
Malam yang dingin dan mengandung mala mulai berlalu seiring detik yang terlintasi menuju jam ke jam.
Lebih-lebih informasi-informasi mengenai meledaknya gedung acara mulai dikumpulkan. Meski masih samar-samar info didapat, tetapi untuk saat ini, info sementara adalah sekte Masli adalah yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Pasalnya salah satu anggota mereka terduga pelaku pemboman. Alasannya hanya satu, yaitu menuntut adanya penghentian perang dunia ke-18 dan merealisasikan perdamaian.
Suasana di bangsa Barat hari ini sebenarnya menjadi genting bahkan masuk dalam berita dunia.
Iya, hal wajar bila memang berita disampaikan pada seluruh bangsa, mengingat para korban adalah orang-orang terkemuka di bangsa Barat, lebih dari itu, mayoritas korban telah terkonfirmasi bahwasanya mereka adalah anggota parlemen dan para pejabat.
Ini masalah rumit, meski memang tidak sampai pada kondisi darurat nasional, namun masyarakat heboh oleh kejadian mengerikan tersebut dan menjadi perbincangan panas bagi sebagian lini masyarakat.
Topikalitasnya adalah mengapa pada acara besar nan formal seperti itu masih dapat disusupi oleh pelaku kriminal, yang memicu masyarakat budiman berani berasumsi kalau penyerangan pada pejabat pemerintahan itu memang berkat adanya orang dalam, atau pengkhianat.
Untuk itulah semua pribadi yang sempat menghadiri acara tersebut mulai diwawancarai, termasuk Putri Kerisia.
Meninggalkan situasi genting itu.
Semestinya, benar, semestinya Nurvati kini menghapus ilmu Himah-nya, tetapi justru pada waktu siang nan cerah tak berawan ini, dirinya malah bersenang-senang di taman hiburan pusat kota.
Baginya penat juga memikirkan hidup nan konyol ini, apalagi harus memikirkan bangsa bermasalah ini. Menjadikannya bersama sang angsa putih menikmati waktu untuk realitas bergembira.
Dia menonton konser musik harpa bersama para penonton yang sama-sama ingin dihibur, penyanyi yang tampan hingga penyanyi nan jelita bersenandung melantunkan nyanyian harmonisnya. Dan perlu disadari, ketika semua pribadi hadir dengan pasangan hidupnya sambil bersentuhan sayap, hanya Nurvati seorang yang menonton tanpa pasangan, iya, kecuali dengan angsa putih yang berdiri kaku dan bicara 'ngok ngok'.
Setelah merenggut banyak waktu untuk menikmati konser musik, Nurvati bersama angsa putih menyudahi kegiatan pertama itu, dia beralih pada objek kegembiraan lain. Kali ini di stadion pertandingan gulat para robot, ribuan para pribadi yang haus akan hiburan dan permainan telah memadati setiap kursi, pertarungan para robot yang sengit pun menggugah para penonton untuk berteriak-teriak ingin kemenangan, pun diselingi senandung yel-yel dari para suporter.
Namun sekali lagi Nurvati beralih tempat, penghiburannya belum sampai meningkatkan rasa suka gembiranya.
Oleh sebab itu, seluruh tempat dan permainan pada taman hiburan ini mulai dikunjungi satu persatu, mulai dari hiburan sirkus dan lain-lain, sampai permainan meletuskan balon-balon dengan kekuatan energi, seluruh objek-objek hiburan itu telah pula dinikmati Nurvati.
Tentu saja semuanya membutuhkan alat tukar, yaitu uang, Nurvati atau beberapa ras lain memiliki alat tukar pembayaran yang disebut 'Plasma'. Dan faktanya, untuk dapat memiliki uang Plasma, para pribadi wajib mengubah darah mereka dengan energi menjadi unsur materi yang dapat digenggam seperti koin pada alam Manusia.
Dan tentulah semakin banyak uang Plasma yang dimiliki, maka semakin banyak darah yang digunakan. Lebih dari itu, uang Plasma hanya dapat digunakan untuk menikmati taman hiburan, membeli beberapa pil khusus, ilmu, serta peta tempat petualangan baru, ada pun kepentingan lain, itu tergantung peraturan bangsa yang bersangkutan.
Syukur bagi Nurvati, regenerasi tubuhnya yang cepat berkat ilmu Hikmah-nya membuatnya sanggup memanifestasikan banyak uang Plasma sepuasnya.
Sampai-sampai beberapa hari ditemani angsa putih yang entah maunya apa, terus mengintil Nurvati berada di taman hiburan hanya demi menikmati setiap kegembiraan dari objek yang tersedia.
