Nurvati

Nurvati
Episode 29: Penolakan Memicu Rasa Sakit.



“Tak masalah bila pun nantinya aku jadi pelayannya, yang jelas, aku siap membela sang 'Penyelamat' itu,” kukuh Pangeran Awarta tak sedikit pun terhasut untuk memadamkan harapannya.


Bibir tipis Putri Kerisia masih melengkungkan senyum indah mengandung kejahatan, atau lebih tepatnya, daripada senyuman seorang pecinta yang tak ingin sang dicintanya pergi. Hanya ingin memiliki, namun terombang-ambing oleh perasaannya sendiri. Seorang wanita yang pertama kali jatuh cinta, seorang wanita yang baru pertama kali mengenal cinta buta. Konyol memang, namun begitulah realita.


Putri Kerisia memiliki tinggi 1,8 meter, netra belo ularnya berwarna merah lembayung, bibir tipis penuh dusta, hidung mungil, rambut jingga panjang bergelombang yang membingkai manis di wajah tirusnya, tubuh moleknya tertutup gaun elok seorang Putri, gaun berlengan yang tercipta dari bebatuan mulia, nuansa merah berkilau, dan dua sayapnya putih menawan, lengkap dengan kulit senantan yang bercahaya.


Kecantikan sang Putri melebihi Nurvati, sampai-sampai para pria terhormat di negeri Barat mengagumi kecantikan Putri Kerisia, sekali lagi, kagum! Bukan suka, apalagi cinta.


Ralat, mayoritas ras Peri tak pernah menggunakan alas kaki dalam hidup mereka, bahkan Putri Kerisia dan Nurvati tak pernah menggunakan alas kaki.


“Bisa saja sang Penyelamat itu laki-laki atau lahir bukan di zaman kita,” singgung Putri Kerisia dengan intonasi suara lembut memandang netra hitam Pangeran dalam-dalam. Dan tak rela sang Pangeran dimiliki yang lain.


“Aku sangat yakin, dia akan hadir dizaman kita, memimpin ras Peri menuju kejayaan lalu memimpin ras jin lain.” Terus berambisi dan terus berteguh hati sang Pangeran.


Itu adalah kalimat penolakan bagi sang Putri Kerisia, dan penolakan adalah hal yang paling mampu membuat jiwa sang Putri terbakar murka. Tapi sandiwara kebaikan yang dilakukannya masih diperankan.


Namun tunggu sebentar!


Sedetik setelah itu, sang ayahanda Pangeran Awarta bicara, “Mohon maaf, kami datang ke sini ingin menolak ajakan tuan dan nyonya untuk tidak menjodohkan anak kami ....”


Kemudian beliau bangkit dari duduk, dan sekonyong-konyongnya beliau membungkuk dengan penuh hormat dalam rasa sesal, seraya melanjutkan ujarannya, ”Mohon maaf yang sebesar-besarnya, sekali lagi, mohon maaf.“


Sudut alis kiri Putri Kerisia seketika berkedut tak mengira, mematung merasakan patah hati. Iya, tak dapat dipungkiri ia ditolak secara halus dan memang menimbulkan sakit. Mereka telah membuat sang Putri murka, dan kemurkaannya tertutup oleh sandiwara sopannya.


Dan dalam renung yang perlahan menjadi hampa, yang mulanya cinta menghadirkan harapan, harapan yang memicu kesembuhan dan kebahagiaan, hingga seluruh waktu melingkupi kenyataan, dan penolakan menambah estetika kebenaran cinta, mulailah kesadaran akan hal penting itu muncul, yaitu; cinta adalah nama lain dari kebencian, yang menciptakan kekuatan untuk membentuk perang.


Tepat, seperti itulah gambaran perasaan Putri Kerisia, bahkan dia berani menyimpulkan arti 'cinta' menurut dirinya sendiri, masa bodoh dengan cinta yang terasa indah, sebab nyatanya, sekarang itu adalah jalan menuju realitas penderitaan.


Iblis memang benar, cinta kepada siapa pun hanya membentuk kesengsaraan, begitu pun cinta kepada Yang Maha Kuasa. Iya! Putri Kerisia mematri konklusi itu dalam jiwanya, karena ujung dari muktamar ini hanya melahirkan kekecewaan.


