
Di hari selanjutnya. Jauh di hutan Kematian, di antara gelapnya bayang-bayang pohon tinggi menjulang.
Nerta, Quin, Arista, Darko, Gorah serta Zui kini telah berada di dekat markas para siluman penculik, inilah tempat di mana banyak siluman berkumpul dan untuk sampai ke sini membutuhkan perjuangan yang menyusahkan badan, telah ratusan siluman yang mereka binasakan, telah ratusan ribu pil Energi yang mereka gunakan dan telah banyak halang rintang yang mereka lewati, bahkan kalau bukan karena bantuan Zui, kemungkinan besarnya adalah semua anak telah wafat.
Namun demikian, 100 tahun lebih yang dihadapi tak membuat surut impian mereka, tak juga padam ambisi mereka, masih sama optimisnya seperti yang dulu, bahkan jauh lebih optimis.
Para siluman telah banyak memenuhi sekitar pohon, mereka berdiri, berjaga-jaga penuh waspada.
Puluhan siluman dari berbagai wujud mendiami tempat ini dengan puluhan anak kecil yang tak sadarkan diri, anak-anak itu ditahan dalam kotak sel, yang setiap sel terdapat selusin anak kecil, mereka dijaga ketat oleh para siluman berwujud manusia setengah ular.
Dan yang paling besar tengah berkamuflase di pohon; siluman raksasa tenggiling.
Api besar yang berkobar di tengah-tengah markas ini menjadi penerang lingkungan.
“Mereka sangat banyak ... ini bisa menjadi perang ...,” keluh Quin dengan memandang dari balik rimbunnya dedaunan pohon.
Sedangkan seluruh anak lainnya serta Zui berada di dekat Quin, ada yang berdiri ada pula yang duduk di dahan pohon, mengawasi pergerakan para siluman. Dan tentunya sorot cahaya netra mereka telah padam agar tak berisiko.
Faktanya cahaya dari tubuh peri yang masuk ke dalam kegelapan hutan Kematian menjadi redup terhalang oleh kegelapan dari kutukan Dewa Maut; sama sekali kulit peri jadi tak benderang. Sehingga akan sangat gelap gulita bila para peri tak menggunakan sorot cahaya dari netra mereka.
“Kita butuh strategi ...,” celetuk Darko.
Zui termenung menimbang-nimbang langkah apa yang tepat.
“Bukankah kakak pendekar bisa menggunakan ilmu Waktu, kakak 'kan bisa mengulang semuanya kalau gagal ...,” saran Arista.
Semua anak mendengar itu sebagai ide bagus, hingga langsung memandang Zui.
“Tidak bisa begitu ... kalau kalian mati ... maka tak dapat diulang,” sanggah Zui dengan serius.
“Kenapa begitu ...?” heran Quin.
“Iya ... aneh?” timpal Arista.
“Sudah kubilang ... kalian salah dalam menginterpretasikanku ... waktu tidak dapat diulang ... dan kematian yang menimpa hidup individu akan berganti pada dimensi lain, sehingga itu termasuk perkara roh ... bukan lagi waktu ...,” papar Zui.
Tapi semua anak malah terdiam kebingungan.
“Aku tidak paham ...,” keluh Darko dengan mengernyit kening.
“Kakak harus mengajariku ... agar aku paham ...,” sela Arista memanfaatkan kebingungannya.
“Tidak ... tidak ...,” balas Zui dengan menggeleng kepala.
“Lalu apa yang harus kita lakukan ...?” tanya Gorah mulai jemu.
Seketika hening kembali mengisi suasana.
Beberapa siluman berwujud manusia setengah kuda nampak berlalu-lalang menjaga teritorialnya, tangan mereka membawa api sebagai penerang jalan, masih belum diketahui siapa pemimpin mereka, atau mungkin mereka tak punya pemimpin.
“Biar aku saja yang ke sana ... kalian tetap di sini,” ujar Zui yang berdiri di batang pohon menghadap Arista.
Serentak semua anak bangkit dari duduk langsung memandang serius pada Zui.
“Enak saja, kita datang ke sini bersama-sama, dan kita akan bertarung pun bersama-sama!" sergah Quin dengan tetap menjaga nada suaranya agar tak terdengar para siluman.
Dengan pandangan ke depan pada dedaunan pohon yang biru gelap, Zui menuturkan. ”Ini titik akhirnya ... kalau berhasil ... kita kembali ke kota dan kalian tetap menjadi pahlawan.“
Terdengar merdu di telinga anak-anak, mereka bahkan sempat termenung dengan kompak, namun demikian, setelah jarak dan rintangan yang mereka hadapi, lalu dititik akhir ini mereka hanya menunggu, entah mengapa, jika begitu semuanya terkesan bohong, karena bukan ini yang mereka harapkan.
”Kalau begitu caranya ... kami bukanlah pahlawan ...,“ kata Darko dengan menunduk merenung.
”Kalian tetap pahlawan ...,“ ucapan Zui dipotong.
”Bukan ...!“ sela Quin dengan tegas.
”Kalau seperti ini jadinya ...,“ kata Gorah menimpali yang ucapannya belum rampung.
”Ini artinya ... kami hanyalah pembantu!“ tandas Nerta dengan memandang serius pada Zui.
Bersamaan dengan itu, kesiur angin meniup kencang, gemerisik dedaunan mengiringi suasana membentuk irama tak beraturan, angin hangat menyapu segala dinginnya aura kematian, namun aroma pering tetap pekat dalam penciuman.
Zui sengap beberapa detik mendengar omelan bocah-bocah cilik ini yang sok kuat.
