Nurvati

Nurvati
Episode 172: Selaras Dalam Udara.



Menyadari kekacauan yang terpampang nyata bersama hawa kengerian yang meluas. Tak sedikit pun mereka terkekang ketakutan, justru lonjakan antusias dan gairah untuk menjadi sang penyelamat mulai berkantaran.


“Wah! Ini santapanku!” seru Quin dengan meninju-ninju angin sebagai ekspresi kesiapannya bertarung.


“Mereka sangat banyak! Apa yang mesti kita lakukan!?” keluh Darko dengan menilik setiap pergerakan siluman macan.


“Kita arah pemimpinnya! Ayo ...!” titah Nerta dengan memandang lurus jauh ke depan dengan kepal tangan yang semakin mengerat seiring lonjakan semangatnya.


Bersama udara yang mendadak bertiup kencang, mereka pun terbang melesat lagi ke dalam area perumahan.


Terbang di ketinggian 300 meter dari tanah, sedangkan para siluman macan hanya sanggup melompat hingga ketinggian 9 meter.


Pertempuran antara beberapa ras Peri dengan siluman macan hitam menjadi pemandangan dalam perjalanan. Beberapa anggota sekte hingga anggota organisasi pun ikut bertempur demi membantu. Ciri sekte terdapat dari cincin, sedangkan organisasi biasanya gelang atau jam.


Tembakan bola-bola energi paling santer terjadi, 'Buaf' 'Buuff', dihiasi oleh dentang pedang yang beradu 'Tang' 'Trang' lalu sisanya reaksi dari segala bentuk serangan lain.


“ROOOAAAR ...!”


'DUARS'.


'BOOMMM'.


'BLEDAAR'.


'SSHHHS'.


'KRZZZRRHRZT'.


'DHUAAAAAAARSH'.


Beberapa ras Peri kebanyakan menyerang dengan cara terbang, ada yang meniupkan ilmu Semburan Api, ada yang melempar peledak, ada yang membekukan, ada pula serangan listrik, hingga mereka yang tak lupa menggunakan bantuan sihir.


Seluruh lini masyarakat bertempur, tetapi menyadari bila para siluman macan telah terlatih untuk melawan pasukan militer, otomatis beberapa warga sipil yang tak begitu mahir bertarung mulai menanggung tewas. Lebih-lebih kini para siluman mulai nampak unggul.


Kelima anak masih terbang dengan gurat wajah keseriusan. Namun Nerta yang sedari tadi mencoba bertelepati dengan ibunya selalu mendapatkan kegagalan.


Hari ini masalah sangat pelik, siluman macan yang terus berhamburan telah menginvasi 20 perumahan dan itu akan segera bertambah.


Akibat itulah semua teman-teman Nerta mulai mendapat panggilan telepati dari keluarga mereka. Tentu saja mereka diminta untuk bersembunyi di dalam rumah, atau mencari tempat yang aman.


Sebuah titah yang bagi mereka adalah penghinaan. Iya, mereka anggap perintah dari kalangan keluarga itu merendahkan martabat kepahlawanan yang terstempel mantap pada identitas mereka.


Terlepas dari niat keluarga yang baik, tetap saja, kesan mencoreng kredibilitas mereka pada rakyat sebagai penyelamat sangat terasa.


Maka mereka tidak akan bersembunyi!


Sekali pun tidak!


“Seorang patriotik tidak akan pulang dari medan perang, sebelum tanah jajahan ini berhasil dimerdekakan!” seru Quin meneguhkan tekad serta prinsipnya.


Diikuti oleh kata 'Iya' dari teman-temannya. Dan untuk itulah semangat justru jauh lebih berkantaran lagi!


Mereka terbang menuju rumah Nerta. Marn telah menginfokan kalau para siluman muncul dari rumah orang tuanya, dan ada implikasi dengan ibunya.


Dalam hawa pertempuran dan ketegangan yang merajai suasana. 15 menit kemudian, tibalah mereka pada rumah Marn, rumah mewah nan megah dengan halaman didominasi oleh nuansa putih.


Dinding gaib itu bisa saja ditembus dengan pintu teleportasi, namun demikian, kelima anak belum cukup mumpuni menggunakannya. Terakhir kali mereka menggunakannya malah meleset dari target.


Untungnya saat-saat genting seperti ini, info penting kembali didapat. Marn dengan ilmu Pelacak Aura-nya menegaskan, kalau Ira telah berada di atas awan, di ketinggian 3000 meteran.


Maka 'Wush' 'Wush' 'Wush' melesat cepatlah mereka ke atas menuju ketinggian yang ditandai, sekaligus memindai langit, mencari posisi Ira.


