
Tidak, ini bukan sebatas kebencian lagi, bukan perihal dendam yang harus dilampiaskan supaya jadi 'wow'. Namun demikian, cinta buta dari pria gundul, yaitu Arkta, telah ikut-ikutan bersinergi dalam ketegangan realita.
Cinta buta itu sukses mendorong sisi psikologis pria gundul itu untuk menghalangi kelakuan gegabah si wanita degil yang berjuang demi impiannya.
Hingga tatapan dari dua pribadi itu bertemu saling bersirobok dalam intimidasi.
“MINGGIR PAYAH!”
“YANG KAU LINDUNGI ITU SEORANG PELAKU KRIMINAL!”
Sentakan itu terlontar dari Logia, yang dalam perspektifnya tak layak Putri Kerisia dilindungi, karena kejahatan tak layak dilindungi dan dijunjung.
“Tidak! Aku hanya tak mau kau melakukan kejahatan yang mirip dengan ketua tim!”
“Ketua tim tetap akan dihukum, tapi bukan seperti ini!”
Bentakan itu terlontar dari Arkta, yang dalam perspektinya, dia hanya tak ingin kehilangan dambaan hatinya dan dengan cinta butanya itu pengampunan untuk Putri Kerisia tetap terbuka lebar.
Sadar akan tindakan serius dari dua rekannya, justru tak ada tindakan apa pun dari Putri Kerisia, dirinya tetap berdiri dengan sikap mendepang dan pandangan lurus pada kekosongan.
Cinta dan impian, iya, dua alasan yang diperasat oleh dua pribadi yang berhadapan saat ini adalah penunjang kekuatan kejiwaan mereka, kalau alasan mereka lebih berarti dan wajib diperjuangkan. Akan hal itulah, perseteruan tak dapat dielakan lagi.
Air mata sakit hati masih melimbur pipi mulus Logia, simbol kepiluan itu tetap kentara untuk disaksikan secara gratis oleh entitas Ifret, yang justru dirinya malah berdiri terlihat konyol di sana seperti terabaikan.
Dan Arkta, pria botak itu hanya ingin menyiratkan kalau cinta tulusnya ada pada pembelaannya terhadap Putri Kerisia. Entah disambut baik atau tidak, tetapi setidaknya ada secuil kerja keras untuk ditonton dan berharap, hati Putri Kerisia tercerahkan.
“Kenapa ... KENAPA SELALU SAJA WANITA CANTIK DAN YANG PALING TINGGI KASTANYA SELALU DILINDUNGI!” bentak Logia sudah terlalu putus asa hingga mengeluarkan unek-uneknya. Masih dengan pedang yang digenggamnya erat pada posisi tertempel pada tongkat emas Arkta.
“Itu kesalahan takdirmu!” sergah Arkta yang membela Putri Kerisia dan malah menyalahkan takdir.
“MINGGIR PAYAH!”
“MINGGIR!”
“TAK ADA GUNANYA KAU MELINDUNGI WANITA KEJAM ITU!” sentak lagi Logia memberi peringatan yang kali ini mungkin tak akan segan untuk menebas Arkta.
Tapi tak sedikit pun Arkta beringsut, dia tetap kukuh menghalangi Logia, hanya karena sesuatu yang disebut; cinta.
Hingga suasana tegang nan getir ini pun diisi pula oleh kalimat perintah dari Putri Kerisia. “Minggir Arkta ... apa yang dikatakan Logia adalah benar ....”
“... sia-sia kau melindungiku, karena sekali pun kau menyuguhkan jantungmu untukku, cinta yang kau agungkan itu, tak akan pernah aku sambut ...,” lanjutnya menyatakan penolakan mentah-mentah pada Arkta.
Memang bukan rahasia lagi kalau Arkta menyukai Putri Kerisia, dan sudah tahu juga kalau perasaan suka itu telah berkembang menjadi cinta.
Kendati pun terdengar tandas bagi seorang pria yang ditolak sebelum cintanya diungkapkan. Kaki Arkta tetap kokoh berpijak, sebaliknya, tatapannya tak dapat memungkiri kalau hatinya telah terluka oleh penolakan itu.
Entah mengapa, itu memang melukainya.
“Aku tidak peduli!” tegas Arkta yang menyembunyikan lukanya dengan kata-kata sok baik-baik saja.
“Melindungi Anda, sudah membuatku bangga!” lanjutnya. Toh cintanya memang tulus, sehingga pengorbanan terkadang harus terjadi.
“Kalau begitu ... bunuh dia Logia ... impianmu lebih berharga ketimbang cinta buta seorang pria dungu ini ... bunuh dia! Agar tak ada orang bodoh yang menghalangi jalanmu dari impianmu!” titah Putri Kerisia dengan lantang dan tetap berdiri tegap dalam sikap mendepang.
“KAU YANG SALAH BEDEBAH! JANGAN MENCOBA MENGHASUT KAMI!” bentak Logia yang sama sekali tak terhasut.
“Dia menghalangi jalanmu Logia ... seorang pria yang menyebalkan telah menghalangi impianmu ... seorang pria yang tak akan membiarkanmu menegakkan hukum ... laki-laki di depanmu ini adalah laki-laki bodoh ... dia tak peduli aku salah atau tidak, cinta butanya selalu mencari celah agar aku lolos dari hukuman ... habisi dia ... maka engkau akan menghabisiku ...,” tutur Putri Kerisia yang kembali menghasut.
Maka, kata-kata yang terdengar merdu dan meyakinkan itu, berhasil merasuk pada kemurkaan Logia, yang terasa memberikan pengharapan indah bila digugu, atau melambungkan angannya menjadi benderang. Sehingga dilema mulai menjeratnya.
