Nurvati

Nurvati
Episode 178: Menggenggam Luka Ketidakberdayaan.



Setiap nyawa cukup berharga, atau setiap nyawa itu sangatlah berharga, sekalipun itu adalah nyawa seekor anjing, benar, Nurvati sangat memahaminya.


Oleh karena itulah, di perumahan Tengah ini, dirinya tengah berjibaku, meliukan pedangnya menebas ke kanan dan ke kiri, membinasakan setiap siluman macan yang menyerang, karena memang mereka layak dan semestinya dibunuh. Nyawa mereka cukup berharga untuk dihabisi, karena kalau tidak dihabisi, mereka yang akan menghabisi warga yang tak bersalah.


Malah bila kenyataan ditarik lagi kebelakang, secara fakta, Nurvati dalam perjalanannya menuju Nerta, dirinya sudah berjibaku menyelamatkan beberapa warga yang terpojok oleh para siluman.


'Shriing' 'Swriing' ayunan pedang dari Nurvati seirama dengan ketakutan dua bocah kecil dan sesosok bayi mungil di belakangnya. Berdiri saling berdekatan, berharap-harap cemas. Karena setiap nyawa itu sangatlah berharga, maka di sana, di jalanan perumahan, Nurvati berjuang melindungi nyawa mereka semua.


Beberapa siluman macan ini berusaha memangsa sesosok bayi mungil dari dua bocah perempuan itu, dikarenakan sebelumnya, ibu mereka tewas di sini dan jasadnya telah hancur disantap oleh para siluman.


Hingga bersama dengan satu kali tebasan mantap dari pedang Nurvati, 'Shrrriing' tiga siluman macan ambruk menanggung mati, 'Bruk'. Lebih dari itu, entah mengapa sedetik selepasnya, secara mendadak, kejadian aneh menimpa seluruh siluman macan. Benar-benar semuanya, mereka berhenti bergerak, tak berlari atau melompat lagi. Semuanya tanpa terkecuali, terdiam mematung seakan lupa caranya bergerak.


Nurvati dengan bocah-bocah lainnya bahkan mesti terpegun oleh kejadian mendadak ini, bukan itu saja, rakyat Peri kota Barata lainnya pun berhenti menyerang dengan penuh keheranan.


Tak lama berselang, kejadian semakin aneh kala seluruh siluman macan tiba-tiba saja hancur menjadi debu, lalu tertiup angin, mereka tersapu, memudar dalam realitas ini. Tak satu pun siluman yang tertinggal, seluruhnya menghilang bersama embusan angin.


“Ngok ngok ngok ngok ....” Sang angsa putih bahkan menjadi berisik oleh situasi aneh ini.


Spekulasinya bahwa mereka semua musnah gegara induk mereka yaitu siluman kepala rusa pun musnah, sehingga kewajiban mereka pun berakhir.


Bersama detik yang berpacu menuju menit, bunyi-bunyi efek peperangan telah lenyap, gerakan-gerakan perjuangan membela tempat tinggal pun hilang, sebab kini seluruh siluman macan yang berpijak di kota Barata, telah musnah semuanya. Benar-benar musnah tak bersisa satu helai pun bulu. Mereka sudah tidak ada.


Keadaan di kota Barata kini mulai kondusif, para anggota militer khususnya kompi Sayap Merah mulai terbebar kembali untuk melakukan patroli. Mengamankan berlangsungnya situasi kini. Lebih-lebih tim medis pun tak lupa diluncurkan.


Di jalanan yang telah damai, Nurvati berlutut menghadap dua bocah cilik. Karena semuanya telah berakhir.


Dirinya mengguratkan senyuman tenang penuh ceria, ke dua jemarinya memegang bahu bocah perempuan di depannya ini, seakan mentransfer dukungan moril agar tetap kuat sang bocah untuk bertahan hidup.


Bocah perempuan yang menggendong bayi, yaitu menggendong adiknya sendiri, tengah senguk-sengak menangis penuh kesedihan.


“Hiks hhuuuu ... mama papa udah meninggal ... hiks,” keluh bocah perempuan bermata hijau dengan tersedu-sedu.


Hanya bocah perempuan ini yang menangis, sedangkan satu lagi adiknya hanya berdiri di samping kanannya tanpa menangis, namun berwajah sendu. Selebihnya sang bayi malah tak menangis, menatap roman manis Nurvati dengan begitu polosnya.


Nurvati menyadari kalau dia kakak dari mereka, dia mengetahuinya karena mendengar argumentasi mereka sesaat sebelum sang ibu tewas yang mengisyaratkan adanya status kekeluargaan, sehingga mau tidak mau Nurvati hanya dapat berkata, “Sebagai kakak ... kamu akan menanggung lebih berat beban hidup adik-adikmu ... berhentilah menangis, sembunyikan tangisanmu di belakang adik-adikmu ... kuatlah, jagalah adik-adikmu ....”


Nyatanya kalimat untuk memotivasi sang bocah itu malah ditampiknya.


