Nurvati

Nurvati
Episode 67: Permulaan Yang Buruk Dalam Harapan Kemenangan.



Dan jauh dari alam Maan, kembali pada hiruk pikuk alam Peri, di markas militer Putih provinsi Tenggara, kota Tenggara, perumahan area Selatan, Pangeran Azer yang semulanya duduk manis nampak santai, bahkan dengan kaki kanan yang dinaikkan hingga ke kursi dan didekap tangan kanannya, tiba-tiba dikejutkan oleh pengawal pribadi kerajaannya yang nyelonong masuk nampak serius. Ini memang serius, calon istri Pangeran Azer datang.


Tak butuh waktu lama, Pangeran Azer buru-buru undur diri, dan untuk sementara, memberikan tampuk kepemimpinan pada Perdana Menteri Fizo. Bersama pengawalnya, Pangeran Azer keluar dari ruangan komando.


Dan inilah ruangan Keluarga Raja, ruangan yang luasnya 15X20meter, ruangan yang dilengkapi dengan kursi serta meja dari emas, ruangan dari bahan batu berlian, dengan lantai dari marmer nuansa putih.


Seorang wanita berusia 26.001 tahun, berparas manis idaman bagi ras Peri, dalam iris biru lautnya yang sayu, dengan rambut hitam panjangnya dan agak bergelombang ketika bertemu di pundak, wajahnya agak berbentuk 'Love', gaun berenda dari batu merah delima, pemilik dua sayap nuansa putih, yang bernama Arenda, yang bukan lain adalah calon istri Pangeran Azer. Anak pertama menteri ekonomi.


Pintu didedah oleh pengawal sekaligus ditutup saat Pangeran Azer telah masuk dalam ruangan.


“Ahh ... calon istriku ...,” seru Pangeran Azer dengan mendepang hendak memeluk Arenda.


Namun dengan sedikit dorongan lewat tangan kanan Arenda, Pangeran Azer terhenti di sana, wajahnya bingung kedua alisnya terangkat.


Ketika tangan Arenda diturunkan maka secara santai Pangeran Azer menangkap jemari lentiknya dengan genggaman penuh hormat, lantas mengecup jemari lentik Arenda penuh cinta.


“Apa kau lupa, sebentar lagi pernikahan kita, kau malah asyik di sini,” keluh Arenda dengan bersedekap menyilang tangan.


“Ya, maaf-maaf ... aku melakukan ini karena tak mau para panglima perang bertindak gegabah ... ini semuanya menyangkut harkat martabat bangsa Barat, kita 'kan ...,” ujaran Pangeran Azer terpotong.


“Aku sudah paham ...!” sela Arenda dengan berpaling melangkah menuju pintu.


“... sekarang kita kembali ke kerajaan, aku ingin kita bersiap-siap ...,” imbuhnya enggan banyak bicara.


Pangeran Azer mendekus pasrah sembari memutar badan menuju pintu, dirinya memang agak apatis dengan pernikahan, sifat gegabahnya selalu mampu mendorong jiwanya untuk memilih yang disukainya, bukan yang penting dilakukannya.


Mereka akhirnya pergi menuju kerajaan, membiarkan Perdana Menteri Fizo mengurus perang, walau begitu Perdana Menteri Fizo tetap saja harus diatur oleh perintah pangeran, dengan kata lain, beliau hanya dijadikan boneka.


Sementara Pangeran Azer bebenah diri dalam pernikahannya. Kembali pada medan perang. Tempat di mana alam yang mungkin akan menjadi makam pertama mereka.


Di alam Maan, legiun Sayap Putih terus menerjang angin dalam realitas waktu, melesat menuju barak Sayap Hijau. Semangat menyertai do'a-do'a yang mereka panjatkan dalam hati, agar sekiranya harapan kemenangan terwujud dalam perjuangan membela kebenaran. Bahkan do'a-do'a dari para keluarga, dari para orang-orang terhormat pun mengiringi mereka.


Legiun satu, diwajibkan untuk menang, perintah dari panglima perang adalah untuk membunuh legiun satu Pelangi lawan.


Legiun satu Pelangi dari pihak lawan, memiliki jumlah 5301 orang, yang awalnya 6000 pasukan namun berkat perjuangan para legiun satu Sayap Hijau jumlah musuh sedikit berkurang. Sebenarnya jumlah barak atau markas sementara pasukan militer, lebih dari satu, satu barak akan dikuasai satu legiun, namun untuk saat ini penyerangan akan bertahap. Syukur-syukur kalau menang, sehingga legiun dua Sayap Putih bisa maju untuk menghabisi legiun dua Pelangi, menguasai barak selanjutnya.