“Minggir Arkta ... pria bodoh sepertimu tidak layak bagiku ... pergi dari sana ... ini perintah!” sergah Putri Kerisia.
Namun cinta buta Arkta menyekat kakinya, dia bersikeras untuk melindungi Putri Kerisia walau ditolak sekali pun.
Akan tetapi, rasa sakit hatinya dan momentum yang terjadi, itu pun tak sanggup dihindarinya yang malah memberikan rasa putus asa untuk mengendalikan kejiwaannya; seperti obat gratis. Dia malah merasa percuma juga ada di sini.
“AAAAAAAAAARGH ...!” teriak Arkta sembari menengadah pada langit.
Lalu sekonyong-konyongnya tongkatnya disingkirkan dari sana, dan 'Sret' leher Arkta disayat oleh pedang Logia yang sengaja Arkta biarkan dirinya terbunuh oleh pedang itu.
Otomatis, berbuntang Logia memandangnya. Dia bahkan tak habis pikir oleh perbuatan Arkta, walau memang mungkin Logia tetap akan menghabisinya, hanya saja, ini terasa kalau semestinya Arkta tak melakukan tindakan bodoh itu, karena bagaimana pun, Arkta tak bersalah. Dan seketika genggaman Logia pada pedangnya melemah, yang mendadak malah menjatuhkan pedangnya di pasir.
“Khk ... khk ... khk ....” Arkta berlutut dengan ke dua tangan yang memegang leher berdarahnya.
Kemudian 'Bruk' jatuh meregang nyawa Arkta di sana. Tanpa ada sihir pemulihan yang dilakukannya, memasrahkan menanggung kematian memilukan. Padam pula cahaya matanya. Karena telah sia-sia juga apa yang dilakukannya.
Hawa kematian menjadi pekat, waktu yang berkutat dalam kenyataan terkesan lamban. Saat Logia malah tiba-tiba mendeprok di pasir. Entah mengapa ada yang salah dalam ini semua.
Tangisnya semakin kentara, ke dua tangannya mengerat dipersatukan di atas pahanya, membungkuk dan merengek.
“HUAAAAAAAAA ... hnng ... hiks ...!”
Entah dirinya harus apa, dia hanya berusaha membanggakan orang tuanya, hanya berusaha mengejar impiannya, tetapi begitulah, dirinya malah menangisi kegagalannya di sana, dan bukan menangisi teman-temannya.
Sembari menurunkan lagi ke dua tangannya, atau tepatnya kembali pada sikap wanita terhormatnya, dan secara mengejutkan Putri Kerisia berujar, “Logia ... selamat, kau lulus ....”
Sebuah pernyataan yang terdengar aneh dan cukup menyentak kejiwaan Logia. Yang menginversikan pikiran kalutnya pada tanya.
“Hnng ... hiks ... a-apa maksudmu?”
“APA MAKSUD INI SEMUA PUTRI GILA!” sentaknya yang tak mengetahui berazam Putri Kerisia.
Masih dalam tatapan tajam ke depan, masih dalam gestur tubuh wanita terhormatnya, Putri Kerisia lantas menjawab, “Faktanya ... militer penyihir memiliki dua divisi ... aku serta dewan penyihir, telah menyepakati sebuah ketetapan ... divisiku adalah mata-mata rahasia negara ....”
“... oleh sebab itu, kami membutuhkan seorang penyihir yang bersifat individualistis, yang bekerja demi impian dan memiliki keegoisan tinggi ... karena bagaimana pun, rasa empati atau pertemanan di dalam kemiliteran divisi rahasia, sama sekali tak berguna ....”
Logia terpegun mendengarnya, bahkan rengekannya refleks terhenti.
”Logia ... teman adalah penghalang kemajuan bangsa, seorang teman adalah penghambat misi, ikatan pertemanan hanya bisa memicu pertikaian. Prinsipmu bagi kami sangat tepat ... tak peduli siapa pun orangnya, yang menghalangi jalan dari impian kita, wajib dihabisi ....“
”... tak ada yang bisa dipercaya di dunia ini ... kecuali ketua timmu dan pemimpin kita ... jadi bangkit dan berdirilah ... apa yang aku katakan adalah benar adanya ...,“ tandas Putri Kerisia tak main-main.
Terdiam, Logia terdiam. Dirinya mencerna baik-baik pemaparan Putri Kerisia, yang baginya merasa pernah mendengar divisi rahasia tersebut. Membuat hening merebak.
Maka pernyataan itu pun telah ditanggapi oleh entitas Ifret. Liontin yang ada padanya, kaligrafi yang tertulis di liontin itu menjadi perintah ke dua baginya.
Membuat tangan kanan sang Ifret memanifestasikan liontinnya, lalu dilelehkan liontin tersebut oleh energi merahnya. Kemudian bersumpah, ”Saya akan menutupi semuanya dan dengan ini, saya ucapkan selamat kepada kalian berdua ... saya undur diri ....“
Dan 'Woush' lenyaplah entitas Ifret itu dari kenyataan, hilang hanya ada kekosongan.
Selanjutnya, perlahan dengan pasti dan yakin. Logia bangkit berdiri. Lebih dari itu, bibir tipisnya mengembangkan senyuman senang penuh syukur, sirna wajah sendunya beralih pada wajah semringahnya. Menatap Putri Kerisia dalam tatapan penuh terima kasih.
TAMAT.
{Lanjutannya dijilid 2.}
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Kalau pun novel Nurvati banyak dukungan, Inshaallah, akan Author tamatkan ceritanya di platform ini, tetapi, bila dukungannya tak memadai, lanjutan novelnya akan saya pindahkan pada platform lain. Sekian dan Terima kasih.)