Nurvati

Nurvati
Episode 46: Rakyat Jelata VS Abdi Negara.



Malam itu dihabiskan oleh pasrah dalam lara yang bisa Nurvati lakukan, sesekali juga berteriak meluapkan emosi amarah serta kekecewaannya, tak tidur, tak juga lemas, energi dalam tubuhnya sangat cepat pulih, itu karena adanya ilmu Hikmah yang menampung dua kali lipat energi tenaga dalamnya.



Sinar baskara yang menembus celah-celah hutan dan menyibak gelap malam telah muncul, pagi hari selanjutnya telah tiba, siulan-siulan burung yang berkicau pun telah bersipongang membentuk irama pagi yang cerah, awan putih terlihat putih, langit biru terlihat biru, tetapi Nurvati yang marah tetap terlihat pasrah.


Masih di gedung yang sama, yang berbentuk 'O', tetapi ruangan yang berbeda, sekaligus masih di sel tahanan yang sama, dengan kata lain, berkat kecanggihan teknologi, sel tahanan Nurvati mampu bergerak, dan itu bergerak ke lantai dua, tepat pada ruang persidangan.


Sebuah ruangan luas nan berkilau, semuanya terbuat dari batuan berlian, dan sel tahanan Nurvati berada di tengah-tengah ruangan, di depan Nurvati adalah meja seorang Hakim, hanya Hakim, tak ada juri atau dewan-dewan yang lainnya.


Dalam ras Peri menentukan siapa yang salah dan benar itu sangat mudah, kotak sel tahanan yang Nurvati diami akan mendorong jiwanya untuk bicara jujur, energi pada kotak sel tahanan menciptakan hawa yang mampu mendorong sel-sel atau pun energi pada terdakwa untuk rileks dan mendorong sisi psikologis terdakwa agar mau bicara jujur.


Ada pun bila terdakwa bisa mengendalikan diri hingga mampu berbohong, maka sel tahanan akan memancarkan warna merah, dan bila terdakwa jujur, warna merah itu tidak memancar.


Selain itu, sebuah ruangan yang sama terbuat dari kaca, seperti sel tahanan Nurvati, terdapat pula di samping kiri dan kanannya, yang menyisakan jarak kosong dua meter. Samping kanan adalah ruang para korban, dan samping kiri adalah ruang para saksi, seluruh posisi menghadap pada Nurvati. Bahkan mereka bisa mendapatkan saksi dalam waktu dua jam.


Korban yang hadir hanya sedikit; 8 orang. Tetapi saksi ada 13 orang, bahkan Nurvati tak ingat saksi-saksi itu, entah memang tidak melihatnya, atau mereka yang tersembunyi. Semuanya duduk manis pada kursi panjang di ruangan masing-masing, duduk menghadap terdakwa dan karena mereka semua memiliki sayap, duduk mereka agak memberi jarak. Dan tidak ada Ketua Hamenka.


Telah duduk di kursi hakim, seorang pria dewasa, berusia sekitar 40.000 tahunan, yang memiliki wujud Peri berkumis, netra nuansa biru tajam bagaikan ular, tetapi terlihat sedang mengantuk, dalam balutan jubah emasnya, dan berambut perak.


Dia adalah Hakim dalam sidang ini, selain kursi yang didudukinya terbuat dari emas, mejanya pun menyelaraskan warna serta unsur dari kursi tersebut; terbuat dari emas pula. Dia berada dalam jarak 7 meter dengan Nurvati.


Satu hal pasti, dia tak berada dalam ruangan kaca seperti lainnya, justru berada dalam ruangan para hadirin dan terdakwa; di luar 'kotak' hadirin.


'TOK-TOK-TOK' tiga kali ketukan palu emas oleh Pak Hakim bergema dalam ruangan, diselingi oleh kalimat dari Pak Hakim, “Sidang dimulai anak-anak, sidang dimulai.”


