
"Ngok ngok ngok ....”
Keputusan tanpa ragu telah diambil, Nurvati yang memiliki semangat baru siap untuk menebus kesalahannya yang dulu.
“Nurvati ... kalau pun memang para korban enggan memaafkanmu ... maka hukum yang tepat bagimu adalah kematian ... itulah ketetapannya, tidak boleh ada tawar menawar dalam hukum ....”
“Apakah bila aku mati, aku akan menghilang? Atau kembali ke nirwana?”
”Tidak ... menjalankan kewajiban bukan perkara nirwana atau hilang ... tunaikan saja penebusanmu ... supaya rohmu bisa naik level hingga menuju level sempurna ... karena yang diinginkan Malaikat Abriel adalah roh dengan level tertinggi ....“
Walau kematian kemungkinannya harus Nurvati terima, toh dirinya dari dulu juga sudah muak hidup di dunia ini. Sehingga dirinya pergi bersama sang angsa putih menuju keluarga para korban, berharap-harap cemas akankah dirinya diampuni atau justru malah menanggung kematian.
Realitas memang telah mencambuk jiwa sang wanita itu, mendorongnya untuk sanggup berubah, karena bagaimana pun, dunia masa bodoh padanya.
Maka di senja hari yang cerah, Nurvati menyambangi korban pertama. Di perumahan area Timur itulah Nurvati bersua pada seorang wanita. Wanita yang terduga istri korban itu awalnya mengira Nurvati telah tewas.
Akan tetapi, Nurvati tanpa basa-basi langsung memaparkan tujuannya, Nurvati bahkan sampai berlutut untuk meminta hukuman atau pun pengampunan.
Di halaman rumah itu Nurvati yang berlutut tanpa melawan dalam kepasrahan penuh, hanya dapat terdiam, membisu oleh perkataan wanita itu.
”Sudahlah Nurvati ... sudahlah, aku sudah merelakan kepergian suamiku ... lagipula ... di dunia ini semakin lama semakin kejam dan semakin lama membuatku juga semakin putus asa ....“
Wanita itu mengampuni Nurvati, dan tak ada apa-apa lagi yang dilakukan Nurvati, kecuali berterima kasih.
Lalu Nurvati bersama sang angsa terbang kembali, dalam waktu yang terus bekerja mereka menyambangi rumah korban selanjutnya, dan entah apa yang merasuki para korban. Dari rumah ke rumah korban, mereka semua anehnya mengampuni perbuatan Nurvati, baik dari keluarga korban penjaga perumahan hingga keluarga korban anggota militer, semuanya mengampuni Nurvati tanpa syarat.
Alasan paling kuat yang sempat menyentuh hatinya adalah, kalau semua sudah berlalu dan dunia malah semakin kejam, sehingga itu mengendalikan diri mereka untuk pasrah pada keadaan saja.
Meski pun ada istri dari korban yang menangis histeris hingga menghajar Nurvati, tapi ujungnya Nurvati diampuni. Termasuk keluarga dari Sona serta Kury, beruntungnya mereka pun memaafkan Nurvati, atau justru membuat Nurvati terheran karena mendengar kalimat yang tajam dari keluarga rekannya.
”Syukurlah kalau anak tak berguna itu mati, beban kami jadi berkurang ....“
Tak mau ambil pusing melihat keluarga dua temannya yang nyeleneh itu. Malam harinya, untuk yang terakhir, Nurvati dan burung angsa melanjutkan lagi perjalanan menuju alam ras Barqo.
Mereka pun menyambangi keluarga korban untuk kembali meminta maaf atau dihukum mati di tempat. Dan cukup menyedihkan kala kakak dari korban yang ditinggalkan telah gugur di medan perang. Sehingga Nurvati menemui paman bibi serta bocah laki-laki keluarga korban.
Di sana Nurvati tidak dibunuh, dirinya malah disiksa oleh keluarga tersebut, sedangkan sang bocah yang memang notabene telah menyimpan dendam hanya diam apatis atau dirinya memang hanya ingin melihat Nurvati tersiksa.
Sepuluh jemari tangannya dipotong dan ke dua kaki Nurvati pun dipotong sehingga tak mungkin dapat berjalan, ke dua matanya pun ditusuk paku hingga buta, pun dua lubang hidungnya pun demikian. Sampai Nurvati terlihat cacat.
Akan tetapi, disaat-saat kritis itulah Ketua Hamenka malah tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Mengisi kenyataan oleh pembelaannya.
Iya, di alam ras Barqo ini ternyata Ketua Hamenka telah memantau kegiatan Nurvati. Lebih dari itu, dirinya malah berusaha membela Nurvati.
Paman bibi dari bocah lelaki keluarga korban jelas mundur ke belakang mengambil jarak aman.
”Apa-apaan ini?!“ tanya Ketua Hamenka tak terima atas perbuatan dari ras Barqo.
