
“Terbanglah dan terbanglah, tetapi pasti kamu kembali, atau bila tidak ... aku akan menyusulmu segera ....”
Dengan waktu yang berputar apatis, yang melarutkan hatinya untuk menikmati setiap momen ingatan masa lampaunya, membekukannya untuk terkekang.
”Ibu, apa aku memang putri ibu?“
”Ibu, apakah aku anak kandung ibu?“
”Ibu, apa mungkin aku bukan anak kandung?“
”Ibu, siapakah orang tua asliku?“
”Ibu ....“
”... ibu ....“
”... ibu ....“
" ... "
Keraguan akan hadirnya Nurvati pada keluarga kecil itu melahirkan puluhan hingga ratusan pertanyaan mengisi kenyataan.
Entah kapan keraguan itu memudar, karena masih pekat perasaan sakit di sana.
Bukan hal sepele ketika dirinya memandang ini sebagai masalah besar.
Memang telah banyak senyum yang mengembang, atau mungkin mimik muka kesal yang memancar.
Bentuk kasih sayang itu kadang diinterpretasikan sebagai menyogok persepsi semata. Kalau Nurvati harus percaya orang tuanya adalah orang tua kandungnya.
Gadis kecil itu terjerat oleh mereka-mereka yang menuntut kesempurnaan. Mengeluhkan kalau dirinya tak sehebat orang tuanya, menguatkan praduganya kalau memang gadis kecil itu bukanlah anak kandung mereka.
Pikiran liarnya yang tertekan atau pikirannya yang represif pada mentalnya, atau juga segala dakwaan-dakwaan dalam masyarakat yang represif padanya, mungkin justru hidupnyalah yang represif pada dirinya. Entah apa yang terjadi, tetapi itu mulai membentuk pola pikir lengkap bersama kejiwaannya.
Gadis kecil itu mudah larut dalam perasaannya, gadis kecil itu pun mudah terhasut oleh kata-kata.
Berjalan sendiri dalam sepi atau bersama mereka yang berhasrat sempurna.
Hingga gadis kecil itu menemukan jalan buntu dan harus kembali memutar arah, tetapi artinya harus kembali menanggung nelangsanya sendiri.
Dan sang ibu akan kembali menyambutnya dengan senyuman tenang tanpa beban, atau kadang ada pelukan hangat agar redam kekecewaannya.
Membuat segala geramnya dituangkan pada marahnya, memaki takdir atau menyalahi orang tuanya yang tak becus menangani takdir.
”MENGAPA IBU DAN AYAH TIDAK MENGHAJAR MEREKA YANG SUDAH MEMFITNAH KITA?!”
“WARGA DI SINI MEMBENCI KITA!”
“WARGA DI PERUMAHAN INI SANGAT RASIS!”
Entah apa yang terjadi, namun gadis kecil itu hanya mudah terjangkit pikiran liarnya.
Ayahnya sering mengajak Nurvati untuk melihat bumi dari balik awan dan lagi-lagi Nurvati tak pernah senang dengan itu, itu hanya mendoktrinnya kalau dia memang anak kandung orang tua itu.
Putri Kerisia yang berawalnya menggugah kepercayaan untuk merekah, justru kuncup oleh kalimatnya sendiri. ”Kita hanyalah boneka Sang Maha Individualistis ... jadi jangan pernah percaya pada siapa pun ... karena ujungnya ini semua demi Sang Maha Individualistis.“
”Nurvati ... keadilan itu hanya bagi penguasa dan orang-orang suci ... Nurvati ... keadilan itu dicapai oleh perang dan darah ... Nurvati, jangan bicara keadilan kalau kau tidak berani membunuh orang yang membencimu ....“
Lalu terbitlah kebencian itu dari hati sang gadis kecil. Memandang semuanya adalah lawan dan kematian sebagai keadilan.
Realitas tak seindah dongeng yang berakhir penuh senyum kebahagiaan. Pikir Nurvati.
Walau sang ayah juga pernah berusaha mendoktrinnya dengan kata-kata, kebencian itu tak pudar barang sekejap saja. ”Nah ... Nurvati ... kalau belas kasihmu tak dihargai, santai saja ....“
Kendati kebencian pada orang tuanya cukup tedas, namun ayah dan ibunya tak sedikit pun membenci anaknya itu. Cinta kasihnya selalu tulus.
Di sekolah sama saja, tak ada artinya hidup, kecuali memandang kalau hanya dengan kematian keadilan dapat ditegakan.
Seorang anak kecil pernah Nurvati bunuh, hanya dengan racun bocah malang itu tewas dipangkuan ibunya.
Membuat lekuk senyum penuh syukur terukir di wajah mulus Nurvati dan menggugah pola pikir yang sebenarnya; keadilan memang dicapai oleh darah dan perang.
Hanya saja, secara tiba-tiba, realitas merenggut nyawa ke dua orang tuanya.
Kenyataan bahwasanya di luar sana pun sama-sama mengejar keadilan tak dapat dipungkiri.
Itu membuat nelangsa mengisi jiwa sepinya dan pikiran liarnya melihat kematian sebagai obat. Entah berlebihan atau tidak, tetapi syukurnya itu adalah fakta.
Sesalnya adalah momentum kematianlah menjawab segala keraguannya, kalau yang namanya seorang ayah dan seorang ibu akan selalu menyambut anaknya apa adanya, selalu merawatnya tanpa pamrih.
