Nurvati

Nurvati
Episode 95: Dalam Penyelidikan Yang Menakut-Nakuti.



Semua anak nampak terdiam memandang wanita pendekar pemecah waktu tersebut, wanita ini melangkah ke depan anak-anak itu, sekaligus berdiri di samping jasad siluman gorila yang mulai memudar dalam realita. Kemungkinan besarnya siluman itu akan terlahir kembali menjadi siluman.


“Nah ... sekarang kakak mungkin bisa menunjukkan kemampuan khusus kakak pada kami,” kata Quin masih antusias nan penasaran.


“Kalau kalian tahu, siluman yang kalian kalahkan ... sudah mengejar kakak lebih dulu, tapi dia sempat menghilang dan siluman ini sudah sedikit merasakan kemampuan kakak ... jadi ... kalian mengalahkannya mudah,” ungkap wanita pendekar pemecah waktu dengan bertujuan agar tak perlu lagi membeberkan kemampuannya di hadapan bocah-bocah penasaran ini.


Seluruh anak kembali saling menatap, mengisyaratkan keterkejutan mereka.


“Dan ... dari mana kalian tahu ... kalau kakak adalah pendekar pemecah waktu?” selidik wanita pendekar pemecah waktu.


Seorang anak laki-laki berambut hitam panjang pun memandang serius padanya, sekaligus berujar, “Di pusat kota, ada sayembara ... di situlah cermin Pintar menunjukkan wajah orang-orang yang telah berhasil banyak menyelamatkan anak, atau menghabisi siluman, kami melihat profil kakak sebagai peringkat satu dalam sayembara saat ini ... dan lagi, kami sebelumnya memang sudah mencari tahu seluk beluk kakak selama ini ....”


“Hemmmm ... cukup membuatku interesan ...,” gumam sang wanita pendekar pemecah waktu dengan berkacak pinggang.


“... lantas, apa yang kalian tahu tentang kakak?” lanjutnya menyelidiki.


Sebelum menjawab, mereka kembali menoleh satu sama lain, seakan bertanya-tanya siapa yang mau bicara.


Arista anak perempuan berambut merah panjang bergelombang memandang dengan senyum lebar serta raut wajah cerianya, yang terpampang hanya untuk wanita pendekar pemecah waktu, lalu bicara, “Kakak adalah wanita yang berasal dari alam Manusia, ras Peri yang terbuang, lalu berguru pada seorang manusia sakti, ketika dewasa kakak menikah, lantas memiliki seorang anak perempuan ... hingga suatu hari gerombolan bandit merampas pil Tenaga yang kakak miliki, dan demi melindungi pil itu kakak terpaksa membiarkan suami serta anak kakak tewas terbunuh ... sehingga karena merasa bersalah, kakak memutuskan untuk menjadi pendekar melayani masyarakat demi membayar kesalahan itu.”


Sebuah cerita singkat yang terdengar cukup menyedihkan dan cukup kejam, setidaknya bagi sang wanita pendekar pemecah waktu. Dirinya bahkan tanpa tersenyum hanya mengangguk-anggukan kepala, namun tersirat rahasia besar yang tersembunyi.


“Jadi ... kalian menganggap aku seperti itu?” tanya wanita pendekar pemecah waktu memastikan.


“Iya ... kami mendengar dan juga membaca seperti itu,” jawab Quin tanpa terlihat ragu.


“Iya ... aku juga membacanya begitu,” sambung anak laki-laki berambut merah merasa pasti.


“Dari yang kudengar dari kalangan masyarakat juga begitu,” timpal anak laki-laki berambut hitam panjang.


“Hem ... benar sekali, seluruh orang di bangsa Barat pasti tahu kisah kakak, dari anak-anak sampai dewasa ...,” sahut Arista masih memegang persepsinya.


Bahkan Nerta pun ikut menyampaikan pendapatnya. “Aku juga percaya legenda itu.”


Selepasnya, angin bersiur kencang kembali menyebarkan eksistensi aroma pering yang menyengat. Kegelapan masih cukup menghalangi pandangan, tetapi kabut perlahan tersingkap dan suasana tengah hening dalam senyap. Mata semua orang masih menyorotkan cahaya agar mampu menembus kegelapan hutan.


Sengap, semua larut dalam hening dikelamnya hutan Kematian. Bahkan 5 detik mereka dihanyutkan dalam sunyi yang lalu diiringi suara burung.


