
* * *
“Putri Kerisia! Putri Kerisia! Putri Kerisia!” seru Arkta dengan terbang buru-buru penuh resah.
Ini adalah kaki gunung berapi di planet ujian para penyihir, masih dalam bentang langit malam berbintang dengan awan hitam dari mulut gunung berapi yang menutupi setengah langit.
Putri Kerisia serta Logia tengah mencari keberadaan jin klan Ifret, mereka sibuk memerhatikan kepundan gunung berapi.
“Putri Kerisia!” seru lagi Arkta dengan begitu panik dan langsung mendarat tepat di dekat Putri Kerisia serta Logia.
Serentak Putri Kerisia dengan sikap wanita terhormatnya dan Logia dengan raut muka penuh tanyanya seketika menghadap pada Arkta.
“Putri Kerisia ini gawat,” kata Arkta dengan raut muka serius yang telah berpijak di tanah di depan dua rekannya.
Jelas kalimat Arkta yang terdengar begitu panik langsung ditanggapi Logia dengan serius, hingga melayangkan kalimat tanya, “Ada apa Arkta?”
“Ini ... ini gawat ...,” balas Arkta dengan serius masih menutup fakta.
“Iya ... gawat kenapa?” heran Logia penuh tanya.
“Aku ... aku rindu,” canda Arkta dengan raut muka santai yang diakhiri dengan senyuman dan tatapan penuh makna pada Putri Kerisia.
'BUAK' satu pukulan telak dari Logia mendarat pada wajah Arkta yang langsung membuatnya tersungkur di tanah.
”DASAR PAYAH! DISAAT-SAAT BEGINI KAU MALAH BERCANDA!“ sentak Logia yang tak terima candaan Arkta dalam masa kebingungan saat ini.
”Ya ... mau bagaimana lagi, aku 'kan butuh hiburan ...,“ bela Arkta dengan terduduk di tanah sambil mengusap-usap pipi kanannya demi menghilangkan rasa sakit.
”HIBURAN KATAMU! SERATUS TAHUN DI SINI KITA SEMUA SIBUK MENCARI SI IFRET DAN KAU MALAH INGIN DIHIBUR!“ bentak Logia menyolot.
”Ya, mau bagaimana lagi ... hiburan 'kan sangat asyik ...,“ ungkap Arkta.
“Hiburan hah? Asyik ya?” sindir Logia dengan menjewer telinga kanan Arkta.
”Adehdehdeh ...,“ ringis Arkta dengan berusaha melepaskan jeweran dari Logia.
“Cukup teman-teman!” sergah Putri Kerisia yang langsung membuat kekonyolan dua rekannya berhenti.
“Dia benar ... aku juga rindu,” seloroh Putri Kerisia dengan santai dalam raut muka datar, berusaha membuat teman-temannya untuk bisa santai dalam pencarian ini dan tak terlalu jadi beban pikiran.
Ada saat-saat di mana waktu terkesan berhenti ketika ucapan itu dicerna matang-matang, hingga 'Plak' Logia menepuk jidat merasa kalau ini sangat bodoh. Lantas melangkah menjauh.
“Nah 'kan, Putri Kerisia saja rindu, masa kau tidak?” gurau Arkta dengan mengusap-usap telinga kanannya.
”Terserah, terserah dan terserah ... seratus tahun bersama kalian membuatku ingin pulang,“ ujar Logia dengan masa bodoh yang melangkah lagi menuju kepundan gunung berapi.
Tapi walau memang usaha untuk menghibur dua rekannya terkesan gagal, Putri Kerisia kemudian kembali memutar badan ke belakang dan berusaha kembali mencari keberadaan seorang klan Ifret yang dideteksi pintar bersembunyi di sekitar gunung berapi ini.
Tak lama berselang, Haro terbang datang menghampiri. ”Teman-teman, lihat yang aku bawa!“
Ketika Haro mendarat, semua rekannya serentak memandangnya penuh tanya, disertai oleh Arkta yang bangkit dari duduk.
”Aku dapat sesuatu,“ ungkap Haro dengan wajah ceria dan senyuman senang.
”He, jangan sampai kau bawa batu-batuan yang aneh lagi ya ...,“ sindiri Logia yang memang sedari pertama mencari petunjuk tentang seorang klan Ifret, Haro selalu saja mendapatkan batu tidak penting.
”Woah ... apa yang kau dapatkan, Haro? Batu kotak lagi yang terlihat misterius hah? Huahahaha ...,“ singgung Arkta dengan menertawai hasil-hasil pencarian Haro yang sebelumnya.
Walau teman-teman Haro meremehkannya namun tidak bagi Putri Kerisia, dia cukup bijak menghargai usaha Haro yang selalu memberikan tanda kerjanya, sedangkan Logia selalu mengikuti Putri Kerisia dan Arkta selalu mencari hiburan yang pada akhirnya usaha yang paling terlihat hanyalah Haro seorang.