Lantas bersama rengekan itu, secara spontan Nurvati bangkit berdiri, netra hijaunya menatap wajah sendu adik perempuan itu, kemudian menatap bayinya yang tak menangis. Dirinya menatap hanya demi mengetahui kalau keadaan mereka baik-baik saja.


“Maaf, kakak tidak bisa ....”


“Hiks ... hiks ... hhuuuunng ...,” tangis sang bocah perempuan bermata hijau. Menangisi ketidakberdayaannya dan menangisi nasib yatim piatunya.


Hal ini nyatanya memutar balik kembali ingatan Nurvati yang sama-sama kehilangan ke dua orang tuanya dulu, rasa sakit kehilangan dan ketakutan menghadapi dunia. Membuat raut mukanya menjadi serius dan karena memang tak mungkin juga dirinya menjadi seorang ibu, maka dengan lantang, Nurvati pun berujar, “Cukup! Sekarang pahamilah ... mamamu telah meninggal dan itu demi melindungi kalian ....”


“... jadi, tak penting kamu perempuan atau bukan ... karena mamamu juga melindungimu sebagai perempuan!” imbuhnya secara lugas berusaha memotivasi atau kalau bisa menggugah hati sang kakak kecil itu untuk tetap kuat.


Tapi sang bocah perempuan yaitu sang kakak, masih tertunduk dalam isak tangisnya, tak begitu menerima bantuan motivasi verbal dari Nurvati, merasa tak berguna.


Hanya saja, ada hal yang cukup membuat Nurvati salut. Sang adik yang berambut hitam pendek, mendadak mendekati Nurvati, memasang raut muka penuh percaya diri dan malah terlihat tegar.


”Tidak apa-apa Kak ...! Kakakku memang cengeng ... iya ... tidak apa-apa ... kakak boleh pergi ... tenang saja ... aku yang akan melindungi kakakku dan adikku!“ tuturnya begitu ekspresif penuh keyakinan dan terdengar mantap. Alih-alih sebagai adik yang lemah, dirinya justru begitu optimis siap menanggung setiap beban.


Nurvati tersenyum mengetahui argumentasi semangat itu, lalu mundur perlahan-lahan dengan tatapan penuh makna pada bocah yang ditolongnya itu. Keadaan memang terkadang tak seperti yang diharapkan. Nurvati harus pergi, bagaimana pun anak-anak ini mesti ditinggalkan, sebab di luar sana, ada hidup yang penting lagi mesti dicapainya.


”Kalau kalian putus asa ... bercita-citalah ... itu terkadang mengalihkanmu untuk tetap berjuang dalam hidup,“ pesan Nurvati berharap anak-anak ini memahami betapa pentingnya kehidupan dan notabene teringat akan mendiang ibu Falas.


”Terima kasih, Kak! Terima kasih!“ balas bocah perempuan berambut pendek, bahkan sambil bernamaskara sebagai wujud apresiasinya.


'Wush' Nurvati pun mengepak sayap, terbang menuju Nerta, tak lupa, sang angsa putih pun mengintilnya lagi dari belakang.


Hanya sang kakak perempuan itu yang tetap tumungkul dalam tangis, masa bodoh dengan argumentasi Nurvati, bahkan mungkin dirinya lebih berharap kematian ketimbang diselamatkan Nurvati. Itu terlihat dari sikap dia yang malah menggeletakkan sang bayi begitu saja di jalan dan mendeprok menangisi jasad ibunya yang sudah tak berbentuk lagi.


Nurvati terpaksa meninggalkan anak-anak yang menjadi yatim itu, karena tak mungkin juga dia harus merawat mereka. Toh negara Barat ini nantinya akan melindungi anak-anak yatim, itu sudah jadi hukum. Kecuali bagi mereka yang enggan diasuh oleh panti asuhan, seperti Nurvati, maka wajib diasuh oleh sanak saudara.


Udara di kota Barata masih mengirimkan aroma bekas pertempuran, bau api, bau asap hingga daging terbakar. Selebihnya adalah perasaan syukur serta kepiluan yang bersinergi dalam benak setiap warga.


Beberapa masyarakat yang terluka pun mulai dipulihkan oleh beberapa anggota medis, atau kalau bisa menyembuhkan diri sendiri.


Selama perjalanan cukup impresif ini, realita menyuguhkan bagaimana kinerja kehidupan mentransfer perasaan yang tak terucapkan; kesedihan. Anak-anak yang menangisi jasad orang tuanya, seorang wanita yang merengek ditinggalkan kekasihnya, atau bahkan seorang adik yang terisak-isak melihat jasad kakaknya telah tewas karena mengorbankan nyawanya sendiri.


Nurvati terbang rendah, takut-takut ada warga lain yang membutuhkan pertolongannya. Namun, dari sinilah semuanya berawal, iya, awal hati Nurvati terpagut pada lingkungan masyarakat. Membawa angan-angannya pada arti hidup; membantu sesama. Kalau mungkin saja seperti yang pernah dikatakan Ketua Hamenka; mempelajari semuanya dari kehidupan bermasyarakat. Mungkin.