Nurvati

Nurvati
Episode 23: Pertemuan Penting.



Hidup berlanjut lagi, saat-saat dalam panasnya perang masih melingkupi waktu, sehari setelah petualangan Falas dan Nurvati yang unik, pada siang ini, mereka akan melangsungkan pertemuan penting. Benar, penting bagi Nurvati. Sebuah pertemuan dengan keluarga Falas yang telah menjadi bahan beban penasaran bagi diri Nurvati.


Di kota dengan bangunan-bangunan megah yang bertatahkan permata dan berlian, tepat di sudut perumahan dengan rumah-rumah yang megah bak istana seorang raja. Nurvati telah berdiri di depan rumah Falas bersama sang empunya rumah; Falas. Berdiri di atas rerumputan warna putih di halaman rumah. Rumah tersebut lebih besar ketimbang rumah orang tua Nurvati dulu. Melayang di atas tanah setinggi tiga meteran. Nuansa putih nan berkilau.


Saat ini, waktu diisi oleh kebisuan dan netra yang menatap rumah Falas dalam dahaga penasaran, lebih dari itu, di jarak dua meteran, orang tua Falas telah berdiri memandang Nurvati dengan senang hati. Benar-benar hanya sang ayah yang hadir tanpa sang pendamping hidupnya.


Dia pria yang sesusia mendiang ayah Nurvati, 37.194 tahun, —37 tahun menurut hitungan manusia— pria tinggi dengan satu sayap di punggungnya, tubuhnya tertutup jubah nuansa hijau, netra biru yang tajam mirip netra Falas, kulit senantan tanpa pori-pori sebagaimana ras Peri adanya, romannya nampak aneh. Iya, raut mukanya aneh dan matanya tidak fokus, mulutnya tersenyum namun seperti melukiskan adanya kelainan.


Akan hal itu, benak Nurvati mendadak dipenuhi pertanyaan tentang apa yang membuat ayah Falas nampak begitu aneh. Ini pertama kalinya Nurvati melihat gestur tubuh ras Peri terlihat 'aneh'.


“Nurvati ... ini rumahku ... dan ayahku memang memiliki kelainan kejiwaan,” beber Falas tanpa ragu dengan lugas. Dan pernyataan ini wajib dianggap fakta.


Sontak, refleks Nurvati langsung menoleh ke kanan memandang Falas dalam keterkejutan. Dan Falas melangkah mendekati ayahnya, ia menarik tangan kanan ayahnya, menuntunnya mendekati Nurvati. Lantas diperkenalkanlah Nurvati pada ayah kandung Falas. Mereka —Nurvati serta ayah Falas— saling berjabat tangan dengan tuntunan Falas.


Bingung, kikuk dan entah apa lagi yang melingkupi benak Nurvati, karena jelas, dia sama sekali tak mengira kalau ayah Falas memiliki kelainan kejiwaan. Hingga ketika gerak gerik sang ayah yang nampak tertawa seperti anak kecil, menandaskan kesimpulan perihal orang tua Falas memang 'sakit', bahkan setelah Nurvati menyebutkan namanya, ayah Falas sampai bertepuk tangan kegirangan.


“Hehehe ... kita kawan ... kawanan kita,” tutur sang ayah sembari bertepuk tangan hingga menimbulkan suara 'prok' 'prok' 'prok'.


Entah maksud ucapannya apa, tapi di sana, Nurvati hanya sengap dalam raut serius. Ia tak tahu harus menanggapinya bagaimana, kebingungan kini mengendalikan pikiran Nurvati.


Kendati demikian, Falas dan ayahnya nampak akrab tanpa kendala apa pun. Seperti tak ada masalah sama sekali.


“Oh iya, Nurvati, maaf ya, untuk ibuku ... sebenarnya sudah wafat,” ungkap Falas dengan sungguh-sungguh dan tersirat kesedihan mendalam.


Jelas, kenyataan kedua itu menjadikan rasa penasaran tentang orang tua Falas sirna seketika. Mentalnya terasa diguncang untuk sadar, bahkan irisnya membulat dengan kinerja otak menunjukkan satu fakta; bahwa di luar sana masih ada yang jauh lebih menderita ketimbang Nurvati.


