
Sederhana, cukup sederhana kalau apa yang dilakukan semua orang adalah gambaran dari bentuk perasaan serta keinginannya, atau bahkan ada saja yang melakukan segalanya tanpa mementingkan ego, hasrat, impian atau keinginan, yang justru dirinya mengorbankan segalanya demi sebuah pengabdian.
Seorang istri yang sekaligus pemimpin dari satu koloni mengorbankan dirinya dalam pengabdian dan pengabdian itu adalah ringkasan dari; ego, ambisi, harapan, hasrat, keinginan, cita-cita, dendam dan pengampunannya.
Semua hidup dalam perspektif sekaligus pola pikirnya masing-masing dan keyakinan hadir demi membentuk kejiwaan setiap pribadi, benar, Dewi Karunia memahami itu.
Bertarung demi mengukuhkan identitasnya, kalau dirinya tengah mengabdi dan melakukan semuanya dalam pengorbanan dan inilah yang disebut sebagai; 'perjalan lintas hidup'.
'Woush' telah melesat cepat sang Dewi Karunia pada Quin dan Darko lantas 'Buak-Buk' menghajar ke dua bocah itu dengan sayapnya.
'Siuw' membuat ke dua bocah itu terpental sejauh 80 meter ke tanah dan 'Bruak' membentur tanah dengan terkapar di sana.
“Kalahkan aku ... atau mati menanggung penyesalan selamanya!” sentak Dewi Karunia yang masih melayang di ketinggian 50 meter, memberi kesan kalau dirinya sungguh-sungguh.
Seluruh orang telah mengalami dihajar oleh Dewi Karunia.
Di sini, di hutan Kematian, identitas akan dirinya sebagai sosok yang berpengaruh dalam berkehidupan akan ditunjukan. Bahkan lebih dari itu, sebagai seorang Dewi Surgawi, dirinya pun akan memperlihatkan kalau turunnya dia ke dunia yang fana ini mampu mengukir karunia bagi koloninya.
“Anak-anak! Mundur!”
Kalimat perintah itu muncul dari sang pribadi Zui pendekar Pemecah Waktu sebagai sosok yang harus mampu menuntun kelima bocah pada jalan keselamatan.
Ambisi yang melekat di dalam cita-cita telah membentuk setiap pribadi anak-anak.
Oleh sebab itulah, Nerta yang telah berdiri tegap dengan menggenggam erat tongkat kujangnya dengan lantang berani membalas, “Kami tidak akan mundur! Karena kami tidak punya rencana untuk melarikan diri.”
Bukan Nerta saja yang berteguh hati, Gorah sang bocah lelaki berambut hitam panjang pun telah bangkit berdiri dan itu disertai sebuah kalimat darinya. “Jangan paksa kami untuk menyerah atau mundur, kami datang ke tempat busuk ini sudah dengan kesiapan penuh ... akan bertarung walau harus mati.”
Tentulah Gorah menguatkan argumen kawannya, begitu pula dengan teman-temannya yang lain yang telah bangkit berdiri, karena sama halnya seperti sang Dewi Karunia, mereka yang ada di sini, sama-sama ingin mengukuhkan identitas mereka di hadapan alam semesta, kalau identitas setiap pribadi adalah sebuah arti kehidupannya.
'Wush' ke lima anak serempak melesat terbang ke atas, berusaha mengalahkan Dewi Karunia.
Seluruhnya menembak dengan bola-bola energi, 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff'.
Tapi hebatnya dengan berputar secara 360 derajat seluruh bola-bola energi itu dilenyapkan sangat mudah oleh Dewi Karunia, 'Swoossh'.
Belum selesai, 'Wush' Quin maju dengan tebasan pedang tapi gagal mengenai Dewi Karunia yang menghindar.
Lalu Darko maju 'Woush' dengan sayatan pedang yang gagal juga karena Dewi Karunia mundur menghindar.
Kemudian Gorah maju 'Wush' dengan sabetan pedang yang gagal juga karena Dewi Karunia menghindar dengan salto.
Maka Nerta maju dengan tongkat kujangnya yang telah diliputi energi nuansa pingai, ia menebaskannya pada sang Dewi Karunia, 'Srassh' tapi 'Siuw' sang Dewi Karunia turun menghindar cukup cepat dan hampir saja tertebas.
Tak sampai di situ saja, keempat anak kembali melakukan serangan beruntun, Quin maju menebas, Darko maju menyayat, Gorah menyabet, dan Nerta pun maju menebas, namun semua itu dapat dihindari oleh Dewi Karunia. Dan belum berhenti di sana, keempat anak kembali menyerang Dewi Karunia, alih-alih Dewi Karunia justru selalu berhasil menghindar, serang dan menghindar, serang dan menghindar, di ketinggian itu keempat anak berjuang mengalahkan Dewi Karunia, pertarungan berkesinambungan itu nampak omong kosong semata, karena sebanyak apa pun keempat anak menyerang maka sebanyak itulah Dewi Karunia sanggup menghindar.
Kecuali Arista yang terbang di ketinggian 60 meter hanya terkesiap sebagai sang medis menyelia segenap hal yang terjadi.
Waktu mulai selaras bersama ketegangan yang meresap dalam kenyataan, realitas yang tak dapat ditentang lagi, itu adalah pertarungan dalam mengukuhkan identitas mereka.
