Nurvati

Nurvati
Episode 170: Bersama Angin Pembawa Mimpi.



Sehari sepeninggal Ketua Hamenka, dan Nurvati yang mau tidak mau telah berkenalan dengan Nerta. Nurvati, angsa putih, serta Nerta memutuskan untuk menyambangi sejenak hamparan rerumputan pingai, tempat di nama titik akhir Ketua Hamenka masih segar bugar.


Nerta hanya ingin tahu dan memahami, apa yang telah ayahnya kerjakan hingga di titik ini, dan baginya peristiwa yang telah menggurat jadi sejarah ini tak boleh ia lewatkan!


Siang cerah nan terik ini diiringi oleh embusan udara yang sejuk, damainya suasana seolah-olah menguatkan perasaan pilu agar semakin merekah.


Hal itu menenggelamkan lagi perasaan sedih Nerta untuk jatuhnya air mata, tetapi gestur tubuh tegap dan wajah datarnya sama sekali tidak mewakili kepiluannya. Dia berusaha kuat, tetapi dalam air mata ketidakberdayaan.


Nurvati menceritakan bagaimana dirinya pertama kali bersua dengan Ketua Hamenka, tentang pengalamannya di akademi, lalu diakhiri oleh cerita kematiannya yang terbilang tragis. Namun kebenaran perihal kematian Ketua Hamenka sama sekali tak dibicarakannya.


Pengalaman yang diceritakan menghabiskan 30 menit waktu berlalu. Nerta yang meresapi kalimat itu baik-baik sempat menyeka butiran air matanya dengan lengan jubahnya, seakan selama berlangsungnya cerita, itu semakin menyedihkan.


Hingga bersama waktu yang bekerja, Nerta mulai menyampaikan unek-uneknya. “Aku ... aku selalu gengsi untuk makan bersama keluargaku ... aku hanya tidak mau mendengar teguran dari ayahku ... sialnya, aku selalu merasa gengsi dan malu untuk bisa berlatih atau berjalan bersama orang tuaku.”


Argumen penyesalan sebagai suatu isyarat dari luapan sendunya psikologis Nerta, dirinya yang menanggung beban kehilangan dan kepiluan bahkan berani menambahkan lagi argumennya yang mengandung pengharapan yang telah padam.


“Padahal ... aku hendak mempersembahkan kesuksesanku pada ayahku ... mempersembahkan era keadilan yang ayahku puja-puja ... berharap ayahku akan menikmati kesuksesan itu bersamaku ....”


Pengharapan yang pupus dalam kenyataan itu menggugah empati Nurvati untuk mencetuskan sepenggal kalimat. “Kita punya kemiripan, iya ... yaitu ... baru menyesali segala pelarian kita setelah kematian merenggut orang tua kita ... tetapi ... kamu masih memiliki ibu, sehingga ... pelarian itu bisa sedikit tertutupi dengan mempersembahkan kebahagiaan itu padanya.”


Tanggapan penuh pengharapan itu justru dibalas oleh Nerta dengan tandas. “Tidak Kak ... aku memiliki jalan dan pikiran yang berbeda dengan orang tuaku ... jadi, kebahagiaan itu tak akan dapat terealisasi ... karena sudut pandang kita berbeda ....”


“Loh ... kok perkataanmu malah terdengar kontradiktif dari ucapan sebelumnya?” heran Nurvati dengan kernyit kening hingga menoleh ke kanan pada Nerta.


Nerta yang memiliki persepsi dan ideologinya sendiri masih menegakkan badan dengan menatap jauh ke depan.


“Iya ... aku menangisi hilangnya sosok ayah ... menyesali sikap bodoh seperti orang tuaku, kalau nyatanya sikap bodohku hanya akan mengubah sikap ayahku didetik-detik ajalnya ... aku mencintai masyarakat kota ini, aku menyayangi orang-orang terdekatku ... tetapi tidak pernah mungkin membahagiakan orang tuaku dengan mimpiku ... mereka hanya bahagia bila ambisi yang mereka tanam padaku terlaksana ...,” tuturnya terdengar aneh dan ambigu, tapi sarat dengan makna.


Nurvati tercenung dalam detik yang berpacu. Meresapi kalimat dari remaja yang hanya setinggi bahunya ini. Hanya saja, kenyataannya inteligensi yang dimiliki Nurvati telah berkurang semenjak lenyapnya ilmu Hikmah-nya, jadi hanya sedikit dia memahami pernyataan Nerta.


Kendati demikian, sekonyong-konyongnya, Nerta malah melontarkan tanya. “Kakak ... lalu apa impian kakak sampai mau belajar ilmu Pengenal Diri bersama ayahku? Apa itu cita-cita kakak ... atau kakak hanya ingin melakukannya saja karena paksaan hidup?”


