Nurvati

Nurvati
Episode 36: Kesuksesan Dalam Derita.



Dan di tanah emas, di alam Ilmu tahap pertama, Iblis berkepala 10 telah terkapar tak berdaya, lalu hancur kembali menjadi tanah.


Dan Nurvati pun telah terbaring di tanah emas itu, terengah-engah di sana dengan berusaha menenangkan napasnya. Dia berhasil kembali mengalahkan iblis berkepala sepuluh.


“Haah-haah-haah ....”


Ras Peri tak memiliki pori-pori pada tubuh mereka, tak juga memiliki kelenjar keringat, mereka mampu menormalkan suhu tubuh dengan angin yang diolah menjadi semacam hawa dingin lewat paru-paru Peri mereka.


“Semoga kali ini berhasil, semoga kali ini berhasil ...,” gumam Nurvati berharap-harap cemas, dan tentunya dia masih melafalkan kalimat atau do'a-do'a 'kemalaikatan' dalam batinnya.


Satu fakta penting, bahwasanya Nurvati telah mengalahkan 901 Iblis berkepala 10, dan tentunya lebih sering menghindar ketimbang menyerang.


Tak sia-sia seluruh usahanya, karena tepat di samping kanannya, telah muncul sinar warna putih yang bukan lain adalah Malaikat Rahmat dalam bentuk cahaya.


“Nurvati, aku ucapkan selamat padamu, sebab engkau telah berhasil menyelesaikan tahap pertama ini,” tutur sang Malaikat Rahmat yang terdengar dalam jiwa Nurvati.


Dengan penuh syukur, tetapi terlalu lelah untuk berdiri, maka Nurvati pun terpaksa berujar, “Izinkan aku untuk tidur sebentar, aku benar-benar mengantuk ... whooooaaam ....”


Sang Malaikat justru malah membalas, “Tunggu sebentar, kamu harus menerima dulu tiga ilmu Hikmah ini.”


Terlalu lelah dan mengantuk, sehingga Nurvati hanya membalas, “Maafkan aku, kita bicarakan nanti saja, setelah aku tidur. Kau tahu 'kan selama seratus tahun aku tidak tidur?”


“Tapi tidak ada yang bisa tidur di alam Ilmu ini, Nurvati.”


Entah bagaimana, konyolnya Nurvati sudah tertidur dengan terbaring di tanah emas, itu bahkan disertai dengkuran dan kalimat-kalimat 'kemalaikatan' tak lagi dilafalkannya. Info sang Malaikat nampak tak berguna bagi Nurvati.


Tapi sang Malaikat Rahmat hanya diam tak bersuara. Justru berkat melihat keunikan itu menambah rasa kagum pada kehendak Tuhan-nya, karena baru kali ini ada seorang wanita yang mampu tidur di alam Ilmu.


Di dalam kesunyian alam Ilmu, kesepian perlahan memutar waktu lelah Nurvati pada akhir yang membahagiakan, semula kala masa kecil hingga masa remaja yang selalu menanggung kekecewaan, itu kini terbayar kontan.


Pengalaman menjawab apa yang tidak bisa dijawab oleh kata-kata, Nurvati memang pada dasarnya pemalas, dia tak peduli pada pelajaran di sekolah, dia lebih suka bermain sebagaimana anak-anak pada umumnya, dan kala ketidaksukaan pada fisik Nurvati menjerat anak-anak yang sok paling unggul, mulailah mereka menyerang mental hingga pola pikir Nurvati. Menyerang fisik Nurvati hanya gegara para pembenci memang membenci kecacatan Nurvati. Kecacatan adalah dosa, kelemahan adalah kesalahan, itulah yang terjadi pada pola pikir para Peri dizaman ini, zaman berubah, dan zaman itu pula yang mengubah orang-orang.


Dia yang dibangun oleh lingkungan kotor, dia pula yang dibentuk oleh masyarakat, dan dia yang dibentuk oleh kebencian, terkadang cenderung mulai menutup diri dari dunia, sebab kebenaran yang dilihatnya adalah penolakan padanya, kecenderungan bunuh diri atau pun putus asa menjadi salah satu bentuk ketidak-terimaan mental pada penolakan dunia, pola pikir berubah dan kejiwaan terganggu, konsentrasi pada pelajaran pun ikut terganggu, karena bayang-bayang kebencian menjadi pemicu pengalih konsentrasi.


