
Sudah disadari kalau bukan sebatas kedigdayaan yang dicari, atau lebih tepatnya, ada hal yang lebih menarik lagi ketimbang itu.
Karenanya sebulan kebelakang, Nurvati telah memulai perjuangannya mempelajari buku bersampul emas warisan Ketua Hamenka.
Bacaan di dalam buku bisa dikatakan rumit, semua penjelasan serta petunjuk berbentuk kiasan atau majas. Namun poin pentingnya adalah Nurvati mesti membantu kehidupan bermasyarakat.
Dalam penjelasan di buku, kalau dirinya tak berhak meminta upah, makan atau hal-hal berbau imbalan. Terlebih dalam perjuangannya demi mencapai Diri Asli, Nurvati tidak berhak untuk makan atau minum, kecuali adanya pribadi yang berbaik hati untuk memberinya makan dan minum.
Cukup berat sebenarnya untuk mengimplementasikan apa yang ada di buku emas itu. Setiap peserta yang hendak mencapai Diri Asli, mesti melakukan tugasnya secara tepat dan tulus. Fokus pada implementasi kewajiban serta bertekad kuat demi mencapainya.
Dalam mencapai Diri Asli perlu mengorbankan diri sendiri pada kewajiban serta lingkungan masyarakat.
Seperti halnya malam ini, Nurvati tengah berpatroli untuk menyelia perumahan kota Barata. Dirinya sempat membantu anak-anak yatim memasak, hingga membantu beberapa pribadi mengusir siluman dan sesekali memperbaiki jalanan yang rusak. Selebihnya, sang angsa putih tetap senang membuntuti Nurvati.
Nurvati telah diwajibkan untuk tidak lagi terikat pada perasaannya, senang tetap tenang, susah tetap semeringah.
Dalam buku itu, dirinya diwajibkan untuk mengikuti hukum kanun Keutamaan Satu hingga Tiga dan tentunya wajib untuk tidak melanggar hukum.
Diri Asli berada dalam tatanan hukum, Nurvati pun berharap dia bisa mencapai Diri Asli seperti mendiang Ketua Hamenka, yaitu Diri Asli Roh Suci.
Kala tiba di tengah malam, Nurvati pergi menuju sebuah batu besar, dirinya berdiri di sana dengan bersedekap tangan, lantas memejamkan mata demi meditasi, atau lebih tepatnya, melihat ke dalam sukmanya.
Menurut keterangan aturan dalam buku, peserta didik mesti sanggup melihat ke dalam jiwanya sendiri, bukan dengan mata, tetapi dengan hati. Tentu saja fungsinya untuk melihat diri sendiri dalam wujud rohaniah; Diri Asli.
Itu wajib dilakukan saat tengah malam selama tiga jam, hingga diri sendiri dalam wujud rohaniah dapat terlihat. Sedangkan sisanya Nurvati tidak boleh tidur dan wajib untuk kembali membantu lingkungan masyarakat, tak boleh mengeluh serta tak boleh membunuh.
Kendati demikian, selama pelatihan itu hingga saat ini, Nurvati sanggup berhasil menekuninya dengan baik, tanpa kesalahan. Tentu saja jika terjadi kesalahan fatal dirinya mesti mengulangi semuanya dari awal; banyak waktu terbuang.
Selepas tiga jam berlalu, Nurvati kembali lagi berpatroli menyelisik perumahan ini, menyelia dari rumah ke rumah sesuatu yang mungkin bisa dirinya bantu.
Namun diringi angsa putih yang terbang di sampingnya, selama 2 jam perjalanan, tak satu pun objek untuk dibantu. Membuat mereka subuh itu juga melesat terbang ke sisi perumahan lainnya.
Hingga bersama sinar mentari yang menembus awan. Pagi hari nan cerah. Di hari selanjutnya, Nurvati tak sengaja bertemu dengan seorang peri yang tengah berbincang dengan seorang ras Manusia yang datang ke alam ini.
Di pinggir hutan itulah Nurvati menghampiri mereka. Lelaki dari ras Manusia itu nyatanya datang karena dibawa oleh wanita sang Peri.
Alasan peri itu membawa seorang manusia ke sini adalah karena menurut pengakuannya, manusia itu termasuk keturunan nenek moyangnya. Adanya kawin silang antara ras Peri dan ras Manusia.
