
Waktu kini berlalu seiring ketegangan yang terbentuk, membuat emosi selaras pada angan-angan impian, kalau semua yang terjadi adalah demi pengabdian.
Suara-suara syahdu orang-orang terkasih yang membuai dalam kenangan sama-sama seperti membentuk motivasi ekstrinsik, suara tawa mau pun suara tangis, baik untuk Dewi Karunia, pun untuk Zui.
Kenyataan masih dihiasi oleh tontonan tembakan-tembakan bola energi dari dua wanita itu.
Hingga emosi yang membuncah membuat Dewi Karunia melesat pada Zui, cukup cepat hingga entah bagaimana 'Bruak' Dewi Karunia yang malah jatuh ke tanah tepat di samping kiri Zui.
'Wush' Zui langsung menancapkan trisula emas pada sayap kanan Dewi Karunia, cukup cepat sampai Dewi Karunia tak menyangka kalau sayap kirinya pun telah tertancap dua trisula, 'Sheerp'. Lebih-lebih Dewi Karunia masih tak mengira kalau pada sayap kanannya telah ditancap tiga trisula sekaligus.
Belum selesai, saat Dewi Karunia hendak bangkit berdiri dengan cepat, yang memang mestinya dia bisa langsung bangkit karena kecepatan yang dimilikinya, nyatanya itu tak terealisasi.
'Jleb' telah ditancap secara tak terduga perut Dewi Karunia dengan dua trisula emas, tanpa darah memang, tapi lehernya seperti diinjak.
Sangat aneh setiap kali hendak bangkit berdiri, Dewi Karunia selalu merasa ada saja yang menendangnya dan menginjak lehernya secara kasar dan cukup berat, sampai-sampai ke dua tangannya menebas-nebas, meronta-ronta, meninju-ninju ke depan pada angin yang dirinya yakini kalau ada makhluk lain yang membantu Zui, meski nyatanya tak ada apa pun yang terjadi.
Zui pun masih betah terdiam dengan memejamkan mata, belum ada pergerakan berarti darinya, hanya saja, dia selalu siap dengan pergerakan lawan.
Dewi Karunia yang enggan menanggung kalah, berontak sekuat tenaga.
“Aku tidak akan kalah ...!” sentak Dewi Karunia menguatkan tekadnya.
Maka energi nuansa merah dan hitam mulai menjalar di tubuhnya, meliputi seluruh anggota tubuhnya, berusaha mengoptimalkan seluruh kekuatan yang ada.
Lalu 'Boom' Dewi Karunia berhasil terbang ke atas, terbebas dari ketidakberdayaannya dan terbang di ketinggian 150 meter dari tanah.
Kali ini ke dua sayapnya dibentangkan lebih lebar lagi, luka di perut serta di sayapnya sama sekali tak berdampak parah. Dirinya akan melakukan lagi serangan sinar kelabu.
Sinar-sinar pun menyorot dari ke dua sayapnya menuju ke depan wajahnya, berkumpul di sana dan mulai memadat.
Kendati telah begitu yakin Dewi Karunia akan menghancurkan Zui, perhatiannya justru teralihkan oleh sebuah benda aneh yang terasa menempel di sayap kanannya. Terkejutlah Dewi Karunia yang melihat 2 bom menempel ngeri di sayapnya, entah bagaimana bisa di sana dan entah sejak kapan ada di sana.
Maka 'DHUUUAAAAAARRRSH'.
Meledak begitu dahsyat bom yang menempel di sayap kanannya. Membentuk api dan asap yang mengisi ruang di ketinggian 150 meter itu, membentuk gelombang angin, membuat udara memanas, membentuk radiasi panas, hingga dedaunan pohon terbakar sampai hangus, sampai-sampai gelombang angin ledakan itu bertiup pada kelima anak, tapi hanya sebatas itu, tak ada yang terkena dampak mematikan, hanya saja cukup mampu membuat mata berbuntang kaget bila ada orang yang tak sengaja lewat.
Dan sambil berlari menuju jatuhnnya Dewi Karunia, tangan kanan Zui membentuk sebuah trisula emas dan terus berlari masuk ke dalam hutan Kematian.
'SSZZH' dari asap ledakan di atas itulah, Dewi Karunia meluncur jatuh menuju hutan Kematian, menanggung luka parah, sayap kanannya hancur serta tubuhnya nampak hangus terbakar.
Hingga 'Bruak' sang Dewi Karunia kini telah terkapar sekarat tepat di akar pohon yang diselimuti kegelapan hutan.
Sayap kirinya pun telah patah, tubuhnya lemas, lesa tak berdaya, namun cukup hebat bila disadari kalau Dewi Karunia masih hidup. Tentulah kalau bukan karena ilmu Ayat Kehidupannya dia pasti telah tewas.
Sesaat ketika Dewi Karunia mencoba merasakan keutuhan tubuhnya, mencoba merasakan apakah masih ada tangan indahnya, dia terpaksa menanggung lagi musibah.
'DHUUUUUAAAAAAARRRRSSSSZH'.
