Nurvati

Nurvati
Episode 173: Seni Kewajiban. (Part 1.)



'DHUAAAAAAAARSH'


Sebuah rumah mewah meladak, hancur berkeping-keping. 'DHUAR' 'DHUAR' 'DHUAR' begitu pula dengan beberapa hunian mewah lainnya, dihancurkan tanpa takut sang pemilik rumah mengomel.


Entitas yang diduga Siluman Dewa Mistik adalah individu yang bertanggung jawab atas kejadian tadi. Dirinya sangat cepat melesat dari rumah ke rumah demi memorak-porandakan hunian yang diyakini milik anggota militer.


Lantas 'DHUAAAAAAAARSH' diledakan kembali sebuah hunian mewah.


Rambut hitamnya nampak terombang-ambing oleh angin dan gerakan.


“NIRAAAAAAAA ...!” teriak seorang ibu dengan mendeprok di puing-puing berlian rumahnya, menggenggam dalam getir tangan kiri anak perempuannya.


Karena seorang anak telah tewas oleh perbuatan Siluman Dewa Mistik. Yang nyatanya membangkitkan kemurkaan bergelora dalam sukma sang ibu.


Maka sang ibu melesat tak akan membiarkan anaknya tewas sia-sia. “KUBALAS KAU MAKHLUK TERKUTUK!”


Seorang ibu yang dengan lonjakan keberanian menerjang angin menuju Siluman Dewa Mistik.


Namun perjuangan sang ibu berhenti di sana, di udara, belasan pisau telah menghunjam dengan ngeri tubuhnya dan itu berasal dari energi tangan kanan Siluman Dewa Mistik yang terbidik pada sang ibu; telah gagal dia mengadili sang Dewa.


Kemudian 'Woush' meluncur cepat Siluman Dewa Mistik menuju rumah-rumah elite lainnya.


'DHUAAAR' 'BLEDAAAR'.


Tanpa malu entitas itu memorak-porandakan belasan rumah dan kali ini sudah hancur puluhan rumah, hingga terus dihancurkan dibantu para siluman macan lainnya.


Sangat terkejut masyarakat menyadari hadirnya entitas tersebut yang jauh lebih berbahaya, di antara mereka yang terbang hanya mampu menyelia, sisanya berusaha mengejarnya atau kalau bisa melumpuhkannya.


Kelima anak telah terbang rendah di atas perumahan, dengan bergegas terbang mengikuti Siluman Dewa Mistik sebisanya.


Tetapi keputusan itu lebih tepat bila ditujukan bagi Nerta. Karena keempat teman-temannya menghalangi tindakan yang menurut mereka sangat berbahaya.


“Tidak Nerta!” sentak Darko memegang bahu kanan Nerta berusaha tak mengambil tindakan bahaya.


“Minggir! Ibuku pasti dibawa oleh makhluk aneh itu!” sergah Nerta dalam kecemasan meronta-ronta berjuang menyelamatkan ibunya. Tak penting lagi siapa lawannya, karena terpenting adalah keselamatan ibunya, selebihnya keselamatan warga.


“Santai ... kita mesti terorganisir dan mengetahui siapa lawan kita!” tandas Gorah memegang bahu kiri Nerta menghalangi dari setiap kecelakaan.


“Jangan sampai kita malah bunuh diri!” kata Quin dengan lantang nan diskursif yang terbang di depan teman-temannya menyelia tindak tanduk sang Siluman Dewa Mistik.


Tak tahu mesti apa lagi, mereka sejenak terbang stagnan di sana, membiarkan sang entitas melompat-lompat meluluh-lantakkan hunian para warga.


'DHUAAAARSH'.


'BOOMMM'.


'RSSHSSH'.


'KRRZZZRRRT'.


Senandung irama perang kecil ini mulai terasa mendekati perang dahsyat. Dapat dibuktikan kalau lima kompi angkatan militer Sayap Merah dengan level ilmu Hikmah dari 1-3, telah terbang begitu terpimpin dari arah mata angin Barat.


Selama terbang lima kompi di udara itu menjatuhkan banyak peledak tepat pada para siluman macan yang berlarian di jalanan perumahan, 'DHUAAAR' 'DHUAAAR' 'DUAARSH'.


Mereka pun sadar bila adanya Siluman Dewa Mistik tengah mempin kekacauan ini. Entitas tersebut tengah menghadapi beberapa warga sipil, pertempuran itu sayangnya cepat berlalu, tepatnya begitu mudah Siluman Dewa Mistik membinasakan para pribadi yang menghalangi kewajibannya!


Benar, setiap inci yang direnggut, tak ada hasrat dalam jiwanya, tak juga marah, tak juga berambisi, apa lagi dendam, tidak sedikit pun!


Tak lain, tak bukan, ini sekali lagi adalah kewajiban!


