
“... aku menyesal karena tak bisa mengenali ibuku dengan benar, aku terlalu egois demi petualanganku ... sampai aku tidak pernah tahu kalau ternyata ... ibuku memiliki masalah hidup yang rumit ....” papar Falas penuh sesal.
Dan hanya mendengar dengan cermat yang kini bisa dilakukan Nurvati.
“... ibuku hanya berpesan, untuk selalu membantu orang-orang dalam petualanganku, namun ... sejak kematian ibuku, mimpiku berubah, aku berniat menjadi seorang Malaikat ...,” ungkap Falas menunda penuntasan kalimatnya, malahan tatapannya masih menyiratkan kesedihan yang berpadu dalam ketegaran.
”... ya, itu adalah mimpi ibuku dan akan aku lanjutkan perjuangannya,“ imbuhnya penuh keyakinan nan mantap, bahkan dalam menuntaskan kalimatnya tangan kanannya diangkat setengah badan dengan jari mengepal erat menciptakan kesan keteguhan hati.
Mendengar kalimat penuh percaya diri dan tegas itu, Nurvati hanya menunduk dalam kontemplasi; janji bunuh dirinya mulai terlihat bodoh dan tak benar. Entah mengapa begitu.
Ketika angin sempat berembus kencang, ketika itu pula, dua Peri itu terpaku di atas rerumputan putih dalam suasana yang masih mengandung emosi nan pekat.
Namun waktu ikut berkutat dalam realitas ini, membawa perasaan Nurvati pada rasa penasaran yang memang telah lenyap. Semua penjelasan Falas, Nurvati anggap fakta baru dari kehidupan temannya itu. Sedangkan Falas kini menikmati udara yang menginvasi keluar masuk hidungnya, ingatan atau pun alasan kematian ibunya justru menjadi cambuk untuk dapat hidup lebih semangat lagi.
Hingga hari itu pun berlalu, fakta tentang alamat rumah Falas beserta fakta keluarganya telah membuat jiwa Nurvati merasa lega, tentunya, dengan demikian, kandas sudah konklusi perihal Falas yang hadir dalam hidup Nurvati; tak ada konspirasi di antara Falas dan Putri Kerisia.
Akan hal itu, mereka tetap menjalin pertemanan serta melanjutkan petualangan mereka ke beberapa tempat, meski dari hari ke hari mereka menjelajahi tempat-tempat baru, janji Falas untuk membunuh Nurvati belum kandas.
Kendati demikian, dihari-hari selanjutnya, Falas menyadari kalau Nurvati sama sekali tak memiliki kemampuan bela diri, itu menggugah Falas untuk mengajari Nurvati agar mampu menguasai ilmu energi. Sehingga dalam petualangan mereka, tak lupa juga Nurvati belajar bersama Falas. Memang tak semudah yang dikira, tetapi Falas tak jenuh membantu Nurvati.
Dalam detik yang terus berputar, dari hari yang berganti, dan bulan yang kini telah beralih menjadi tahun. Telah satu tahun lebih mereka menikmati sisa waktu dalam mempelajari ilmu-ilmu pertarungan, atau dengan kata lain, telah seratus tahun mereka berteman sejak Falas berikrar pada Nurvati untuk membunuhnya. Dan tahun ini menjadi tahun terakhir Nurvati hidup. Lebih dari itu. Hari ini, adalah harinya ikrar itu dilunasi oleh Falas.
Saat ini, mengingat Nurvati belajar ilmu pertarungan bersama Falas, nyatanya, tak satu pun ilmu yang berhasil Nurvati kuasai, entah apa yang menjadikan Nurvati selalu gagal, bahkan Falas pun tak mengira sebelumnya, Falas sibuk untuk membawa mental Nurvati agar memiliki harapan hidup, jadi tak sempat untuk mengetahui penyebab kegagalan Nurvati.
Tentunya, Nurvati pun tak ambil pusing perihal kegagalannya, ia memang sudah biasa gagal, sehingga baginya yang paling penting adalah mengetahui identitas dirinya lebih dulu ketimbang mempelajari ilmu bela diri. Siapa sebenarnya Nurvati yang sama sekali tak seperti Peri pada umumnya.
Dan hari ini, mereka —Falas serta Nurvati— telah berada di bawah pohon salju, pohon atau tempat yang sering dikunjungi Nurvati, atau tepatnya, ialah tempat ikrar Falas untuk membunuh Nurvati. Benar, di sinilah semuanya akan diakhiri.