Putri Kerisia tak tersenyum, karena memang lupa caranya, tetapi pandangannya fokus pada hal berharga yang Haro tunjukkan.
Ketika Haro mengulur tangan kanan ke depan yang diselimuti kain emas, tepat ketika tangan kirinya menarik kain itu dan membuangnya. Semua orang dikagetkan akan sebuah buah 'Bintang' yang memiliki kulit seperti jeruk agak keemasan nan berkilau dan bentuknya seperti bintang.
”Woah ... itu buah Bintang!“ seru Arkta dengan begitu ceria.
”Haro ... kau mendapatkan buah Bintang! Kebetulan sekali aku sangat lapar!“ sambung Logia dengan lekat-lekat menatap buah Bintang tersebut.
Haro tersenyum lebar dan sangat senang bisa menunjukkan penemuannya yang kali ini pasti akan sangat bermanfaat.
Semua orang telah berdiri di dekat Haro yang pastilah senang, karena bagaimana pun, dua hari lebih mereka sudah tidak makan.
Tapi ada satu masalah, buah yang di dapat Haro hanya satu, sedangkan di sini terdapat empat orang yang menanggung lapar.
Lantas 'Hup' Logia merebut buah Bintang itu dari tangan Haro sangat cepat dan berkata, ”Haro memberikannya untukku, jadi ya ... untukku.“
Sebuah pernyataan yang membuat Arkta seketika geram, sedangkan Haro diam tetapi raut mukanya kebingungan.
”Dasar egois! Jangan seenaknya main ambil, itu milik Haro!“ sergah Arkta tak terima.
”Tapi, dia juga menunjukkannya padaku dan aku yakin buah Bintang ini untukku!“ kukuh Logia yang terpaksa egois karena terdorong rasa laparnya.
Hanya Putri Kerisia yang diam dengan raut muka datar dalam gestur tubuh terhormatnya. Ini terlihat kekanak-kanakan bagi Putri Kerisia, sehingga dengan begitu lantang dia bicara, ”Ingat teman-teman, jika satu mati, maka kita tak akan lulus.“
Kalimat itu berhasil menyadarkan ketiga teman-temannya terutama Logia yang mendekus teringat lagi aturan ujiannya.
”Nah, kau dengar itu!“ sindir Arkta dengan raut muka merasa menang karena Logia langsung memasang raut muka tak berdaya.
”Tentulah, Haro menunjukkannya pada kita, agar kita menyantapnya bersama ... bukan untuk sendiri ...,“ tutur Putri Kerisia dengan lantang berusaha mencerahkan teman-temannya.
”... benar begitu, Haro?“ lanjutnya dengan memandang tegas pada Haro demi memastikan.
Tidak berkata-kata, hanya anggukan mantap dan senyuman penuh syukur dari Haro yang membuat pernyataan ketua tim, yaitu Putri Kerisia adalah benar.
Maka Logia dengan memalingkan muka merasa malu dan gengsi, ia lantas menyodorkan buah Bintang itu pada teman-temannya, seraya nyeletuk, ”Ya sudah ... nih, lagian si Haro cuman dapat satu, seperti tidak lapar saja kalian.“
Dengan tersenyum senang dan raut muka semringah, Haro meraih kembali buah Bintang itu lalu membuat pisau dengan energinya yang lantas memotong buah Bintang itu menjadi tiga bagian.
Dan Haro pun menyodorkan tiga kerat buah Bintang yang telah dipotong pada teman-temannya, seraya berkata, ”Ambillah dan nikmatilah.“
Menyadari hanya tiga iris yang dibuat Haro, membuat Logia bertanya, ”Loh, kau tidak makan?“
Maka dengan raut muka polos nan santainya, Haro menjawab, ”Tadi aku sudah makan tiga buah Bintang, jadi tidak perlu.“
Sontak jawaban konyol itu membuat seluruh rekannya tercengang hingga ke dua alis Putri Kerisia terangkat.
”Eh, Buset!“ sahut Arkta dengan membelalak mata tak menyangka.
”Jadi kau sudah makan?!“ tanya Logia dengan nada suara meninggi dan menyolot.
”Hem.“ Haro mengangguk dengan senyuman santainya.
'Plak' Logia kembali menepuk jidat karena tak menyangka kalau rekan-rekannya akan jadi konyol begini.
Meski terlihat bodoh, akan tetapi tiga iris buah Bintang itu pada akhirnya diambil juga oleh Arkta, Logia serta Putri Kerisia karena bagaimana pun mereka memang menanggung lapar dan tak mau juga ambil pusing dengan sikap polos Haro. Ini sudah biasa.
------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)