Nurvati

Nurvati
Episode 32: Kebetulan Yang Ditakdirkan.




Nurvati bersyukur, saat menyadari kalau Malaikat pertama yang dilihatnya seumur hidup adalah Malaikat Rahmat, dan kini Nurvati tengah berlari lintang pukang menghindari serangan bola-bola api yang tertembak kearahnya, Iblis berkepala sepuluh itu pun jalan cepat mengejar Nurvati.


Raut muka panik dan bimbang tergambar jelas dari wajah mulus Nurvati.


“Sialan, bagaimana aku bisa mengalahkannya kalau di sini tidak ada air,” keluh Nurvati terus berlari tanpa lelah.


Sang iblis berkepala 10 yang seperti laki-laki itu terus berjalan cepat, dengan bola-bola api yang ditembakkan dari mulutnya, dia bertelanjang dada, namun celananya adalah api merah yang berkobar. Sepuluh raut mukanya datar tak berperasaan.


Telah memakan jarak sepuluh meter lebih Nurvati berlari, dan telah banyak kalimat-kalimat 'kemalaikatan' yang digaungkan dalam batinnya, bahkan mungkin sudah berjam-jam Nurvati berlari, atau mungkin berhari-hari, tetapi yang pasti, ia tak juga mendapatkan ide untuk mengalahkan sang Iblis.


Beruntungnya di alam ini terdapat udara, membuatnya bisa bertahan hidup selamanya, normalnya, para Peri akan kehabisan tenaga bila sudah berlari lebih dari seminggu, tanpa makan, tanpa minum.


Satu hal penting, Nurvati telah gugur dua kali, namun kini dia kembali lagi demi meraih ilmu.


Seluruh usaha dan konsentrasi terus berpusat pada alam pikir, mencari ide, apa yang sekiranya mampu mengalahkan Iblis berkepala sepuluh itu. Tak ada kelemahan, itulah yang sempat sang Malaikat Rahmat jawab pada Nurvati, membentuk asumsi terhadap niat Malaikat Rahmat, bahwasanya, sang Malaikat, sepertinya ingin Nurvati mencari tahu sendiri.


Satu konklusi lagi muncul, bila pun Nurvati berhasil mengalahkan sang Iblis, itu belum berarti menghentikan ujian ini, karena 100 tahun dibutuhkan pula demi menuntaskan tahap pertama ini. Tidak, Nurvati tidak mungkin juga tahu 100 tahun telah terlewati atau belum, bila mana tidak mengalahkan sang iblis terlebih dulu.


Otomatis, pikirannya menggerakkan tubuhnya untuk berlari memutar arah, ya, kedua kakinya bergerak lincah menuju iblis berkepala 10, dan tetap dalam jarak aman.


Satu bola api sebesar tubuh Nurvati melesat ke arahnya, cepat namun tak secepat lompatan Nurvati yang berhasil menghindar. Kini Nurvati berlari dengan kepala menoleh ke kanan memandang serius pada sang Iblis yang berada 10 meter di sana, netranya menilik cermat, mencari kelemahan sang Iblis.


Tapi sialnya, bersama tembakkan bola-bola api yang gencar tertuju pada Nurvati, itu sama sekali tak berhasil menemukan kelemahannya.


'BOOM' dan 'BOOM' suara bola api yang meledak kala berhasil membentur tanah emas, dan Nurvati terus melompat menghindari serangan. Sedari tadi sang Iblis hanya melakukan serangan yang sama persis secara berkesinambungan, dan tak ada fariasi serangan yang dilakukannya.


Dan tak mau membuang waktu lama, membuat Nurvati nekat berlari lebih dekat pada sang Iblis, lebih-lebih kedua tangannya mengepalkan tinjuan, dan berniat menghajar sang Iblis untuk kali pertama. Nurvati berlari dengan napas teratur, tanpa ragu, tanpa takut. Tak lupa iris hijaunya memindai mencari titik buta sang Iblis.


Kini 5 meter adalah sisa jarak Nurvati untuk menghajar sang Iblis kalau bisa, dia masih berlari mengitari iblis berkepala sepuluh itu, agak sulit mencari titik buta sang Iblis apalagi dengan sepuluh kepala yang menghasilkan 10 pandangan mata, membuat Nurvati tak lepas dari pantauannya, bahkan bola-bola api terus menembak Nurvati.


Hingga entah mengapa, karena sang Iblis lamban dalam menengok, Nurvati berhasil mendekatinya dari belakang, berlari dengan cepat, dan dalam rasa kesal, dia melesatkan satu tinjuan dari tangan kanannya, satu pukulan berhasil mendarat di betis kanan sang Iblis yang berbalut api.


Tapi dalam hasil yang nihil, kaki kanan sang iblis spontan menendang Nurvati, menendangnya dengan tumit sang Iblis, menjadikan Nurvati terpelanting ke belakang sejauh 5 meteran. Di sana Nurvati terkapar dengan memegang perut dan terbatuk-batuk karena sakit.


“Uhuk-uhuk-uhuk ....”