Suasana serius mulai terbentuk berkat kalimat tersebut, yang muncul dari suara seraknya Pak Hakim.


Persidangan dalam alam ras Peri agak berbeda dari ras Manusia, sang hakim akan meminta langsung para saksi untuk memberi keterangan.


Maka, salah satu Peri laki-laki kurus dengan rambut pendek bangkit dari duduk, dia mulai memberi keterangannya. Saat kesaksiannya diutarakan, Nurvati hanya duduk tegap memandang pada Pak Hakim, dia memang mendengar kesaksian pemuda itu, tetapi masa bodoh dengan itu, baginya persidangan ini terkesan membuang waktunya yang berharga.


Kesaksian itu hanya berkutat pada Nurvati yang menghancurkan patung sang Dewi dan berakhir oleh Nurvati yang bertarung dengan anggota militer, lokasi saksi pada saat itu berada di halaman rumahnya, kebetulan dia tengah bertelepati dengan kekasihnya.


Dan kesaksian dilanjutkan hingga seluruh saksi yang hadir, dan berakhir pada seorang bocah ingusan, yang kesaksiannya lebih menjurus pada dirinya yang bercita-cita ingin jadi malaikat lalu menguasai dunia, entah hubungannya apa, tetapi suasana serius berubah humor gegara tingkah konyol bocah itu, bocah yang tidak mau diam, yang malah memainkan sayap bapaknya mengadu-adu dengan sayap kecilnya, dan itu mampu mengukir senyum pada wajah ngantuk Pak Hakim, termasuk beberapa saksi, tetapi tidak bagi Nurvati dan para korban.


Di sana, dalam aura yang berbeda; kelam. Para korban bermasam muka dan nampak begitu lara. Sedangkan Nurvati sengap karena mentalnya tertekan.


Seorang wanita dewasa bangkit berdiri, berambut biru panjang, dengan netra hitam berkaca-kaca, dan tubuh yang dibalut gaun emas, menampilkan wajah kuyu dan ada amarah kala pandangannya jatuh pada Nurvati, lantas berkata, “Suami saya pergi bekerja menjelang sore hingga tengah malam ... dia bekerja sebagai penjaga perumahan setempat dan saat malam tiba ... hiks ....”


Wanita dewasa itu tak kuasa kala tutur katanya harus menceritakan kepergian suaminya, ingatan itu masih menyakitkan buatnya, sehingga dia duduk kembali, duduk dalam senguk-sengak, pun terus mengelap air matanya, tak lagi melanjutkan pembicaraannya, membiarkan tergantung begitu saja.


Kemudian seorang wanita seusia Nurvati bangkit berdiri, wanita berambut merah, dengan netra pingai yang berkaca-kaca, berbusana nuansa merah, kali ini, wajahnya lebih menunjukkan kemurkaan yang berbalut kepiluan, lebih dari itu, dia menatap Nurvati begitu murka, gestur tubuhnya, kepalan tangannya, memendam amarah pada Nurvati, seraya berujar, “Suami saya seorang anggota militer, seorang abdi negara yang menjaga negara demi ketentraman warganya, yang berjuang siang malam hanya untuk bangsa dan rakyat ....”


Sebuah tutur kata yang begitu lantang nan dinamis digaungkan oleh sang korban, yang mana kalimatnya secara tidak langsung menuturkan akan penegasan status suaminya, tujuannya adalah membentuk paradigama yang kental, bahwa dirinya sangat berperan penting di sini; wajib diprioritaskan.


Secara garis besar, dia berusaha menarik empati para pendengar, kalau suaminya sangat penting bagi semua orang yang hadir. Bahkan suara lantangnya mencerminkan ketegaran namun juga memendam lara yang begitu dalam, wanita muda yang tampak tak terima kenyataan. Bahkan mungkin ada secuil dendam di hatinya.


