Nurvati

Nurvati
Episode 64: Gegabahnya Pangeran Memicu Konflik.



'Cerau', hujan deras masih mengguyur, bukan itu saja, dalam curah hujan yang deras ini, di depan gedung parlemen ini tak kurangnya telah berkerumun 320 demonstran, yang mana mereka mengharapkan agar segeranya perang dihentikan, beberapa orang terus berteriak menyuarakan harapan mereka.


“HENTIKAN PERANG! BENTUK KEDAMAIAN!”


Kalimat itu terus digaungkan oleh mereka-mereka yang memiliki keyakinan kalau perang ini menyalahi kodrat. Semua yang hadir adalah orang dewasa.


Para petugas keamanan gedung tentunya berjejer menutup setiap celah agar tak terjadinya kenyataan yang merugikan, walau sebenarnya gedung parlemen ini telah diliputi oleh dinding gaib nuansa bening, sehingga cukup sulit mereka menembusnya. Lebih-lebih suara mereka hanya sampai di halaman gedung saja, yang memang halaman gedung parlemen ini seluas lapangan sepak bola.


Hujan deras serta guntur yang mengisi keadaan, tak menyurutkan semangat mereka, bahkan satu tahun sekali sejak terjadinya 100 tahun perang dunia ini pecah, mereka selalu berdemonstrasi di sini. Telah sampai petisi mereka pada wakil rakyat, tetapi yang namanya pro dan kontra membuat segala hal yang mudah malah membuat segalanya menjadi sulit.


Masyarakat tidak bodoh, mereka mulai menyadari adanya 'sosok' yang sangat ingin memperkeruh suasana. Memang beberapa ras lain merendahkan ras Peri, tetapi tentunya itu pun karena faktor dari ras Peri sendiri, sehingga yang seyogianya diperbaiki adalah ras Peri itu sendiri dan bukan malah mengumumkan perang.


Di lain sisi, ada hal yang dilupakan oleh ras Peri, kalau di beberapa provinsi, telah terjadinya penculikan yang dilakukan ras Siluman pada anak-anak, dan ini sudah sering tejadi, namun bahkan dalam muktamar ini tak dibahas secara intens, hanya gegara anak-anak yang diculik masih bisa ditangani oleh pasukan militer.


Suasana dalam muktamar ini masih tegang, seluruh opini, persepsi, keyakinan, hingga pendapat terus bersitegang mencari ketetapan siapa yang akan diambil untuk diterapkan.


Masih membahas lanjut atau tidaknya perang ini, seluruh anggota dewan terdiam karena kakak beradik anak-anak raja bangsa Barat nampak beradu argumen.


Tetap duduk tegap bersedekap tangan, malah gestur tubuhnya tetap memperlihatkan kalau Putri Kerisia wanita terhormat.


“Apakah ... dengan mengemukakan pendapat bisa dikatakan memecah belah bangsa? Apakah hanya gegara memihak rakyat saya langsung dicap tukang rusuh?” singgung Putri Kerisia, yang memang berusaha menyudutkan kakaknya. Dan dia hanya ingin mempermainkan kakaknya yang dungu.


Putri Kerisia tak perlu membawa-bawa nama Malaikat Abriel, cukup dengan mengatas-namakan rakyat saja sudah mampu membuat kuping Pangeran Azer kepanasan.


Dan seketika Pangeran Azer terdiam, dia tetap duduk di sana bersama orang-orangnya.


Alih-alih membalas, Pangeran Azer justru mengungkapkan balasannya lewat telepati, sebuah komunikasi tersembunyi yang sebenarnya dilarang dalam muktamar ini.


“Aku mengajakmu kemari agar kau mendukungku, bukan malah mencoba menyelaku,” sindir Pangeran Azer dalam telepati yang terdengar hanya dari kepala Putri Kerisia.


“Aku mendukungmu, maafkan aku, aku hanya terbawa suasana,” balas Putri Kerisia yang telah cukup mempermainkan kakaknya.


Suasana sempat senyap beberapa detik, sebelum akhirnya Perdana Menteri Fizo buka suara, “Sekali lagi saya akan tegaskan! Pasukan bangsa Barat mulai melemah, yang kita butuhkan adalah keputusan yang tepat, agar tak ada pihak yang dirugikan dan tak perlu ada perpecahan hanya gegara beda pendapat!”


Beberapa orang dari kelompok perdamaian kembali mengajukan usulannya, ya pastinya ingin adanya perdamaian, sehingga beberapa anggota dewan yang kontra langsung menginterupsi kalau perdamaian dibentuk artinya kebenaran serta kehormatan ras Peri diinjak-injak.


“Akan sangat diinjak-injak kalau kita tetap melanjutkan perang!” kata anggota kelompok perdamaian.


