
Masih terus menikmati arus dendam yang memiliki arti keadilan, lewat tatapan mereka yang memancarkan kehidupan hari ini berbeda dari hidup yang telah dilewati, Nurvati tetap kukuh akan melaksanakan apa yang menurutnya wajib dilaksanakan.
“Jadi kamu ingin kami melakukan apa?” tanya Kury memastikan.
“Kami memang benar-benar menyesal, Nurvati,” sahut Sona dalam tatapan menyesal masih berusaha meyakinkan kalau mereka kini telah berubah.
“Kita bertarung! Bertarung sampai mati!” sentak Nurvati menantang tak gentar.
Angin kembali berkesiuran bersama pernyataan Nurvati yang membuat Sona serta Kury terkejut tak menyangka, menghela napas, bergeming memunculkan perasaan takut dan malu menjadi kesatuan yang mana mereka segan pada Nurvati. Tatapan mereka agak merenung, banyak pertimbangan, bukan tak ingin menggubris, tapi bingung harus menjawab apa.
Satu sisi ada hal penting yang ingin mereka sampaikan, tapi ragu, masih menyekat mereka. Satu sisi Nurvati terlihat marah, dan satu sisi mereka tak tahu niat apa yang ada dalam diri Nurvati.
“Nu-Nurvati ... a-apa kau dendam pada kami?” tanya Kury yang bahkan ada ketakutan dan malu untuk menanyakannya, terlebih suaranya dilembutkan hingga agak terbata-bata.
“Iya ... karena dendam adalah kekuatan demi penegakkan hukum ... aku datang untuk menegakkan keadilan, yang dulu menjatuhkanku harus dijatuhkan kembali, yang dulu merendahkanku harus direndahkan kembali ... itulah hukum keadilan,” balas Nurvati membenarkan dan menyatakan perspektifnya yang wajib dijadikan kebenaran.
Tapi dari tatapan kedua iris teman-teman Nurvati menyiratkan adanya tidak setuju, yang dialihkan oleh ungkapan penyesalan seorang Sona. “Kami minta maaf, Nurvati, maafkan kami ....”
”Maafkan kami,“ sambung Kury tak mau cari masalah, tetapi ini justru malah menjadi masalah.
”Tak ada takdir yang berubah hanya karena kata maaf,“ protes Nurvati dengan lantang nan mantap.
”Iya ... tapi itu berarti, kami mengakui kesalahan dan kekalahan kami,“ bela Sona.
”Kami ... kami tak mungkin mengalahkanmu,“ timpal Kury dalam inferioritas dan sudah menetapkan hasil dalam prasangka.
Hanya saja, dalam hawa yang semakin dingin, Nurvati malah berdekah mengiringi hari yang petang. Dekah meledek.
”Hahahahaha ....“
”... betapa liciknya kalian ... setelah aku mencapai kedigdayaan, barulah kalian ketakutan,“ lanjut Nurvati meledek, masih tak terima dengan ucapan maaf temannya yang terdengar bodoh.
”Bukan begitu Nurvati ....“ Sona berusaha membela diri dan malah niatnya untuk menjelaskan, terpotong.
”OMONG KOSONG!“ sela Nurvati menyergah mulai terbawa emosi amarah yang berkantaran.
Maka Nurvati menggunakan ilmu Hikmah Cahaya, tangan kanannya diangkat dan telapak tangannya diarahkan pada Kury, dan 'Bruk' menjadi suara Kury ambruk ke tanah, keningnya tertembak laser hijau dari Nurvati, terkapar lemah, telah tewas tak bernyawa.
Maka berbuntang netra Sona, bergidik ngeri dan seketika memandang sahabatnya yang tewas begitu saja, ia bahkan langsung berlutut dengan dua lutut menghadap sahabatnya, memasang raut muka kuyu, menatap jasad Kury yang tewas. Perasaannya kacau tak keruan.
Dan dalam rasa benar, merasa telah menegakkan keadilan, Nurvati bicara, ”Aku membenci kata maaf, karena kesalahan yang disengaja dan setiap hari dilakukan, itu perlu dihukum.“
Namun Sona kembali bangkit berdiri, raut mukanya tak lagi sendu, namun menyiratkan keseriusan tinggi, netra birunya menatap intens pada Nurvati, seraya berucap, ”Apa kamu pernah berfikir, jika keadilanmu ini justru akan menimbulkan dendam yang lain yang membentuk perang abadi dan mengatas namakan keadilan?“
“Dendam bukanlah keadilan, dendam adalah kekuatan untuk menegakkan keadilan, tanpa dendam, keadilan tak akan terbentuk ...,” balas Nurvati menggantung kalimatnya.
