
Ras Peri masih melancarkan pasukan-pasukannya untuk gencar menaklukan ras Maan, kematian pada pasukan di kedua belah pihak tak menghentikan hasrat untuk mengalah demi perdamian, kebenaran dan hanya kebenaran yang kedua kubu bela, —merasa membela kebenaran— tetapi fakta di lapangan, masih belum ada wahyu dari ras Malaikat untuk mengizinkan pembelaan kebenaran lewat perang, bahkan sebagian masyarakat tetap ada yang merengek ingin perdamaian.
Ras Barqo jin yang tercipta dari petir pun tak diam begitu saja, mereka menikmati setiap siklus perang dalam harapan pembelaan kebenaran.
Hingga akhirnya, seluruh ras jin bergabung dalam perang, dan sejarah pun kembali tercatat, pada periode ini, perang dunia kedelapan belas terjadi.
Satu hal penting, setelah adanya ras Manusia, kalender di alam ras jin dibuat mirip seperti di alam Manusia, hanya penyebutan bulannya saja yang berbeda, dan tahunnya pun berbeda.
Perang di zaman ini adalah perang yang berbeda dari perang dunia sebelumnya, perang dunia pertama adalah perang antar jin dan Dewa-Dewi, perang dunia kedua adalah lanjutan perang dunia pertama. Perang dunia ketiga hingga ke lima antara jin dengan jin, pecah karena adanya perebutan wilayah yang memang dulu seluruh ras jin hidup bersama, tanpa terpisah antar alam. Perang dunia ke enam dan ke tujuh antara jin dan jin yang dikarenakan ras Peri yang tiga kali berturut-turut menjadi pemimpin seluruh ras. Perang dunia ke 8 serta ke 9 antara jin dengan jin yang terjadi karena ras Peri malah diangkat sebagai wakil Malaikat. Perang dunia ke 10 antara jin dengan jin, terjadi dikarenakan tiga ras jin yang saling bersekutu hendak menghancurkan langit, dan di sinilah tiga ras jin itu punah, padahal dari merekalah sihir pertama kali tercipta. Perang dunia ke 11 terjadi antara jin, malaikat serta jin klan Banal Jan, dan klan tersebut pun musnah. Perang dunia ke 12 antara jin dengan jin yang dikarenakan menentang adanya alam semesta yang dipisahkan sesuai ras jin masing-masing. Perang dunia ke 13 antara jin dengan malaikat dikarenakan ketua ras Peri Razael didemosi dari gelar ketua Malaikat menjadi Iblis yang terlaknat, perpecahan pun terbentuk, dan alam semesta kembali didaur ulang. Perang dunia ke 14, perang dunia ke 15 dan perang dunia ke 16 antara jin, para Dewa, Iblis dan Malaikat terjadi dikarenakan ras Barqo dijadikan pemimpin seluruh ras jin, yang pada dasarnya hanya ras Peri yang layak dijadikan pemimpin, bahkan ras Barqo tiga kali berturut-turut menjadi pemimpin antar ras, dan di perang inilah, banyaknya ras jin yang dibuang ke bumi manusia, ada yang berevolusi ada pula yang bermutasi.
Perlu digaris bawahi, bumi Manusia adalah tempat pembuangan, oleh sebab itu manusia diutus demi memakmurkan bumi, membuktikan pada seluruh makhluk bahwa mereka layak dijadikan memimpin para Jin, Malaikat, Dewa dan seluruh makhluk, begitu pun dengan iblis. Dan itu pula yang sangat ditakuti Nurvati, takut kalau dirinya yang tak memiliki sayap malah dibuang ke bumi manusia, seperti para Peri yang sudah-sudah.
Dan untuk perang dunia ke 17 terjadi antara jin, malaikat, dewa, serta iblis dikarenakan ras Peri kembali dipilih menjadi pemimpin seluruh ras jin.
Dan akhirnya, di sinilah perang dunia ke 18, perang dunia yang menggunakan banyak ilmu, perang sihir, perang pikir serta perang tenaga, dari segala sektor kehidupan dinodai oleh alasan-alasan perang demi kebenaran. Para tokoh-tokoh terkemuka, terutama, para tokoh politik pun menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat ikut berkontribusi dalam perang, seluruhnya wajib memanfaatkan status sosial atau pekerjaan mereka demi membela kebenaran.
Sedangkan bagi kalangan masyarakat di seluruh ras dan alam semesta melantunkan do'a-do'a nan syahdu, menginginkan ras Malaikat berpihak pada ras mereka masing-masing, besar harapan mereka bahwasanya kebenaran yang mereka anut adalah yang sah untuk menang.
Seluruh kenyataan waktu yang berlalu, berputar dalam realitas pergantian waktu, melingkupi kesadaran melanjutkan kehidupan, hari yang beralih demi hari-hari penting selanjutnya, memicu kontraksi keinginan menjadi harapan untuk berkembang menjadi lebih maju.
Nurvati dan Falas kini selalu bersama dalam pelatihan kulminasi kejiwaan. Setahun setelah janji Falas dan Nurvati terlunasi, sejak setelah itulah, mereka pun mengembangkan diri memaksimalkan potensi tubuh spritual demi mencapai titik sublim.
