Nurvati

Nurvati
Episode 20: Demi Ampunan Sang Pengasih.



Siluman yang mulai kesakitan itu mencabut satu bambu dari perutnya, dalam raungan kesakitan dia berhasil mencabutnya, dan Falas yang terbaring terluka dengan darah emas yang membasahi sudut bibirnya, mengelapnya oleh punggung tangan kanannya, kedua sayapnya pun sebenarnya bercalar, namun demikian sekuat tenaga Falas berusaha bangkit, dalam lemah terluka dia ternyata tak sanggup bangkit. Batuk-batuk di sana, menanggung luka.


Sang siluman yang begitu kuat, mulai jalan terseok-seok, melangkah meninggalkan Falas, bahkan ketika kaki siluman menginjak sayap Falas, tangan kanan Falas berusaha untuk menghentikan langkahnya, digenggamnya kaki itu, namun sungguh disayangkan, itu semua gagal, gegara bambu yang digenggam sang siluman ditusukkan pada dada Falas, sampai-sampai teriakan kesakitan menyeruak dari mulut Falas menyingkap keheningan hutan, membuyarkan sepi dan menandaskan kekuatannya.


“AAAAAAARRRGGGGGHH ...!”


Tanpa rasa berdosa, kembalilah sang siluman macan melangkah, meski terseok berjuang mendekati Nurvati.


Dan Nurvati yang melihat lamat-lamat siluman macan datang mendekat, hanya sanggup terdiam mendeprok dengan pasrah tak berdaya. Dia tak yakin harus berbuat apa, hidup terasa jauh lebih berat dan kematian terasa seperti obat. Tetapi janji pada Falas membuatnya kelesah, dia harus bertahan demi waktu agar menikmati sisa hidupnya, kendati dalam validitas saat ini, keputusasaan kembali mengendalikan diri. Usaha kaburnya percuma belaka, dan Falas masih terlihat bagai pendusta. Maka diam mengorbankan diri demi maut itulah siasat brilian baginya.


Sang siluman menahan deritanya memakan waktu kala melangkah semakin dekat, perutnya sudah mulai mengeras menjadi ungu, netra gelapnya semakin gelap saat langit mulai hitam, ratusan gemintang menjadi penerang di sini, dia terseok-seok berjalan. Sementara Falas yang lesa lenyai, memaksakan tubuhnya untuk bangkit meski terluka, meski bambu ungu masih tertancap di dadanya, perlahan dalam kepastian, Falas bangkit dari berbaring.


Udara di sekitar mulai mendingin, angin mengalun lembut, gemerisik dedaunan bambu saru terdengar. Mungkin takdir telah mewariskan pertemuan ini, atau mungkin nasib buruk memang harus ditanggung. Nurvati yang menatap sang siluman, memasang raut muka datar dalam kehampaan, semakin lama semakin padam semangat hidup. Darah ungu kehitaman terus menetes dari mulut sang siluman macan, masih samar tujuannya dalam menghampiri Nurvati, membisu penuh rahasia tanpa isyarat kepastian.


Darah emas membasahi dada Falas, kakinya padahal lemas sampai melangkah terantuk-antuk, tetapi rasa empati tak padam dalam kelemahan ini, dia tak bisa membiarkan Nurvati terluka, mana mungkin dia harus membiarkan temannya menanggung derita, sungguh tak etis.


Masa bodoh adalah sikap yang kini Nurvati perbuat, dan putus asa menyertai sikapnya, hingga saat kaki berbulu hitam sang siluman sukses mendekati Nurvati, kala dua meter menjadi sisa jarak di antara mereka, gigi-gigi taring sang siluman macan menampakkannya pada Nurvati, bergigit dengan tetesan darah ungu kehitaman yang cukup banyak untuk ditumpahkan.


“JANGAN GANGGU DIA SILUMAN NAJIS!” teriak Falas yang terantuk-antuk terus berusaha mempercepat langkahnya.


Cukup impresif apa yang dilakukan Falas demi Nurvati, meski demikian, tak sedikit pun Nurvati tergerak untuk menghindar, dan siluman lambat laun menjadi sangat dekat pada Nurvati. Tetapi telapak kaki sang siluman yang mengenai remukan bambu ungu telah bereaksi, kedua kaki sang siluman mulai membeku dan terasa lasa.


Kemudian, ketika satu meter menjadi jarak antara Nurvati dengan sang siluman, tangan kanan sang siluman menjulur sembari membungkuk ke depan, mencecik Nurvati. Dan bersama Nurvati yang dicekik, dengan mengangkat tubuhnya ke atas, Nurvati bergigit kesakitan, memegang pergelangan tangan sang siluman, agak meronta-ronta karena beban kesakitan.


Netra gelap sang siluman semakin bulat berbinar, senang mendapatkan yang sedari tadi dituju, ia malah semakin mengeraskan cekikannya pada Nurvati, membuat Nurvati kesulitan bernapas, membuat seluruh darah terasa berhenti mengalir, kepalanya pun terasa membeku, kakinya menendang-nendang angin di atas tanah setinggi setengah meter, ajal benar-benar di depan irisnya.


