hancur seutuhnya, namun usaha Nurvati berhasil membuat para penghuni rumah mulai berhamburan keluar, memeriksa, mereka bahkan ada yang ketakutan, khawatir kalau-kalau perumahan mereka diserang pasukan musuh.
'BOOM' 'BOOM' 'BOOM' 'BOOM'.
Suara rumah-rumah yang dirusak Nurvati bergema di area sekitar, membuyarkan sunyi, membentuk kepanikan, rakyat dibuat berhamburan keluar rumah.
'Boom' 'Boom' terus dan terus rumah-rumah warga dirusak Nurvati, tak peduli mereka warga dari kalangan bangsawan atau kalangan militer, semua digilas habis olehnya.
Telah datang tujuh pasukan militer, berseragam lengkap dengan zirah dan celana panjang dari berlian, mereka terbang di atas perumahan mengincar Nurvati, pasukan militer itu semuanya diliputi cahaya keilmuan sama persis seperti Nurvati.
Faktanya di alam Peri tak terdapat polisi, semua penegak hukum adalah pasukan militer yang siap perang dan mengamankan.
'Boom' dan 'Boom' suara rumah yang dirusak Nurvati masih menjadi bukti kemarahannya, tapi ketika Nurvati melesat dengan perisai cangkang telurnya, mendadak dia terhempas, terhunjam ke jalanan hingga menimbulkan tanah berdebam, dan membuat area jatuh di sekitar Nurvati menjadi cekung, untung baginya perisai pelindungnya masih meliputinya, menjadikannya baik-baik saja.
Ketujuh pasukan militer berdiri mengepung Nurvati, memandang waspada dan siaga pada Nurvati. Memberi jarak tujuh meteran.
“BERLUTUT SEKARANG JUGA!” sergah pria di depan Nurvati dengan mengulurkan tangan kanan ke depan membidik Nurvati.
Perisai pelindung pun lenyap, maka perlahan Nurvati berlutut tanpa ragu, berlutut dengan dua lutut, tetapi sayangnya situasi disentak oleh kenyataan, bahwa tiba-tiba, pria di belakang Nurvati maju dengan cepat, maka 'Boom' suara seorang pria membentur tanah halaman salah satu rumah mengisi sepi, itu berkat satu pukulan telak dari Nurvati yang menghempaskan seorang anggota militer sejauh 30 meter, lalu terkapar di tanah; dia masih hidup.
Tembakan-tembakan bola-bola cahaya warna merah sebesar bola basket terarah pada Nurvati. Satu tembakan, lalu tiga tembakan hingga 50 tembakan, berhasil dihindari Nurvati. Kini mereka di atas awan, di ketinggian 9000 meter dari permukaan tanah.
Faktanya, meski para Peri mampu terbang menuju awan, mereka tak mampu terbang keluar Angkasa, tekanan ruang hampa serta adanya energi 'Hitam' yang mampu membuat tubuh para Peri atau pun ras lain menyusut, bahkan hingga hancur, sisanya kekurangan oksigen. Kecuali adanya tiga faktor, pertama; ilmu Hikmah tahap 30, termasuk tubuh roh, kedua; bantuan dari makhluk Kahyangan, termasuk malaikat, ketiga; teknologi, seperti ras Neznaz.
Mereka seperti nyamuk, terbang ke sana kemari di udara, namun sangat cepat, Nurvati terus dicecar tembakan dari bola-bola cahaya nuansa merah.
Lalu satu anggota militer terbang di samping kanan Nurvati, sadar akan hal itu, Nurvati melesatkan satu tembakan laser hijau, tepat pada kening sang prajurit, dan 'Woush' prajurit itu langsung terhunjam ke darat, tewas.
Tersisa lima prajurit, mereka mengejar Nurvati, tetapi mereka nampak hanya berputar-putar di situ saja.
Kedua tangan Nurvati membentuk sengatan petir, lantas mundur ke belakang secepat kilat, dan 'ZRRZZZRT' tembakan petir mengenai tubuh 2 prajurit militer yang bercahaya itu, kemudian mereka terhunjam, meluncur ke darat, tewas seketika.
Tersisa tiga prajurit yang mengejar Nurvati, terlebih mereka kali ini membentuk 'Jaring Penangkap', tembakan satu cahaya merah mengarah pada Nurvati, dan kala sudah cukup dekat, cahaya itu berubah menjadi jaring, seperti jaring menangkap ikan, tentunya ini lebih kuat.
'ZRRZZZRT' petir dari tangan Nurvati berhasil memotong jaring itu, ini belum selesai! Dua prajurit kali ini menggunakan kemampuan 'Cahaya Awan', dari empat tembakan bola cahaya merah lalu membentuk empat gumpalan awan yang semuanya mengejar Nurvati, empat awan itu melesat secepat kilat, dan 'Blub' 'Blub' suara awan-awan yang berhasil menempel pada dua kaki Nurvati, juga menempel pada dua tangan Nurvati.
Fungsi 'awan' tadi itu sebagai penyerap energi lawan, membuat lawan menjadi lemah tak sadarkan diri.
Namun tidak bagi Nurvati!
Dia menggunakan ilmu Hikmah 'Petir' yang dikeluarkan dari sekujur tubuhnya, 'ZZRRRZZZZRRRT' cahaya biru keunguan berpendar dari kilatan-kilatan yang menyambar ke segala arah, membelah angin dan berhasil menghancurkan awan yang menempel pada anggota badan Nurvati. Nurvati kembali bebas.
Maka Nurvati secepat kilat menerjang angin, terbang mencari jarak aman dari 3 anggota militer itu, kali ini dia menggunakan ilmu Hikmah-nya —Debu Rembulan— maka dari mulut Nurvati disemburkan serbuk debu-debu pada anggota militer yang mengejarnya, disebarkan secara horizontal ke kanan serta ke kiri, ke kiri serta ke kanan, membuat gumpalan debu keabu-abuan menyebar di udara, menyebar melingkupi sekitar, debu yang panas, yang menghilangkan ketombe —bukan— membakar kulit, menghanguskannya, meremukan tulang dan kemudian menghancurkan seluruh tubuh menjadi bubuk arang yang tertiup terbawa angin, begitulah yang telah menimpa dua prajurit yang mengejar Nurvati.
Ketika semburan debu dari Nurvati selesai, ketika debu-debu telah menghilang dari pandangan, 2 anggota militer telah musnah menjadi abu dan hilang terbawa angin. Kecuali, seorang anggota militer yang tetap bertahan hidup, melindungi diri dengan perisai nuansa merah yang melingkupi tubuhnya yang seperti cangkang telur. Tiga detik kemudian dihilangkannya.
Mereka —anggota militer— memang sama-sama memiliki ilmu Hikmah, akan tetapi, kebanyakan pasukan militer di ras Peri hanya mampu mencapai alam Ilmu yang ke-5, namun cahaya ilmu pun telah melingkupi wajah, hanya saja tak secemerlang Nurvati dan untuk para jendral hingga para panglima perang, mereka biasanya hanya mampu mencapai alam Ilmu ke-15 atau 17.
Artinya, level Nurvati lebih tinggi ketimbang para anggota militer, dia sudah setara kekuatan para Raja atau para Pendekar, tetapi tidak lebih hebat dibandingkan para Dewa dan Malaikat.
Kini, dalam angin yang cukup hangat di sini, Nurvati serta seorang pria anggota militer saling berhadapan dalam jarak 7 meteran, melayang, siap siaga dalam kewaspadaan. Bersiap untuk menyerang!