Inilah siang hari yang cerah, di mana masyarakat dalam perang dunia ke 18 ini terlihat sanggup bernapas lega dan menyuguhkan tawa senyuman dari senangnya hati, dan kala Nurvati tengah terbang bersama angsa putih, tak sengaja namun secara kebetulan yang ditakdirkan, pandangannya mendapati Marn tengah bersenang-senang dengan seorang wanita berambut biru panjang.
Lelaki 'buaya darat' itu tengah tertawa bersama wanitanya, menikmati permainan 'Menjatuhkan Boneka-Boneka' menggunakan kekuatan energi.
Umpatan sempat bergaung hingga kibasan-kibasan dari ke dua tangan wanita berambut biru itu membuat Nurvati mesti beberapa kali terbang menghindar, dan tepat kala Nurvati dalam wujud merpati mendarat lagi di atas kepala wanita berambut biru itu, bobot tubuh dirinya dilepaskan, membiarkan seolah-olah dirinya benar-benar berdiri di atas kepala wanita berambut biru itu.
Sontak seketika membuat wanita berambut biru itu tersungkur jatuh tak kuasa menahan bobot tubuh Nurvati. Jelas kepanikan melanda Marn yang seketika membantu wanita itu.
Sedangkan Nurvati selang tiga detik, ia kembali pada wujud aslinya, dan sekonyong-konyongnya malah mengaku-ngaku sebagai kekasih Marn.
“Heh ... aku kekasih Marn! !?” canda Nurvati dengan menepuk-nepuk pundak kanan Marn sebagai penguat argumentasinya.
Suatu candaan berbahaya itu mendadak direspons wanita berambut biru oleh sikap kemurkaan, wanita ini begitu mudah percaya. Lebih-lebih sebuah penjelasan kejujuran yang diimplementasikan Marn dianggap sebagai bualan belaka.
“Oh ... jadi benar, kau suka main perempuan!?” sergah wanita itu.
“Eh ... bu-bukan begitu ... wanita jalanan ini ... maksudku Nurvati ...,” bela Marn dengan celingak-celinguk memandang Nurvati dan wanita berambut biru dalam kepanikan.
”Ahk! Memalukan!“ sentak wanita berambut biru. Kemudian dalam rasa berangnya dia mendadak terbang meninggalkan Marn dan termakan candaan Nurvati dalam keseriusan. Atau mungkin dirinya sangat percaya gegara gosip dari luar bila Marn memang hobi mempermainkan perempuan.
Akan hal itulah, Marn hanya dapat memanggil-manggil wanitanya dalam kepasrahan serta kesia-siaan, sebab harapan agar wanitanya kembali lagi ke sisinya pupus dikarenakan wanitanya benar-benar pergi dan sudah apatis.
Dan untuk itulah Nurvati serta burung angsanya berdiri dengan kalem, sampai-sampai Nurvati nyeletuk. ”Sudah jangan bersedih, anggap saja dia tidak berjodoh ....“
”Ini sangat tidak lucu, Nurvati,“ ketus Marn dengan bersedekap menyilang tangan dan memandang tajam pada wajah bercahaya Nurvati.
Namun nyatanya itu berbanding terbalik dari ekspektasi Marn, disebabkan justru sekonyong-konyongnya Nurvati malah tergelak tawa, ”Hahahaha ....“
”... ini memang tidak mencari kelucuan, aku hanya ingin mencari kesenangan dalam keisengan saja ....“
”Itu artinya ... kau harus bertanggung jawab atas kesendirianku ... aku akan ikut bersamamu,“ tuntut Marn karena kurang terima.
Dan dengan berat hati tanpa beban, Nurvati terbang sambil berkata, ”Lain kali saja, aku sedang sibuk ... maaf ya, lelaki nyeleneh ....“
Maka terbanglah Nurvati bersama angsa putih yang selalu berada di sampingnya, menolak tuntutan Marn.
Sadar kalau ditinggalkan, Marn justru malah terdiam pasrah tak mengejar kepergian Nurvati. Bukannya apa-apa, pasalnya ada hal penting lainnya yang sebenarnya lebih baik dilakukan ketimbang mengikuti Nurvati sekarang, membuat tuntutannya tadi menjadi gertakan semata. Dirinya malah memandangi kepergian Nurvati dalam raut muka renungan.
Lebih-lebih dalam pikirannya yang berkelumit, yang memang jiwa 'buaya daratnya' masih merekah, dia malah bergumam dalam bertekad, ”Wanita jalanan itu ... aku memang mesti mendapatkannya ....“
Maka pada akhirnya, hanya sebatas di sanalah Nurvati bersenang-senang, dirinya dan sang angsa putih kini terbang menuju Pohon Salju kebanggaannya. Karena dari detik ini juga, ilmu Hikmah-nya akan dihilangkan.