
Kebersamaan telah cukup mengikat batin mereka, tetapi masih belum sampai pada titik akrab, pencarian yang banyak memakan waktu terus berlangsung.
Mereka masih terbang rendah dengan netra mereka tetap menyorot ke segala penjuru demi menemukan jejak siluman. Dan sekarang Arista benar-benar merasa ingin menjadi murid Zui.
“Kakak maukah kakak menjadi guruku?” pinta Arista dengan sungguh-sungguh.
Namun tak sedikit pun Zui ingin menurunkan ilmunya pada orang lain, sehingga dengan tegas nan lantang berani menjawab, “Tidak.”
Tapi tak menyerah Arista di sana, dia kembali memohon, “Kakak aku ingin seperti kakak, boleh ya ... ajari aku.”
“Tidak.” Satu kata yang padat dari Zui dan langsung pada tujuannya.
Namun demikian, Arista tidak menyerah, di setiap beberapa meter pencarian, dia akan memohon lagi, hanya saja, Zui kembali menolak oleh kata 'tidak'.
Lagi dan lagi, dari meter ke meter, Arista terus memohon dan Zui terus menolak, namun pencarian terus berlangsung.
Lebih dari itu, hari demi hari yang terlampaui, tak lelahnya Arista memohon untuk dijadikan murid dari sang pendekar Pemecah Waktu, kendati begitu, Zui pendekar Pemecah Waktu, tak serta merta bersedia menjadi seorang guru, hanya kata 'tidak' dan 'tidak' yang terus diucapkan sebagai penandasan keputusannya.
Tetapi Arista yang memang ingin menjadi pendekar pemecah waktu, terus saja mencecar permohonannya agar diterima oleh Zui, hingga dalam waktu yang telah lama, berminggu-minggu atau tepatnya 3 bulan menjadi waktu yang sampai saat ini habis hanya demi permohonan Arista diterima. Tapi nyatanya tidak.
Satu tahun mereka telah mencari ke berbagai pelosok, sialnya tak satu pun markas siluman yang ditemui, atau bahkan siluman yang tahu markas para siluman penculik anak pun selalu saja gagal di tengah jalan, aura kelam penghalangnya dan kebanyakan siluman yang ditangkap pasti melakukan bunuh diri, enggan informasi diketahui oleh pihak luar.
Kini area tanah kering nan hitam kembali mereka dapati, membuat mereka kembali jalan di darat, kadang pula melompat dari akar ke akar.
Siang yang cerah tak mampu memamerkan cerahnya di balik rindangnya pepohonan hutan Kematian, sinar baskara hanya mampu mencapai pucuk pohon saja dan terpaksa kegelapan masih menyelimuti mereka.
Aroma pering masih menusuk hidung cukup pekat, aura keputusasaan semakin kental dirasa, udara bahkan dingin dan suara-suara aneh acap kali menyertai perjalanan mereka.
Hebatnya, tak sedikit pun mereka mengeluh, tetap bugar dan penuh gairah, cita-cita mereka telah memecah segala perasaan susah yang memang harus diterjang. Optimis hanya itu yang masih kuat-kuat mereka perasat.
Mereka melompat-lompat dari akar ke akar, akan tetapi lompatan mereka terhenti, di salah satu akar pohon, Zui telah memberi perintah untuk berhenti.
“Diam ... ada hal ganjil di pohon itu ... tiliklah dengan lekat-lekat!” titah Zui dengan memindai pohon yang berada jauh di depannya.
Ke lima anak ikut memindai pohon nuansa abu-abu dengan mata bersorot cahaya mereka, namun karena jarak jangkauan dari cahaya ke lima anak kurang jauh mereka menambah lagi energi pada bola mata mereka, membuat jarak sorot hingga 100 meteran.
Itu adalah pohon yang agak aneh, beberapa kulit pohon nampak seperti sisik, dan agak menyembul, iya itu seperti sisik!
'Buuff' tiba-tiba bola energi nuansa kuning tertembak dari Zui pada pohon aneh itu.
Dan tepat mengenainya!
Sontak apa yang diekspektasikan oleh Zui berhasil terekspos eksistensinya, bahwa itu, makhluk hidup!
“GROOOOOOOOAAAAAAAAAARR ...!” raungan keras yang membuat suasana senyap langsung lenyap.
“Astaga ... makhluk apa itu ...?!” heran Nerta mulai was-was.
Semua anak mulai panik penuh tanya dan resah.
“Itu siluman!” tegas Darko keras-keras.
