Nurvati

Nurvati
Episode 184: Melingkupi Suasana Hati Dingin.



100 tahun waktu direnggut dalam perjuangan, namun segalanya malah menambah beban kala Nurvati sempat tak sengaja tertidur. Sehingga mau tidak mau sejak 90 tahunlah waktu habisnya dalam perjuangan mencapai Diri Asli.


Untuk saat ini, guru terbaik Nurvati adalah masyarakat dan pengalaman sebagai kekuatannya.


Tak ayal, fitnah pun sempat mencecar Nurvati, kalau ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu Iblis.


Kendati masih saja ada beberapa oknum yang menganggap Nurvati wanita yang salah berguru. Dirinya tak lantas patah semangat, tekadnya telah mengalir bersama darah yang meresap pada sukmanya, menjadikannya sebagai suatu pecutan untuk percaya diri menghadapi realitas.


Sementara, tak sedikit juga yang malah berterima kasih pada bantuan sukarela Nurvati.


Ras Peri terbiasa oleh mereka-mereka yang bekerja secara sukarela, akan tetapi, rakyat sangat jarang menemukan pribadi yang mempelajari ilmu Pengenal Diri.


Kebanyakan dari para pejuang akan berakhir menjadi gila atau bunuh diri, entah karena adanya bisikan iblis atau karena sang pribadi yang tak kuat menampung ilmu seluas itu.


Faktanya ilmu Pengenal Diri adalah ilmu yang jarang dipelajari masyarakat. Satu-satunya ilmu yang tak diajarkan di sekolah. Ilmu Pengenal Diri adalah ilmu yang tak sembarang individu sanggup mempelajarinya, selain butuh waktu lama, ilmu ini dibutuhkan konsentrasi tertinggi.


Kebanyakan yang berhasil pun hanyalah mereka yang terpilih dan diwajibkan memiliki guru yang berkompeten; telah mencapai Diri Rahasia.


Pribadi terpilih itu biasanya lebih sering menyembunyikan ilmunya dan tak pernah membicarakannya pada sembarang orang.


Hari ini Nurvati serta angsa putih berada di taman bunga. Siang nan cerah inilah dirinya bersama seorang nenek tengah berusaha menyelamatkan dua orang pasutri yang ditangkap oleh lelaki terduga anak pasutri itu sendiri.


Lelaki seusia Nurvati telah mengurung orang tuanya sendiri dalam segel, dia hendak menumbalkan orang tuanya demi sebuah tujuan; menyatu dengan Iblis siluman dan membalas dendam.


Lelaki yang bernama Reky itu berdiri dengan bangga dalam raut muka masa bodoh, dirinya memang memiliki masalah keluarga dan hendak melampiaskannya pada ke tiga pelaku; orang tuanya dan neneknya.


Perundingan alot sempat terjadi antara sang nenek serta Reky. Mencari jalan keluar terbaik, namun ujung-ujungnya ke dua belah pihak malah nampak kukuh dalam egonya.


Sang nenek yang mencecar Reky anak tak tahu diri yang bukannya melanjutkan dendam orang tuanya dan Reky yang memiliki masalah ingin mencapai cita-citanya, namun malah mesti menanggung ambisi orang tuanya sendiri.


Nurvati yang memang dimintai untuk membunuh Reky justru sama sekali tak membunuhnya, sebab bagaimana pun, dirinya memiliki kewajiban yang bertolak belakang dari titah tersebut.


Reky hanyalah ingin menjadi seorang petualang, akan tetapi harapannya mesti pupus gegara orang tuanya mengacaukan semuanya. Ambisi keluarganya agar Reky mmembunuh musuh keluarganya, membuat masalah pelik kini tersuguh hingga dititik ini.


Pasalnya ini masalah rumit. Tetapi secara sederhana, keluarga Reky memiliki dendam kesumat pada beberapa orang yang telah menjatuhkan harga diri mereka, untuk itulah, demi melampiaskan dendam. Reky dididik untuk menjadi seorang pemanggil Iblis dan bukan malah jadi petualang!


Saat ini, Reky yang berusaha menuntut keadilan pada keluargnya, bersiap untuk menumbalkan orang tuanya sendiri, demi memanggil Iblis siluman.


Dirinya berada dalam tabung segel, seperti kaca atau akuarium, sedangkan orang tuanya terbaring di atas bunga-bunga dalam keadaan pingsan.


Lelaki masa bodoh itu mulai merapal mantra. Sang nenek yang tak mau terjadi hal buruk mulai melesat maju. Ke dua tangannya telah diliputi oleh energi nuansa pingai. Dia memukul-mukul segel pelindung tersebut.