Sang pendekar pemecah waktu nampak memindai ke lima anak di depannya, 5 detik kemudian berkata, “Kalian memang tidak mengenalku ....”


“... sekarang kalian ikut denganku ... kita akan kembali pada keluarga kalian,” imbuhnya dengan melangkah berpaling dengan berusaha membawa pulang semua anak.


Mendengarnya wanita pendekar pemecah waktu kembali berdiri menghadap ke lima anak tersebut, tetapi raut mukanya nampak acuh tak acuh.


“Kami sudah berkomitmen untuk ini, kami sudah mempersiapkan ini semua ... dan kami telah menjadikan ini sebagai cita-cita!” tegas Quin mempertahankan pemahamannya dan seluruh gestur tubuhnya menandaskan betapa seriusnya ia, yang harus diterima tanpa bantahan.


“Maaf Kak ... kami, sudah bertekad ... jadi nggak mau pulang kalau belum berhasil,” timpal Arista menguatkan argumen Quin.


Lantas semua anak serempak berwajah serius, menyiratkan penolakan atas ajakan pendekar pemecah waktu untuk pulang.


Sempat termangu sang wanita pendekar pemecah waktu, mendengarnya cukup kagum pada keberanian ke lima anak ini, akan tetapi itu juga memunculkan dakwaan kalau ke lima anak ini nekad dan gegabah.


Jelas sang pendekar Pemecah Waktu berujar, “Kalian akan mati konyol di sini ... aku tidak mungkin membiarkan bocah-bocah seperti kalian bermain di tempat ini 'kan ... bukankah sudah seharusnya orang dewasa sepertiku membawa kalian pada tempat bermain yang lebih aman?”


“Ahk ... itu omong kosong, lihat saja orang dewasa sekarang, bangsa Barat masih saja kewalahan menghadapi para siluman,” ketus Quin dengan satire dan tak mau pergi dari hutan Kematian.


”Iya ... karena bocah-bocah seperti kalian sulit diatur,“ balas wanita pendekar pemecah waktu dalam insinuasi.


”Nah ... sekarang ...,“ ucapannya terpotong.


”Tidak! Kami tidak mau ...!“ sentak Quin tak peduli lagi pada orang yang berdiri di depannya, bagaimana pun impian mereka lebih penting ketimbang mengikuti perintah pendekar itu.


”Kalian tidak takut kalau di antara kalian ada yang diculik oleh siluman?“ tanya wanita pendekar pemecah waktu, bertujuan membentuk ketakutan yang membuat para bocah mau pulang.


Sayangnya itu tak sedikit pun berpengaruh pada ke lima anak tersebut, impian serta tekad telah membentuk mereka untuk melumpuhkan rasa takut mereka sendiri.


”Kami tidak takut, jika satu teman kami diculik, maka kami semua akan menyelamatkannya, tak peduli siapa lawannya kami pasti akan bertarung demi menyelamatkan teman kami!“ kukuh Quin dengan lantang penuh percaya diri.


”Aku tidak takut sama sekali,“ timpal anak laki-laki berambut merah.


”Aku juga tidak takut, karena bagaimana pun aku percaya pada teman-temanku!“ sambung anak laki-laki berambut hitam panjang.


”Selama kami bersama dan saling percaya, tidak mungkin kami membiarkan teman kami diculik ... kalau satu mati, kami semua akan mati, ya ... kami sudah berjanji,“ papar Nerta dengan santai namun cukup tajam kalimatnya.


“Aku mau jadi pahlawan ... dan kalau nanti aku mati, aku akan bertemu mama papaku dan kubanggakan kalau aku mati dalam perjuangan menjadi seorang pahlawan,” kata Arista membela diri dan meneguhkan persatuan mereka yang tak bisa dihancurkan.


Cukup interesan dengan sikap solid bocah-bocah itu, namun sang pendekar pemecah waktu yang telah cukup pengalaman hidup, mendengar itu terasa gegabah dan bodoh, apalagi mereka hanyalah anak-anak yang masih terikat imajinasi dunia anak.


Sehingga wanita pendekar pemecah waktu berani membalas, “Kalian masih belum sampai pada pandangan kenyataan ... kala janji harus dilanggar ... saat itulah impian berharga kalian menjadi masalah besar.”


Semua anak terdiam, berusaha mencerna baik-baik perkataan pendekar pemecah waktu, namun nyatanya tak satu pun dari mereka yang mengerti ucapan pendekar itu. Hanya seperti kalimat paksaan agar anak-anak mau pulang; menakut-nakuti.