
Telah sampai waktu pada saat-saat yang lama, tepatnya 100 tahun lebih Arenda kini dijaga ketat, begitu pula dengan Pangeran Azer yang tak luput dalam ketatnya penjagaan. Tak ada lagi rakyat yang berani mengomentari keputusan pemerintah dan nyatanya hukum yang telah ditetapkan Pangeran Azer sanggup membuat rakyat merasa aman.
Memang ada saja kelompok masyarakat yang sampai mendemo dengan tuntutan agar hukum mati fitnah itu dicabut, karena merasa kurang etis dan terkesan untung-untungan.
Tepat di hari yang mendung, kala awan-awan kelabu menggulung menghalangi sinar mentari. Di belakang istana Awan, tepatnya di balik dinding megah istana. Taman Kupu-Kupu istana Awan.
Saat di mana Pangeran Azer serta Arenda tengah di wawancara, bisa juga dikatakan ini adalah bincang-bincang bersama keluarga kerajaan. Sesi wawancara ini sudah biasa dilakukan setiap 200 tahun sekali, wawancara terhadap politik kerajaan atau pun terhadap kegiatan berjalannya keluarga raja.
Walau hanya Pangeran Azer serta istrinya Arenda yang hadir, acara tetap berlanjut.
Wawancara ini akan tampil secara langsung lewat cermin pintar yang mana setiap rumah pasti memilikinya. Dan segalanya disimpan sebagai dokumen negara.
Jelas topikalitasnya adalah mengenai hukuman mati bagi para tukang fitnah atau mereka yang terbukti mengadu domba.
Rakyat tidak setuju dengan hukuman matinya, bukan dengan hukumnya, rakyat juga sadar betul kalau tukang fitnah layak dihukum, tetapi masalahnya tak perlu sampai hukum mati.
Penjelasan Pangeran Azer sangat tandas dan setiap jawaban yang diutarakan juga jelas.
Sehingga siang itu, setelah agenda bincang-bincang bersama keluarga raja usai, segalanya bisa langsung disimpulkan secara jelas. Bahwasanya, hukuman mati, dilakukan karena fitnah lebih kejam dari pembunuhan, yang mana ketetapan ini pun telah mendapat persetujuan dari para dewan, ahli kitab, serta fraksi-fraksi yang ada.
Itu untuk hukum, sementara untuk politik, yaitu Pangeran Azer yang menyalahgunakan surat kepemimpinan Raja Awan, ditampik langsung oleh pernyataan Pangeran Azer.
“Saya, diperintah untuk mengamankan jalannya perang, serta memberi rasa aman pada setiap lapisan masyarakat dan dalam surat itu pun telah dicantumkan, bahwasanya, saya, Pangeran Azer, putra mahkota bangsa Barat, calon raja ke tiga puluh satu berhak mengatur masyarakat demi keselamatan seluruh golongan masyarakat ... jadi segala keputusan adalah demi keselamatan rakyat, sehingga tidak ada yang namanya penyalahgunaan perintah ... dan surat itu sendiri 'kan telah dipampang pada masyarakat.”
Sedangkan raja serta ratu sendiri tengah sibuk mempelajari ilmu Pengenal Diri, tetapi itu yang diketahui publik, karena dalam kerahasiaan, Putri Kerisia sengaja menjauhkan ayah serta ibunya dari publik untuk kabar duka nanti.
Tambahannya adalah rakyat serta pemerintahan tengah diadu domba. Lebih-lebih para pembunuh bayaran yang bukan lain adalah ras Siluman dijadikan 'boneka' dari orang-orang yang membenci kerajaan atau pun pemerintah. Untuk dalang dari usaha pembunuhan itu masih terus ditelisik oleh aparatur penegak hukum.
Sisanya hanyalah sebatas bagaimana Arenda serta Pangeran Azer menikmati kehidupan berumah tangganya selama ini. Tentu jawaban baik-baik saja menjadi pemungkasnya demi menanamkan persepsi publik, kalau memang baik-baik saja.
Demikian sesi wawancara yang dilakukan.
Selain daripada agenda kerajaan, kegiatan itu pun untuk menandaskan segala asumsi serta keheranannya masyarakat.