Nurvati memiliki mental dan hati yang lembut, dia tak sama seperti mental anak-anak kuat yang menyikapi dunia dengan santai, seperti Falas. Sebab mental memiliki karakter, demikianlah Nurvati yang kini perlahan kuat. Ujian hidup di sini, sedikitnya membentuk mental Nurvati pada tahap yang baru, lebih kokoh.


Falas pemicunya, Nurvati mulai terbawa arus rencana Falas, tapi semua sudah terlambat. Karena detik ini, saat ini juga, dalam waktu yang lama telah terlintasi. Dari pintu ilmu ke pintu ilmu yang lain, sudah Nurvati lewati. Tahap demi tahap terselesaikan. Dari ratusan Iblis hingga ribuan Iblis yang berbeda wujud telah dikalahkan. Dari Iblis kepala 10 sampai Iblis bersayap 500 sudah dimusnahkan. Satu hingga sepuluh, dan sepuluh hingga 30.


Iya benar, 30 alam ilmu dengan perjuangan dan pantang menyerahnya dari Nurvati, telah berhasil menguasai ilmu Hikmah, yang kadar keseluruhannya 3000 tahun, itu pun bila tidak dengan tahun-tahun gagalnya.


Dari sanalah, harapan selalu ada, kecacatan Nurvati sama sekali tak mencegahnya untuk meraih apa yang diinginkannya. Gadis yang dulu putus sekolah hanya karena tak sanggupnya mental menerima diskriminasi yang dilakukan teman-temannya, itu kini terkesan terbayar.


Tak ingin diakui sebagai wanita yang hebat, tak juga ingin diakui sebagai orang yang cacat berhasil meraih mimpinya. Nurvati, hanyalah wanita yang terendam dalam mental lembutnya, lupa akan esensi kehadiran Falas, yang mana, setiap bantuan Falas memang memiliki niat tersembunyi, dan terbawa arus kehidupan yang memaksa seorang 'gadis' mesti menjalani sebagai wanita dewasa; Nurvati lupa untuk mencari tahu identitas aslinya.


Terlepas dari itu semua, untuk sekarang, kesabaran membuahkan hasil, dan hasil itu adalah keuntungan bagi Nurvati. Dari pintu yang terbuat dari batu mulia, Nurvati keluar dengan bangga dan senang, kembali ke kantor Malaikat Rahmat.


Kini kantornya agak berbeda, meski langit biru masih sebagai atap dan awan sebagai lantai, tetapi meja kerja serta pintu alam Ilmu ke-30 ini, memang terbuat dari batu mulia yang sama, batu mulia tersebut tak ada di bumi Manusia, dan tak ada di bumi Peri, jadi belum ada sebutannya.


Ajaibnya, saat Nurvati telah keluar dari alam Ilmu, wajahnya hingga tubuhnya mulai diliputi cahaya putih terang benderang, hebatnya Nurvati telah sampai pada hidup tanpa bernapas, itulah bukti kegemilangan ilmu yang telah manunggal padanya.


Tanpa banyak membuang waktu lagi, Nurvati pamit pada Malaikat Rahmat.


Faktanya, meski Nurvati telah lama menghabiskan waktu di alam Ilmu, itu tak berarti di alam Peri, waktu akan tetap sama seperti waktu diawal pergi, atau dengan kata lain, perjalanan Nurvati menguasai ilmu secepat kecepatan cahaya.


Dilanjutkan pada dirinya yang kembali mendeprok di atas burung Garuda, dan sembari memegang jambul burung Garuda, sang burung Garuda pun mengingatkan perihal destinasi selanjutnya dan suaranya tetap terdengar oleh jiwa Nurvati.


“Nurvati, selanjutnya kita akan kembali ke bumi Peri, di sana ilmu ke-Tuhan-an akan diberikan.”


Maka burung Garuda mengepak sayapnya, dan pergilah mereka pada tempat selanjutnya.