Satu emosi yang disebut empati mulai muncul menunjukkan eksistensinya dalam diri Nurvati. Tepat, Nurvati mulai merasa iba, dan emosi yang pernah diasingkan karena kecurigaan pada Falas, kini itu muncul lebih tedas: Nurvati terharu.


“Nah, sekarang kau senang 'kan?” tanya Falas memastikan yang terdengar menyinggung.


Tatapan Falas terkunci pada netra hijau Nurvati yang memancarkan rahasia penting tersirat. Dan pertanyaan Falas agak rambang untuk dibalas, Nurvati tentu saja senang karena telah melunasi dahaga penasarannya, akan tetapi, dia merasa berempati perihal keadaan orang tua Falas, itu cukup membuatnya mematung bingung, bungkam dan tak mungkin ia menjadikan ayah Falas sebagai objek candaan, sungguh tak bermoral.


Pohon-pohon tinggi nan besar menjulang menutup pandangan, dedaunan rindangnya menghalangi eksistensi cahaya mentari, dan angin di sini berkesiuran. Raut muka Nurvati menggariskan pertanyaan besar, sedangkan Falas tampak senang bak ini adalah harta karun terpendam.


“Ini adalah makam ibuku, atau petilasan ibuku,” ungkap Falas dengan menunjuk batu besar di depannya, tanda ucapannya adalah kenyataan yang tak dapat dibantah.


Nurvati membisu tak ada respons dari kata-kata tetapi dirinya percaya pada Falas. Kepercayaan itu muncul berkat  Falas yang terlihat serius dan tak ada jalan untuk ragu. Dalam jarak dua meteran, mereka berdiri memandang batu nuansa abu itu dalam renungan penuh makna.


Nurvati merenungi apa yang dialaminya kini, perasaannya simpang siur, entah bentuk perasaan apa yang menyeruak dalam jiwanya. Senang karena mulai mengetahui seluk beluk Falas, atau prihatin karena semua ini terasa menyedihkan, atau juga memang kedua perasaan itu adalah bentuknya. Namun yang pasti, Nurvati mulai merasakan akan kehidupannya yang terlihat bermakna.


Sedangkan Falas merenungi hari-hari paling berkesan bersama ibunya dulu, tentang dirinya yang selalu didukung oleh ibunya untuk Falas menjadi apa yang Falas inginkan, atau tentang senyuman terakhir dari ibunya yang mengundang air mata Falas untuk jatuh. Dan itu semua telah tersimpan dalam kenangan manis masa lampau.


Siur angin dalam hutan berembus kencang menimbulkan keadaan untuk emosi lebih tedas lagi, suasana penuh emosi pun melingkupi mereka berdua dan nilai kenyataan ini menimbulkan nilai keakraban lebih pekat lagi.


“Apa yang terjadi dengan ibumu?”


Pertanyaan itu terlahir dari mulut Nurvati yang berasal dari rasa penasarannya karena dirinya masih ingin tahu lebih banyak lagi.


Pendengaran Falas menerima pertanyaan itu dengan serius dan berkatnya satu emosi yang disebut 'sedih', mendekap jiwanya, tentunya, alam pikirnya jadi berputar menuju masa lampau; mengingat alasan-alasan atas kenyataan hidup apa saja yang merenggut ibu tercintanya.


“Ibuku ... tewas bunuh diri di sini, dan itu, karena beban moral yang tak sanggup ditanggungnya,” beber Falas dalam raut kuyu penuh perenungan.


Sebuah kalimat mengandung kesedihan berhasil diyakini Nurvati sebagai fakta, bahkan menyentuh hatinya untuk dapat memahami satu hal lagi; Falas sama-sama menanggung derita seperti Nurvati.


“Aku kira ... ibumu masih hidup, kau ....” Bahkan ungkapan atas ekspresi Nurvati langsung disela oleh Falas.


“Ya, aku tak membicarakannya hanya agar kau melihatnya sendiri ....”


Nurvati sengap, gestur tubuhnya menyiratkan menerima ucapan Falas.


“Dua ratus tahun yang lalu ibuku bunuh diri di sini, tepat di depan mataku ....” tutur Falas dengan menjeda perkataannya, dan netra birunya terfokus pada batu di depannya dalam hati sedih bersama pandangan yang kosong, tetapi seakan ia melihat kembali senyuman terakhir ibunya dulu; mengenang kembali.