
Ratusan kegagalan melanda Nurvati, dan berhenti belajar karena usahanya hanya menjadi bualan belaka.
Saat itu, langit berwarna jingga, udara hangat karena terik siang, Nurvati menyerah untuk belajar, dan kedua orang tuanya hanya dapat pasrah. Nurvati tahu, bahwa menyerah adalah jalan terbaik demi memanfaatkan waktu pada hal yang lebih memungkinkan untuk sukses.
Ketika suasana dalam perang masih tegang, kala seluruh ras Peri dalam situasi tenang; Nurvati yang hendak keluar rumah, secara spontan, pintu terdedah, kedua orang tua Nurvati buru-buru menggiring Nurvati dengan panik, membawa Nurvati pada ruang meditasi ibunya.
Mereka masuk bersamaan ke dalam ruang meditasi tersebut, menciptakan rasa bimbang dan pertanyaan dalam benak Nurvati.
“Nurvati, diamlah di sini,” pinta sang ibu dengan berlutut di depan Nurvati.
Ucapannya ditanggapi sangat serius oleh Nurvati, seraya bertanya, “Ada apa ibu?”
“Apapun yang terjadi ...,” jawaban sang ibu diinterupsi oleh ledakan dari luar rumah.
'DUUUAAAARRR'. Suara ledakan terdengar begitu tedas, dan cukup mengguncang mental Nurvati.
Itu pertama kalinya suara ledakan singgah didekat rumah Nurvati, membuat energi dalam otaknya membentuk visual mengerikan, dan memicu jantungnya terpacu lebih giat, lebih dari itu, jiwanya sampai tergetar karena sebuah ledakan.
Ketakutan mendorong mulutnya untuk buka suara, mencari tahu apa yang sekiranya terjadi.
“IBU ITU ....” Nurvati bahkan belum sempat merampungkan kalimat ekspresifnya karena sudah disela oleh sang ibu.
“DENGAR NURVATI!” sela sang ibu dengan lantang nan terdesak.
Napas Nurvati mulai naik turun kebingungan, ia bahkan bergeming dalam resah menatap ibunya penuh tanya.
“... diam di sini sampai situasi aman!” pinta sang ibu begitu sungguh-sungguh.
Untuk sang ayah, hanya terpaku bersandar di pintu, seakan menjaga pintu dari keadaan yang tak diinginkan. Tapi Nurvati hanya bergeming, justru perintah ibunya membentuk ketakutan dalam jiwanya dan itu cukup untuk membungkam mulut Nurvati.
“Kami akan segera kembali,” kata sang ibu tanpa penjelasan lebih spesifik.
Lalu sang ayah mendedah pintu, dan sang ibu bergegas keluar ruangan.
“Ibu tunggu! Ibu ...!” seru Nurvati dengan berusaha mengejar sang ibu.
Tapi usahanya sia-sia lantaran sang ayah mencekat langkah Nurvati, sembari berkata, “Kamu harus kuat Nurvati ... jadi bertahanlah di sini.”
Nurvati terpegun, diam tercenung, sulit baginya mengikuti sebuah perintah yang berazamnya masih samar, yang justru menciptakan kesan menakutkan serta meresahkan, dan sang ayah keluar ruangan dengan pintu yang kembali ditutupnya.
Entah, alasan kuat apa yang menjadikan mereka mengurung Nurvati di ruangan ini, hingga Nurvati terpaksa menuruti mereka, takut-takut kalau ini memang situasi berbahaya.
Namun, suara 'DUUAAARR' yang menggelegar, memecah lamunan Nurvati, membuat ia mendekati pintu penuh keresahan, kedua tangannya ditempelkan pada pintu, ia memikirkan kemungkinan yang terjadi di luar sana.
Aura di sekitarnya membentuk perkiraan-perkiraan semata, besar kemungkinannya ini adalah kondisi darurat, kesimpulan itu bisa dipastikan oleh orang tuanya yang tadi nampak panik, dan membawa kesan bahaya.
Apa mungkin, ada perang? Bahkan Nurvati penasaran dan terus penasaran. Ledakan demi ledakan sempat beberapa kali terdengar, namun tak ada visual berarti yang ditangkap mata Nurvati.
Telah cukup lama kejadian itu berlangsung, detik hingga ke jam telah dilalui Nurvati tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, rasa penasaran itu buyar saat hasratnya mendorong jiwa Nurvati, memberanikan diri, atau tepatnya, nekat mendedah pintu, lantas berlari menuju keluar rumah.
Kondisi dalam alam Peri tengah tegang, negeri Barat serta negeri Selatan digempur serentak, tentunya ras Barqo adalah pelakunya. Beberapa kalangan masyarakat turun tangan, penyerangan tiba-tiba ini tak diketahui oleh pertahanan ras Peri, kendati faktanya, para prajurit Peri bergegas bertempur.
Kerajaan negeri Barat ikut diserang, keluarga kerajaan dibawa pada tempat rahasia, kecuali ratu dan raja, mereka terpaksa membantu mengusir pihak lawan.
Nurvati mulai melangkah perlahan ke depan beranda rumahnya, jemari tangannya bergeming, matanya berbuntang memandang langit, sampai nuansa langit ungu kehitaman terefleksikan pada netra tajam Nurvati, napasnya naik turun tak keruan, memacu jantungnya berdegup lebih kencang, hingga terpaku di depan rumahnya, yang jelas, Nurvati tercekat menerima hawa kehancuran dan visual peperangan.