Jenderal Perang Barajaya terbang di ketinggian 1000 meter dari permukaan air, dia terbang lebih tinggi ketimbang pasukan ras Peri, yang mana mereka hanya terbang 800 meter dari permukaan air.


Selama perjalanan beberapa orang didapati membicarakan para penyihir, mereka sadar betul kalau para penyihir mampu bermain jarak jauh, memungkinkan untuk mengalahkan pasukan dengan mudah, tetapi, itu hanya sebatas pembicaraan penasaran, belum menanggung rasa takut.


Di beberapa tempat nampak gelembung-gelembung air di langit terlihat pecah, membentuk curah hujan yang sedang, dan itu termasuk pemandangan yang terekam dalam otak mereka.


Ketika istrinya memintanya untuk tak ikut dalam perang, suara ketakutan istrinya masih pekat terngiang-ngiang dikepala sang Jenderal.


“Jangan pergi ayah! Jangan! Aku sudah diperlihatkan musibah yang sangat mengerikan! Musibah yang belum pernah ada pada orang-orang terdahulu!”


Bahkan untuk mengatakan itu, istri Jenderal Barajaya sampai menitihkan air mata, sebuah kesungguhan dari ucapan seorang istri yang tak mau suaminya malah masuk dalam musibah kejahatan.


Tetapi itu sama sekali tak menghentikan Jenderal Barajaya untuk mengabdi pada negaranya, dia tak mungkin mengundurkan diri ketika namanya telah tinggi, itu bisa menjadi kehinaan baginya serta keluarganya.


Semua tetap bangga dalam perjuangan mereka, hingga seluruh waktu beriringan bersama hari-hari yang berganti, benar, perjalanan menuju legiun satu Pelangi telah tiba, tiga hari dihabiskan untuk tiba di sini. Dan masih dalam semangat yang sama.


Siang hari yang terik, cuaca lembap dengan angin yang berkesiuran, pasukan lawan pun telah berjejer dalam jarak 500 meter di depan. Legiun satu Pelangi telah bersiap siaga memulai perang.


Seluruh pasukan mulai berhenti dengan membentuk barisan formasi perang. Ras Peri tetap melayang di atas permukaan air, menunggu komando. Dan bersamaan dengan itu, suasana tegang pun merebak.


Menilik dari pasukan ras Maan serta ras Barqo nampak sangat percaya diri dan tak ada ketakutan, padahal jumlah pasukan mereka lebih kecil dibandingkan pasukan Jenderal Barajaya.


Setelah siap dalam formasi, maka, perang pun dimulai!


'Woush' seluruh ras Peri maju, dan seluruh ras Barqo pun maju.


“HIYAAAAAAAAAAAAT ...!”


Pekik semangat mulai merebak di hamparan lautan ini, seluruh pasukan maju dengan keyakinannya masing-masing. Segala emosi bersinergi pada semangat mereka, terkesiap untuk menunjukkan setiap kekuatan yang mereka miliki.


Pertama, di langit dalam ketinggian 1000 meter, Jenderal Barajaya mengeluarkan tembakan energi nuansa hitam tepat pada Jenderal Kiyogu ras Barqo, 'Siuw' 'Siuw' 'Siuw' tiga tembakan melesat cepat, lalu 'Krrzzrt' hanya dengan satu kali tebasan pedang petir dari Jenderal Kiyogu, seluruh bola-bola energi itu sirna begitu saja.


Lalu 'Boomm' gelombang angin terbentuk disebabkan dua jenderal perang saling beradu pukulan.


Dan 'Duar' ledakan pun menjadi tanda kalau para pasukan telah saling menyerang, menghajar dan saling membunuh.


“DEMI KEBENARAN!”


“DEMI KEBENARAN!”


Teriakan yang bertujuan agar seluruh pasukan bergairah untuk berperang. Ratusan bola-bola cahaya hancur oleh ratusan bola-bola cahaya lainnya. 'Trang' 'Trang' 'Trang' seluruh pedang yang beradu membentuk irama yang terdengar unik. 'Byur' 'Byur' ombak lima meter menyapu habis 200 pasukan sekaligus, tetapi mereka mampu bertahan.


Seluruh pasukan mengeluarkan kemampuan mereka masing-masing, kekuatan energi-energi mulai membentuk angin tornado, pusaran air, hujan petir, hujan meteor, ledakan demi ledakan dan seluruh kengerian bencana berpadu harmonis di dalam perang ini. Dan untuk saat ini mereka mampu bertahan, dan untuk saat ini pula mereka masih mampu menyekat ketakutan mereka, justru, hasrat membunuh meningkat lebih kelam.