”Itu adalah hukuman!“ bela sang paman dengan lantang.
Nurvati yang terbaring di tanah kehijauan hanya memasrahkan diri, tak terlalu ambil pusing.
Oleh sebab itulah, cukup konyol saat disadari suasana semakin tegang kala Ketua Hamenka tidak terima perbuatan dua pribadi ras Barqo itu.
Namun Nurvati yang bingung serta telah memasrahkan diri mencetuskan pernyataan. ”Ketua ... sudahlah ... lagi pula aku yang salah ....“
Ketua Hemnka yang berdiri tegap di depan Nurvati, berusaha melindunginya, malah membalas, ”Jangan bodoh, Nurvati! Mereka memanfaatkanmu! Sudah ketua katakan ... hukum tidak boleh tawar menawar!“
”... dua orang di depanmu ini memanfaatkan kelemahanmu demi dendam pada ras Peri!“ lanjutnya.
”Kalian yang merasa lebih unggul ketimbang ras kami ... memang sudah selayaknya untuk menerima siksaan!“ sergah paman bertanduk cahaya itu. Ilmu Hikmah-nya sepadan dengan ilmu Hikmah Ketua Hamenka, itu pula yang mungkin menjadikan dirinya cukup berani untuk tetap berdiri di sini.
Sedangkan bocah lelaki itu nampak tertunduk diam dalam kontemplasi. Entah mengapa dirinya kini terlihat tak begitu takut seperti dulu, seakan kali ini dia sudah memahami bahasa ras Peri.
Tiba-tiba ke dua tangan paman bocah lelaki itu mulai memancarkan energi hijau, dirinya memang benar-benar nekat hendak melawan Ketua Hamenka.
Kendati begitu, Ketua Hamenka tetap berdiri santai, seakan tak siap untuk bertarung, atau mungkin memang dalam bertarung dirinya tetap santai, sampai-sampai dirinya berani berujar, ”Maaf ... Anda di sini telah salah, malah menganiaya murid saya ... semestinya Anda malu ....“
”Hah ... ucapan seorang pengecut yang telah membunuh lalu kabur ...,“ tukas paman sang bocah.
“Jika memang hendak membunuh murid saya, bunuhlah ... tanpa mesti menyiksanya ... itulah hukum!” tandas Ketua Hamenka.
“Oke ... berikan muridmu itu ... dan kutegakan hukum yang kau anut itu!” pinta paman tersebut dengan menuntut.
Menanggapi itu, Ketua Hamenka terdiam tanpa ada lagi balasan, menimbang-nimbang keputusan terbaik, yang takutnya malah mereka menyalah gunakan kesempatan.
Akan hal itu, Nurvati tiba-tiba melangkah maju, berusaha mengorbankan dirinya.
Hanya saja, kenyataannya Nurvati terpaksa berhenti dilangkah yang kesebelas. Ucapan sang bocah yang menyela suasanalah penyebabnya.
“Hentikan omong kosong ini!” sergah sang bocah lelaki dengan mengepal erat jemarinya menahan beban derita hidupnya.
Sontak seluruh perhatian terfokus padanya.
“Aku ... aku ... AKU TIDAK INGIN ADA PERANG LAGI, AKU TAK MAU KEHILANGAN LAGI ORANG-ORANG YANG AKU CINTAI HANYA GEGARA PEREBUTAN KEKUASAAN BODOH!” sentaknya masih tumungkul.
Hal itu mengakibatkan energi hijau dari tangan sang paman lenyap seiring kata-kata kepasrahan dari keponakannya.
“AKU TIDAK MAU JIKA PENEGAKKAN KEADILAN INI MALAH MENJADI SEBAB AKIBAT DARI DENDAM YANG BERKESINAMBUNGAN!”
“Pergilah! Aku ... aku memaafkan kakak ... tetapi jika aku melihat kakak membunuh keluargaku atau rasku ... aku tak akan memaafkanmu!” sentak bocah itu masih tumungkul.
Jelas sang bibi serta sang paman yang memang memiliki dendam tersendiri pada ras Peri membuat mereka agak kurang sepakat dengan pernyataan keponakannya.
“Sudah cukup, paman, bibi! Dunia ini sudah kacau! Jangan ditambah lagi oleh kelakuan bengis kalian! Kita harus tunjukan pada ras Peri ... kalau ras kita tak seburuk perkiraan mereka!” tegur bocah lelaki itu.
Terpaksa paman dan bibi itu mengikuti perintah keponakannya. Karena bagaimana pun mereka sama saja sudah cukup lelah dengan perang dunia ini.
Dan tak ada yang dapat diperbuat dari Nurvati kecuali dirinya bernamaskara penuh hormat sambil berucap, “Terima kasih.”
Maka dalam takdir yang tak dapat dipungkiri itu, Nurvati, Ketua Hamenka serta sang angsa kembali pada alam Peri dan penebusan kesalahan Nurvati telah selesai.