Ledakan dahsyat kembali lagi terjadi, menghancurkan lingkungan sekitar, menumbangkan tiga pohon besar, membakar akar pohon, membakar batang pohon, membuat udara sekitar panas, membentuk gelombang angin yang bertiup kencang ke sekitar.
Bom rupanya tak hanya ditempelkan pada sayap kanan Dewi Karunia saja, melainkan sayap kirinya pun telah dilekatkan 2 bom dan itu tak diketahui oleh Dewi Karunia sendiri.
'SSSZHHH' kepul asap cukup pekat melingkupi lingkungan sekitar ledakan, cukup panas dan kelabu.
Satu menit selepas itu, kepul asap barulah sirna, membiarkan sinar baskara menelusup pada bagian hutan bekas ledakan itu, debu-debu nampak kentara saat tersorot cahaya namun setidaknya kegelapan sedikitnya pudar.
Sangat disayangkan ketika seluruh pandangan mulai jelas, kalau nyatanya, wujud Dewi Karunia telah kembali kebentuk semula, tak ada sayap, tak ada buntut, hanya seorang wanita berjubah yang terbaring lemah, menanggung luka dalam cukup parah. Kini dia terkapar di atas tanah, terbaring di antara akar pohon serta dahan pohon, memandang langit yang mulai berubah, hari perlahan mulai sore.
Sedetik selepasnya 'Drap' 'Drap' ke dua kaki Zui telah berpijak di tanah itu, dia telah berada di samping kanan sang Dewi Karunia, tetap terpejam dengan tangan kanan yang menggenggam trisula emasnya.
“Dewi Karunia ... maafkan aku ... kali ini, engaku harus kembali menerima kekalahanmu ...,” tutur Zui yang telah tahu asal usul sang Dewi.
Perlahan iris hitam Dewi Karunia mulai bergerak memandang sang pendekar Pemecah Waktu di sampingnya itu.
“Engkau salah ... karena sudah menikahi siluman dan salah membela siluman yang jahat ...,” imbuh Zui dengan tegas.
Hening mulai merebak pada suasana, Dewi Karunia yang mendengar itu terdiam sejenak, meresapi perkataan Zui baik-baik.
Mengingat kalau cinta pada suaminya tulus dan mengingat semua yang dilakukannya demi pengabdian, Dewi Karunia malah berujar, “Tidak ada yang salah saat kita membela cinta dan pengabdian, karena semua orang hidup dalam kepercayaan dan pola pikirnya masing-masing ... aku melakukan hal benar dan kau pun melakukan hal yang benar, karena kita akan salah kalau kita tak membela kepercayaan kita.”
“Kalau begitu ...,” kata Zui dengan mengangkat trisula emasnya yang diarahkan pada leher Dewi Karunia.
Melihat keadaan akan jadi kematian, Dewi Karunia bergigit berusaha untuk bangkit berdiri, dia tak mau mati; belum.
“Sialan, kenapa kejadian ini seperti pernah kualami? Berengsek kau pendekar Pemecah Waktu ...,” umpat Dewi Karunia yang sadar kalau Zui menggunakan ilmu Pemecah Waktu-nya, dan bersusah payah Dewi Karunia bangkit, meski nyatanya tidak bisa.
Maka 'Sleerp' 'Cleb' terjadi hal yang sangat tak terduga, trisula emas Zui telah menancap ngeri pada kening Dewi Karunia dan tongkat kujang dari Dewi Karunia yang sempat dicuri dari Nerta muncul di momen krusial, yang mana telah sukses menikam hingga menembus ke jantung Zui sang pendekar Pemecah Waktu. Dua wanita itu saling menikamkan senjata tajam diwaktu yang bersamaan.
Seketika itu juga, Dewi Karunia telah tewas di tempat dengan tertusuk trisula emas. Sedangkan 'Bruk' Zui jatuh di samping Dewi Karunia dalam sekaratnya. Membiarkan sisa sinar baskara menyorotnya untuk yang terakhir kali, memberikan kesan kalau semua sudah berakhir, atau setidaknya menikmati sisa waktu di hari terakhir ini.
Inilah yang tak dapat dihindari sang pendekar Pemecah Waktu, yaitu kematiannya sendiri. Dan benar, kini di sana, secara perlahan tanpa keluhan, tanpa ketakutan, walau terasa sakit, Zui tersenyum tenang melihat kematiannya sendiri.
Perlahan udara disekitarnya berubah, dingin, sunyi, senyap dan membiarkan napas tertarik dari perut menuju ubun-ubunnya, nyawa telah terputus, napas meninggalkan ubun-ubun, lantas beberapa detik berselang, Zui sang pendekar Pemecah Waktu tewas di tempat.
Dua wanita yang sama-sama melakukan perjalanan hidupnya demi cinta dan pengabdian, segala kenangan dari keluarganya yang menjadi motivasi kehidupan, di sini, di hutan Kematian mereka berdua telah tewas dalam kepercayaan serta perbuatan mereka sendiri.