
Segala momen dalam putaran waktu selepas serangan Siluman Dewa Mistik telah mencapai sebulan.
Hari-hari kembali dilalui sebagaimana agenda biasanya. Hari ini, Ratu Arenda dan sahabatnya —Apan— tengah menjalankan misi rahasia.
Ratu Arenda yang pada dasarnya ialah seorang istri Raja Azer, kini mengenakan jubah putih dengan wajah yang ditutupi topeng berbentuk wajah angsa, dilakukan demi menutupi identitasnya.
Sebab, bagaimana juga, misi rahasia ini hanya diberikan pada Apan sebagai penyihir mata-mata. Ratu Arenda sendiri memang ingin membantu Apan karena sewajarnya sebagai sahabat.
Tak banyak yang dilakukan mereka, hanya perlu bungkam dan menguntit seorang penyihir buronan dari belakang; misinya menemukan ruang rahasia kelompok kudeta.
Menurut ketua institusi Perserikatan Penyihir bangsa Barat, terdapat segolongan individu yang merencanakan adanya pembelotan serta kudeta pada pemerintahan. Mereka hanyalah para pribadi fanatik terhadap ideologinya yang sebenarnya hanya ingin dimengerti tetapi keliru dalam memilih jalan.
Ratu Arenda serta Apan telah memasuki ke dalam hutan Barat, menguntit hingga masuk ke dalam goa, lalu berakhir pada sebuah aula mewah nan megah, aula yang terbuat dari batu berlian dengan ornamen dari batu Ruby. Di aula inilah terjadi pertempuran dahsyat antara Ratu Arenda serta Apan dengan beberapa pembelot. Sepuluh orang tewas, tiga mati bunuh diri dan dua meninggal diracuni.
Sedangkan satu lagi adalah sang pemimpin dari kelompok ini. Sang lawan yang sama sekali bukan penyihir dan tak memiliki pola defensif yang mumpuni, membuatnya cukup mudah untuk dilumpuhkan oleh Ratu Arenda serta Apan.
Kendati faktanya, Ratu Arenda sempat kebingungan mengenai adanya anak-anak di beberapa ruangan. Puluhan anak-anak ini memiliki rupa yang aneh. Mereka hasil dari kawin silang.
Fakta itu pun diperkuat oleh beberapa alasan para pembelot.
“Ini hanya panti asuhan!”
“Ini hanyalah panti asuhan!”
“Mereka memang hasil dari kawin silang antara jin dan manusia, atau siluman dan jin ...!”
Argumentasi pembelaan yang begitu meyakinkan menambah keraguan Ratu Arenda, kalau tempat ini salah. Merasa kalau ruang rahasia pembelot bukan di sini.
Namun demikian, entah pikiran apa yang mengekang di dalam kepala Apan, dia —tenggilingnya— justru berujar, “Jangan percaya pada para pembelot, itu hanya bualan!”
Dua argumentasi pembelaan itu sama sekali tak memudarkan keraguan Ratu Arenda. Dia hanya mampu terpaku di depan sekumpulan anak-anak yatim yang berwujud aneh. Beberapa anak itu nampak berderai air mata ketakutan dan kesedihan.
Bukan itu saja, Apan menaruh beberapa peledak di setiap sudut tempat ini. Dirinya masih meyakini kalau tempat ini adalah ruang rahasia para pembelot.
Hingga secara paksa, Ratu Arenda ditarik tangannya dan dibawa keluar dari tempat asing tersebut. Meninggalkan para anak yatim dengan penuh tanya.
Mereka kini terbang di atas hutan. Di atas hutan Barat itulah Apan meledakan tempat asing tersebut.
'BOOMMM'.
'DUAR'.
'DUAR'.
'DHUUUUAAAAAAARRSSH'.
Walau Ratu Arenda sempat mengutarakan kerisauannya mengenai anak-anak yatim, Apan sama sekali tak begitu peduli. Dia bahkan tak menaruh curiga pada anak-anak yatim itu, karena bagaimana pun misi mereka terlihat kontradiksi dengan bukti di lapangan.
Perdebatan sempat terjadi di udara. Tetapi percuma juga, toh tempatnya telah diledakan.
Di senja hari yang cerah itulah anak-anak yatim yang nampak tak bersalah telah tewas seluruhnya. Apan tetap bersikukuh kalau anak-anak yatim itu hanyalah kedok demi menutupi kebusukan kelompok rahasia mereka.
Selepasnya mereka kembali pada peraduan mereka. Apan mesti melaporkan terlebih dahulu keberhasilan misinya dan Ratu Arenda mesti hati-hati untuk kembali ke istana Awan.