Beberapa saat berlalu, tiba-tiba saja cekikan sang siluman mengendur, kemudian cekikan itu melepaskan Nurvati hingga mendarat di tanah, dengan keadaan membungkuk terbatuk-batuk, Nurvati berusaha kembali menghirup udara sebisa mungkin. Di sisi lain, tak disangka, Falas menusukkan sebuah bambu ungu ke punggung siluman, sontak sang siluman meraung kesakitan, tak butuh waktu lama, ia jatuh berlutut dengan dua lutut dan seketika seluruh kulitnya memancarkan warna keunguan yang terang benderang, kesakitan di sana dengan lambat laun mulai lasa.


Falas telah berdiri di belakang sang siluman dengan bambu ungu yang masih betah menancap di dadanya, raut muka lelah nan serius terlukis di sana. Sedangkan Nurvati berdiri agak membungkuk memandang nanar netra sang siluman, gigi bergigit, darah ungu kehitaman itulah yang paling impresif dalam refleksi netra hijau Nurvati.


“Kenapa kau menyerangku?” tanya Nurvati yang penasaran dan tak mau pergi menanggung penasaran.


Ucapan siluman yang terdengar serak itu masih terkesan taksa, membuat kening Nurvati mengernyit kebingungan. Namun seluruh tubuh sang siluman mulai membeku nampak layaknya patung.


“Jelaskan!” desak Nurvati dengan membentak marah.


“Aku terjebak di sini dan tak dapat bebas, hingga petunjuk tentang seorang gadis yang akan membebaskanku membuatku senang menunggu, tujuanku datang kemari adalah agar jiwaku bereinkarnasi kembali, aku perlu ...,” ucapan sang siluman tersendat berkat reaksi bambu yang mulai menjalar menuju kepalanya.


“... membawa gadis yang menyelamatkanku dari hutan ini, bila gadis itu bisa kubawa menuju alam Siluman, aku akan terlahir kembali menjadi jin untuk menebus kesalahanku semasa hidup, sebaliknya, bila aku tewas oleh gadis itu, aku akan dilahirkan kembali menjadi manusia, lalu memperbaiki kesalahanku,” lanjut sang siluman dengan suara seraknya.


“Nah ... sekarang bagaimana? Aku tidak membunuhmu dan kau tak juga membunuhku?” usut Nurvati dengan serius.


“I-itu berarti ... aku ... akan mati di sini dan menjadi siluman selamanya,” tutur siluman macan dengan tubuh yang telah membeku, kaki, tangan hingga sayap telah membeku, dan menyisakan kepalanya yang mulai membeku.


Kalimat yang terdengar menyedihkan itu membuat Nurvati tertunduk dalam kontemplasi, sedangkan Falas hanya sengap menahan sakit di dada dengan berjuang mengatur napas serta energinya.


“Siapa yang memberimu petunjuk seperti itu?” selidik Nurvati.


“GAH! AAAARGH ....”


Sayangnya hanya suara kesakitan yang menutup pembicaraan itu, reaksi alami dari bambu ungu telah membekukan kepala sang siluman, sang siluman telah tewas, membeku seperti patung, hingga tiga detik berlalu, bersama cerita sang siluman yang belum usai, tubuh sang siluman pun seketika hancur menjadi debu, lalu angin tertiup membawa debu itu untuk lenyap dalam kenyataan, meninggalkan kesan menyakitkan, menanggung suasana yang serentak sepi, bagaikan tak pernah ada sang siluman di sana. Pada akhirnya pertarungan telah usai saat malam telah menjemput waktu.


Falas yang masih tertancap bambu di dada, terpaksa harus dipapah Nurvati agar sanggup berjalan. Mereka melangkah menuju keluar hutan. Berniat pulang.


“Aneh ya ... siluman itu bicara saat sudah sekarat,” sindir Falas.


Mendengar kalimat yang terkesan berseloroh itu, hanya membuat wajah Nurvati tetap terlukis apatis, seraya membalas, “Ya ... karena dikeadaan seperti itu rasa sakit menuntut untuk dikasihani.”


Tak ada kata untuk menanggapi, hanya bibir Falas tersungging senyuman santai sebagai responsnya, lantas bergigit menahan sakit. Namun belum sempat berjalan jauh, Falas meminta agar kembali pada kolam bunga teratai, alasannya, karena Falas mampu mengobati dirinya bila ada air kolam bunga teratai. Nurvati yang awalnya enggan membawa Falas ke kolam itu, karena tak memercayainya, terpaksa menurutinya, sebab bagaimana pun Falas juga yang telah menyelamatkan Nurvati, ditambah sikap memelas Falas yang membuat Nurvati tergerak untuk menurut. Walau pun terjadi sedikit perdebatan, mereka kembali menuju kolam bunga teratai.