
Belum ada senyuman yang biasanya dilaksanakan demi menghibur Falas, air matanya kini seolah menunjukkan akhir dari segala perjuangannya.
“Falas ... semua sudah selesai ... Falas, masyarakat menang, dan kita yang salah ... kita salah karena menampung anak-anak haram, kawin silang memang tidak dibolehkan, karena semua telah dijadikan berpasang-pasangan dan tak etis bila melanggar kodrat tersebut ...,” papar Sasvaty dengan lugas nan tegas.
Malam masih melingkupi suasana, udara mengalun lembut, langit terlihat bernuansa violet dalam taburan bintang yang ditemani rembulan yang cerah.
“TAPI ANAK-ANAK ITU TIDAK ADA YANG MENGINGINKAN HIDUP SEPERTI ITU!” sentak Falas menolak segala persepsi ibunya kini.
“Bukankah ... ibu sendiri yang bilang, kalau tak ada yang namanya anak haram, bukankah ibu yang bilang, merawat anak yatim sekali pun mereka dari pasangan yang tidak sah tetaplah seorang anak yatim ....”
”... LALU KENAPA IBU MALAH MELANGGAR SEMUA SUMPAH ITU!“ lanjutnya menyentak demi menyentuh hati Sasvaty.
”Ketahuilah Falas ... sumpah terkadang harus dilanggar bila telah menyalahi hukum, dan ketahuilah, tak ada gunanya menampung anak-anak haram ... dan tak ada yang mampu melawan rakyat ... ibu sudah salah, dan ibu harus menghukum diri ibu,“ beber Sasvaty.
”Tidak! Tak ada yang salah! Karena kita menolong mereka yang tak mampu hidup sendirian ...!“ kukuh Falas menampik segala opini ibunya.
”Tidak Falas ... kita semua terikat oleh hukum dan hukum itu mengikat kita, sehingga sekeras apa pun kita menolong, bila tak sesuai hukum, maka itu salah ...,“ tegas Sasvaty masih berdiri bersedekap tangan dengan air mata kesedihan yang terus jatuh.
Falas terdiam dengan kelesah, kedua tangannya mengepal erat tanpa sanggup mengomentari lagi.
”Kenapa ... nangis, apa yang membuatmu menangis?“ tanya suami Sasvaty dengan polos.
”Kalau begitu ... ayo kita pulang ibu!“ ajak Falas masih tak tahu tujuan ibunya memanggil kemari.
Masih belum ada senyuman, dan sorot sinar rembulan masih menyinari area hutan, Sasvaty berdiri dengan berusaha sekuat tenaga menahan tekanan batinnya. Napasnya memang nampak mengalir tenang, tetapi kali ini, apa yang akan diungkapkan mungkin bisa membuat Falas tak tenang.
”Tidak ... maaf ibu tidak bisa ... karena ... inilah tujuan ibu memanggil kalian kemari ...,“ sanggah Sasvaty.
Kening Falas mengernyit heran, lantas dengan penuh penyelidikan membalas, ”Apa memangnya tujuan ibu?“
Sebelum menjawab, angin sempat bertiup kencang menunjukkan eksistensinya menerbangkan beberapa daun hingga disertai gemerisik daun dari pepohonan, rembulan pun masih begitu bulat di atas sana, hari ini adalah waktunya, mengakhiri segala awal.
”Ibu akan pergi selamanya ...,“ ucapan Sasvaty dipotong.
”APA MAKSUD IBU!?“ sentak Falas enggan menerima segala hal buruk yang mungkin terjadi.
”Falas, kamu tidak akan memahami ....“ Lagi-lagi ucapan Sasvaty dipotong.
”TIDAK MEMAHAMI KARENA IBU TIDAK MAU MEMBICARAKANNYA!“ bentak Falas.
Falas bergigit tak sanggup berkomentar, memandang ibunya dalam getir, tetapi, menyadari air mata ibunya yang jatuh begitu banyak nan memilukan, ditambah adanya pengakuan untuk pergi selamanya, itu membuat netra birunya mulai berkaca-kaca, sedih, haru, sesal, kecewa, prihatin seluruh perasaan itu berpadu dalam batin, yang kalau waktu atau keadaan memungkinkan, Falas bisa saja menangis tak berdaya terisak-isak.
”Disetiap petualanganmu ... tolonglah mereka yang kesepian, tolonglah mereka yang harusnya ditolong, kuatkan mental mereka untuk menerjang hidup atau buat hidup mereka jauh lebih bermakna, tunjukkan pada mereka bahwa kehidupan ini sangat berarti, bukan hanya untuk kita tapi untuk seluruh alam, lakukanlah yang terbaik dalam petualanganmu, karena ibu yakin, sebuah petualangan akan membuatmu jauh lebih baik memahami hidup, ketimbang ibu,“ pesan Sasvaty dengan lugas nan tegas.