Nurvati cukup serius menyadari kalimat tersebut. Tetapi butuh 5 detik untuk berani menjawab. “Kakak selalu penasaran terhadap identitas asli kakak ... jadi ... kakak coba untuk berguru pada ayahmu ... dan itu bukan cita-cita ... karena memang kakak tidak pernah punya cita-cita ....”


”Kenapa kakak tidak punya cita-cita? Bukankah itu membuat kita berani untuk tetap bertahan hidup?“ tanya Nerta penasaran hingga tangisan pilunya sirna, tetapi romannya langsung mengarah pada Nurvati, seolah jawaban Nurvati begitu penting untuk dinanti.


Nurvati dengan pandangannya yang jatuh di rerumputan malah membisu dalam renungan. Karena bagaimana pun, memang baginya tanpa perlu bercita-cita, toh hidup masih bisa dipertahankan.


”Hmmmm ... bagaimana ya ... mungkin karena bagi kakak hidup kakak sudah cukup berarti ... sehingga tak perlu lagi yang namanya cita-cita ...,“ ungkap Nurvati dalam persepsi dan prinsipnya, bahkan diakhiri oleh anggukan memastikan.


”Jadi maksud kakak kalau aku punya cita-cita, itu artinya hidupku belum berarti ...?!“ tanya Nerta hingga mengelap lagi matanya, dan selebihnya mimik wajah serius nan tersindir tergurat demi menyikapi argumen dari Nurvati.


”Eh ... bukan, bukan begitu!“ bantah Nurvati dengan memutar setengah badan demi menghadap Nerta, sembari mengibas-ngibaskan dua tangan yang menegaskan persepsinya tidak berimplikasi pada makhluk lainnya.


”Hmmmm ... agak sulit juga untuk dijelaskan ... lagian mengapa juga kamu harus menanyakan hal aneh itu?“ keluhnya dengan raut muka lunak dan ke dua alis terangkat.


Nerta kembali memalingkan wajah ke depan, ke dua tangannya kini diselipkan pada saku jubahnya. Kesan sirus terpancar darinya dan kesedihannya mulai teralihkan.


Sedikitnya dia memahami argumentasi Nurvati. Memang sedikit berbeda dengan prinsip sudut pandang Nerta, oleh karenanya, dia berani berujar, ”Karena ... aku merasa ... kematian ayahku dan keberadaan kita di sini cukup bagiku untuk berasumsi, kalau gara-gara cita-citalah kita sampai dititik ini. Jadi hal wajar kalau aku mempertanyakan cita-cita kakak.“


Nurvati mengangguk-angguk paham. Sedangkan sang angsa putih sedari tadi memakan rumput pingai yang tersuguh di tempat ini, dia memang belum terlihat pernah bersantap ria, kecuali saat ini.


Bahkan dua menit dalam menikmati damainya suasana. Secara tak diduga-duga empat teman Nerta turut hadir ke tempat ini. Kalau bukan karena Nerta mengirimkan pesan lewat telepati, tentulah tak mungkin Darko, Gorah, Quin serta Arista dapat datang kemari.


Sapa menyapa dengan ramah-tamah dan saling berkenalan dengan Nurvati sempat mereka lakukan. Mengisi celah-celah waktu untuk memungkinkan bisa saling akrab.


”Kakak ... kenapa kakak nggak ada sayap?“ tanya Arista dengan polosnya.


Walau bagi teman-teman Arista ucapannya terdengar tidak sopan, hingga Quin berani menyikut sebagai tanda kalau sebaiknya tidak perlu dipertanyakan. Nurvati justru tak keberatan untuk menjawabnya, ”Entahlah ... mungkin karena kakak cacat, atauuuu semacamnya ....“


”Maaf Kak, tak perlu digubris ucapan anak aneh ini ...,“ pinta Quin berusaha agar tak menyinggung Nurvati.


”Ih, apaan sih ... aku 'kan cuma nanya doang ... aku keinget guruku yang sama-sama nggak punya sayap ...,“ balas Arista berapologi dan memang tak bermaksud menghina.


Di sana Nurvati dengan santai dan tenang hanya tersenyum sambil mengangguk, tak mempermasalahkan pertanyaan tadi.


”Asal kakak tau aja ... kami adalah lima pahlawan kota Barata! Dan sebentar lagi, akan menjadi sejarah!“ seru Arista kembali lagi mengungkapkan statusnya yang padahal sudah dinyatakan diperkenalan tadi.


Kembali lagi Nurvati hanya mengangguk dengan tersenyum kalem menyikapinya.


Hanya saja, belum lima detik berlalu, kenyataan damai di sini tiba-tiba disela oleh Nerta yang berlari lalu terbang dengan panik.


”Ibuku dalam bahaya! Aku harus ke sana!“ ujarnya dengan kekhawatiran.


Sontak semua pribadi yang hadir menjadi tergerak untuk turut serta bersama Nerta mencari tahu gerangan apa lagi yang terjadi. Sehingga mereka semua buru-buru pergi dengan cemas menuju posisi istri Ketua Hamenka.