Benar, Ira memang berada di awan, dirinya masih duduk bersila bersiap menyambut Siluman Dewa Mistik. Lantunan do'a-do'a nan syahdu dari ketua siluman macan segera rampung, itu terlihat dari pancaran gelombang aura yang meliputi tubuhunya, berwarna kelabu.


“....”


“....”


Selang satu menit waktu terlewati, Quin berhasil menemukan posisi Ira, alhasil seluruh remaja buru-buru terbang menuju sasaran.


Akan tetapi, mereka lagi-lagi tersendat gegara dinding gaib berbentuk bola yang meliputi awan tempat Ira dan ketua siluman macan melaksanakan ritual pemanggilan. Dinding gaib ini sama saja seperti dindingi gaib di rumah Ira. Tak dapat ditembus, kecuali dari dalam.


Fakta ini membuat naluri setiap anak menimbulkan pesan kalau akan ada hal buruk yang siap terjadi.


Teriakan dalam getir dan kasihan bergaung dari Nerta, paras tampannya mengguratkan kekhawatiran. Dia bahkan sampai meninju-ninju dinding gaib itu, meski faktanya sia-sia dia meninju hingga batas maksimal kekuatannya.


“IBU ... IBU ... IBU ... SADARLAH ...! IBU SADARLAAAAH!”


Tetapi ibu Nerta —Ira— sama sekali tak tergugah untuk menyapa anaknya, atau bahkan hanya sekadar melihat saja tidak, tidak sama sekali!


Ira tetap terpaku pada pose semadinya, matanya tertutup rapat-rapat, paras manisnya terlukis datar tak berperasaan, tetap tegap tanpa merasa ada seseorang yang sangat berharga tengah memanggilnya.


Teman-teman Nerta pun yang gelisah sempat menghajar dindin gaib tersebut, baik dengan energi atau dengan benda-benda tajam, tetapi nihil adalah hasilnya.


Sedangkan ketua siluman tetap berdiri fokus melafalkan do'a, dia bertelanjang dada, dengan celana hitam yang menjadi penampilannya.


Seiring waktu silih berdetik, kesabaran mulai habis dan kekhawatiran dalam jiwa Nerta semakin meninggi.


“ARRRRRRGGH ...! IBUUUUUU ...! IBUUUU SADARLAH!” rengek Nerta sekeras-kerasnya hingga batas maksimal suaranya.


'Duk' 'Bhuk' tinjuan-tinjuan kesia-siaan terus dilakukan oleh teman-teman Nerta pada dinding gaib tersebut. Walau itu percuma, namun harapan dan usaha tidak luntur.


Tak lama berlalu, aura kelabu dari tubuh ketua siluman macan semakin benderang, semakin pekat dan semakin meluap.


Bersama detik demi detik yang bekerja, aura kelabu itu pun mulai menyelimuti sekujur tubuh Ira, menutupi pancaran cahaya Peri-nya, membuatnya terhalangi. Hingga ketua siluman macan serta Ira perlahan dengan pasti, kini terselimuti oleh aura kelabu itu, mengakibatkan mereka tak dapat terlihat lagi.


Membuncahlah rasa khawatir dalam jiwa Nerta yang semakin lama mulai memunculkan rasa takut, sangat takut bila terjadi keadaan buruk pada ibunya, hingga ekspresi dari semua itu terluapkan oleh satu teriakan nan getir darinya. “IBUUUUUUUUUUUUU ...!”


Lalu 'BOOOOMMM' aura kelabu itu meledak hingga batas dinding gaib. Dan tepat ketika perlahan dalam kepastian aura mulai lenyap, mulai pula realitas menunjukkan sesosok hadirnya entitas lain.


Tak ada ketua siluman macan lagi, begitu pun, tak ada Ira sang orang tua Nerta. Mereka seolah hilang ditelan aura kelabu tadi.


Kendati demikian, telah hadir sesosok entitas berwujud seperti manusia, namun bertubuh bening laksana kaca, memiliki tinggi empat meteran dengan tubuh berotot dan sekujur tubuhnya menampilkan saraf-saraf yang berpendar cahaya ultraviolet dan ungu. Dialah sang Silmuan Dewa Mistik.


Wajah entitas tersebut nampak rata, serta rambutnya bernuansa hitam acak-acakan nan panjang hingga ke pinggang, atau malah terlihat seperti bulu singa. Entitas bertubuh cukup besar ini menghadap tepat pada kelima anak.


Masalahnya suasana menjadi jauh lebih menegangkan, tepat ketika saraf-saraf dalam tubuhnya mendadak berpancar berkelip-kelip keunguan, lalu awan yang dipijaknya meleleh dan akhirnya dia meluncur menuju perumahan, 'Siuw' meninggalkan kelima remaja pahlawan dalam beban kecemasan.