“... jika pun keadilanku menimbulkan perang abadi, maka kau salah, tidak ada yang abadi di dunia ini ... mereka yang melakukan dendam padaku yang mengatas-namakan keadilan adalah orang-orang yang keliru, dan mereka yang memahami keadilanku akan membantuku, sebab keadilan itu ditegakkan karena adanya pelaku pertama dan bukan karena adanya pelaku kedua,” pungkasnya.
”Apa yang kamu maksud Nurvati? Aku tidak mengerti ...,“ keluh Sona dalam kernyit kening kebingungan.
Akan tetapi, Nurvati yang terbutakan oleh dendam, hasrat dan ambisi, malah berani berkata, ”Kau merasakan apa yang aku rasakan, itulah keadilan, membalas perbuatanmu dengan perbuatanku itu adalah keadilan, yang menyakiti mesti disakiti lagi, yang mencintai mesti dicintai lagi, itulah keadilan, tidak berat sebelah dan tidak memihak.“
Bersama angin yang mendadak berembus kencang menerbangkan serpihan-seripihan daun untuk bertebaran, Sona menundukkan pandangan dalam kontemplasi, dia hanya mulai terbawa arus rencana Nurvati, tetapi pada dasarnya, Sona pun memiliki rencana untuk diungkapkan, dan terpaksa ditunda.
”Nurvati ...,“ seru Sona kembali memandang serius pada Nurvati.
”... apa kau mengira perbuatanmu ini adalah keadilan?“ lanjutnya memastikan.
“Tentu saja, yang menyakiti diawal, atau yang pertama melukai, dialah yang harus diadili, itulah keadilan,” tegas Nurvati penuh percaya diri dalam angan-angannya yang meninggi.
Setelah lima detik mencerna pernyataan Nurvati, tanpa tahu apa yang ada dalam hati Sona, Nurvati terkaget akan Sona yang kini tiba-tiba malah berlutut dengan dua lutut, menatap Nurvati dalam kepasrahan, memasang muka kuyu namun penuh harap, dan angin yang dingin dikala senja ini berembus mengalunkan hawa kematian, lengkap bersama gemerisik dedaunan pohon yang mengiringinya.
Maka di sana, Sona berkata, “Kalau begitu ... bunuh saja aku, karena memang aku dan Kury datang kemari hendak bunuh diri ....”
Jelas, kesadaran Nurvati terhenyak oleh adanya pengakuan dari Sona, dan itu langsung melahirkan tanya dari Nurvati. “Apa maksudmu, apa maksud dari kedatanganmu hendak bunuh diri?”
“Apa kamu tahu ... Nuita telah gugur di medan perang? Dan ... awalnya sebelum kami datang kemari ... kami datang ke kediamanmu, tapi kakekmu tidak mengetahui keberadaanmu, kami datang hanya ingin meminta maaf padamu, namun karena kami juga memiliki rencana untuk mengakhiri hidup, jadi kami putuskan untuk langsung datang ke tempat ini, dan nanti malam, seharusnya, kami mati di sini ...,” beber Sona memandang Nurvati dalam raut hampa, tanpa senyuman.
Dan inilah rahasia yang tadi dipendam, kini mulai dikuak, tujuannya agar Nurvati paham, bahwasanya, mereka memang benar-benar telah menyesal dan tak ingin lagi menyakiti Nurvati.
“... Nurvati, aku merundungmu karena aku iri padamu, aku memiliki keluarga yang kacau, mereka sering menuntutku untuk menjadi seperti yang mereka minta ... dan saat kemarin ... aku serta Kury gagal bergabung dengan pasukan militer, padahal seluruh sanak saudaraku semuanya adalah anggota militer, sehingga rasa malu dan tekanan mental yang keluargaku berikan membuatku tak bisa menerima ini ... maafkan aku, aku hanya cemburu pada keluargamu, walau kau tak memiliki sayap, kau tetap dicintai keluargamu, wal ....” Perkataan Sona belum sempat dirampungkannya.
Sebab di lain sisi, tangan kanan Nurvati telah terangkat dan melesatkan laser nuansa hijau tepat pada kening Sona, kemudian suara 'Bruk' menjadi tanda Sona telah ambruk ke tanah, dalam kepasrahannya, meregang nyawa, lemah tak berdaya, telah meninggal dunia.
”Kalau begitu matilah ... karena kematian adalah obat buatmu,“ gumam Nurvati masa bodoh dengan pengakuan Sona, itu hanyalah kisah yang tak berharga. Tak membuat Nurvati interesan.
Semua telah jadi arti, keadilan sudah ditegakkan, sebab yang jahat telah menanggung hukuman. Begitulah pikir Nurvati. Larut dalam dendam, terbawa arus ambisi.