Akan hal itulah, bertarung demi identitas adalah bertarung demi harga diri dan pengabdian.
“Bodoh, dasar payah,” umpat Zui yang melihat kalau tindakan para bocah adalah gegabah dan bunuh diri.
Zui hanya berdiam diri di tempatnya, untuk saat ini dirinya menyelia sejenak, membiarkan para pribadi itu mempertontonkan kelihaian mereka dalam bertarung.
Bersamaan dengan itu, angin di hari yang cerah ini bersiur kencang, menebarkan aroma pering pada setiap makhluk, menyiratkan aura kematian yang tak mungkin luntur, seirama dalam laju aliran darah Zui yang melihat kelima anak yang tak mungkin dihentikan.
Pasalnya, Dewi Karunia bukanlah tandingan kelima anak, keilmuan sang Dewi Karunia jauh melampaui mereka, sehingga agak rambang Zui mempersilakan mereka bertarung dengan sang Dewi Karunia.
Keempat anak masih maju menebas dan menyerang, tetapi masih cekatan pula Dewi Karunia melesat untuk menghindar.
Tak ada perlawanan berarti dari sang Dewi Karunia, dirinya seakan-akan mempermainkan keempat bocah itu, atau dengan kata lain sang Dewi Karunia bermain-main dalam pertarungannya melawan keempat bocah itu.
'Siuw' 'Swring' 'Wush' 'Swring' 'Woush', terus dan terus serangan dan menghindar berkutat dalam pertarungan itu.
Lalu 'Woush' Zui melesat terbang, bukan menyerang, dirinya justru terbang di samping kanan Arista.
“Arista! Kita sebaiknya kabur!” pinta Zui dengan lugas memiliki rencana sendiri.
Maka Zui beralih pada teman-teman Arista yang serius bertarung.
“Anak-anak ayo kita pergi dari sini!” titah Zui keras-keras agar semuanya dapat mendengar dan mematuhi.
“Tidak akan kabur!” balas Quin dengan menyentak meneguhkan pendiriannya, lalu 'Wush' menyerang Dewi Karunia yang nyatanya gagal.
“Aku pun tak akan kabur!” sambung Darko dengan melesat 'Wush' menyerang Dewi Karunia yang sayangnya gagal.
“Tidak boleh kabur!” timpal Gorah kemudian melesat menyerang Dewi Karunia 'Wush' tetapi gagal juga.
“Kami sudah bertekad dan tekad itulah yang meneguhkan kami!” pungkas Nerta yang menguatkan segala argumen kawan-kawannya sebagai satu kesatuan pendirian teguh dan lantas maju melesat 'Wush' menyerang Dewi Karunia, hanya saja gagal.
Telah dapat kesimpulan dari semua yang terjadi, segala kalimat bocah-bocah yang sok kuat itu telah dicerna baik-baik oleh Zui sang pendekar Pemecah Waktu.
Zui bisa saja membawa kabur kelima anak dengan cepat dan menggunakan ilmu Pemecah Waktunya, akan tetapi, pastilah anak-anak itu tak dapat berkembang dengan matang bila tak memiliki pengalaman yang mengguncang kejiwaan.
Benar, Zui punya rencana, dia paham betul, ada beberapa hal yang tidak dapat dijawab oleh kata-kata. Sehingga kalau seperti begitu jadinya, Zui akan tampakan sebuah pengalaman berharga pada kelima anak.
Maka 'Siuw' dan 'Buak' lalu 'Bledaar'. Tersentaklah kejiwaan kelima anak, terkejut mereka di sana. Dewi Karunia tertinju telak hingga terhunjam pada akar pohon, dan itu dilakukan oleh Zui.
Ucapan dari keterkejutan Quin pun muncul, “Ka-kakak pendekar.”
Semua anak tercenung melihat Zui. Semula anak-anak berpikir kalau Zui hanya menolong bila mana semuanya telah sekarat, tetapi syukurnya ekspektasi itu pupus akan kenyataan saat ini.
“Aku sudah berjanji dan kita sampai di sini bersama-sama ... jadi kita selesaikan bersama-sama juga!” ungkap Zui dengan penuh gairah semangat kedua.
Itu jelas membuat senyum penuh syukur dan bangga terukir pada setiap anak, melambungkan segala angan mereka kalau sang pendekar Pemecah Waktu telah sepaham.
“Yeaah ...!” seru Darko dengan mengepal tangan mempersiapkan serangan selanjutnya.
“Ayo kita akhiri ini dengan kemenangan mutlak!” sambung Quin dengan semangat kedua dan sangat antusias.
“Baguslah ... sekarang kita sudah bersinergi,” timpal Gorah dengan muka serius dengan bersedekap tangan dalam kesiapan penuh.
Sedangkan Nerta diam dengan kedua tangan mengepal erat pada tongkat kujangnya dan Arista tersenyum karena Zui rela bergabung dan tetap dalam kewaspadaan penuh.
Dewi Karunia telah berdiri di atas akar pohon bekas jatuhnya tadi, ekspresi wajah hitam putihnya nampak begitu datar tak berperasaan, menengadahkan wajah sedang netranya memandang intens pada Zui sang pendekar Pemecah Waktu. Karena ini artinya pengukuhan identitas akan siapa yang paling berarti, segera terjadi.
------------------------------------------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)