
Segala kegelapan malam ini mulai menerbitkan suara-suara aneh dalam hutan, tapi tertutup oleh suara pertempuran.
Bentang langit malam di hutan Kematian mulai menampakkan planet nuansa krem dengan cincin pelangi, tak ada awan yang merintangi membuat perlahan segala kecemerlangan angkasa dipertontonkan.
Tapi meski malam ini terlihat indah, Nerta harus bersusah payah mematikan api ditubuh Quin.
Maka secara kuat-kuat dengan satu kibasan angin besar terbentuk, meniup api, meraibkannya dari realitas, 'Fhiiuwffh'.
“HAAH-HAAH-HAAH-HAAH ....” Di sana Quin terkapar sekarat, napasnya menjadi panas dengan sakit yang teramat, dalam 30 detik lagi dirinya akan tewas.
Nerta terbang pergi, meninggalkan Quin yang sebentar lagi tewas, dirinya lekas-lekas menuju siluman ular kobra.
'Woush' Arista meluncur terbang pada Quin, dia terpaksa memberikan pil Penyembuh pada Gorah serta Darko.
Pil Penyembuh memang mampu memulihkan kondisi tubuh pada semula, akan tetapi masalahnya pil Penyembuh sangatlah mahal, dan lagi Arista hanya memiliki 3 pil Penyembuh yang hanya boleh dipakai dalam keadaan terdesak.
Inilah keadaan terdesak, 2 pil telah habis dan satu yang terakhir, yang terpaksa dipakai untuk kesembuhan Quin.
Di samping kiri Quin dengan terbang, Arista mengambil pil Penyembuh dari dalam tasnya. Pil seukuran jari kelingkingnya, lantas dengan energi pemulihan nuansa biru langit, Arista mentransfer kandungan pil pada leher Quin, energi pemulihan itu menyalurkan secara cepat kandungan pil ke dalam tubuh Quin.
Suasana masih cukup tegang, siluman kobra belum sempat menyantap habis bocah Peri itu, dia terpaksa harus kembali bersiap. Setidaknya, cukup banyak dia mengonsumsi tubuh bocah itu yang berarti ada kesempatan dirinya bisa memulihkan tubuhnya yang hancur.
Tangan kanan siluman ular kobra kini mulai membentuk sabit dari besi, memandang Nerta yang terbang mendekat.
Tetapi Nerta malah terbang tinggi ke atas, cukup tinggi hingga mengambil jarak 50 meteran dari tanah. Ada ritual khusus yang hendak dia lakukan.
“Kau sudah hampir membuat teman-temanku terbunuh! Aku tidak akan membiarkannya!” teriak Nerta dengan menyalang marah ke bawah dan tangan kanannya yang berbalut energi nuansa putih mulai di angkat ke atas. Dirinya mulai melihat ini tak lagi dapat ditoleransi.
“Hacim!”
Sementara itu, Gorah serta Darko telah meluncur dengan ke dua tangan yang membentuk parang.
'Swoosh' siluman ular pun melesat pada dua bocah dan 'Trang' senjata mereka saling beradu.
'Trang-Trang' 'Tang', mereka bertarung di atas batang pohon yang tumbang, meliuk ke sana kemari, menukik dan bahkan menendang, sebisa mungkin untuk membunuh.
“HYAAA ...!”
Darko menebaskan dua parangnya dengan gaya menggunting, 'Woush' siluman ular malah bertiarap, lalu berguling ke kanan, berhasil menghindar.
Lantas Gorah muncul dari atas menyayat-nyayat dengan parangnya, namun 'Trang' 'Tang' siluman ular menahan dengan sabitnya, dia memainkannya ke kanan dan ke kiri, 'Tang' 'Trang' 'Tang' 'Trang'.
Tapi tiba-tiba sang siluman melompat setinggi terbangnya dua bocah Peri, lalu 'Wuush' dia berputar 360 derajar menyabet dua peri itu oleh sabitnya.
'Slaash' sabetan sukses melukai perut Gorah serta Darko.
'Drap' dan siluman ular mendarat selamat. Tapi tidak bagi Gorah dan Darko. Mereka menanggung luka berdarah.
Mereka terbang menjauh dengan ringis kesakitan.
“Sialan ... dia malah lebih cepat!” keluh Darko dengan bermasam muka memandang aneh pada wajah ngeri sang siluman.