“Dia sedang dalam tidur nyenyak, lalu saat arwahnya tengah melayang, aku membawanya ke alam Peri ... itu sudah kewajibanku ... tujuannya adalah untuk memperkenalkan alam Peri ini padanya ... jadi saat nanti manusia ini tewas ... dia akan terlahir ke alam Peri ...,” tutur wanita berambut hijau peri itu.
Hal itu mengartikan kalau pria ras Manusia ini tengah tertidur dan penglihatannya kini menjadi mimpi.
Pada dasarnya Nurvati paham apa yang tengah terjadi, cukup kaprah apa yang dilakukan peri wanita ini. Sejak kecil Nurvati juga memang pernah mendengar adanya ras Manusia yang saat tidur dibawa ke alam Peri, tujuannya tentu saja bermacam-macam, ada yang karena ras Manusia itu keturunan jin, ada pula yang memang ras Peri itu jatuh cinta pada sang manusia. Lebih buruknya lagi adalah manusia itu ditumbalkan.
Berhubung Nurvati sedang dalam penugasan mencapai Diri Asli, maka tanpa sungkan dirinya mengusulkan diri untuk mengajak pria manusia itu keliling kota Barata.
Syukurnya peri wanita bersedia, sementara lelaki itu diajak berkeliling oleh Nurvati, sang peri wanita menanti di sana.
Nurvati pun pergi bersama lelaki manusia berambut hitam cepak itu.
Pertama-tama Nurvati mengajak pria itu menuju perumahan, menunjukkan kalau di alam ini semuanya terbuat dari bebatuan mulia, dari batu berlian, hingga batu mulia yang tak pernah ada di alam Manusia.
Kemudian, Nurvati mengajak pria manusia itu ke dalam gedung-gedung perkantoran dan memperkenalkan manusia itu bahwasanya di alam ini tak ada perangkat elektronik yang menggunakan listrik, di alam ini pun tak ada yang namanya alat transportasi dan menjelaskan sedikit perbedaan hukum fisika di alam Peri dan di alam Manusia, dilakukan agar manusia itu memahami sedikit perihal kerja 'alat elektronik' di sini.
Tak lupa, Nurvati juga menunjukkan manusia itu sebuah kuil megah di pusat kota. Ras Peri setiap harinya datang ke sini dan berdo'a di sini, Nurvati juga menuturkan kalau ras Peri hingga beberapa ras jin lain pun memiliki adat dan kepercayaannya masing-masing, mirip seperti ras Manusia.
Tak banyak yang ditanyakan manusia itu, entah karena intiusinya tengah berusaha meresapi keanehan ini, atau memang malu untuk bertanya.
Hingga akhirnya, mereka mesti kembali lagi menuju wanita ras Peri yang membawanya. Namun, disaat hendak berpisah, lelaki itu sempat bertanya.
“Apa saya akan tinggal di sini?”
Nurvati yang tidak menjawab, karena memang tidak tahu, membuat sang peri wanitalah yang malah menjawab.
Selepasnya peri wanita itu membawa kembali sang ras Manusia itu pada alamnya. Nurvati dan mereka pun berpamitan. Namun, tak sempat Nurvati mengetahui nama pria manusia tadi, begitu pun sebaliknya, lebih-lebih mereka memang tidak saling kenal.
Ada kemungkinan kalau ras Manusia itu lupa tentang perjalanannya, sebab beberapa hal cukup bertolak belakang dengan kenyataan di alam Manusia dengan alam Peri.
Akan tetapi, biasanya ras Manusia yang pernah diperjalankan pada alam yang berbeda, kemungkinannya mata Ketiga sang manusia dapat sedikit terbuka. Penyebab umumnya dikarenakan hukum fisika yang ada pada alam ini terkonduksi pada tubuh manusia itu sendiri yang notabene memiliki 5 inti unsur elemen di tubuhnya, terutama roh. Hal itulah yang membuat adanya frekuensi energi yang sama dengan alam ini atau sekitarnya.
Sehingga manusia itu mampu melihat beberapa makhluk yang memiliki keselarasan dengan alam Peri; makhluk gaib.
Kendati demikian, Nurvati serta sang angsa kembali melanjutkan tugasnya. Setiap waktu terus dimanfaatkan dalam membantu masyarakat.
Baik hari itu yang berlanjut mengusir ras Siluman, sampai hari-hari selanjutnya dalam perjuangannya meraih Diri Asli, Nurvati menjalaninya dengan tekad yang kuat.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)