Raja dan Ratu negeri Selatan memiliki wujud yang diliputi cahaya, kepala mereka bersinar seperti mentari siang. Kecuali orang tua Putri Kerisia, esensinya mereka sudah mati sehingga tak ada lagi cahaya pada mereka. Memang beberapa masyarakat hingga keluarga kerajaan sempat bingung oleh perubahan yang drastis itu, tetapi begitulah sihir, sampai tak ada yang mempertanyakannya.


Bersamaan dengan kembalinya Raja Selatan yang duduk, Putri Kerisia angkat bicara, ”Jika kita membentuk ikatan kekeluargaan, bukankah akan jauh lebih baik?“


Putri Kerisia mencoba menghasut sekali lagi, pasalnya, senyuman sang Putri justru terkesan tak dihargai; percuma. Malah, Pangeran Awarta berani membalas, ”Ikatan kekeluargaan bisa dijalin tanpa harus melaksanakan janji pernikahan, Putri.“


Memanfaatkan keluarganya tak berhasil, memanfaatkan senyum kesopanan pun tak berhasil, seluruh suara merdu sang Pangeran kini memicu air mata patah hati. Dan inilah yang ditanggung oleh seorang wanita yang baru pertama kali jatuh cinta lalu ditolak: memikul beban kesedihan.


Raut muka sang Putri tiba-tiba datar tak berperasaan; hampa. Jemari lentiknya mengepal di atas paha. Suasana kini tenggelam dalam kesunyian pekat dalam kecanggungan. Tak ada kata hanya sengap yang terjadi.


* * *


Tapi tunggu, rupanya di sana, dalam jiwa Putri Kerisia, ada suara yang menyerukan penuntasan muktamar ini. Suara sang Iblis.


”Lihatlah ... harapanmu memicu kekecewaan, dan penolakan melahirkan rasa sakit, habisi saja mereka, karena hanya kematian yang mampu menghindari kenyataan.“


Sontak, senyum penuh siasat jahat melukis indah wajah Putri Kerisia, dalam ketenangan dia berujar, ”Baiklah ... tapi, izinkan saya bicara pada paduka Raja dan Ratu negeri Selatan, dan untuk Pangeran, tunggulah saya di taman Kupu-kupu.“


Menyisakan sang Putri bersama keluarganya dengan keluarga Pangeran, duduk tenang masih berhadapan tanpa kendala.


Hanya saja, waktu telah terenggut banyak oleh kebungkaman, tiga puluh detik selepas kepergian Pangeran, Putri Kerisia masih sengap tanpa kepastian, memicu pertanyaan menginvasi dalam kepala Raja dan Ratu negeri Selatan.


”Jadi ... apa yang hendak Anda sampaikan?“ selidik Ratu negeri Selatan tak mau membuang-buang waktu.


Di sana, Putri Kerisia tertunduk bersedekap menyilang tangan, sakit hatinya telah mengendalikan pikirannya menuju niat pembalasan. Menuntut pertanggung-jawaban terhadap patah hatinya.


”Tuan Putri ....“


Panggilan dari suara lembut sang Ratu negeri Selatan sama sekali tak diindahkan Putri Kerisia; masih tumungkul.


”Saya tidak mau ada perang hanya karena wanita yang baru pertama kali patah hati, saya juga tak mau ada kebencian hanya karena adanya penolakan.“


Sebuah kalimat membentuk tanya berhasil membuat kedua orang tua Pangeran Awarta membisu keheranan, tetapi sang Raja menyuarakan kebingungannya. ”Kita memang tak akan berperang, justru kita bersekutu dalam perang dunia ini.“


Sama sekali tak membuat sang Putri senang mendengar kalimat bodoh itu. Putri Kerisia tiba-tiba mengangkat wajah mulusnya pada kedua orang terhormat di depannya, itu bahkan disertai senyum tenang dalam kesopanan. Meski dada terasa senak, dan napas lumayan berat, sikap elegannya tak sirna barang sekejap saja.


Tapi tiba-tiba, ketika hening dan tanya bersinergi, entah bagaimana, sedetik setelah itu, kedua orang tua Pangeran Awarta malah memegang kepalanya penuh kesakitan. Cahaya mereka redup padam bak lampu yang kehilangan energi penghidupannya. Karena faktanya, dalam keheningan, sang Putri telah melafalkan mantra sihir di dalam hati, hanya mantra pengendalian, dia berusaha memasukan 'anak-anak' Satannya pada tubuh orang tua Pangeran Awarta.