Meski seluruh pesan itu telah meresap pada pendengaran Falas, walau otak telah mencernanya, Falas justru berujar, ”Mana bisa aku meneruskan cita-citaku kalau ibu sudah tidak ada ....“
”... UNTUK APA LAGI AKU MERAIH CITA-CITA!?“ lanjutnya dengan lantang.
Namun dalam damai dengan angin yang mengalun lembut, Sasvaty membalas, ”Ketika kamu putus asa, impian itu selalu berguna, hanya untuk tetap kuat bertahan hidup dan saling menguatkan dalam hidup.“
Tak ada komentar yang sanggup diucapkan, netra birunya menilik baik-baik wajah ibunya, Falas telah merasa diambang penyesalan, menyesal dirinya tak mampu banyak membantu ibunya.
”Apa pun yang terjadi ibu selalu mendukungmu ...,“ ujar Sasvaty dengan tetesan air mata yang terus berjatuhan.
Lalu ketika netra merahnya beralih dari Falas menuju suaminya, Sasvaty pun berucap, “Dan selamat tinggal suamiku tercinta ... maaf, aku tidak dapat hidup lebih lama ....”
Perlahan nan pasti, pancaran cahaya keemasan muncul dari kulit Sasvaty, suaminya pun tak berkomentar, terdiam tanpa mampu melihat dengan fokus, tak tahu apa yang hendak akan dilakukan istrinya dan Falas terus memandangi roman manis ibunya, berusaha menyimpan kenangan terakhir ini dalam ingatannya, namun tak ada senyuman yang terukir di sana; belum.
“Kenapa harus dengan cara seperti ini? Kenapa harus dengan cara seperti ini?” lirih Falas yang tiba-tiba netranya yang berkaca-kaca kini pecah, lalu air mata pilu meluncur membasahi ke dua pipinya, memicu hatinya untuk menanggung luka.
Seluruh cahaya keemasan lalu menyelimuti tubuh Sasvaty, menerangi segala benda-benda di sekitarnya, dan untuk yang terakhir kalinya, pada saat-saat terakhir, bibir tipis Sasvaty sempat mengembangkan senyuman damainya dan iris biru Falas mengunci wajah serta senyuman damai ibunya itu sebagai hadiah yang terakhir kali dalam ingatannya, semua dukungan, marah, tawa, atau jeweran dari ibunya, akan selalu dikenang selamanya.
Hanya tiga detik semua berlangsung, lantas seluruhnya bersinar terang, terang benderang menyilaukan, lalu 'Fiuw' sirna dalam sekejap saja, tak ada lagi sosok Sasvaty di sana, hilang begitu saja, lenyap dalam kenyataan, seperti tak pernah ada.
Rembulan masih bulat menerangi malam menyedihkan ini, bintang-bintang tetap menghias langit dalam kilauannya, angin tak begitu terasa, namun hawa mulai dingin, dan semuanya sudah berakhir.
Kendati demikian, walau Sasvaty telah hilang, di sana, di bekas tempat Sasvaty berpijak terdapat tiga ekor kunang-kunang yang berputar-putar di atas batu, hanya saja tiga ekor kunang-kunang itu kemudian pergi ke dalam hutan.
Yang bukan lain, itu karena Sasvaty yang notabene Peri klan Kunang-Kunang, yang tak diketahui Falas adalah kemampuan genetik dari klannya yang mampu mengakhiri kehidupannya menjadi kehidupan alam kunang-kunang, tetapi itu artinya, sang pengguna kemampuan bawaan itu telah tewas, kunang-kunang yang muncul hanyalah wujud ilmunya yang bermanifestasi.
Bahkan setelah sepuluh detik berlalu, untuk senyuman ibunya itu, Falas masih merasa kalau sang ibu tewas tetap menanggung beban moral.
Sasvaty tewas bunuh diri, demi tujuannya yang dalam perspektifnya itu adalah menghukum.
Falas hanya mampu terus menangis dengan memegang tangan kanan ayahnya erat-erat. Suaminya tak menangis, dia selalu merasa kalau istrinya masih hidup di sisinya, karena baginya, saat ini istrinya tengah mengistirahatkan mentalnya. Dan itulah yang selalu dikatakan ayah Falas setiap Falas mulai menangisi ibunya. “Ibu sedang beristirahat.”