Sang suami —Raja Azer— belum mengetahui persahabatan istrinya dengan sang penyihir, terlebih dirinya tak pernah tahu kalau Ratu Arenda sering sekali bepergian keluar istana secara diam-diam.
Belum ada niatan Ratu Arenda untuk memberi tahu sang suami, bukannya apa-apa, untuk makan bersama saja sulitnya minta ampun. Malahan seribu tahun ke belakang hanya 10 tahun sekali mereka makan bersama, atau berkumpul bersama. Ditambah Raja Azer yang telah mencapai ilmu Hikmah alam 30 menjadikannya hanya perlu mengonsumsi api, sehingga tak perlu repot-repot lagi untuk menyantap masakan sang istri atau semacamnya.
Meski sebenarnya Ratu Arenda sejak jauh-jauh hari hendak memberitakan perihal Apan pada suaminya sebagai sahabat dekatnya, tetapi, melihat kesibukan suaminya memimpin bangsa yang besar ini, sukar rasanya untuk merealisasikan pertemuan keluarga.
Raja Azer tentulah sangat sibuk mengemban kewajibannya, dirinya jarang berada di istana awan. Terbilang kehadirannya hanya ada disetiap perjamuan makan malam bersama istrinya dan Apan pun sama-sama sibuk pada perang dunia ini. Jadi tak semudah berkata-kata untuk bisa saling bersua.
Impian Raja Azer mulai selaras bersama beberapa fraksi politik, atau bahkan selaras bersama impian ras Peri, kalau dirinya hendak menegakkan era kejayaan ras Peri, khususnya bangsa Barat.
Tak ada yang tahu juga, bahwasanya Ratu Arenda hampir setiap hari keluar dari istana kerajaan secara diam-diam. Ini dilakukan agar tak ada yang mengganggu kebersamaannya dengan sahabatnya.
Sebab telah menjadi hukum, kalau seorang ratu mesti dijaga oleh para ajudan bila hendak keluar dari istana.
Setiap malam hari berlangsung, setiap hari itulah Ratu Arenda mengamati beberapa dokumen kerajaan di ruang khusus. Dirinya banyak membaca perihal bagaimana suku serta klan Peri di bangsa Barat berkembang. Selebihnya dokumen tentang bermacam bintang. Itu pun tak lama, 2 sampai 3 jam waktu yang biasanya dihabiskan dalam ruangan.
Rutinitas selanjutnya hanya sekadar makan atau menyaksikan pertandingan robot pegulat. Dia telah mengikuti pertandingan itu cukup lama, sampai-sampai mengenal beberapa tim yang bagus untuk dijadikan taruhan.
Di ruangan istimewa itulah segala sisa waktu akan dia habiskan hanya untuk itu. Para pelayan pun mau tak mau ikut menonton pertandingan tersebut.
Atau bila terdapat pemberitahuan sistem perihal adanya rakyat yang wajib dikunjungi, pun ditemui, kemungkinannya Ratu Arenda dapat menghabiskan waktu hingga pagi demi sang rakyat.
Dimata masyarakat, Ratu Arenda adalah ratu yang pastinya baik, tegas, disiplin dan pintar. Iya, memang tak semua rakyat menginterpretasikannya demikian, tetapi mayoritas senada pada empat kategori tersebut.
Di setiap pagi harinya, sang ratu bangsa Barat akan memulai semuanya sesuai agenda, mulai dari mengunjungi panti sosial hingga mengunjungi markas militer bangsa Barat.
Agenda tersebut biasanya dibentuk sesuai kebutuhan serta formalitas semata. Ditetapkan oleh 'sistem pintar' yang nantinya akan diselektif oleh asisten serta Ratu Arenda sendiri.
Teknologi memang mulai banyak digunakan semenjak Azer menjadi raja, terutama di bangsa Barat ini.
Selain itu, mengingat Ratu Arenda selalu memendam segala masalah beban perasaannya sendirian. Dirinya tak begitu peduli dengan seluruh basa-basi dari agenda sang ratu itu.
Dia sangat paham bila fungsi dari 'ratu' bagi bangsa Barat bukan hanya sebatas istri sang raja. Lebih dari itu, gelar ratu bagi bangsa Barat sendiri adalah sebagai penyampai suara-suara rakyat pada sang raja.
Kendati demikian sederhana adanya, Ratu Arenda sendiri lebih menyikapinya hanya sebatas basa-basi dan malah menjadi pendengar yang baik untuk keluhan pribadi bermasalah. Toh ujung-ujungnya keputusan mutlak ada pada sang raja.