“... TAPI WANITA SIALAN ITU JUSTRU MALAH MENGGANGU KETENTRAMAN NEGARA! TAPI WANITA SIALAN ITU MALAH MEMBUNUH SESAMA RAS!” teriak sang wanita dengan menyalang memandang Nurvati yang nampak masih duduk tenang, terlebih, sebagai penguat argumennya, ia sampai menunjuk-nunjuk Nurvati dengan telunjuk tangan kanannya, bahwasanya Nurvati benar-benar salah.


Hanya saja tidak menjelaskan secara spesifik posisi keadaan suaminya, justru menggiring opini publik akan Nurvati yang seolah membuat negara menjadi kacau, padahal lingkupnya masih dalam perumahan.


Wanita tersebut pada akhirnya tak mampu membendung gejolak amarah dan kesedihannya yang dalam, berteriak agar seluruh orang mendengar kemurkaannya, atau tepatnya, teriaknya itu sebagai menarik sisi psikologis semua orang, bahwa di sini yang teraniaya adalah dirinya dan Nurvati seolah digambarkan pelaku yang begitu kejam.


Maka dalam kemurkaan nan kesedihan, dia kembali bicara dengan lantang nan dinamis. “Wanita sialan itu adalah pembunuh gila!”


Dan dengan kesalnya dia menendang ruangan dari kaca itu, menendang dan memukulnya sebagai aksi atas ketidakterimaan menerima realita hidupnya; tak terima suaminya dibunuh wanita gila.


“KAU LAYAK DIHUKUM MATI! PENGKHIANAT NEGARA WAJIB MATI! PERUSAK MORAL BANGSA WAJIB MATI!” teriak wanita itu sekali lagi, dan masih tak memberi gambaran jelas perihal kematian suaminya, justru yang ditunjukkan terkesan adalah keburukan pelaku. Seolah-olah kalau pelaku melakukan dosa yang begitu besar, sangat-sangat besar, sehingga negara harus dilibatkan.


Dan sekonyong-konyongnya setelah melampiaskan kesalnya, dia kembali duduk ke kursinya, dan membiarkan pipi mulusnya digenangi air mata, raut mukanya menyiratkan rasa kesal yang teramat, lebih-lebih, tak lekang netranya menilik Nurvati, dendam dan marah berpadu, seakan-akan ingin rasanya mencabik-cabik Nurvati.


Maka dapat dilihat, penuturan yang dilakukan sang wanita, korban kedua dari pembunuhan Nurvati, justru tak memberikan keterangan perihal bagaimana atau seperti apa suaminya selama hari kelam itu terjadi, justru karena amarahnya, dia lebih menanamkan opini pada publik bahwa suaminya adalah bagian penting negara, dan penghardikan pada Nurvati juga sama saja, wanita itu lebih dari menjatuhkan harga diri pelaku —bukan— wanita itu berusaha menuntun pola pikir orang-orang bahwa dengan membunuh suaminya, Nurvati sudah termasuk pengkhianat negara.


Di sana, walau kata-kata pedas telah melantun menyakitkan masuk pada pendengaran Nurvati, menyelimuti mentalnya yang kini tengah getir, Nurvati masih duduk sengap, memandang Pak Hakim.


Dia sangat tertekan kali ini, selain keadilan baginya belum ditegakkan, ruang publik hari ini pun memberikan tekanan mental yang lumayan kuat, yang merujuk bahwasanya penegakkan keadilan yang diperbuat Nurvati sangat salah dan berdosa besar.


Tetapi tetap teguh, bahwa apa yang dilakukannya, sekali pun telah membunuh abdi negara, bagi Nurvati, itu bukanlah kesalahan atau pun dosa besar, karena baginya keadilan tak memihak pada siapa pun, dalam keadilan, terkadang memang harus ada yang dikorbankan.


Maka jelas, terjadi kontradiktif antara pemahaman publik dengan pemahaman Nurvati.​