Berdua, melakukan tirakat di kolam bunga teratai, tentunya, tak sembarangan mereka melakukan tirakat. Sebab sebelumnya, mereka telah meminta para Ketua Kehormatan dalam akademik 'Ke-Malaikat-an' untuk sekiranya memberikan ilmu pengetahuan, demi mencapai titik kulminasi rohani, atau setidaknya, cara mencapai gelar 'Malaikat'.
Perlu digaris bawahi, dalam alam Peri, sebuah akademi 'Ke-Malaikat-an' atau lembaga pendidikan Malaikat telah dibuat, ini semua bertujuan demi menunjang bakat para Peri yang seluruhnya berkesempatan mengembangkan diri untuk menjadi 'Malaikat'. Bahkan di alam ras Barqo pun sama-sama memiliki akademi 'Ke-Dewa-an' yang fungsinya sama saja seperti akademi 'Ke-Malaikat-an'.
Pengetahuan tentang tuntunan tirakat yang tepat agar diri mampu berkulminasi kini tengah dijalani oleh mereka —Falas dan Nurvati— yang mana pada dasarnya, Falas memang memiliki impian menjadi sesosok Malaikat, sedangkan Nurvati lebih menginginkan agar memiliki kekuatan hebat seperti para Peri pada umumnya, bonusnya ingin selalu didekat Falas. Tirakat pun dilakukan. Tak memedulikan perang dan tak memedulikan putaran dunia. Ini demi pencapaian rohaniah tertinggi.
Membiarkan diri tenggelam dalam kenyataan waktu yang merenggut hari menjadi berminggu-minggu dan bulan demi bulan beralih menjadi tahun demi tahun, hingga angin pun terus berembus, perang berkelanjutan, malam dan siang bergantian, musim berubah-ubah secara alami.
Maka, tibalah waktu menunjukkan 9.000 tahun bertirakat, benar, telah lama mereka —Nurvati serta Falas— berjuang mencapai kulminasi kejiwaan. Sehingga jelas, tubuh mereka telah tumbuh menjadi tubuh dewasa, Falas memiliki tinggi 2 meter, badannya tegap tak tergerus masa, rambutnya tetap hijau muda pendek nan klimis, dan masih mengenakan jubah nuansa putih yang tetap elegan ditubuh tegapnya. Sedangkan Nurvati memiliki tinggi 1,9 meter, badannya senantan bercahaya, keanggunan wanitanya pun jauh lebih kentara, netra hijau seperti ularnya semakin terpancar cemerlang, dan rambut hitamnya semakin pekat berkilau.
Dan kini usia Falas 21.133 tahun, sementara Nurvati berusia 20.122 tahun. Dengan bersama angin yang berkesiuran di hutan bambu itu, pada akhirnya, kelopak mata mereka mulai terdedah secara perlahan, menghentikan ribuan lantunan do'a seketika, menyelesaikan tirakat mereka sekaligus, menutupnya dengan kesadaran pada kehidupan kini. Mereka telah mendedah netra mereka dengan sempurna dan menyadari siklus kehidupan mereka di saat ini.
”Nurvati, kamu mendapatkan apa?“ usut Falas dalam suara renyahnya nan kalem. Dan masih duduk bersila memunggungi Nurvati.
”Aku telah bermimpi, dan seekor burung Garuda telah menungguku di samping pohon salju tempat biasa aku berdiam diri,“ jawab Nurvati dengan santai nan yakin.
Lalu Nurvati balik bertanya, ”Bagaimana denganmu?“
Sebelum Falas menjawab, bibir tipisnya kembali ditarik membentuk senyuman tenang penuh makna, barulah menjawab, ”Haha ... aku pun mendapat petunjuk ... kalau di atas awan taman gelembung buatan ibuku, seekor burung Merak sudah menungguku.“
Mereka terdiam sejenak setelah itu. Bahkan Falas sempat menengadahkan wajahnya pada langit biru yang cerah. Hari ini, siang terik nan terang, udara pun agak hangat. Sudah lama dia tak menatap langit. Sedangkan Nurvati hanya sengap menikmati kucur air terjun dari lubang bambu, itu sangat nyaman di telinga.
Ketika entah sudah melewati berapa detik, barulah Falas bicara, ”Kalau begitu, ayo kita sempurnakan keilmuan kita.“
Kalimat ajakan itu dibalas Nurvati oleh anggukkan dan berujar, ”Ayo.“
Membuat mereka mulai bangkit dari duduk, lalu Falas melompat ke tepi kolam dan di susul oleh Nurvati.
”Baiklah ... aku akan mengantarmu lebih dulu,“ ungkap Falas dengan tersenyum santai pada Nurvati.
Tak menjawab, namun anggukkan Nurvati mengisyaratkan persetujuannya. Maka Nurvati dibopong oleh kedua tangan Falas, dan Falas pun terbang membawa Nurvati menuju destinasinya. Dan inilah titik akhir menuju penyempurnaan tirakat mereka.