
Di siang hari yang cerah, berhiaskan gumpalan awan.
Hari ini terdapat hal menggembirakan bagi Ratu Arenda, yaitu siang ini Raja Azer akan berada di istana Awan.
Ratu Arenda dengan penampilan formal 'ratunya' kembali ditampilkan; gaun berenda nuansa merah, bertatahkan batu Ruby, dengan rok gaunnya yang cukup megah. Namun terlihat memukau nan jelita di tubuhnya, sangat cocok dan terlihat modis.
Mahkota berlian bertatahkan batu Ruby tersemat indah di kepala sang Ratu Arenda. Dirinya telah duduk di singgasana raja dan ratu. Singgasana yang berbentuk dipan dengan hiasan empat sayap seperti burung angsa sebagai sandarannya, besar nan elegan. Terbuat dari berlian dan safir yang berhiaskan permata-permata ungu.
Aula utama istana telah dipadati oleh para ahli kitab yang berada di sisi kanan, serta beberapa pejabat negara di sisi kiri, tak lupa juga Perdana Menteri hadir di sini. Mereka duduk di dipan yang telah tersedia. Bonusnya adalah para pelayan cantik nan imut yang berdiri di sudut aula utama megah ini.
Aula utama istana ini direnovasi sejak Pangeran Azer naik takhta. Aula mewah dan megah ini memiliki teknologi yang mutakhir, lantainya seperti kaca yang menampilkan awan-awan putih dengan karpetnya adalah emas, pilar-pilarnya memiliki ornamen naga bening berbintang yang bergerak hidup, langit-langitnya dihiasi gugusan bintang yang jatuh lalu membentuk awan, dindingnya terbentuk dari berlian dengan menampakkan jagat raya bila ditilik dari sudut pandang berbeda, semua terbentuk dari batuan mulia, bahkan seluruh ormamen hingga hiasan bergerak hidup secara berkesinambungan dan semuanya dapat berubah secara otomatis baik karena sudut pandang atau pun cuaca. Sangat elok nan megah.
Hingga kenyataan dicengangkan oleh suara penjaga pintu. “YANG MULIA RAJA AZER BARAHMAN ... TELAH TIBAAAA ....”
Pintu besar aula utama didedah, aura dan hawa mulai berbeda, suasana berubah.
Sontak seluruh hadirin berdiri menyambut dengan hormat Raja Azer. Semua pribadi bernamaskara dengan tertunduk patuh penuh hormat.
Telah masuk Yang Mulia raja ke-31 bangsa Barat ke dalam aula utama istana Awan, sang suami Ratu Arenda hadir dalam pertemuan ini.
Dia Raja Azer tengah melangkah dengan mantap dalam pose pribadi bermartabatnya; tegap, bahu sejajar, tangan kanan ditekuk hingga berbentuk 'L' dengan kepalan tangan sebagai isyarat keteguhan hati.
Raja Azer masih mengenakan jubah emas yang memiliki ukiran ular naga favoritnya, sehingga nampak seperti batik dan nampak serasi di badan bedegap nan tingginya. Wajahnya telah bercahaya putih benderang karena keilmuannya yang tinggi.
Kala Raja Azer telah berdiri tepat di depan singgasananya dalam jarak 2 meteran, pandangan dan senyuman kerinduan penuh cinta dari Ratu Arenda tertuju pada wajah bercahaya Raja Azer. Menyambutnya dengan suka cita.
Tapi, seolah apatis dan entah raut mukanya bagaimana, entah tersenyum atau tidak, Raja Azer kembali melangkah untuk duduk.
Hingga bersama duduknya Raja Azer di singgasananya, seluruh hadirin terhormat pun duduk kembali. Begitu pula dengan sang ratu, dirinya duduk di samping kanan suaminya.
Duduk manis di singgasana, menikmati aura, aroma, hawa, hingga rasanya menjadi pusat penting sebuah bangsa besar, seakan-akan dunia telah dalam genggaman.
Hening dan suasana serius tak berlangsung lama.
Karena telah dengan lantang dan penuh percaya diri, Raja Azer pun berujar, “Aku hadir di tempat kehormatan dan kebanggaan ini karena ratuku ... aku rela menunda kunjunganku karena ratuku ... dan aku duduk di singgasanaku karena ... ratuku ....”
Kata-kata itu terdengar berwibawa nan merdu di telinga Ratu Arenda, dirinya bahkan hanya mampu tersenyum simpul tanpa masalah.
Ratu Arenda hanya mengetahui pertemuan ini adalah agenda biasa sebagaimana menjalin keakraban. Memang dirinya sudah tahu kalau ada agenda kunjungan yang ditunda suaminya, tetapi tak pernah tahu, bahwa itu karena dirinya dan bukan ingin menjalin keakraban.
“Jadi ... ratuku ... Ratu Arenda ... apakah benar, engkau berselingkuh di belakangku?” tanya Raja Azer langsung pada inti, tanpa basa-basi, dengan suaranya yang dalam dan cukup keras, namun tanpa menatap istrinya.
Maka jelas, terperangah Ratu Arenda, terkejut seluruh hadirin hingga memasang wajah serius. Namun tak ada yang berani bicara.
Seakan ditampar oleh kenyataan, kalau faktanya Raja Azer mengetahui kesibukan Ratu Arenda dibalik agenda formalnya; tahu adanya perjumpaan dengan lelaki lain.
