Nurvati

Nurvati
Episode 146: Hujan Di Jiwa Yang Sepi.



Cerau.


Hujan dengan intensitas deras melanda hutan bambu ungu, membasahi setiap materi yang terhujani, udara cukup dingin, awan pun terlihat kelabu bertumpuk-tumpuk di langit.


Telah 5 jam lebih hujan mengguyur di pagi ini, matahari yang mulai pingai menyembul di balik awan kelabu, seolah menyelia kapan hujan akan berhenti.


Atau udara yang membawa aroma khas dari hutan bambu yang eksisnya tak sirna oleh derasnya hujan.


Tak terdengar gelegar awan, seakan memang telah ditelan hilang oleh derasnya rintikan hujan.


Tapi, ketika disadari, hujan dikala itu berangsur-angsur mereda bersama baskara yang lambat laun meninggi menuju zenit, sinarnya yang benderang lama-kelamaan menembus celah-celah robekan awan.


Angin mengalun pelan dengan dinginnya yang cukup menyayat kulit. Cuaca hujan ini setidaknya segera beralih menuju cerah dan itu pun merenggut banyak waktu.


Tak terhitung jumlah rintik hujan yang terjun di hutan ini, tetapi kesan kesejukan dan kedamaian agaknya terekspos nyata.


Harus diakui, kalau detik serta menit telah banyak termakan oleh hujan yang hendak mereda, hingga di titik satu jam, hujan mulai sirna.


6 jam waktu yang dirampas realitas untuk mempertunjukan guyuran hujan derasnya dan kali ini, langit biru serta sinar benderang baskara mulai mempertontonkan kejelitaannya.


Hari mulai cerah, awan-awan kelabu pun lenyap, udara mulai menghangat hingga cahaya mentari menyorot kolam bunga Teratai, menyinari hutan bambu, menyinari segala penjuru negeri Barat.


Di kolam itu, tepatnya di batu tengah-tengah kolam, seorang wanita sedang mendeprok terlelap dalam tidurnya yang panjang.


Mendeprok dengan membungkuk dalam keadaan basah kuyup. Bukan itu saja, seekor burung angsa nuansa putih, tengah berenang-renang mengelilingi wanita itu.


Sedari hujan burung angsa putih itu telah di sana mengelilingi wanita berambut hitam panjang tersebut, atau bahkan kehadirannya lebih lama lagi.


Kendati demikian, tepat ketika sang angsa itu berada di depan wanita itu, untuk beberapa saat dia memandangi lekat-lekat wanita itu, menatap rambut hitamnya, menatap kepalanya yang tumungkul dan mendengar dengkurannya.


Cahaya putih benderang nampak meliputi wajah sang wanita, yang akhirnya burung angsa itu mulai mencatuk-catuk kepala wanita tersebut.


Catukan itu terus-menerus dilakukan oleh sang angsa, mencatuk-catuk cukup keras pada ubun-ubun wanita itu.


Dari belasan kali hingga puluhan kali, catukan burung angsa terjadi tanpa ada respons berarti; wanita itu masih lelap tidur tanpa merasakan apa-apa. Hanya saja, tak sedikit pun sang angsa menjeda perbuatannya, dia terus mencatuk-catuk kepala wanita itu demi membangunkannya.


Usaha itu pun harus menghabiskan waktu hingga semenit penuh, puluhan kali mencatuk-catuk dengan susah payah.


“Haahh ....”


Syukurnya sang angsa sepertinya berhasil membangunkan wanita berambut hitam itu, terlihat dari tangan kanan wanita itu yang mengibas-ngibaskan di dekat kepalanya, sebisa mungkin menghentikan kelakuan sang angsa.


Tapi nyatanya itu tak berhasil, angsa itu justru membentangkan sayap putih lebarnya dengan melompat hingga mencatuk-catuk cukup keras pada kepala sang wanita.


Terus melompat-lompat sambil berjuang membangunkan wanita itu.


"Ngok ... ngok ... ngok ...!"


“BERISEEEEEK ...!” sergah wanita berambut hitam itu dengan dua tangan yang mengibas-ngibas ke sekitar kepalanya.


Burung angsa itu justru belum selesai, dia terus melompat-lompat dengan mencatuk dan terus mencatuk kepala wanita itu.


Hingga rasa kesal mulai membuncah dalam diri wanita itu, yang perlahan mengendalikan pikirannya dan pikiran itu langsung mengirmkan sinyal perintah pada tangannya. Maka 'Grep' dengan cepat tangan kanan wanita itu berhasil meraih leher sang angsa.