Konklusi yang disadarinya cukup bodoh, mengetahui kalau harus mati agar keraguannya terpatahkan, tetapi syukurnya Nurvati menjadi semakin yakin, kalau wanita dewasa serta pria dewasa itu, memang layak disebutnya sebagai ayah dan ibu.
Hingga entah mengapa, ketika anak laki-laki itu hadir. Dia hadir menunjukkan harapan baru.
Nurvati merasa kalau kematian yang dulu diasumsikannya sebagai obat, itu belum tentu juga, bisa saja kematian malah menjadi racun.
Bocah laki-laki itu memiliki senyum tenang dengan suaranya yang renyah.
Dia bocah laki-laki pertama yang membawanya terbang.
Dia bocah laki-laki yang membawanya berpetualang.
Dia bocah laki-laki yang mengenalkan kehidupan yang elok.
Dia bocah laki-laki yang dianggap Nurvati sebagai teman.
Dia bocah laki-laki yang kalem yang Nurvati panggil sebagai Falas.
Entah apa yang terjadi pada dirinya, di sana masih menanti keajaiban atau mungkin dinanti oleh kematian.
Waktu yang berlalu seolah tak sanggup mengusiknya.
Di mimpi itulah dia dapat memandang lagi sosok yang dulu membentuk kenangan manis bersamanya.
Dalam mimpi itu pula, rasa senang bisa membuncah lagi, atau juga jengkel bisa eksis lagi.
Mungkin disekian kalinya mimpi bersamanya sanggup menggugah kesan indah.
Kebun bunga ini dan kolam air warna-warni di sini, tervisualkan lagi.
Falas yang asyik, sibuk memainkan air kolam dengan kakinya membentuk riak air.
Nurvati hanya berdiri di kolam lainnya, memandangnya penuh arti.
Tersenyum teduh Falas di sana, anak laki-laki itu bahkan bisa tertawa di sana, tertawa hanya gegara memainkan riak air.
Apa sesederhana itukah seorang bocah laki-laki bisa bersenang-senang? Nurvati malah tak pernah tahu jawabannya.
Atau ketika Falas mengalihkan netra birunya tepat pada wajah manis Nurvati. Senyuman nan teduh bocah laki-laki itu masih bersedia melekuk hanya untuk Nurvati.
Hingga visual yang tak hilang berkembang lagi pada mimpi lainnya.
Entah apa yang terjadi padanya, di sana seperti menanti keajaiban atau mungkin dinanti oleh kematian.
Waktu yang berlarut tak meluruhkan segala ikatan itu.
Tatapan santainya, selalu pekat menggugah Nurvati untuk berpaling jengah.
Di taman itu, saat gelembung-gelembung dari bunga-bunga membumbung meninggi, bocah laki-laki itu menyentuh setiap gelembung yang ada, hanya demi kesenangan.
Malahan lomba untuk memecah gelembung sempat dilakukan dan itu demi membiarkan kegembiraan membuncah.
Dua bocah Peri itu berlarian di taman, bersenang-senang memecah gelembung, tertawa riang terjaga untuk mengisi suasana agar selalu cerah.
Entah apa yang terjadi pada dirinya.
Perasaan itu tetap saja begitu, melihat lagi kenangan yang mengundang senyum dan gairah bertahan hidup.
Saat matahari terbenam, ketika duduk berdua memandang hari itu sebagai menyenangkan.
Selalu memberi kesan mendalam bagi mereka.
Entah mengapa dirinya begitu.
Sepinya larut bersama mimpinya dalam kenangan-kenangan antara jelita atau justru nelangsa.
Saat itu Nurvati berdiri di atas batu besar nuansa krem, memandang intens pada Falas yang sibuk membebar kunang-kunang.
Ratusan kunang-kunang yang terbebar sempat membuat sirna lekuk senyum di wajah Falas, pandangannya jadi tajam menerawang.
Untuk itu Nurvati menghampirinya, menanyakannya apa yang membentuk wajahnya begitu serius.
”Tidak apa-apa ... aku hanya teringat pikiran lain ....“
Walau ada fakta memilukan yang disembunyikannya, bibir tipisnya masih mampu tersenyum tenang.
Kenangan.
Kenangan yang mengikat alam bawah sadarnya.
Senyuman tenang.
Tatapan teduhnya.
Sikap kalemnya.
Mata biru langitnya.
Atau juga lelucon anehnya.
Kenangan itu memang mengikat Nurvati.
Iya, kenangan itu menjadi ikatan relasi yang enggan berpisah. Kenangan itu membentuknya hingga sekarang, mengikat perasaannya dan perasaan itu mengikatnya.
”Kalau kita tak bertemu ... apakah mungkin kau sudah bunuh diri, Nurvati?“ tanya Falas dengan memandang jauh menuju matahari terbit.
”Aku tidak tahu ... tetapi, jika aku bunuh diri, memangnya untuk apa juga kau menghentikan orang bodoh sepertiku?“ balas Nurvati sambil memandang semburat baskara terbit.
”Aku bertanya kau bunuh diri atau tidak, bukan untuk menghentikanmu ...,“ ralat Falas dengan santai.
Nurvati mengangguk-angguk memahami maksud ucapannya itu.
Dan, iya, begitulah kenangan, yang mengikatnya, menguatkan atau pun melemahkan, yang membentuk perasaan tersendiri.
Karena dari permulaan itulah, semuanya akan diakhiri.