Ratu Arenda bahkan terpegun sesaat di sana, menoleh pada suaminya dengan tak menyangka.
Ketakutan serta kecemasan mulai merebak memacu Ratu Arenda untuk sedikit mencondongkan tubuhnya pada Raja Azer dan berbisik, ”Kenapa mesti dibicarakan di sini?“
”Kenapa mesti dibicarakan di sini?“ ulang Raja Azer dengan keras, seakan meledek dan hadirin terhormat mesti tahu.
”Kita adalah contoh bagi masyarakat ... kita bicarakan di sini agar seluruh makhluk-makhluk berkuping dua di luaran sana tahu! Tahu kalau tak ada perselingkuhan dan hanya ada kesalahpahaman!“ papar Raja Azer dengan lantang nan mantap, tetap memandang lurus ke depan.
Ratu Arenda sengap, situasi dan suasana mulai nampak canggung dan tegang. Karena memang ada kesalahpahaman dan mungkin ada gosip kalau Ratu Arenda selingkuh.
Entah bagaimana Raja Azer tahu, tetapi yang pasti, ini akan menjadi masalah besar bila tak ditanggulangi.
Maka dalam rasa panik yang mulai merebak, atas perintah Raja Azer, dipanggillah seorang pribadi penting ke sini.
Didatangkanlah seorang lelaki anggota serikat penyihir. Lelaki yang tak asing lagi, yang hanya sanggup bicara lewat tenggiling transparannya.
Berbuntang netra Ratu Arenda di sana, memandang sahabatnya sendiri telah berdiri di depan singgasananya dalam jarak 10 meteran.
Apan berdiri dengan raut muka serius, berdiri tegap dengan bebas. Ratu Arenda sudah ketahuan sebelum memberi tahu.
Bukan itu saja, hal yang paling mengejutkannya adalah kala Ratu Arenda terburu-buru melangkah menghampiri Apan dan memegang dua bahunya dengan cemas.
”Kau tidak apa-apa?“
Apan tersenyum dengan menatap teduh Ratu Arenda dan tanpa kata hanya mengangguk mengiyakan. Dirinya baik-baik saja.
Terkejut seluruh pribadi menyaksikannya, tercetus asumsi kebenaran kalau Ratu Arenda selingkuh dengan seorang penyihir.
Lebih dari itu, Raja Azer yang gagah mendadak bangkit dari duduk, berdiri dengan tegap nan mantap. Realita yang tampil di hadapannya memacunya untuk menggali lagi informasi. Bahkan ke dua kaki kokohnya bergerak maju melangkah mendekati istrinya.
Dalam jarak 5 meteran itulah Raja Azer memandang Apan dalam keseriusan penuh, hingga berani bicara, ”Ahh ... penyihir ... sedari dulu ... aku tak suka penyihir ....“
Entah sindiran pada Apan atau hanya sebatas unek-uneknya saja. Namun itu membuat Apan memandang Raja Azer begitu intens.
Raja Azer hanya tak suka adanya konspirasi demi keuntungan individualistis dan dengan penuh penyelidikan, dirinya mencetuskan kalimat perintah. ”Jelaskan padaku ... pada seluruh hadirin ... status kedekatan kalian.“
Ratu Arenda menghadapkan tubuhnya pada sang suami, dengan keberanian dan memupuk nyali, barulah berani bicara, ”Dia Apan ... sahabat masa kecilku, kami hanya sebatas sahabat dan tak lebih dari itu ....“
”Ceritakan lebih mendetil, dari awal hingga nimbrung di bidang istana ini!“ tegas Raja Azer dengan memalingkan wajah bercahayanya dan malah menatap jauh ke depan.
Tanpa sungkan, tanpa malu dan tanpa ragu, berceritalah Ratu Arenda mengenai awal pertemuannya dengan Apan.
Bermula dari cerita Apan yang menanam bunga selalu layu, kemudian saling bertemu dan tertawa bersama, lalu adanya hari-hari pertemuan yang mengikat membentuk keakraban, tentang pertemanan yang dijalani, hingga impian-impian indah yang perlahan dirakit, perihal ambisi keluarga yang mesti membuat mereka berpisah, juga cerita dalam perjuangan demi impian keluarga, kisah tentang beban berat yang mesti mengalihkan impian pribadi demi ambisi keluarga.
Hingga cerita berakhir oleh pertemuan mereka kembali yang mengharukan.
Setiap itulah Ratu Arenda mulai bercerita perihal banyaknya momen-momen pertemuan dengan sahabatnya hanya untuk bersenang-senang dan ditutup apik oleh pertemuannya dengan Raja Azer di sini.
Tentunya, Ratu Arenda tak membicarakan istri siluman Apan. Terlalu berisiko dan telah berjanji.
Tetapi Ratu Arenda membicarakan alasannya mengenai dirinya yang menutup identitasnya dengan jubah, hanya agar tak ada yang mengganggunya. Dirinya juga menuturkan niatnya hendak memberi tahu Raja Azer mengenai Apan, namun belum terealisasi karena sang raja selalu sibuk.
Cerita yang jujur itu telah diungkapkan panjang lebar oleh Ratu Arenda dan didengar baik-baik oleh Raja Azer, lengkap dengan para hadirin terhormat yang ikut mendengarkan.