Masih lurus pandangan Zui pada dedaunan pohon, seraya berkata, ”Jika kalian ingin menjadi pahlawan sesuai imajinasi, maka selamanya kalian akan merasa kalian pembantu ... mulailah berfikir realitas ... setiap pahlawan adalah yang selalu membantu masyarakat ....“
”Iya ... itu sebabnya kami ingin ikut membantu kakak!“ balas Quin.
”Kalian memang gegabah ... tapi ...,“ sindir Zui yang tersendat, terlarut dalam renungan yang dalam.
Seiring waktu berputar, dalam diam semua anak, Zui pun kembali melanjutkan ucapannya. ”Kalian boleh ikut ... tetapi syaratnya ... kalian tidak boleh mati ....“
Sontak semua anak tercenung, lantas saling menoleh, menatap satu sama lain, seperti meminta segala keputusan.
”Hacim ... kalau salah satu dari kami mati ... kami akan mati semua ... jadi ... kakak bisa mengambil gelar pahlawan kota itu untuk kakak, dan to ...,“ perkataan Nerta terpotong.
”Tidak ... tidak begitu ...,“ sela Zui dengan menjeda ucapannya. Dan lantas pandangan dari dedaunan pohonnya beralih pada wajah Nerta, dengan keseriusan bicara, ”Kalian mati ... aku pun mati ... ingatlah ... kita satu tim ....“
Sebuah kalimat yang berhasil menyentak kejiwaan anak-anak polos itu, membuat kelopak mata mereka sedikit terbuka secara refleks, dan telah merasa nyata keakraban mereka.
”Tapi ....“ Ada keraguan dari Darko.
”Kalau kakak yang mati bagaimana?“ tanya Arista.
Secara tak terduga, bibir tipis Zui mengembangkan senyuman tenang penuh makna dan pandangannya langsung terfokus pada Arista, lantas berujar, ”Kalian harus melanjutkan impian kakak ....“
”Eh?“ heran seluruh anak-anak.
”'Kan kakak udah mustahil mimpinya tercapai ...,“ singgung Arista.
Masih tersenyum tenang Zui di sana dan masih memandang dengan teduh pada Arista, lalu berkata, ”Itu mimpi yang dulu ....“
”Loh ... jadi sekarang kakak punya cita-cita lagi, emangnya apa impian yang sekarang?“ usut Arista dengan ke dua alis terangkat.
”Sederhana ... kalian harus bisa menggapai impian kalian ... ya, itulah impian kakak,“ balas Zui dengan masih memandang teduh pada Arista dan tersenyum penuh makna.
Semua anak termangu dalam hening meresapi kalimat Zui, mencerna baik-baik agar menjadi arti yang bermanfaat.
Hingga empat detik berlalu, Darko pun mengungkapkan satu tanya, ”Tapi ... kenapa kalau kami mati kakak mati juga, sedangkan kalau kakak mati kami harus melanjutkan mimpi kakak?“
Bersama senyum bermakna dari wajah mulus Zui yang sirna, dan pandangan yang kembali pada dedaunan pohon dirinya berkata, ”Jawabannya akan kalian ketahui setelah dewasa nanti ....“
”Aduh ... lagi-lagi perkataan yang tidak kami mengerti,“ keluh Darko.
“Kalau kakak mati, siapa yang mau mengajariku?” cemas Arista.
“Kalau kau tetap hidup ... aku akan mengajarimu,” beber Zui dengan serius memandang Arista.
“WAAAAH ASYIK ... asyik yeah!” seru Arista dengan jingkrak-jingkrak kegirangan.
Kendati begitu bagus didengar telinga Arista, dirinya tak menyadari adanya rencana besar yang terselubung dari kesediaan Zui menjadi gurunya, dengan kata lain, Zui memiliki rencana tersendiri.
“Ssssst ...!” Seluruh anak meminta Arista diam untuk tak terlalu bising dan tak pernah tahu rencana besar sang pendekar Pemecah Waktu.
“Maaf-maaf ....”
Untungnya para siluman terlalu fokus pada anak-anak yang diculik, sehingga tak menyadari kalau di salah satu pohon terdapat orang-orang yang hendak menghancurkan kesenangan mereka.
“Bener ya Kak,” desak Arista.
“Tapi kau harus tetap hidup, begitu pula dengan kalian, raih mimpiku yang artinya meraih mimpi kalian,” tuntut Zui dengan memandang satu persatu ke lima anak dalam kesungguhan penuh.
Semua anak terdiam dalam raut muka serius. Berusaha mencerna maksud perkataan Zui.
“Tapi ... kalau kita satu tim ....” Masih dalam pertimbangan di sana Quin.
“Tidak apa-apa ... selama kalian hidup ... kakak pun akan selalu hidup bersama kalian ...,” tutur Zui berkias.
Kembali termenung dalam-dalam semua anak, merasa kalau kali ini situasi dan kehidupan akan mulai berubah. Kata-kata Zui mulai merasuk dalam pikiran yang membentuk konklusi, lantas meresap dalam hati yang membentuk keyakinan. Bahwasanya, Zui sang pendekar Pemecah Waktu telah bergabung bersama mereka, menitipkan impian memberikan arti hidup.
Atas dasar itulah semua anak mau tidak mau harus menerima keputusan Zui yang memang mampu dicerna sebagai manfaat.
“Ayolah teman-teman, jangan banyak bicara ... kita tak akan mati di sini, ayo ... sebelum anak-anak itu tinggal kenangan,” sela Gorah yang bersiap melaksanakan penyelamatan.