Langit bernuansa ungu, petir bersama listrik menyambar memecah angin, awan kelabu bertumpuk-tumpuk, aura mencekam meliputi negeri Barat, situasi menegangkan tak dapat dielakkan lagi, gemuruh yang bersahutan mematahkan suara 'minta tolong', kekuatan dalam kekuatan beradu menimbulkan reaksi kimia yang menjadi ledakan, langit dihiasi prajurit yang berperang, embusan udara tak beraturan, dedaunan dihempas lalu lalang tak tentu arah, laksana badai yang tak hujan, namun begitu mengerikan saat tahu ini ancaman.
Bahkan kata-kata tak sanggup mencapai penjabaran sempurna dari perang ini, namun cukup spesifik untuk menegaskan, bahwa situasi sekarang sangat berbahaya.
Saat udara kencang menerpa Nurvati, saat itu juga, kesadarannya memaksa untuk menoleh ke kiri. Ternyata, dalam jarak tiga meteran, sesosok pria tengah meluncur dari udara dengan petir di tangan kanannya, dan terarah pada Nurvati. Itu prajurit ras Barqo, Nurvati tak bisa menghindar, keheranan serta ketakutannya terasa membekukan tubuhnya.
Tetapi syukur, sosok pria bertubuh besar warna ungu itu mendadak terhunjam ke tanah, menimbulkan retakan dengan guncangan tektonik, lalu sosok tersebut menembus hingga ke bawah rumah Nurvati, dan membentuk lubang berdiameter dua meteran.
Nurvati mengerjapkan matanya, beringsut dengan kedua batang tangan yang melindungi wajahnya. Saat kepul dari hantaman tadi hilang, sesosok peri tengah melayang di depan Nurvati.
“Ibu ...?” heran Nurvati penuh kagum.
Rupanya, sang ibu yang menyelamatkan Nurvati. Belum sempat Nurvati mengusut, secara tak terduga, dari langit mendung sebuah sambaran petir dengan gemuruh awannya, menyambar ibu Nurvati.
'KRRRZZZZZRRRRRRT'.
Petir itu bak listrik dengan tegangan yang sangat tinggi, jika manusia yang tersambar, dapat dipastikan tubuhnya akan hancur. Tetapi beruntungnya, sang ibu dengan sayap kanannya, berhasil membentuk perisai menghalangi keberhasilan penghancuran petir itu, sedetik kemudian, dari arah kiri sang ibu, muncul prajurit ras Barqo, dengan petir di tangannya yang terarah pada sang ibu.
Secara cekatan, tangan kiri ibu Nurvati terarah pada sang penyerang, sekaligus memunculkan laser putih terang benderang yang berhasil menghempaskan sang penyerang.
'ZRAAZZZZ'.
Sang penyerang terhempas 30 meter ke darat, terseret ke tanah, terkapar dengan bergetar, kepanasan lalu tewas. Nurvati tercengang dengan kemampuan sang ibu, ia terkagum pada ilmu energinya, sebuah serangan yang baru pertama kali dilihat Nurvati, dan membuat Nurvati melongo.
Namun, tak berlangsung lama, sebuah kejadian begitu cepat membuat Nurvati terbeliak; dari lubang tanah di bawah kaki sang ibu, bekas pertarungan awalnya, yang sama sekali tak diduga sang ibu. Sang prajurit Barqo melancarkan serangan cepat, petir menyambar ibu Nurvati, dan memang berhasil menyengat sang ibu, sampai-sampai Nurvati memanggil sang ibu dalam cemas ketakutan.
“IBUUUUU ....”
Hebatnya, ibu Nurvati masih mampu untuk mengelak ke kiri, melompat menghindari luka yang bisa lebih dalam lagi. Secara otomatis, petir dari langit beradu dengan petir prajurit dari lubang bawah rumah Nurvati, akibatnya, ledakan cahaya terbentuk, dan menimbulkan suara, 'duar'. Lebih dari itu, gelombang ledakan berhasil menghancurkan setengah rumah Nurvati, seperti biskuit yang ujungnya telah dimakan.
Ibu Nurvati tak selamat, ia terhempas ke Selatan dan terkapar di tanah. Sedangkan Nurvati berhasil diselamatkan sang ayah. Lalu Nurvati diturunkan dari bopongan ayahnya. Dan kembali berpijak ke tanah.
“IBUUUU ...!” teriak Nurvati pada sang ibu dalam getir.
Hingga sampai Nurvati hendak berlari menjemput ibunya, sang ayah mencengkram tangan kiri Nurvati, menghentikan langkahnya, membuat Nurvati memupuskan harapannya, dan itu cukup membuatnya bergigit keresahan.
Empat prajurit ras Barqo yang memiliki badan besar dengan kulit warna ungu, menghunjamkan pedang petir pada perut ibu Nurvati, dan menimbulkan sengatan listrik yang begitu kuat, membuat sang ibu meregangkan tubuh penuh kesakitan, menciptakan cahaya nan menyilaukan hingga menyatu dalam listrik, dengan harapan, melenyapkan nyawa ibu Nurvati.
“IBUUUUU ...,” rangek Nurvati mulai menitihkan air mata kesedihan.
Sang ayah tahu, dia tak mampu menolong istrinya, keadaan tak bisa dikendalikan, dia kekurangan jumlah, membuatnya membopong Nurvati, berniat mencari tempat yang aman.