Saat ini, mereka berdiri saling menghadap satu sama lain, bersama suasana damai yang selalu tempat ini hadirkan, udara mengalun lembut membelai wajah mereka, mentari siang hari terik terpancar, awan-awan nampak jarang tampil, langit biru merona, hari yang cerah untuk dapat bersenang-senang, namun, ada perasaan kelesah yang bergelut dengan janji yang wajib ditepati.
Sementara Falas masih menyimpan rahasia penting dalam kehadirannya pada hidup Nurvati, dan ini adalah salah satu bagian rahasia itu.
Maka, dari tangan kanan Falas membentuk sebilah pedang dari energi tubuhnya, lantas mengangkat pedang itu, mengangkatnya hingga berada satu senti di samping leher Nurvati, dan Falas berkata, ”Siapkan mentalmu, Nurvati.“
Secara refleks netra hijau Nurvati membulat, pedang itu sebentar lagi akan melunasi janji Falas, dan kematian akan menjadi hadiah paling berharga diakhir hidupnya; obat penderitaan.
Iris biru tajam Falas semakin tajam, meski raut mukanya datar namun auranya menyiratkan kesungguhan dalam janjinya, cengkraman pada gagang pedang semakin erat bersama niat yang kuat, jemarinya, gestur tubuhnya bahkan gerakkan napasnya melukiskan keberanian untuk membunuh Nurvati.
Detik mulai berlalu bersama suasana yang mulai tegang, ini adalah saat-saat krusial bagi Falas terutama Nurvati. Karena janji wajib ditepati!
Detak jantung Nurvati mulai terasa berpacu lebih hebat, napasnya mengembuskan siap dan tidak siap, rasa putus asa memang masih melingkupi hati Nurvati, pancaran netranya pun menggambarkan ketidak-siapan; Nurvati ragu.
Tapi sayang, Falas tak mau memanfaatkan waktu lebih banyak lagi, ia mulai melebarkan tangan kanannya, membuat pedang memberi jarak jauh dari leher Nurvati, dilakukannnya demi membuat gaya tebas yang kuat, lalu Falas berujar, ”Selamat tinggal, Nurvati.“
Tiga penggal kata itu berhasil menyentak hati Nurvati, membuat kedua tangannya agak bergidik; Nurvati ketakutan. Entah mengapa hal yang sangat diinginkannya sedari dulu ini malah menimbulkan ketakutan dalam jiwanya, padahal dia begitu yakin untuk mati bunuh diri, —mati di tangan Falas— napas Nurvati pun terasa begitu berat, tetapi, mau tidak mau, ia wajib menerimanya, karena ini janji!
Melihat ada rasa takut yang tersirat dari pancaran iris hijau Nurvati, membuat Falas berucap, ”Ingatlah saat-saat orang-orang terkasihmu tewas, ingatlah ketika orang-orang membencimu, Nurvati ... munculkan lagi perasaan putus asa itu, biar aku bisa membunuhmu dengan tenang.“
Perkataan Falas bertujuan untuk melenyapkan perasaan takut Nurvati, dengan harapan, Nurvati kembali berputus asa.
Namun, kenyataannya kata-kata itu tak mampu membawa alam pikir Nurvati pada keputusasaannya, entah mengapa kalimat itu justru terdengar begitu bodoh. Hatinya tak mampu mencapai apa yang diinginkan Falas, tak tahu bagaimana, perasaan Nurvati saat ini tak begitu berputus asa, dengan kata lain, keputusasaannya mulai padam.
Netra hijau Nurvati terpusat pada netra biru Falas, sampai wajah mulus Falas terefleksikan pada netra Nurvati, raut muka Falas datar, tak berubah sedikit pun. Bahkan Nurvati tak memiliki hasrat lagi untuk mati saat ini. Nurvati mulai kehilangan keinginannya sendiri oleh keinginan lainnya, benar, entah mengapa, ada keinginan baru yang memunculkan harapan baru; keinginan kecil untuk bertahan hidup.
Dan ketika diujung waktu sebelum eksekusi dilakukan. Seluruh hening dan damai pecah seketika, pecah oleh bentakan Nurvati.
”KENAPA KAU MEMBERIKU HARAPAN? KENAPA?“ sentak Nurvati dalam napas mengebuh-gebu, dan netra yang berkaca-kaca dalam kelesah.