“Hati-hati teman-teman!” sambung Gorah memperingatkan.
'BAMM' 'BAMM' tanah berdam, dedaunan mulai berguguran, gemerisik daun berbunyi kencang, makhluk besar itu mulai menampilkan dirinya.
Mereka terpejam dengan tubuh yang dibalut oleh jaring laba-laba, dan laba-labanya sendiri mendekap anak-anak itu. Total sebelas anak yang ditahan oleh siluman itu.
“Itu anak-anak yang diculik!” kata Quin menegaskan kenyataan.
Hingga sorot mata meninggi, maka seluruh netra berbuntang kala melihat wajah atau kepala makhluk besar ini. Masalahnya, mulutnya tengah mengunyah seorang anak kecil, lalu tangannya meraih sepotong kaki anak kecil itu yang lalu melahapnya bulat-bulat.
“GHROOOOOOAAAAAAAR ...!”
Wajah berbulu dengan gigi bertaring, begitu dipandang begitu menjijikan, siluman raksasa ini seperti tenggiling, tingginya 20 meteran, beraroma busuk menyengat, namun dengan wajah yang menyeramkan dengan darah emas yang membasahi mulutnya; darah para korban.
Sedangkan laba-labanya seperti melakukan simbiosis mutualisme dengan siluman tenggiling raksasa ini, itu bisa dilihat dari para siluman laba-laba yang menyantap air keringat nan berbau busuk dari tubuh siluman ini dan mereka langsung mampu berdiri dengan wujud yang agak berbeda dari sebelumnya; wujud setengah manusia.
“Sialan ...!” umpat Gorah menyadari bahaya.
Suasana kelam menjadi terkesan mencekam dan mau tidak mau detak jantung meningkat dalam ketegangan yang merebak. Situasi menjadi rumit dan genting!
Hingga satu persatu siluman yang telah menyantap keringat busuk siluman tenggiling langsung melompat ke arah anak-anak.
'Wuush' anak-anak berhasil menghindar, akan tetapi, siluman laba-laba lain ikut menyusul, 'Siuw' 'Siuw' 'Siuw' melompat cepat pada anak-anak, yang dibarengi oleh tembakan jaring dari lidah mereka.
“Serang anak-anak ... serang!” sentak Zui yang melihat ini sebagai ancaman dan layak untuk diserang balik.
'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' bola-bola energi melesat pada siluman laba-laba.
Sayangnya para siluman laba-laba mampu menepis segala bola-bola energi itu.
Anak-anak terbang semakin tinggi disertai tembakan-tembakan bola energi pada siluman laba-laba, karena bagaimana pun para siluman laba-laba berlari di batang pohon dengan menembak jaring laba-laba pada anak-anak. Berusaha menangkap ke lima bocah itu.
Zui melompat dengan dua tangan telah memegang trisula emas, melompat pada siluman tenggiling raksasa.
Satu laba-laba melompat padanya, 'Siuw' maka satu trisula dilempar pada siluman tersebut, lalu 'Bruk' siluman jatuh ke tanah tertancap trisula, terlebih, satu lagi siluman laba-laba melesat padanya, namun 'Bruk' siluman itu pun jatuh ke akar pohon menanggung luka tusuk dari trisula.
'Wush' tangan kanan siluman tenggiling melesat pada Zui.
Sangat cepat Zui hingga syukurnya mampu menghindari pukulan itu, lebih lagi Zui seketika menembakkan bola energi nuansa kuning yang berhasil mengenai wajah siluman tenggiling. 'Buuaffs'.
“GWWAAAAHH ...!” erang siluman tenggiling yang merasakan sakit.
Dua tangan telah kembali memegang trisula emas, dan saat Zui hendak meluncur dia meniupkan angin dari mulutnya; ilmu Relativitas Waktu.
Tubuhnya tiba-tiba terhuyung-huyung menuju tanah, dia malah terjatuh.
Tapi tunggu dulu!
Dua trisula yang digenggamnya secara ajaib telah menancap pada dua netra siluman tenggeling, menancap dalam-dalam hingga mengucurkan darah ungu kehitaman, entah kapan Zui melakukannya, akan tetapi itu berhasil membuat siluman itu bergerak, meronta-ronta tak keruan, dia menanggung sakit yang teramat.
'BAMM' 'BAMM' 'BAMM'.
Dan punggungnya seketika menghantam batang pohon hingga berdebam dengan tanah langsung bergetar, bonusnya dedaunan sempat berguguran.
“GHROOOOAAAAARRR ...!”