“Sudah jelas, bangsa Timur, bangsa Selatan serta bangsa Utara tetap melanjutkan perang! Kita tak mungkin beda keputusan dengan mereka, kelompok kalian itu sudah kalah suara! Jangan malah mau memecah belah!” balas anggota dewan.


“Bangsa Barat adalah bangsa yang kuat! Tanpa mengikuti bangsa lainnya kita tetap bisa maju,” sela anggota dewan yang kontra dengan perang ini.


“Kita bisa mengajak mereka untuk berdamai! Kita bisa menghentikan perang, karena kitalah yang pertama kali mengusulkan deklarasi perang!” bela lagi anggota kelompok perdamaian.


Tiba-tiba Pangeran Azer bicara, ”Kaisar ras Peri memberi kita mandat untuk memimpin perang ini! Dan masalahnya bukan siapa yang mengusulkan! Masalahnya adalah kebenaran serta kehormatan yang kita miliki harus dijunjung! Dan oleh sebab itu ...."


"... perang tetap berlanjut!“


Kaisar ras Peri adalah pemimpin utama seluruh klan, suku serta bangsa dari ras Peri di seluruh alam semesta, membimbing kesatuan serta persatuan di seluruh bangsa Peri, dia memang seorang pemimpin, dia pula yang mengumumkan perang, akan tetapi, perang dunia ini pun bisa saja berakhir sekejap mata bila mana seluruh bangsa setuju untuk berdamai.


“Lalu untuk apa kami hadir di sini? Apakah kalian berusaha menghina kami?” sindir anggota kelompok perdamaian yang tak terima dengan keputusan gegabah Pangeran Azer.


“Kelompok kalian hadir adalah untuk mengakui sebuah kekalahan, iya! Baik nanti atau pun sekarang, kelompok kalian telah kalah dalam permohonan atau pun usulan, perang ini akan terus terjadi sampai pihak lawan mengaku kalah ditangan kita!” seru Pangeran Azer blak-blakan enggan kehilangan kehormatan rasnya di seluruh dunia.


Maka pernyataan Pangeran Azer menuai komentar miring dari kelompok perdamaian, mereka merasa terhina, mereka merasa tak dihargai, bahkan beberapa dari mereka mengumpat tak terima.


Riuh para anggota kelompok perdamaian mengisi seluruh lingkup di ruangan luas ini, bukan itu saja, anggota dewan yang setujuan dengan kelompok perdamaian ikut membuat gaduh, mereka mulai membela kelompok perdamaian.


“Tenang semuanya! Tenang!” kata Perdana Menteri Fizo tak ingin ada keributan.


“Pangeran tak menghormati kami!”


“Pangeran merendahkan kami!”


Para anggota kelompok perdamaian mulai berteriak tak terima atas pernyataan Pangeran Azer.


”Tolong tenang! Apa yang dikatakan pangeran adalah demi kebaikan kita!“ seru Perdana Menteri dengan lantang yang memang akan selalu berpihak pada Pangeran Azer.


Melihat kegaduhan yang terjadi Pangeran Azer pun bertelepati pada adiknya. ”Putri Kerisia, aku tidak mengundangmu ke sini melainkan untuk membantuku, kau pandai bicara, jadi bantulah aku.“


Mendengar permohonan itu, rasa senang merebak pada Putri Kerisia, meski tanpa mampu tersenyum, dalam angannya yang meninggi perihal ucapan gegabah kakaknya yang begitu dungu, Putri Kerisia pun menyentuh sudut kanan Cermin Pintarnya yang berada di mejanya. Lingkaran merah itu disentuh dengan digeser ke bawah pada salah satu simbol; simbol pohon cemara kelompok perdamaian.


Maka seluruh kursi para anggota perdamaian memunculkan kaca yang langsung mengurung setiap anggota kelompok perdamaian, kaca yang berbentuk cangkang telur itu membuat mereka tak mampu berbuat apapun, terkurung di sana dengan suara yang tidak bisa didengar, dan mereka akan terus seperti itu hingga selesainya muktamar ini.


”Apa kau sudah gila?“ ledek Pangeran Azer dari telepati yang tak mengira kalau kelompok perdamaian akan langsung ditutup, ekspektasi awalnya mengira adiknya akan buka suara.


”Ini semua salah kau, pernyataanmu sangat gegabah dan tak etis,“ balas Putri Kerisia dari telepati dengan santai dalam raut muka datarnya.


Jelas seluruh orang terkejut melihat kejadian itu, tetapi syukurnya mereka semua langsung terdiam membisu.


Pangeran Azer memang terbilang seseorang yang gegabah, mudah terhasut, ingin selalu disanjung dan hanya selalu ingin terlihat hebat.