Sejak wawancara nan tandas itu selesai, tak dapat dipungkiri, segala asumsi tetap menghiasi kenyataan. Mulai dari sang penanya adalah bagian dari kerajaan, sehingga semua telah diatur sedemikian rupa oleh kerajaan demi keuntungan mereka, namun ada pula yang berasumsi; Pangeran Azer hanya ingin menguatkan posisinya dihadapan publik, kalau dirinya berhak memerintah seperti apa pun. Dan segala asumsi lainnya tetap bersinergi dalam sembunyi-sembunyi.
Semenjak itu, tak ada lagi demonstrasi politik, pun tak ada yang namanya pembelotan, hukum baru mau tidak mau diterima.
Hari-hari masyarakat tetap berjalan seperti biasanya, bekerja demi kesenangan atau pun demi memenuhi kebutuhan pokok.
Pangeran Azer tidak lama tinggal di istana, dia hendak menambah ilmu kembali, sehingga untuk saat ini, tampuk kepemimpinan bangsa Barat dimandatkan sementara pada Perdana Menteri Fizo.
Terlebih, Pangeran Azer berpesan, kalau pembelajaran ilmunya akan selesai saat sehari sebelum upacara penobatan dirinya sebagai raja bangsa Barat.
Bagi Perdana Menteri Fizo sendiri, hal ini bukanlah masalah besar, dia hanya perlu melanjutkan segala keputusan, atau agenda yang telah dicatatkan oleh pangeran.
Di depan pintu gerbang antar alam semesta, Pangeran Azer hendak pergi untuk menimba ilmu di alam lain; planet lain.
Segala kepergian Pangeran Azer diantar langsung oleh istri serta beberapa pengawal, tempatnya sendiri berada di atas awan, di samping istana.
Pangeran Azer yang satu meter berdiri di hadapan Arenda hanya bersedekap menyilang tangan dengan senyum simpul isyarat baik-baik saja, lalu dengan santai dan penuh cinta menjawab, “Tidak sayang ... terima kasih atas tawaran Anda ....”
“... karena ... ini adalah perjuanganku demi meraih ilmu lain, jika aku belajar di alam sana ... aku bisa mencapai ilmu Hikmah hingga alam ke tiga puluh dan tanpa menghabiskan banyak waktu di sini,” lanjutnya.
Sebuah penolakan yang diselubungi hal-hal teoretis demi membuat Arenda mengerti dan tetap mau tinggal di sini. Itu memang berhasil.
Arenda mengangguk-angguk mengiakan dengan raut muka pasrah, tanpa mengukir senyum pada wajah manisnya.
“Baiklah ... hati-hatilah ... dan semoga Anda mendapatkan yang Anda inginkan,” ujar Arenda dalam pasrah mendo'akan.
“Sayang ... engkau pun harus hati-hati di istana, jangan banyak bergaul dengan orang-orang yang tak jelas keluarga serta lingkungannya ... banyak-banyaklah melatih keilmuanmu ... karena mau tidak mau kita juga harus bisa memproteksi diri sendiri,” pesan Pangeran Azer dengan serius dan wajib dicamkan.
“Iya ... saya akan mematuhi pesan Anda ...,” balas Arenda dengan tegap berdiri dan pandangan tajam pada suaminya.
Selepasnya, terdapat saat-saat di mana Pangeran Azer maju mendekati istrinya, cukup dekat tapi tetap ada jarak, lantas dalam cinta kasih yang nyata, Pangeran Azer menggenggam jemari tangan Arenda dengan lembut, dan satu kecupan mendarat mesra pada jemari lentik Arenda.
Tiga detik kecupan Pangeran Azer singgah di jemari halusnya Arenda, cukup berkesan bagi Arenda, sangat-sangat berkesan, hingga dirinya mengingat kalau setelah pesta pernikahan berlangsung, Pangeran Azer baru tiga kali melakukan kecupan mesra di jemari lentik Arenda. Dan sekarang adalah yang keempat.
Entah Arenda harus menyikapinya seperti apa, antara penting dan tidak penting. Tapi yang pasti, ada perasaan kelesah yang tak dapat dijabarkan, baik oleh pikir, mau pun oleh kata-kata.
Selepasnya, Pangeran Azer pun pergi menimba ilmu di alam lain, yang dalam rencananya, dirinya akan pulang saat penobatan diselenggarakan, dan saat itu terjadi, dirinya telah sampai pada ilmu Hikmah alam 30.
Sehingga, segalanya kembali pada kegiatan masing-masing, Arenda menikmati kesendiriannya dengan melatih ilmu Cahaya-nya. Dan masyarakat, menjalani realita seperti biasanya.
---------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)