Untuk itulah, lambat laun, kepalanya mulai diangkat, perlahan wajah bercahayanya itu mulai dinaikkan.


Oleh sebab itulah, tanpa segan-segan, secara kasar wanita itu membentak angsa tersebut. “ANGSA DUNGU, TAK TAHU DIAJAR KAU! MALAH MENGGANGGU ISTIRAHATKU!”


Suara yang menggelegar itu sejenak berhasil memecah sunyi sekitar, membuat kedamaian sedikitnya terisi oleh marah seorang wanita.


Hari semakin cerah, siang ini mulai menghangat, langit biru nampak membentang luas, menunjukkan jelitanya yang kentara.


Siur angin tak lupa mengirimkan hawa kesejukannya ke sekitar penjuru hutan bambu ungu.


Terjadi momen yang agak aneh di kolam bunga teratai, wanita itu sejenak terpaku menatap angsa putih yang dicekiknya itu. Entah apa yang terjadi, namun bila ditilik ke dalam jiwa sepinya, itu cukup aneh.


Lantas 'Byur' menjatuhkan angsa itu tepat ke air kolam, hingga menggelepar-gelepar sang angsa di sana.


“Ngok ngok ngok ....”


“Ahk ... angsa keparat ...,” umpat wanita itu dengan tumungkul dalam lesu.


Dia wanita yang tertidur cukup lama, bahkan tak sadar sudah lelap dalam waktu tidak sehari. Tak ada hal yang baginya dirasa menarik, kecuali tidur di sini dan mungkin ingin tidur selamanya.


Iya, wanita berambut hitam itu bernama Nurvati, dirinya yang terendap putus asa merasa tak lagi interesan untuk meneruskan hidup, toh untuk apa juga hidup kalau ujung-ujungnya mati juga.


Kesadaran pada siklus hidup di sekitarnya belum terlalu menggugah jiwanya untuk bangkit atau pergi dari sana. Justru Nurvati masih tertunduk lesu dengan niat hendak tidur lagi.


Ras Peri memang sangat jarang tidur, terbilang tak sedikit juga para Peri yang tidur hanya satu atau seratus tahun sekali.


Dan itu sama sekali bertolak belakang pada diri Nurvati, dirinya tetap merasa kantuk walau telah sangat lama ia hanyut dalam tidur.


Akan tetapi, Nurvati yang hendak larut lagi dalam tidur, niat serta keinginannya itu pupus saat mendengar suara seorang pria.


“Nurvati ... lihatlah ....”


Mulanya Nurvati sengap, takut-takut kalau itu hanya sebatas halusinasinya saja. Sehingga dia masih mendeprok santai di sana tanpa mengacuhkannya.


Hanya saja, dari belakang Nurvati suara pria itu kembali bergaung.


“Nurvati ... sadarlah ....”


Suara yang terdengar tedas nan tegas, suara yang membuyarkan pikiran putus asanya, yang menyingkirkan asumsi halusinasinya, kalau itu bukanlah halusinasi.


Otomatis, Nurvati buru-buru melompat dari batu tengah kolam itu, melompat dengan bersalto di udara, hingga mendarat tepat di tepi kolam 'Tap'. Berdiri memunggungi seseorang, kemudian bertanya, “Siapa kau?”


Dua kata yang terlontar mulanya menjadi pertanyaan yang diambang tak terjawab. Nurvati telah sadar kalau ada orang lain di tempat ini. Namun demikian, sosok itu masih belum menjawab.


Jelas rasa penasaran yang menjerat jiwa Nurvati langsung membuatnya berputar arah ke belakang, menghadap langsung sosok itu.


Telah berdiri sesosok pria berambut hitam pekat, wajah yang mulus dengan netra hitam tajam yang menerawang jauh ke depan, tubuhnya dibalut pakaian serba putih, tak sehelai pun adanya jahitan, kulitnya putih cerah, sosok laki-laki itu justru terlihat seperti ras Manusia. Tetapi dia memiliki dua sayap putih sebagaimana ras Peri.


Laki-laki yang bertubuh tinggi nan tegap, tanpa senyuman. Dan entah dari mana mengetahui nama Nurvati, pun tak diketahui maksud kedatangannya kemari.


Tiba-tiba saat Nurvati masih terpana penuh keheranan, sosok pria tersebut berujar, “Aku adalah Malaikat penyampai berita ....”


Kalimat yang begitu singkat nan tedas, membuat rasa heran penuh tanya semakin menjerat pikiran Nurvati. Kalimat itu pula yang memicu Nurvati untuk menyimpulkan, bahwasanya sosok pria yang ada di depannya adalah Malaikat Abriel.