
Kegetiran mulai meresap pada suasana, unjuk rasa yang sedang terjadi, sedang pula dipantau oleh para pengkhianat bangsa, mereka senang melihat perpecahan dan berbahagia bila semua saling bunuh membunuh.
Tak hanya para pengkhianat yang diam-diam menyelia, mereka para kaum-kaum yang memang membenci pemerintahan hingga para pribadi yang memiliki masalah khusus, turut serta menyelia tindak-tanduk seluruh demonstran, termasuk juga para pejabat yang tak lepas dalam pengawasan.
Bangsa Barat sebenarnya memiliki hukum yang bisa dibilang imbang, tidak tendensius, hanya saja, ada beberapa pihak yang malah menebarkan isu kalau hukum dari bangsa Barat lebih tendensius pada para penguasa, atau tepatnya, hukum yang dibuat hanyalah demi keuntungan para kaum oportunis. Kendati faktanya, bila diselisik lebih intensif, tentulah hukum tak lebih dari mengatur seluruh lini masyarakat tanpa pandang strata sosial.
Demo atau orasi yang dilakukan ras Peri tak hanya di bangsa Barat sahaja, bangsa Timur, bangsa Selatan serta bangsa Utara pun tak lepas dari masyarakat yang banyak menginginkan kedamaian. Syukurnya demonstrasi tak sebesar dan sengeri di bangsa Barat.
Survei perihal perang dunia ke-18 pada periode ini pernah dilakukan oleh salah satu organisasi terbesar di dunia, faktanya telah diketahui kalau 30% rakyat tak setuju berperang, dan itu dengan berbagai macam alasan. Sedangkan 70% lainnya setuju bila perang dunia ini terus terjadi hingga seluruh ras rela mengikuti ras Peri. Survei itu akan memungkinkan untuk terus berubah seiring hasrat dan waktu pada ras Peri berlanjut.
Untuk saat ini demonstrasi hanya berlangsung di ibu kota bangsa Barat saja, tidak pada kota-kota lainnya, bukannya apa-apa, sempat para individu yang berusaha mengkritik pemerintahan keesokan harinya hilang, lalu dalam berita dikabarkan para individu yang mengkritik pemerintahan itu dihukum mati dengan dakwaan mengadu domba dan berusaha memecah belah bangsa.
Di beberapa pusat kota, justru sedang ramai dalam membicarakan para pemburu siluman yang sangat membantu dalam menyelamatkan anak-anak yang diculik.
Setiap anak yang berhasil selamat akan dikembalikan pada orang tua mereka, dan itu tanpa ada biaya apa pun.
Bahkan di pusat kota sendiri Cermin Pintar sebagai media pemapar info yang berbentuk seperti gelang nampak berputar lamban di atas marmer, menunjukkan peringkat teratas para pejuang yang telah banyak menyelamatkan anak-anak dan membasmi para siluman di kota.
Tentu saja pusat kota selalu ramai dikunjungi warga, di sini tak ada pribadi yang berjalan kaki, semua sibuk berlalu-lalang dengan terbang. Semua bangunan yang ada tentu saja melayang di atas tanah setinggi 2-3 meteran, tak satu pun dari bangunan-bangunan yang terbuat dari semen atau pun besi, semuanya murni dari bebatuan mulia.
Di setiap pusat kota terkadang selalu diadakan lomba-lomba atau turnamen demi menyokong ilmu atau bakat seseorang, mulai dari turnamen ilmu Hikmah, ilmu Keilahian, ilmu Sihir hingga ilmu Pikir hampir seluruhnya ditandingkan. Sampai-sampai 1000 tahun sekali turnamen atau kejuaraan internasional selalu diadakan.
Bukan sekadar kemenangan atau kehormatan yang akan mereka dapatkan, lebih dari itu, mereka memiliki kesempatan besar untuk digelari Pendekar atau Kesatria, atau syukur-syukur mereka bisa menjadi Pahlawan. Namun kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk mendapatkan banyak pil yang unik, serta ilmu Sihir atau ilmu Pikir yang baru. Dari situlah setiap individu mengharumkan nama bangsa dan keluarga mereka masing-masing.