Senjata itu di simpan di dalam tenggorokan Nerta, tepatnya disembunyikan pada angin di tubuhnya. Senjata sakti ini jelas berbeda dari senjata bentukan energi. Senjata yang mampu menguasai empat energi; Merah, Hitam, Kuning dan Hijau.
Pusaka atau pun senjata sakti adalah bentuk dari manifestasi ilmu sang pemilik kesaktian, biasanya mereka yang cukup mumpuni merefleksikan atau mengkloning ilmu mereka pada benda-benda khusus, agar keturunan mereka yang tak mampu mencapai kultivasi, atau kesaktian tinggi bisa menikmati ilmu orang-orang terdahulu. Seperti halnya Ketua Hamenka yang mampu menguasai lima energi utama dan direfleksikan pada tongkat kujang berlian.
'Woush' Nerta melesat dengan kujangnya yang memancarkan energi nuansa merah.
'Bouff' 'Bouff' beberapa tembakan energi meluncur pada siluman ular kobra.
'Buaf' 'Bwaf' 'Buaf' 'Bwaf' hebatnya dia bisa menepis semua tembakan dengan tangan satu. Sedangkan sabitnya telah dibuang.
Belum selesai, Nerta menggunakan lagi kemampuan tongkat kujangnya, sekujur tubuhnya kini diliputi energi nuansa merah yang lantas mengentakkan tongkat kujangnya pada siluman ular kobra.
'BLEDAAR' batang pohon seketika retak membentuk cekung cukup dalam.
Siluman lolos, dia melompat menjauh dan buntutnya mulai tumbuh, pulih kembali.
Tak akan dibiarkan siluman itu pulih kembali, Nerta meluncur padanya dengan tubuh yang memancarkan api nuansa merah. Seperti terbakar namun itu termasuk kemampuan energi merah; panas.
'Wush' Nerta menebaskan tongkat kujangnya secara horizontal pada sang siluman, tetapi siluman tiarap, berhasil menghindar, lalu berguling cepat ke kiri dan bangkit lagi berdiri.
'Wush' Nerta melayangkan tongkat kujangnya secara Vertikal dari atas ke bawah, tapi 'Siuw' siluman ular melompat ke belakang, berhasil menghindari lagi serangan.
Tapi demikian, Nerta menyerang lagi, menebas, menyayat, menusuk, mengentak atau bahkan menembakkan bola energi. Akan tetapi semuanya itu mampu dihindari oleh sang siluman yang begitu cepat.
'Bledaar' sisi batang pohon lainnya menjadi cekung gegara entakan tongkat kujang. Serangannya meleset dan sang siluman kobra melompat jauh pada akar pohon, tanpa luka sedikit pun dengan buntut yang telah utuh kembali, namun tidak pada tangan kirinya.
Kulit kayu bekas pijakan kaki Nerta hangus gegara api energi merah nan panas yang meliputi tubuhnya, sampai-sampai api muncul dari kulit kayu yang kini dia injak, tapi Nerta baik-baik saja.
Sementara itu, keempat temannya telah terbang di ketinggian 40 meteran memandang pertarungan Nerta dan siluman ular kobra, mereka nampak sehat nan bugar.
“Sepertinya Nerta mampu melakukannya sendiri,” sangka Darko.
”Sepertinya, dia ingin memamerkan ilmunya,“ celetuk Gorah dengan santai.
”Tidak ...!“ sanggah Quin dengan raut muka serius.
”... Nerta ingin mengakhiri ini dengan cepat,“ tandas Quin dengan lantang nan mantap.
Tapi di sana Arista agak khawatir, raut mukanya serius namun juga cemas dan berujar, ”Aku yakin ... dia cuma mau ngelindungi kita aja ....“
Mendengarnya tiga teman Arista mengangguk sepaham.
”Nah ... sekarang kita harus selalu siap melindunginya atau pun menyerang lawan ...,“ pungkas Arista sungguh-sungguh.
Meski semua anak terdiam tapi mereka setuju dengan pernyataan Arista dan selalu siap untuk membantu Nerta sewaktu-waktu.
Nerta sadar kalau siluman ular kobra tak mudah dikalahkan. Maka jelas, dalam keseriusan penuh dan memegang erat tongkat kujang berliannya, Nerta mulai membuka energi nuansa kuning; dingin. Membuat energi api merahnya bersanding dengan energi api kuningnya, menyelimuti tubuh Nerta dengan dua warna energi api. Kekuatannya pun meningkat.