Untuk itulah, rumah-rumah hingga mereka yang berani menghalanginya pasti dihabisi.


Tak butuh waktu lama, entitas Dewa itu kini berhadapan dengan lima kompi sekaligus. Tentu saja karena seluruh pribadi militer yang termasuk daftar kewajiban sang entitas, membuat dirinya mulai terbang mensejajarkan posisi pada lawannya. Bersiap mengimplementasikan kewajibannya.


Perlu digaris bawahi, kalau mereka telah memasuki perumahan lain.


Lima kompi yang telah dibekali pengetahuan luas, terutama mengetahui seluk-beluk perihal Siluman Dewa Mistik. Sedikitnya telah bersiap pula dengan setiap kemungkinan yang terjadi.


Maka bersama prinsip serta sama-sama mengemban kewajiban, satu kompi dalam perintah nan tegas melalui sang kapten memulai penyerangan dari jauh pada sang Siluman Dewa Mistik. Dua ratus anak panah terbidas tepat pada sang entitas. Disusul bola-bola plasma listrik dari kompi lainnya.


Entitas Dewa sadar akan hal itu, dia justru menembakkan bola-bola energi nuansa kelabu pada kompi di depannya, membuat serangan menjadi bersamaan.


'DHUUAAARS'.


'DHUUAAARS'.


'DHUUAAARS'.


Meledak bola-bola energi pada seluruh kompi, begitu pun serangan dari dua kompi militer menghujani sang entitas. Bunyi-bunyi dari efek serangan sempat merebak dalam suasana tegang ini.


Seluruh serangan itu gagal, para kompi mampu melindungi diri dengan perisai energi, pun sang entitas melindungi diri dengan perisai energi nuansa kelabu.


Tetapi tidak ada yang menyerah!


Akan hal itu, entitas buru-buru melesat ke atas sambil memunculkan awan-awan kelabu dari ke dua telapak kakinya. Membuatnya terhindar dari setiap serangan bola energi.


Namun belasan awan-awan mendung itu sekonyong-konyongnya meluncur deras pada para anggota militer, dan hebatnya berhasil memerangkap beberapa dari mereka. Selebihnya bagi yang lolos tetap tak akan lolos dari gumpalan awan-awan mendung itu, disebabkan sifat awan yang terus mengejar hingga target terperangkap.


Terus dan terus sang entitas membebar belasan hingga puluhan gumpalan awan dari kakinya. Di langit itulah dirinya berputar 360 derajat secara berkesinambungan.


Tak ada yang dapat dilakukan para militer, niat mereka menyerang mesti pupus demi menghindari awan-awan kelabu tersebut.


Tidak bisa dihindari!


Beberapa anggota militer terpaksa saling merapat dengan melindungi diri menggunakan perisai energi. Seluruhnya tanpa satu anggota pun yang terlewat, mulai melindungi diri dengan perisai energi dan memaksa sang kapten menyerahkan tugas ini pada kompi serta Sayap lain.


Seiring berjalannya waktu, lima kompi yang masing-masing beranggotakan 200 individu kini terperangkap dalam awan kelabu di ketinggian 150 meter, tak ada yang dapat mereka perbuat, pasalnya, awan tersebut mengirimkan gas beracun yang mampu menyebabkan para korban hilang kesadaran, hingga sanggup melenyapkan nyawa.


Atas dasar kejadian itulah, bersama hari yang mulai senja, Siluman Dewa Mistik berhasil menang, sehingga dirinya kembali terbang menuju rumah-rumah anggota militer demi menuntaskan kewajiban.


Di lain sisi, serbuan para siluman macan mulai muncul semakin banyak, 50 perumahan di kota Barata berhasil mereka serbu, yang artinya kini pusat kota menjadi satu-satunya kota terakhir yang belum mereka invasi; masih aman.


Dinding gaib serta perangkat artileri kemiliteran telah terpancang mantap diperbatasan kota. Dan ribuan pasukan militer telah bersiap siaga penuh waspada di sana. Lebih dari itu, mereka mulai berjibaku menembak, menyerang para siluman macan yang berusaha memaksa masuk menuju pusat kota.


'DHUAAR'.


'BOOMM'.


'DHUUAARS'.


Puluhan siluman macan terpental, terbebar hingga hancur berkeping-keping terkena ledakan dari peledak.


“ROOAAAAR ...!”


Namun mereka tak gentar sedikit pun, terus bergerak maju dengan ganas dan penuh nafsu. Mencakar-cakar dinding gaib, meninju-ninju, hingga menembakkan dengan belasan bola energi. Dari jalan, dari halaman rumah hingga dari pertokoan, terpenuhi oleh ribuan siluman macan yang menciptakan hawa ngeri penuh ketegangan.


“GHROOOOAAAAR ...!”


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)