Sementara Nurvati hanya terdiam dengan sebilah katana yang digenggam erat di tangan kirinya. Netra hijaunya begitu fokus pada Reky, namun paras manisnya malah begitu santai, bibir tipisnya malah tersenyum tenang dan gestur tubuhnya bersikap kalem, seakan tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Lalu 'BOOMMM' ledakan cahaya seketika memecahkan segel tabung tersebut, daya ledaknya mendorong sang nenek ke belakang. Dia akan jatuh kalau bukan karena Nurvati menahannya dari belakang.


Nurvati sengap, tak membalas malah bersikap kalem tanpa masalah. Dirinya kemudian terbang dan mendarat tepat dalam jarak 5 meteran pada Reky.


Katananya ditumpukan di pundak kanannya, tatapannya kini santai pada sesosok entitas lain yang diduga Reky telah berhasil melakukan penyatuan diri dengan sang Iblis siluman.


Sedangkan sang angsa malah menjauh mengambil jarak aman, seakan-akan sadar akan adanya bahaya.


Entitas itu bersayap nuansa hitam seperti sayap burung gagak, memiliki ekor nuansa merah dengan ujung kobaran api, wajah merahnya nampak menyeramkan dengan seluruh gigi runcing serta kupingnya malah terlihat laksana sayap kupu-kupu, rambutnya adalah api yang berkantaran, kulitnya malah bernuansa merah darah dan Reky dalam wujud Iblis siluman, kini menatap Nurvati dengan tajam, tetapi dalam raut muka masa bodoh.


Sementara ke dua orang tua Reky telah tewas menyisakan jasad yang kaku membeku.


“Apa kau hendak membunuhku dengan sebilah katana yang tak berarti itu?” ledek Reky dengan suara seraknya malah meremehkan.


Semakin mengembang lebar senyuman santai Nurvati mendengar ucapan tersebut. Bahkan Nurvati berani membalas, “Apa kau takut mati hanya dengan sebilah katana yang tak berarti ini?”


Balasan cukup telak itu nyatanya membangkitkan kemurkaan Reky. Membuatnya melesat pada Nurvati dengan ke dua tangan memanifestasikan pedang besar berapi.


'Tang' 'Trang' 'Tang' 'Trang' saling beradu dua pedang dengan sebilah katana milik Nurvati, maka, dalam kenyataan di taman bunga itu, terjadilah pertarungan dua pribadi yang berbeda prinsip hidup dan dalam tujuan hidupnya masing-masing.


Katana sempat meleleh gegara pancaran panas dari dua pedang sang Reky, namun ketangkasan Nurvati membuat dirinya mampu memanifestasikan lagi sebilah katana dalam sekejap.


Untung bagi Nurvati, dirinya yang dulu sempat mempelajari teknik pedang serta para samurai dari buku dan ayahnya, membuatnya mengetahui cukup banyak gerakan-gerakan dalam meliukan pedang atau katana. Dirinya dapat menebak setiap gerakan sang Reky.


Bagi Nurvati sendiri, seluruh gerakan Reky sangat monoton, selebihnya dia konsisten.


Oleh sebab itulah, Nurvati berani dengan cepat menggunakan satu teknik dalam beberapa serangan yang cukup mematikan. “Teknik Angin Barat!”


Lalu 'Bruk' Reky ambruk di atas dedaunan nuansa kemerahan, bahkan dedaunan itu mesti hangus terkena panas tubuh Reky.


Telah terpotong dua tangan, dua kaki serta dua sayap milik Reky, dan telah pula ujung katana Nurvati diacungkan pada wajah merah Reky.


Tentu saja Nurvati telah mempelajari para Iblis dalam buku warisan gurunya, dengan tujuan agar Nurvati tak salah langkah dalam mempelajari ilmu Pengenal Diri, sehingga mengetahui kekuatan Iblis dan mengenal kerja para Iblis, khususnya Iblis siluman.


Iblis Siluman hanya terfokus pada suhu panas api dan tubuh membuatnya mampu melelehkan logam hingga baja. Sehingga mengalahkannya perlu serangan cepat dari jarak jauh, tanpa menyentuh tubuhnya yang panas.


Dengan kata lain, teknik Angin Barat serangan katana Nurvati sangat relevan untuk melumpuhkan sang Reky. Menyerang tanpa membuat katananya mesti menyentuh tubuh.


Malahan kalau Nurvati mau, dirinya bisa saja membunuh Reky dengan satu kali tebasan pada leher, tetapi Nurvati sadar, kalau ada yang lebih berharga daripada membunuh.


Reky membisu, tak mampu berbuat apapun, karena memang kekuatan Iblis siluman hanya menunjang sifat panas semata.


Hingga kenyataan tegang yang mereda terpaksa kembali merebak oleh sebuah titah dari sang nenek. “BUNUH ANAK KURANG AJAR ITU, NURVATI! BUNUH ANAK BODOH ITU!”