Walau tak ayal kursi untuk bergabung dalam anggota dewan pun adalah hadiahnya yang kadang kala ditolak mentah-mentah hanya karena tak begitu interesan.
Karena perang dunia ke-18 masih terjadi, turnamen internasional untuk saat ini ditangguhkan, kecuali turnamen nasional yang tetap diselenggarakan 100 tahun sekali. Tapi hari ini, banyak para pendekar, kesatria,petualang hingga para pemberani yang lebih memilih meraih gelar pahlawan dengan cara menyelamatkan anak-anak yang diculik.
Tak luput pada pusat kota pun terdapat zona jual beli, beberapa bendera menjadi ciri dari objek yang mereka jual.
Bendera Merah untuk segala penjualan jenis pil.
Bendera Hijau untuk segala peta atau petunjuk adanya tempat-tempat unik. Tapi ini jarang digandrungi.
Bendera Hitam untuk bahan pangan.
Dan yang terakhir bendera Putih untuk menjual ilmu Sihir atau segala ilmu pengetahuan yang baru.
Uniknya semua meja pedagang melayang di ketinggian 30 meter dari tanah. Beberapa benda memang bisa melayang di atas tanah disebabkan adanya 'minyak' yang dibaluri pada benda tersebut, cara kerjanya hanya memanfaatkan daya tarik gravitasi bumi dan berat massa pada suatu benda, sederhananya, seperti magnet yang memiliki kutub yang sama sehingga tak mungkin untuk bersentuhan.
Di alam jin mereka yang miskin adalah yang bodoh nan lemah, dan mereka yang kaya adalah yang kuat yang memiliki banyak ilmu.
Hanya ras Neznaz yang dalam kehidupan perdagangan atau perniagaan ilmu yang kadang diperjual belikan, kecanggihan teknologi membuat bahan pangan ras Neznaz diproduksi otomatis.
Di alam Neznaz, tidak ada yang namanya pintu, baik pintu ruangan atau pintu lemari, bahkan tak pernah ada lemari, tidak butuh jalan raya, tidak butuh alat transportasi, tidak lagi menggunakan listrik, tidak butuh ponsel, tidak ada bangunan yang menyentuh tanah, tak butuh air, tak butuh angin. Semuanya disebabkan kecanggihan teknologi yang mereka miliki yang tak dapat dipikirkan oleh ras Manusia.
Mereka tak dapat dilihat atau dicapai oleh segala kecanggihan teknologi yang dibuat manusia. Bagi ras Neznaz sendiri baik di masa sekarang atau jutaan tahun di masa depan, ras Manusia tak akan sanggup menciptakan alat yang memiliki kecanggihan setara dengan ras Neznaz, kecuali adanya bantuan dari ras Malaikat.
Ketika manusia masih sibuk memperdebatkan bumi bulat atau datar, ras Neznaz telah mempertanyakan kapan manusia menyadari kalau mereka adalah pusat dari segala makhluk, laksana pelanet-planet yang mengitari matahari.
Di alam Peri, terkadang ras Manusia sempat terlihat beberapa kali datang berkunjung, kebanyakan yang datang adalah manusia yang sekadar ingin tahu, seperti apakah kehidupan makhluk di luar bumi.
Lebih dari itu, pada dasarnya telah datang berita-berita Langit ke seluruh ras, kalau manusia wajib diikuti, dijadikan pusat dalam segala aspek kehidupan, namun demikian, banyak yang apatis dalam hal ini.
Kebanyakan manusia yang berhasil berkunjung ke alam lain, mereka biasanya menyembunyikan pengalaman itu pada manusia lainnya, bukannya apa-apa, selain bisa menimbulkan perang konyol, kebanyakan manusia jauh lebih mengutamakan prasangka ketimbang penelitian. Oleh sebab itulah, makhluk-makhluk selain manusia yang sama-sama memiliki roh tetap dalam eksistensi kerahasiaan.
--------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)