Bahkan dalam tindakan jahatnya itu, bibir tipis sang Putri masih tersenyum tenang nan teduh, tak setitik pun ia ketakutan mau pun bersalah. Tak dapat ditoleransi patah hatinya. Yang diketahuinya hanyalah perasaannya jujur, dan sengaja dia adakan muktamar ini hanya untuk bicara dengan pujaan hatinya; belajar mengenal.


Kendati sesungguhnya, tak mudah menyurutkan perasaan cinta pertama, apalagi kesan 'apa adanya' menjadi timbal balik kesengsaraan batin yang menutup harapan kemenangan.


”AAAAAAARRRGH ... APA YANG KAU LAKUKAN TUAN PUTRI!“


Rengek kesakitan bersipongan melumerkan keheningan dalam canggung yang kini berubah menjadi petaka, petaka bagi orang tua Pangeran Awarta. Tapi keadilan bagi Putri Kerisia. Cinta itu adil, bila yang menyakiti disakiti lagi, itulah hipotesis sang Putri negeri Barat, Kerisia.


Sementara di samping sang Putri, kedua orang tua tercintanya, hanya mematung menikmati sang sihir berjuang menegakkan keadilan; pembalasan.


”AAAAAAARRRRGGGH ....“


Teriakan kesakitan itu hanya berirama menimbulkan senyum kepuasan sang Putri. Kekuatan hebat Raja dan Ratu negeri Selatan tak berguna sama sekali. Tentu saja tidak berguna, di mata 'Dewi Kerisia' kekuatan cahaya para Peri hanyalah penutup kelemahan jiwa para Peri yang baginya tak berharga.


Waktu menemani rasa sakit yang dipikul kedua orang tua Awarta, duduk di kursi mencengkram kepala menanggung sakit. Hingga tibalah dari bayangan sang Putri Kerisia 'anak-anak' Satan muncul dalam bentuk mengerikan dan berwarna merah darah, mulut lebar menutup pipi, mata bulat hitam dan berjingkat-jingkat menuju orang tua Awarta, tinggi mereka kurang dari satu meter. Jumlah Satan yang tercipta dari bayangan Putri Kerisia adalah 7 anak. Dan kepala mereka berbentuk seperti telur.


Empat Satan itu merasuk ke dalam tubuh orang tua Awarta, dua pada Ratu, duanya lagi pada Raja, merasuk dari samping, merasuk bagaikan cacing-cacing melesak ke tanah, menghentikan jeritan mereka, meringis lalu kemudian hening terbentuk, mereka —ratu dan raja negeri Selatan— seketika duduk sengap mematung, seolah duduk manis tak pernah terjadi apa pun. Sisa tiga Satan hanya jingkrak-jingkrak konyol di lantai, terkekeh melihat saudara-saudaranya berhasil menguasai tubuh orang tua Awarta.


Dan telah berkaca-kaca netra sang Putri, penolakan telah memicu rasa sakit, dan rasa sakit menuntut keadilan, lalu termangulah anak bungsu penguasa negeri Barat itu, auranya meredup karena harapan terasa padam.


Salah satu dari Satan itu spontan melompat ke atas meja di depan Putri. Duduk bersila menghadap sang Putri dengan kepala miring sambil tersenyum lebar. Dia memandang raut muka datar Putri Kerisia dengan polos yang memang menyiratkan hati yang sangat terluka. Netra Putri tertuju ke depan dalam angan-angan perihal harapannya yang malah pupus.


”Jangan menangis 'ibu',“ kata anak Satan itu dengan polos berusaha menghibur sang 'ibu'. Dia tak mau ibunya menderita.


Tapi meski itu hanya kata-kata yang keluar dari anak Satan, senyuman damai ternyata bisa tersungging di wajah mulus sang Putri. Senyuman kepuasannya seorang yang berhasil merengkuh keadilan dalam cinta, tersenyum memandangi anak Satan-nya dalam rasa syukur. Dan membiarkan kedua orang tua Awarta kini dikendalikan oleh anak-anak Satan-nya.