Tak lama berselang, iblis berkepala sepuluh itu telah memutar tubuh ke arah Nurvati. Kembali bersiap menembakkan bola apinya. Nurvati yang telah mendeprok di tanah hanya sanggup meringis memandang kegagalan yang akan kembali menimpanya.


Tapi tunggu!


Semua perkiraan Nurvati salah, secara kebetulan yang ditakdirkan, yang awalnya Nurvati melempar tanah hanya sebatas reaksi amarahnya, itu justru membawa pada berkah; keberuntungan.


Nurvati masih hidup menanggung perjuangan, dengan kata lain, butiran tanah yang tadi Nurvati hempaskan secara tidak sengaja, membuat bola api menjadi padam lalu sirna. Malah, dia masih tumungkul, memicingkan netra dalam kepasrahan. Hingga waktu menyentak kesadarannya, membuat Nurvati mengangkat wajahnya menelaah kembali apa yang barusan terjadi, siklus hidup di tempat ini masih menaunginya.


Dan kesadaran itu memunculkan harapan baru; bola api sang iblis dapat hancur, bila dilempar oleh butiran-butiran tanah emas di sini.


Tersenyum adalah hal pertama yang Nurvati lakukan dalam rasa syukurnya. Dan ketika sang Iblis kembali meniupkan bola api pada Nurvati, dia kembali menggengam butiran tanah. Lalu 'Woush' api itu lenyap sekejap mata, karena segenggam tanah yang dicengkram Nurvati berhasil dihempaskan pada bola api.


“Sekarang ... terimalah balasanku,” ucap Nurvati sambil meraup tanah dengan bangkit berdiri.


Lantas berlari kembali pada sang Iblis, berlari dengan berani karena dia telah mengetahui kelemahan sang Iblis.


Faktanya, Iblis berkepala 10 itu memiliki kelemahan pada tanah emas ditempat ini, namun untuk melumpuhkannya, tanah perlu diangkat terlebih dulu ke udara lalu di lempar agar tanah mampu bermutasi.


Jelas Nurvati begitu semringah mengetahui kelemahan iblis berkepala sepuluh itu, dan saat dia berada pada jarak yang dekat dengan sang Iblis. Nurvati mulai melemparkan butiran tanah ke arah kaki sang Iblis. Akibat itulah Iblis berkepala 10 tiba-tiba saja hilang keseimbangannya, seolah kepalanya yang lain mulai memiliki berat yang tak seimbang.


“Waaaah berhasil!” ungkap Nurvati dalam luapan kegembiraan.


Maka buru-buru Nurvati meraup tanah lagi, dan kembali melemparnya pada kaki sang Iblis. Itu bahkan dilakukan Nurvati secara berkesinambungan. Meraup tanah lalu lempar, raup dan lempar. Terus demikian hingga sang Iblis melangkah mundur-mundur hilang keseimbangannya, terlebih, api yang menyelimuti kakinya padam hanya gegara tanah yang Nurvati lempar.


Membisu, itu yang sedari tadi sang Iblis manfaatkan dalam bibir tipis merahnya. Entah dia malu untuk bersuara, atau memang dia lupa caranya bicara.


Pada akhirnya sang Iblis yang tak mampu melawan, mendadak sempoyongan lantas ambruk ke tanah, memicu suara debam hingga kepul terjadi. Sang Iblis terbaring jatuh di tanah dengan api di kakinya yang pudar.


Tak tinggal diam, Nurvati berlari pada kepala sang Iblis, tibanya di samping kiri kepala sang Iblis, Nurvati kembali meraup tanah, lalu melemparnya ke arah kepala iblis itu. Anehnya sang Iblis malah bergeming, tepatnya, sang Iblis tak mampu bertindak apa pun, hanya pasrah menerima kekalahannya.


Dan iya, sang Iblis pun kalah, hanya karena Nurvati menabur tanah pada kepala sang Iblis, itu dilakukan secara terus menerus, sampai api di seluruh kepala sang Iblis meredup dan lenyap, kemudian tubuh sang Iblis berubah warna menjadi selaras dengan warna tanah; warna emas, akhirnya tubuh sang Iblis hancur melebur menjadi tanah emas di alam ini, sirnalah Iblis berkepala 10, dan Nurvati menghela napas penuh syukur.


“Haah-haah ... akhirnya berhasil juga ...,” kata Nurvati dengan berkacak pinggang dalam kelegaan batin dan pikiran.


Sayang, baru saja Nurvati menikmati udara kelegaan, di depannya dalam jarak 13 meteran, tanah bergetar, dan batu emas kembali mencuat ke permukaan tanah. Iblis berkepala sepuluh terlahir kembali dan artinya, 100 tahun tahap pertama ini belum usai. Bonusnya, kerja keras akan kembali berlanjut.


Terpaksa, mau tidak mau Nurvati harus kembali berjibaku, dengan kalimat 'kemalaikatan' yang terus dilafalkan dalam batin serta pengalaman pertarungan yang baru dimiliki, Nurvati langsung meraup tanah, lantas berlari penuh semangat menuju iblis berkepala sepuluh. Berjuang menuntaskan tahap pertama ini.


“HIYAAAAAAAA ....”